
Sang mentari mulai menampakkan kilau cahayanya. Menembus dinding kabut yang masih begitu pekat menghiasi atmosfer di sekitar lereng pegunungan pagi ini. Suara kokok ayam jantan pun mulai terdengar nyaring di telinga yang membuat siapapun bergegas bangun dari mimpi-mimpi panjangnya.
Lintang dan ibu Ratih tengah sibuk menyiapkan bekal untuk perjalanan ke Pacitan. Selesai sarapan pagi, ia juga menyiapkan beberapa lunch box untuk makan siang di jalan.
"Sayang, udah siap semuanya?", tanya Agum sambil menggendong Nana.
Lintang tersenyum. "Sudah mas". Pandangannya pun mengarah ke Nana. "Sayang mau pipis dulu?", tanya Lintang.
Nana menggeleng. "Tidak bunda, Nana tadi sudah pipis"
Lintang mengusap lembut kepala Nana. "Nanti kalau di tengah jalan Nana pengen pipis atau pup, langsung bilang ke ayah ya sayang",
Nana mengangguk. "Iya bunda"
Seluruh keluarga Lintang pun terlihat berkumpul di teras rumah. Setelah mobil yang akan dipakai oleh Agum selesai dipanaskan, seluruh keluarga Lintang pun terlihat masuk ke dalam mobil dengan posisi masing-masing.
Agum mulai menarik pedal gas nya pelan. Kemudian membelah jalanan pagi ini dengan hati yang begitu gembira.
"Horeee,, Nana jalan-jalan!!!", teriak Nana saat mobil yang di kendarai Agum mulai keluar dari kawasan rumah Lintang.
"Nana senang?", tanya Agum sembari fokus dengan kemudinya "
Nana mengangguk cepat. "Iya ayah, Nana seneng sekali"
Yang ada di dalam mobil pun hanya tersenyum melihat tingkah Nana yang begitu riang itu.
"Setelah dari Pacitan, besok liburan ke Surabaya ya sayang", ucap Danang.
Mata Nana membulat. "Di Surabaya ada apa aja om?"
Danang terkekeh. "Ada ikan sama ada buayanya sayang"
Nana mengendikkan pundaknya. "Buaya?, hhiii Nana takut om"
Yang lain pun hanya terbahak.
"Sayang mau makan lagi?", tanya Lintang
Nana menggeleng. "Nana masih kenyang bunda". Lintang pun mengangguk.
"Ndhuk perlengkapan Nana sudah masuk semua kan?, minyak telon, bedak, jaket, baju ganti?", tanya ibu Ratih.
"Sudah semua bu".
Ibu Ratih pun mengangguk. "Oh iya nak Agum, tujuan kita di objek wisata mana saja?"
"Nanti kita ke Gua Gong, sama pantai Klayar saja ya bu", jawab Agum.
Nana terlihat penasaran ketika mendengar kata Goa Gong. "Ayah Goa Gong itu, apa?"
"Goa yang bisa bunyi sayang", jawab Agum.
"Bisa bunyi?, kok bisa yah?"
Agum hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat anaknya yang begitu ingin tahu. "Nanti pas sudah sampai, ayah tunjukin ya sayang"
Nana pun mengangguk. Perjalanan pun terus berlanjut. Ditemani dengan celotehan-celotehan dan tingkah polah Nana yang membuat perjalanan ini tidak terasa membosankan, Agum pun tersenyum tipis sembari melirik dari spion yang ada di atas kemudinya.
Semoga kebahagiaan seperti ini akan selalu ada untukku ya Tuhan.
*****
Menggunakan jalur alternatif, dan menempuh perjalanan tiga setengah jam lamanya, akhirnya Agum bersama keluarga besarnya tiba di Pacitan. Objek wisata pertama yang ia tuju adalah Goa Gong.
Sampai di tempat parkir, mereka harus berjalan kaki kurang lebih satu kilometer untuk bisa sampai ke Goa itu.
__ADS_1
"Goa nya mana ayah?", tanya Nana yang terlihat sudah tidak sabar ingin segera melihat Goa itu.
