
Agum terlihat masih menekuk wajahnya selepas dari klinik tadi. Hingga tiba di rumah, ia tetap saja memasang muka kesalnya setelah mendengar saran dari dokter Ilham tadi.
"Mas kenapa, kok mukanya ditekuk kayak gitu?", tanya Lintang sambil mengelus lengan Agum
"Dokter apaan itu, masak ngasih saran tidak boleh merokok sama minum kopi, gak masuk akal banget, huh!", jawab Agum dengan nada kesal.
Lintang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka hanya karena sebuah saran dari dokter bisa membuat mood nya berubah drastis seperti itu.
"Mas...", panggilnya. Sedangkan yang dipanggil masih diam menahan kekesalan.
"Mas, posisi kita itu sebagai pasien. Jadi wajar kan jika kita seharusnya mendengarkan saran dari orang yang lebih ahli dalam bidangnya. Lagipula niat kita berobat itukan untuk tahu saran dari dokter sehingga cepat sembuh, bukan begitu?", tanya Lintang. Agum masih tak bergeming.
"Tapi mas, adek tidak akan memaksa mas untuk melakukan saran dari dokter itu. Karena untuk sembuh atau tidak itu semua tergantung dari diri mas sendiri. Tapi adek cuma pengen mengingatkan, untuk saat ini yang menginginkan mas sehat bukan hanya adek saja, tapi anak kita juga", sambung Lintang menegaskan.
Agum tersentak. Ia baru sadar jika ia harus segera pulih. Bagaimanapun juga saat ini Lintang sedang hamil, pasti akan lebih banyak membutuhkan perannya sebagai seorang suami dan juga calon ayah. Dan semisal tubuhnya tidak fit atau dalam kondisi tidak sehat pastilah akan susah dalam menjalankan peran itu.
"Maafkan mas sayang, tidak seharusnya mas kesal atas saran dari dokter Ilham tadi. Mas mau cepet pulih sayang", ucap Agum seraya memeluk tubuh istrinya
Lintang tersenyum di pelukan Agum "Jadi untuk sementara apa masih mau merokok sama minum kopi?", tanyanya dengan nada mengintimidasi.
"Enggak sayang, sementara waktu mas gak akan ngerokok sama ngopi", jawab Agum sambil menggelengkan kepalanya.
"Nah itu baru namanya calon ayah yang baik", ucap Lintang sambil mengeratkan pelukannya.
******************
Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam ketika Lintang sedang sibuk di dapur untuk membuat bubur kacang hijau. Entah, malam ini ia begitu ingin menikmati semangkuk bubur kacang hijau. Dan sejak setengah jam yang lalu ia terlihat begitu asyik dengan kesibukannya mengolah kacang hijau yang dipadukan dengan santan juga gula merah.
"Dek, lagi apa?", tanya Agum tiba-tiba muncul dari arah kamarnya.
"Eh ini mas, adek lagi bikin bubur kacang hijau", jawabnya sambil mengaduk santan yang ada di dalam panci
__ADS_1
"Adek ngidam?", tanya Agum pula
"Hehe gak tau mas, rasanya pengen banget makan bubur kacang hijau", jawab Lintang
Tak lama kemudian bubur kacang hijau buatan Lintang pun matang. Ia matikan kompor kemudian ia tuang ke dalam mangkuk.
Sssrrrruuupppp..... terdengar suara sesapan sesendok bubur kacang hijau yang masih panas di bibir Lintang.
"Hheeeemmmmm enak banget ini mas, mas mau?", tawar Lintang kepada Agum. Agum menggeleng.
"Ayolah mas, cobain deh, ini enak banget", bujuk Lintang.
Agum pun menyerah. Ia membuka mulutnya kemudian menerima suapan bubur kacang hijau dari tangan Lintang.
"Heemmm enak dek, ternyata kamu punya bakat memasak. Bikin apa aja selalu terasa enak", ucap Agum memuji makanan Lintang
"Hehehe makasih banyak atas pujiannya suamiku tersayang", jawab Lintang sambil tersipu malu
"Jadi mas gak ikhlas ngasih pujian ke adek?", tanya Lintang dengan bibir sedikit mengerucut.
"Bukannya tidak ikhlas sayang, tapi sebagai ucapan terima kasih balik, gak salah kan kalau adek ngasih mas sesuatu?", ucapnya pula
Lintang mengernyitkan dahi "Emang mas mau minta apa sih?",
Agum beranjak, kemudian berdiri dibelakang punggung Lintang, ia bungkukkan sedikit tubuhnya dan ia letakkan wajahnya di ceruk leher Lintang
"Kita ke kamar yuk?!", ajak Agum dengan suara yang sedikit parau.
*********************
Butiran-butiran peluh terlihat membasahi wajah Lintang. Masih terdengar nafas yang memburu dari Agum yang saat ini tengah berbaring tepat di sisi tubuh Lintang. Laki-laki itu terlihat masih saja begitu menggebu meski kondisi tubuhnya sedang tidak baik.
__ADS_1
"Sayang lagi ya?", ucap Agum sambil mengelus pipi Lintang
"Mas, udah empat kali loh. Adek capek mas", protes Lintang
"Tapi mas belum ngerasa capek sayang", ujar Agum menyeringai
"Iiihhhhhh mas gak kasihan sama yang ada di sini?", tanya Lintang sambil menunjuk perutnya.
"Uppzzzzzz, hehehe. Maafkan ayah ya nak, ayah sedikit lupa akan keberadaanmu", ucap Agum terkekeh sambil mengusap perut Lintang.
Lintang pun hanya tertawa geli melihat tingkah suaminya.
"Mas gak menyangka sebentar lagi akan jadi seorang ayah sayang", ucap Agum masih dengan mengelus perut Lintang.
"Ya kalau mas gak menikah ya gak bakalan jadi ayah mas, hehehe", jawab Lintang sambil terkekeh.
"Hehehe kira- kira sedang apa ya dek anak kita di dalam sini?", tanyanya pula
"Sedang main bola kayaknya mas, hehe", jawab Lintang asal
"Emmmm adek pengen anak laki-laki atau perempuan?", tanya Agum
"Bagi adek laki-laki maupun perempuan sama saja mas. Yang penting nanti anak kita bisa lahir dengan selamat dan sehat tanpa kurang satu apapun", jawab Lintang
"Kalau mas pengennya laki-laki sayang, kalau laki-laki nanti bisa mas turunin ilmu yang mas punya ke dia", ujar Agum dengan pandangan menerawang.
"Heemmmm terserah Allah ngasihnya aja ya mas. Apapun pemberianNya harus selalu kita terima dengan lapang", ucap Lintang. Agum masih larut dalam pikirannya sendiri.
"Sebentar lagi, kita akan menjadi orang tua. Semoga kita siap lahir batin untuk menerima amanah itu ya mas", sambung Lintang pula. Agum pun hanya tersenyum kecil.
*****************
__ADS_1