
"Assalamualaikum dek?!", ucap seorang laki-laki dengan menyunggingkan senyum paling manisnya.
"W-waalaikumussalam mas... Agum", jawab Lintang lirih.
Ibu Ratih yang melihat kedatangan Agum yang tiba-tiba itu juga tidak kalah terkejutnya. Agum tersenyum simpul kemudian menghampiri ibu Ratih dan mencium punggung tangannya.
Lintang masih berdiri terpaku melihat Agum berdiri di depan matanya. Sampai-sampai ia lupa untuk mempersilakan Agum untuk masuk ke dalam rumah.
"Mari silakan masuk mas", ucap ibu Ratih. Dan ucapan ibu Ratih itupun sontak membuat Lintang terperanjat.
Akhirnya mereka masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa yang ada di sana.
Agum memindai setiap sudut yang ada di ruang tamu ini. Tata letaknya hampir tidak ada yang berubah dari setahun yang lalu, saat terakhir kali ia ada di sini. Namun ada yang berbeda. Bingkai foto pernikahan dirinya bersama Lintang yang dulu terpajang di salah satu dinding di ruangan ini, kini sudah tidak nampak lagi.
"Apa kabar dek dan juga ibu?", ucap Agum membuka pembicaraan.
"Alhamdulillah kami baik mas, sampeyan sendiri bagaimana?", tanya ibu Ratih pula. Sedangkan Lintang masih terpaku dengan kedatangan Agum yang tiba-tiba ini.
"Alhamdulillah baik juga bu".
"Oh iya, tunggu sebentar ya, ibu bikinkan minum dulu", ucap ibu Ratih sembari melangkahkan kaki menuju dapur.
Hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Agum. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke arah Lintang yang masih terpaku itu.
Agum tersenyum. "Apa kabarmu dek?".
"Baik mas, alhamdulillah", ucap Lintang pada akhirnya bisa mengendalikan semua keterkejutannya.
"Nana bagaimana dek?, sedang apa dia?".
"Nana juga baik mas. Dia masih ada di sekolah".
Agum terperangah mendengar jawaban dari Lintang. "N-Nana sudah sekolah?".
Lintang mengangguk. "Iya mas. Awal bulan lalu dia mulai masuk TK".
Agum mengangguk pelan. Ia sedikit mencuri pandang ke arah Lintang. Yang ia rasakan masih sama. Ia masih begitu mencintai Lintang. Namun seketika ia harus memupus semua perasaan itu karena bagaimanapun juga perbuatan yang ia lakukan selama ini telah membuat kehancuran ini.
"Dek, aku ingin mengatakan sesuatu".
"Apa itu mas?"
Agum menghela nafas dalam. Bagaimanapun juga Lintang harus tahu akan keadaan yang sebenarnya. "Anak yang dikandung oleh Reni bukanlah anakku".
Lintang terperangah. "M-maksud mas?".
Agum menundukkan pandangannya. "Reni telah menjebakku dan membohongi kita semua".
Lintang mengernyitkan dahi mencoba memahami perkataan Agum. Agum yang melihat ekspresi wajah Lintang itupun hanya bisa tersenyum getir. "Saat terakhir kali aku berhubungan dengan dia, dia sudah hamil satu minggu dengan laki-laki lain".
Lintang terperangah. "Mas Tomi?"
Agum menggeleng. "Bukan Tomi, tapi laki-laki lain, entah itu siapa". Agum kembali menghela nafas dalam. "Reni melakukan itu untuk menjebakku dan untuk menghancurkan kita".
Bibir Lintang terkatup, ia tidak menyangka jika ada seorang wanita yang tega melakukan itu semua. "Astaghfirullahal'adziim. Mengapa dia setega itu mas?".
__ADS_1
Agum menggeleng. "Entah lah dek. Selama ini dia hanya terobsesi denganku dan ingin mengalahkanmu".
"Ya Allah".
Mata Agum memerah, sesak dalam dada kembali ia rasakan. "Maafkan aku dek, karena aku, kita semua mengalami kehancuran ini".
Lintang menggeleng dan mencoba menguasai segala rasa sesak di dadanya. "Sudah mas, tidak perlu dibahas lagi. Semua ini memang sudah menjadi ketentuan yang harus kita jalani".
Agum tersenyum. Ia menatap lekat wajah Lintang yang ada di hadapannya itu. Cantik. Ya, wanita yang pernah menjadi istrinya itu kini semakin terlihat cantik saja.
Lintang mengernyit mendapatkan tatapan dari Agum yang seperti itu. "Ada apa mas?".
Agum tersentak yang membuatnya tersenyum kikuk. "Kamu terlihat semakin cantik dek".