Agum tersenyum. "Kita harus jalan kaki dulu sayang, baru bisa sampai"
Mata Nana terbelalak. Lintang yang memindai ekspresi wajah anaknya itu hanya tersenyum tipis. Ia kemudian mengulurkan tangannya. "Ayo bunda gendong sayang, biar tidak capek"
Agum menggelengkan kepalanya. "Biar aku yang gendong sayang."
"T-api kamu capek mas, habis nyetir", jawab Lintang.
Agum tersenyum. "Untuk kebahagiaanmu juga Nana aku tidak pernah merasa capek sayang"
Lintang tersentak. Kata-kata dari Agum membuatnya begitu tersentuh dan matanya pun memerah, menahan genangan air yang berkumpul di pelupuk matanya.
Agum hanya mengusap lembut pipi Lintang. Kemudian pandangannya tertuju pada Nana.
"Sayang?", panggil Agum sambil berjongkok.
"Ya ayah?"
"Kendaraan tuan putri sudah siap. Let's go!!!"
Dengan wajah berbinar Nana mulai naik ke punggung Agum.
"Horee!!!!!", teriaknya kegirangan.
*****
"Waaaaahhh Goa nya bagus ya bunda?", ucap Nana sesaat setelah memasuki Goa Gong itu.
Lintang pun terlihat takjub dengan keindahan Goa ini.
Memasuki Gua Gong, ia disambut oleh formasi stalaktit dan stalakmit yang indah. Stalaktit dan stalakmit dengan aneka bentuk dan ukuran menghiasi seluruh penjuru ruangan gua. Dibantu penerangan beraneka warna yang bisa berganti-ganti dengan sendirinya, ia dan keluarganya dapat masuk lebih dalam dan menyusuri lorong Goa sepanjang kurang lebih 256 meter ini.
Di ujung lorong terdapat sebuah ruangan yang membentuk kubah raksasa sepanjang 100 meter dengan lebar 15 hingga 40 meter dan tinggi antara 20-30 meter dengan keindahan yang membat decak kagum, seolah tak percaya dengan keindahannya. Dan inilah yang menjadi alasan mengapa Goa Gong menjadi salah satu Goa paling indah di Asia Tenggara.
Lintang tersentak. "Eh?!". Lintang mengerjapkan matanya. "Bagus banget ini mas!", ucapnya terkagum-kagum.
Agum tersenyum. "Kamu suka sayang?"
Lintang mengangguk dengan mantap. "Suka banget mas!!".
"Setelah dari sini, kamu pasti akan lebih menyukainya sayang", ucap Agum.
"Benarkah mas?",
Agum mendekat ke arah Lintang dengan Nana masih berada di dalam gendongannya. "Tentu sayang, kini apapun akan aku lakukan untuk membuatmu dan anak kita bahagia"
Lintang mengusap pipi Agum dengan lembut. "Terima kasih mas"
******
Agum duduk di pinggir pantai sambil melihat Lintang dan Nana yang terlihat sedang asyik berkejar-kejaran di tepi pantai. Ia pun melambaikan tangan ke arah mereka.
"Hati-hati sayang, jangan sampai ke tengah ya!", teriaknya.
Lintang dan Nana pun mengangguk. "Siap ayah!"
Senyum simpul tersungging di bibir Agum. Pandangannya menerawang jauh saat melihat begitu bahagianya anak dan istrinya itu. Sebuah senyum bahagia yang sudah begitu lama tidak pernah ia lihat.
"Minum ini Gum!", ucap Danang sambil mengulurkan sebotol air mineral ke arah Agum.
Agum tersentak. "Eh, terima kasih mas"
Danang duduk di samping Agum. "Apakah kamu baru sadar jika Lintang itu wanita yang sempurna?"
__ADS_1
Agum memandang ke arah laut lepas dengan tatapan kosong. "Aku memang bodoh mas. Karena kebodohanku, hampir saja aku kehilangan seorang wanita sesempurna Lintang"
"Kamu menyesal?", tanya Danang.
Agum mengangguk. "Sangat menyesal mas. Bahkan mungkin sisa umurku, tak akan mampu untuk menebus semua kesalahan-kesalahan yang telah aku lakukan terhadap Lintang"
Danang menepuk pundak Agum. "Tuhan masih menyayangimu Gum, karena Dia masih memberi kesempatan untukmu, untuk bisa kembali kepada keluargamu".
