
Jam delapan malam Lintang terlihat mengendarai motor matic nya keluar dari komplek perumahan milik si pemesan catering. Ia menyusuri jalanan yang begitu lenggang ini dengan perasaan yang sedikit khawatir juga takut. Meski merupakan komplek perumahan namun masih sangat sepi mungkin karena perumahan baru jadi belum terlalu banyak penghuninya.
Lintang menarik nafas dalam, berusaha membuang semua kekhawatirannya. Ia masih melajukan motornya dengan pelan.
"Eh eh kenapa ini?", ucap Lintang liri saat merasakan motornya sedikit oleng.
Ia pun memberhentikan motor yang dikendarainya di sisi jalan itu. Kemudian ia turun. Hal pertama yang ia cek adalah ban motor.
"Astaghfirullahal 'adziim", pekiknya saat melihat ban belakang motornya bocor.
Ia ambil ponsel di dalam tasnya.
"Ya Allah... baterai ku habis"
Lintang mengusap wajahnya. Ia kemudian duduk di atas jok motornya sembari berpikir apa yang harus ia lakukan.
Ya Allah jika tau akan seperti ini tau gitu aku ganti ban tubless dari dulu. Dasar Lintang!! Lalu sekarang aku harus bagaimana?, jalanan sepi, tidak terlihat orang berlalu lalang sama sekali. Atau aku dorong saja ya motornya sampai ke jalan besar?
Lintang sibuk bermonolog dalam hati sembari menyalahkan kebodohannya. Ia pun memutuskan untuk mendorong motornya.
"Bismillah, semoga di jalan besar sana aku bisa bertemu dengan orang yang mau menolongku ya Rabb", ucapnya sambil mulai mendorong motornya.
Sepuluh meter, seratus meter, dua ratus meter, dan hampir setengah kilo meter Lintang terlihat tertatih mendorong motornya. Ia memilih untuk rehat sejenak. Sambil mengatur nafas dan mengusap peluh yang terlihat sudah membasahi wajahnya.
Matanya memerah, berusaha menahan tangis. Tak bisa dipungkiri ia teramat takut dengan jalanan sepi seperti ini. Takut dengan hantu mungkin alasan kesekian, tapi takut jika ia bertemu orang yang berniat jahat merupakan alasan utamanya. Ia tiba-tiba teringat kasus pembegalan di jalan sepi seperti ini.
Lintang menggelengkan kepalanya. "Astaghfirullahal 'adziimm"
Tiiinnn... tiiiinnn.....
Lintang tersentak, ia melihat dari kaca spion ada sebuah mobil berwarna merah di belakangnya. Ia pun menoleh ke belakang.
Seorang laki-laki muda dengan style kasual terlihat turun dari mobil. Lelaki yang mengenakan celana chino warna cokelat dipadukan dengan t-shirt warna putih dan terlihat outerwear berupa jaket denim yang membuatnya terlihat sangat tampan.
"Mas Hanan?", ucapnya ketika mengetahui jika lelaki itu adalah Hanan.
"Dek, kamu kenapa ada di sini?, dan itu motor kamu kenapa?", tanyanya dengan sedikit nada khawatir.
Air mata yang sedari tadi ditahan oleh Lintang agar tidak menetes akhirnya lolos juga. Air mata yang mendeskripsikan sebuah rasa takut dan kini berubah menjadi ras syukur karena ia bertemu dengan seseorang.
Hanan memperhatikan wajah Lintang. Lintang terisak. Ingin rasanya ia menghapus air mata itu dan mendekapnya, tapi ia berusaha menahannya karena bagaimanapun juga Lintang bukan mahrom nya.
Hanan mengambil sapu tangan yang ada di saku celananya. Kemudian mengulurkan tangannya. "Jangan menangis dek, saat ini aku tidak bisa melakukan apa-apa bahkan hanya untuk sekedar menghapus air matamu, aku tidak bisa melakukannya"
Lintang menerima sapu tangan dari Hanan dan mengusap air matanya. "Terima kasih mas"
Hanan tersenyum. "Kenapa bisa sampai kayak gini dek, kamu darimana?"
__ADS_1
Lintang menggeleng. "Aku habis nganter pesanan catering mas dan pas pulang tiba-tiba ban motorku bocor"
"Aku antar pulang ya?", ucap Hanan menawarkan.
"Bagaimana dengan motorku mas?"
"Tidak perlu khawatir dek, aku ada teman di sekitar sini yang punya mobil pick-up, nanti biar motor kamu diangkut pakai mobil pick-up itu ya"
Lintang mengangguk dan wajahnya berbinar karena pada akhirnya ia mendapatkan pertolongan.