Lintang hanya menundukkan wajahnya. Malu, mendapatkan sebuah pujian dari mantan suaminya itu.
Agum kembali menatap wajah Lintang dengan seksama. "Apakah saat ini kamu bahagia dek?".
Lintang terperangah. Pertanyaan macam apa yang dilontarkan oleh Agum itu. "Tidak ada yang bahagia dengan sebuah perpisahan mas". Lintang menghela nafas dalam. "Namun sejauh ini aku selalu berupaya untuk membahagiakan diriku sendiri agar aku bisa menjadi seorang ibu yang tangguh untuk anakku".
Agum mengangguk. Ia mengerti apa yang diucapkan oleh Lintang. "Jika saat ini aku memintamu untuk kedua kalinya menemani hidupku, apa kamu bersedia dek?".
Mata Lintang membulat mendengar ucapan yang baru saja diucapkan oleh Agum. "M-maksud mas?".
Agum menarik nafas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. "Selama ini aku selalu hidup dalam sebuah penyesalan atas apa yang telah aku lakukan terhadap keluarga kita. Setelah aku mengetahui jika anak yang dikandung oleh Reni bukanlah darah dagingku, aku juga memutuskan untuk hidup dalam kesendirian. Namun sepertinya aku tidak bisa, aku masih membutuhkanmu juga Nana untuk menjadi sumber kehidupanku". Agum menatap lekat kedua bola mata Lintang. "Jika aku ingin rujuk, apakah kamu bersedia menerima aku kembali, dek?"
Ibu Ratih yang baru saja sampai di ruang tengah tiba-tiba menghentikan langkah kakinya saat mendengar Agum mengatakan hal itu. Ia memilih berdiri di balik gordyn yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang tamu dengan sebuah nampan yang ada di tangannya.
Lintang tak kalah terkejut mendengar Agum mengutarakan niatnya untuk meminta rujuk. Lintang yang sedari tadi menundukkan wajahnya kemudian mendongakkan kepalanya.
"Mas Hanan?!!", ucapnya lirih ketika melihat seorang laki-laki sedang berdiri di depan pintu sembari menggendong seorang gadis kecil yang tengah tertidur lelap.
Lintang berdiri kemudian menghampiri Hanan dan mencoba meraih tubuh Nana untuk memindahkan ke dalam gendongannya. "Masuk dulu mas", ucap Lintang mempersilakan.
Hanan tersenyum. "Aku duduk di luar saja ya dek?".
Lintang pun mengangguk kemudian bergegas ke kamar Nana untuk menidurkannya.
****
Hanan dan Agum terlihat sedang duduk di teras rumah Lintang, dengan jus jambu dan keripik pisang yang menemani mereka. Entah untuk keberapa kalinya mereka duduk berhadapan seperti ini, namun rasanya kali ini keadaannya jauh lebih baik daripada yang pernah terjadi sebelumnya.
"Aku lihat kamu semakin dekat dengan Nana", ucap Agum membuka obrolan diantara mereka.
Hanan meletakkan gelas yang sedari tadi ada di tangannya. "Aku hanya mencoba untuk mengisi kekosongan hati Nana yang mungkin merindukan sosok seorang ayah".
Agum tersenyum simpul. "Aku ingin rujuk dengan Lintang, apakah kamu tidak keberatan?".
Jleb!!
Sebuah pisau tak kasat mata seperti menghujam tepat di dada Hanan. Meski hampir satu tahun ini ia dekat dengan Nana, namun tetap saja hubungan Nana dengan ayah kandungnya lebih lekat daripada dengannya. Bagaimanapun juga ikatan darah itu lebih kental dari apapun juga.
Meski Hanan sedikit merasa tidak rela jika Lintang kembali kepada mantan suaminya, namun ia mencoba untuk selalu mengedepankan akal sehatnya.
Hanan tersenyum getir. "Semuanya aku kembalikan kepada Lintang. Jika memang ia menerima ajakan rujuk dari sampeyan, aku akan menghormatinya. Karena bagaimanapun juga Lintang pasti akan memutuskan sesuatu yang paling baik untuk hidupnya".
__ADS_1
"Apa kamu tidak cemburu atau marah jika aku ingin kembali kepadanya?", tanya Agum.
Hanan tersenyum tipis. "Untuk apa aku marah jika memang dengan kembali kepada sampeyan Lintang bisa bahagia".
Agum terlihat mengangguk-angguk mendengar kata yang terucap dari bibir Hanan. Inilah salah satu kelebihan Hanan, ia selalu menomor satukan kebahagiaan Lintang di atas kebahagiaannya sendiri.