"Iya mas, maka dari itu, saat ini aku ingin selalu membahagiakan Lintang juga Nana", jawab Agum.
Danang mengangguk. Tak lama setelah itu terlihat Lintang menghampiri Agum juga Danang.
"Nana di mana sayang?", tanya Agum.
"Ikut sama ibu juga Friska mas. Kayaknya dia udah ngantuk, jadi ibu mandiin Nana terus nungguin kita di mobil", jawab Lintang.
"Kalau gitu aku nyusul ibu juga ya Gum, kamu juga Lintang berdua-duaan dulu sajalah mumpung masih ada waktu!", ucap Danang sambil melenggang meninggalkan Lintang juga Agum.
Agum hanya terkekeh. Pandangannya mengedar ke arah Lintang yang masih saja berdiri di sampingnya.
"Duduk sini sayang!", ajak Agum sambil menepuk-nepuk sisi kanan tubuhnya. Lintang menurut, ia pun duduk di samping Agum.
Pandangan keduanya fokus ke gulungan ombak yang ada di depan mereka.
"Terima kasih untuk hari ini ya mas", ucap Lintang memecah keheningan keduanya.
"Kamu bahagia sayang?", tanya Agum.
Lintang menoleh ke arah Agum, ia pun menatap lekat wajah suaminya itu. "Aku bahagia mas, sangat bahagia"
Agum menghembuskan nafasnya kasar. "Harusnya sejak dulu aku melakukan hal-hal seperti ini sayang. Seharusnya aku dari dulu aku membahagiakanmu, seharusnya dari dulu sadar jika kamu adalah istriku yang sangat_________"
Cup...
Lintang membungkam mulut Agum dengan kecupan di bibirnya. Kecupan itu hanya sebentar setelah itu ia lepaskan.
"Tidak perlu dibahas lagi mas. Itu semua hanya sebuah masa lalu", ucap Lintang.
Lintang kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Agum. Dan Agum pun menggenggam tangan Lintang dengan erat. "Kumohon jangan pernah lepaskan genggaman tanganku ini sayang. Aku ingin menghabiskan sisa umurku hanya bersamamu"
Lintang mendongakkan kepalanya, diikuti Agum yang juga memandang lekat mata istrinya itu. Tatapan mata itu seolah menuntun wajah Agum untuk mendekat ke bibir Lintang. Diangkatnya dagu Lintang dan ciuman itu kembali terjadi.
Sebuah ciuman lembut yang sama sekali tidak bercampur dengan nafsu untuk mendapatkan yang lebih dari itu. Dan sebuah ciuman yang begitu terasa menentramkan jiwa.
Lama keduanya saling berpagut. Hingga akhirnya terhenti ketika Lintang mulai kehabisan nafas.
Agum mengusap lembut pipi Lintang. "Aku mencintaimu sayang, aku mencintaimu"
Lintang mengusapkan ibu jarinya ke bibir Agum. "Aku juga mencintaimu mas"
Entah apa yang tengah Lintang rasakan. Saat ini ia merasa begitu damai berada di sisi Agum. Sebuah kedamaian yang sudah lama tidak ia rasakan.
Dan sepasang bola mata itu memperhatikan keduanya dari kejauhan dengan rona bahagia. Sedari tadi ternyata ia tidak beranjak dari tempat itu.
Semoga kalian senantiasa berbahagia.. ucap Danang dalam hati.
.
.
. bersambung..
Nih author kasih part romantis Lintang juga Agum dulu yaahh sebelum mereka cerai.. gimana?, kurang baik apa coba??, hiihiihihi..
Yang minta Lintang cepet pisah sama Agum, mohon bersabar yah... sebentar lagi part itu akan segera hadir.. terima kasih banyak ya kak sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya ya... dan bagi yang punya kelebihan poin, boleh lah kalau mau disumbangin ke author dengan klik vote. Happy Reading kakak... terima kasih...
__ADS_1
Salam love, love, love💗💗💗