Hanan tersenyum simpul. "Sudah, jangan menangis ya, aku ada di sini"
Lintang pun hanya mengangguk. Hanan kemudian mengambil ponsel dari saku celana kemudian menghubungi temannya.
Tak lama setelah itu, tiga orang teman Hanan pun tiba dengan mobil pick-up nya.
"Maaf ya bro malam-malam gini gangguin istirahat kalian", ucap Hanan.
"Santai Aja Nan, kita juga kebetulan lagi nongkrong di angkringan kok", jawab salah seorang teman Hanan.
Hanan mengangguk sembari tersenyum.
"Pinter juga kamu nyari calon istri Nan, cantik!", timpal teman Hanan sambil mulai menaikkan motor Lintang ke atas bak mobil.
Lintang dan Hanan saling berpandangan dan sama-sama tersenyum kikuk.
Teman Hanan itupun hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Hehe, maaf, aku kira itu calon istri kamu Nan"
Tak lama setelahnya motor Lintang sudah berhasil naik di bak mobil pick-up itu.
"Dah yuk dek, kamu naik mobilku, biar teman-temanku ini ngikutin kita dari di belakang"
Lintang mengangguk. "Terima kasih banyak mas Hanan"
"Sama-sama dek"
******
"Jadi dek Lintang dari tadi belum sampai rumah bu?", tanya Agum kepada ibu mertuanya.
Sepulang dari menemui Reni tadi, ia langsung ke rumah mertuanya, karena ia tahu jika istrinya pasti ada di sana. Namun kini ia khawatir karena hingga hampir jam sembilan malam istrinya belum juga pulang dari mengantar pesanan.
"Iya nak Agum, Lintang belum sampai rumah. Dari tadi Friska juga sudah mencoba untuk menghubungi Lintang namun ponsel Lintang tidak aktif", jawab ibu Ratih sedikit cemas.
Agum mengacak rambutnya kasar. "Dek kamu dimana?", ucapnya lirih.
"Ibu juga cemas nak kalau sampai terjadi apa-apa sama Lintang. Dia itu sedikit takut sama gelap", ucap ibu Ratih.
__ADS_1
Agum terbelalak. "Iya kah bu?",
Ibu Ratih mengangguk. "Dia memang dari kecil takut sekali dengan keadaan gelap, ibu juga tidak tahu kenapa bisa seperti itu"
"Tadi nganter pesanannya di mana bu?, apa Agum susul saja ya?, Agum juga khawatir jika terjadi sesuatu", ucap Agum.
"Tadi Lintang ngantar ke komplek perumahan Jati Mas, nak"
Agum membelalakkan matanya. "Perumahan Jati Mas?"
Ibu Ratih mengangguk.
"Itu perumahan masih sepi sekali bu, belum banyak penghuninya", ucap Agum menambahkan.
Ibu Ratih semakin cemas. Agum berdiri dari duduknya. "Saya jemput dek Lintang dulu ya bu"
Ibu Ratih kembali mengangguk. Saat Agum hendak melangkahkan kakinya. Tiba-tiba terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah.
Tak lama setelah itu.
"Assalamu'alaikum", ucap Lintang di depan pintu yang terbuka.
"Wa'alaikumsalam", jawab ibu Ratih juga Agum bersamaan.
Agum dan bu Ratih melihat orang yang sedari tadi mereka tunggu berdiri di depan pintu.
"Ndhuk....!!!!", panggil bu Ratih sambil menghampiri Lintang. "Kamu baik-baik saja kan?", sambungnya pula.
Lintang tersenyum. "Lintang baik-baik saja bu". Pandangan Lintang beralih ke Agum. "Mas?"
Agum tersentak, ia kemudian memeluk Lintang dengan erat. "Kamu darimana saja sayang, aku cemas, lalu di mana motor kamu"
Lintang menyunggingkan senyumnya sambil mengusap-usap punggung Agum. "Maaf mas, tadi ban motorku bocor. Tapi tidak apa, ada orang yang menolongku"
Agum merenggangkan pelukannya. "Siapa sayang?"
Lintang hanya tersenyum. Seketika pandangan Agum tertuju pada empat orang laki-laki yang sedang terlihat sibuk menurunkan motor Lintang dari mobil pick-up.
Matanya terbelalak ketika melihat seorang dari mereka yang sudah ia kenal. "D-dia______"
.
.
. bersambung...
Yuk yuk yuk Agum bakalan berantem sama Hanan gak nih??,, hhihihihi tunggu di episode selanjutnya yah... terima kasih banyak ya kak sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini... jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya yah... dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau di sumbangin ke author... hihhihihi happy Reading kakak-kakak tersayang...
__ADS_1
Salam love, love, love💗💗💗