Agum semakin merasa rendah diri. Seharusnya ia tetap berada di Surabaya untuk menenggelamkan diri dalam kesendiriannya. Namun saat itu, ia merasa masih memiliki kesempatan untuk bisa kembali bersama Lintang, setelah mengetahui jebakan dari Reni. Akhirnya ia beranikan diri kembali ke Jogja untuk meminta rujuk dengan Lintang.
Namun setelah melihat Lintang yang begitu bahagia dengan keadaannya saat ini dan Nana juga terlihat begitu dekat dan nyaman bersama Hanan, Agum merasa seperti orang yang tidak tahu malu. Ia merasa menjadi perusak kebahagiaan Lintang yang sudah susah payah ia bangun semenjak kepergiaannya.
Agum tersenyum getir. Tidaklah mungkin saat ini ia merampas kebahagiaan Lintang dengan memintanya kembali kepadanya. Agum memandang lekat wajah Hanan. "Berjuanglah untuk mendapatkan Lintang".
Hanan terperangah. "Maksud sampeyan?",
Agum membuang nafasnya kasar. "Aku akan mencabut ucapanku untuk kembali rujuk bersama Lintang. Aku percaya jika Lintang dan Nana akan berbahagia bersamamu".
Dahi Hanan mengerut mencoba memahami ucapan Agum. Dan Agum pun kembali menyunggingkan senyumnya. "Tolong jaga Lintang dan Nana baik-baik. Penyesalanku akan berakhir jika aku bisa melihat Lintang mendapatkan seorang laki-laki sesempurna dirimu".
****
"Besok ayah akan pergi ke Surabaya lagi?", tanya Nana sembari memakan buah naga yang ada di hadapannya.
Agum mengusap lembut kepala Nana. "Iya sayang, besok ayah harus sudah harus kembali bekerja. Nana di sini seneng kan bersama om Hanan?".
Nana mengangguk mantap. "Iya ayah, om ganteng orang yang baik. Nana seneng bisa sama-sama om ganteng".
Hati Agum sedikit tercubit. Lihatlah, saat ini anak kandungnya pun begitu bahagia bersama Hanan. Dia pasti akan menjadi laki-laki paling jahat jika harus merampas kembali kebahagiaan anaknya itu.
"Nana senang kalau om Hanan menjadi ayah Nana?"
Nana menautkan alisnya seolah tidak paham dengan yang diucapkan oleh Agum. "Nana akan punya dua ayah?".
Agum mengangguk. "Iya, ayah Agum dan juga ayah Hanan!".
Seketika Nana mengangguk dengan polosnya. "Seneng yah, seneng".
Ucapan Agum itu sontak membuat Lintang terkejut setengah mati. Apalagi maksud ucapan dari mantan suaminya itu. Dan ia pun hanya bisa menatap wajah Agum dengan tatapan penuh tanda tanya.
Agum mengedarkan pandangannya ke arah Lintang. Ia berdiri dari duduknya kemudian mendekat ke arah mantan istrinya itu.
"Aku cabut kembali keinginanku untuk rujuk denganmu dek", ucap Agum lirih.
Lintang mengernyitkan dahi. Agum kembali tersenyum getir. "Tidak seharusnya aku merusak kebahagiaan yang sudah kamu dan Nana dapatkan dari Hanan". Agum menghela nafas dalam. "Setelah dari sini, aku akan mencoba melepaskanmu dengan ikhlas. Dan pastinya dengan sebuah kelegaan karena kamu mendapatkan sosok lelaki seperti Hanan. Jemputlah kebahagiaanmu bersama Hanan, dek".
"Mas?!"
Agum tersenyum. "Inilah buah dari kesabaran selama kamu mendampingiku, dek. Mendapatkan cinta dan kasih sayang yang luar biasa dari sosok lelaki seperti Hanan. Dan kamu pantas mendapatkan itu semua. Berjanjilah kepadaku jika kamu akan bahagia hidup bersamanya".
.
.
. bersambung ....
Dah, Agum mengurungkan kembali niatnya untuk rujuk dengan Lintang, dan ia pun sudah melepaskan Lintang dengan ikhlas. Nah kira-kira apa Lintang semakin mantap untuk menerima lamaran Hanan atau malah menolaknya?. Hehehe tunggu episode selanjutnya yaahh kak.. 😘😘
__ADS_1
Terima kasih banyak untuk semua yang sudah setia menunggu kelanjutan dari novel titik balik ini. Inshaallah tinggal 2 atau 3 part lagi novel ini akan tamat. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya yah.. dan jangan lupa untuk vote, vote, vote, agar author lebih semangat lagi.. hihihihi happy Reading kakak..
Salam love, love, love💗💗💗