
Hampir tiga jam Reni mengelilingi mall ini. Meski kakinya terasa begitu pegal namun saat melihat beberapa paper bag yang ada di tangannya membuat rasa pegal itu menguap seketika. Bibirnya terlihat mengukir senyum yang tiada henti melihat barang-barang branded seperti Kremes, Moci, AsiQ-lo, dan beberapa brand lain berada di tangannya.
"Terima kasih banyak ya mas, untuk barang-barang ini!", ucap Reni berbinar saat duduk di salah satu restoran cepat saji yang ada di mall itu.
Jonas mengulas senyum tipisnya. "Iya sama-sama. Ini semua tidak sebanding dengan apa yang aku temui saat ini. Wanita cantik, sexy, dan pastinya begitu menggoda".
Hooeeekkk... sumpah, aku jijik ya Tuhan, kalau bukan untuk menjalankan rencana istriku, aku tidak mau berhubungan dengan wanita ini.
Reni makin tersenyum lebar mendengar pujian dari Jonas. Kemudian ia meraih tangan Jonas. "Benarkah aku menggoda mas?"
Iya menggoda untuk mengerjaimu dan mempermalukanmu.
"Oh tentu saja, laki-laki manapun pasti akan tergoda dengan pesonamu", jawab Jonas penuh keyakinan.
Obrolan mereka terhenti ketika waiters mengantarkan jus buah naga dan jus apel ke meja mereka. Setelah mengantar pesanan, waiters itupun meninggalkan Reni dan Jonas.
Reni beranjak dari kursinya kemudian mendekat ke arah Jonas. Ia kemudian menggelayut manja di lengan Jonas dari arah samping sambil membisikkan sesuatu di telinga Jonas.
"Apakah kamu tergoda untuk menikmati tubuhku mas?", bisiknya dengan nada sedikit sensual.
Reni bahkan tidak peduli dengan suasana sekitarnya yang begitu ramai. Jonas pun seketika begidik ngeri mendengar ucapan wanita yang tidak tahu malu ini.
Oh istriku, cepatlah datang, sungguh aku sudah tidak tahan lagi dengan wanita ini.
"Oh tentu saja, nanti aku pasti akan menikmati tubuhmu, dan menjadikanmu selir di hatiku".
Reni mengernyit. "Selir?, lalu ratunya siapa?"
Jonas mencoba menguasai dirinya agar terlihat santai. "Pastinya istriku, namun tahukah kamu jika kecantikanmu mengalahkan ratuku? ".
Maafkan aku, istriku sayang, percayalah semua yang aku katakan kepada wanita ini hanya settingan. Ayolah sayang, cepatlah datang.
Reni semakin melambung tinggi dibuatnya. "Benarkah yang kamu ucapkan itu mas?".
Jonas mengangguk mantap. "Tentu saja sayang", jawabnya sembari mencium telapak tangan Reni.
Ciihhh, najis, najis, najis. Ayolah sayang, cepat datang. Aku sudah muak ini!!.
Hati Reni semakin berbunga-bunga. Pujian dari Jonas nyatanya bisa membuatnya begitu bahagia seperti ini. Ia pun makin mengeratkan pelukannya di lengan Jonas.
"Ohhh.... saya mencium bau-bau pelakor di sini!!", ucap seseorang yang seketika membuat Reni terkejut.
Syukurlah kamu datang sayang, sekarang tinggal rencana berikutnya.
Reni membalikkan badannya kemudian menatap wanita yang ada di belakangnya saat ini.
"Apa yang kamu katakan?!!", tanya Reni.
"Pah, siapa wanita ini?", tanya wanita itu ke arah Jonas sembari menunjuk ke muka Reni.
"B-bukan siapa-siapa mah. D-dia cuma wanita panggilan yang biasa melayani laki-laki hidung belang".
Reni terperangah mendengar jawaban dari Jonas. "A-apa maksudmu mas?, bukankah kamu sendiri yang barusan bilang, jika kamu akan menjadikan aku sebagai selir hatimu?"
Wanita itupun memasang wajah murkanya. Ia kemudian menjambak rambut Reni. "Dasar wanita ja**ng!!, berani-beraninya kamu menggoda suamiku. Apa kamu tidak punya pekerjaan lain selain merusak rumah tangga orang, hah!!!".
Reni mencoba melepaskan tangan wanita itu dari rambutnya namun tetap saja tidak bisa. Tangan wanita itu begitu kuat menjambak rambutnya.
Pemandangan antara Reni dengan istri Jonas itupun sontak membuat orang-orang yang ada di restoran itu mengerubungi meja Reni. Mereka seperti mendapatkan tontonan FTV gratis.
__ADS_1
Tak sedikit dari mereka yang mengeluarkan handphone nya untuk merekam kejadian yang ada di hadapan mereka ini.
"Hey ibuk-ibuk dan mbak-mbak yang ada di sini!! . Lihatlah ini adalah salah satu wujud pelakor di jaman sekarang. Wanita ini sudah bekali-kali merusak rumah tangga orang dan merusak rumah tangganya sendiri!!", teriak wanita itu.
Reni terperangah. "Apa maksudmu!!"
Wanita itu melepaskan tangannya. Kemudian mendorong tubuh Reni, hingga akhirnya ia jatuh terduduk di lantai.
"Aaawwwwwww", pekik Reni menahan sakit di bok**g nya.
Wanita itu kemudian menarik tubuh Reni dan mendudukkannya di kursi.
Pyuuurrrrrr...
Segelas jus buah naga dari tangan istri Jonas pun berhasil membasahi wajah Reni. Reni seketika tergagap merasakan jus buah naga itu sedikit masuk ke rongga hidungnya.
"Rasakan kamu Ren!, inilah balasan karena kamu berani bermain api dengan keluargaku!!", ucap istri Jonas.
Reni memasang wajah penuh tanyanya yang bisa dibaca oleh istri Jonas. Istri Jonas seketika menyedekapkan tangannya.
"Tidakkah kamu mengenaliku?", tanyanya sinis.
Reni menatap lekat wajah istri Jonas. Ia mencoba mengingat siapakah wanita itu. Namun ia tidak berhasil mengingatnya.
"Tidakkah kau ingat jika mas Tomi punya keluarga di Surabaya?", sambung wanita itu.
Mata Reni membulat. Ia baru teringat jika Tomi memiliki keluarga di Surabaya. "K-kamu?".
"Ya, aku Lisa, sepupu mas Tomi", jawab istri Jonas yang ternyata bernama Lisa itu. Ia menghembuskan nafas kasar. "Jelas saja kamu tidak mengenaliku, karena aku baru sekali bertemu kamu di Jogja, itupun ketika kamu menikah dengan mas Tomi. Dan sekarang, setelah apa yang sudah kamu lakukan kepada mas Tomi, ternyata takdir berpihak kepadaku untuk membalas semua perbuatanmu!!".
"A-aku_____"
"A___aaku".
Lisa tersenyum sinis. "Tapi aku sudah cukup puas, bisa mempermalukanmu di depan umum seperti ini. Inilah balasan yang pantas untuk wanita murahan seperti kamu ini!!".
Reni hanya bisa terdiam terpaku melihat semua ini. Sakit dan pastinya malu diperlakukan seperti ini. Ia melihat sekelilingnya sudah banyak orang-orang yang mengerubunginya. Dan banyak dari mereka yang saling berbisik dan memandang ke arahnya dengan tatapan sinis.
Lisa mengambil jus apel yang masih belum tersentuh sama sekali yang ada di meja itu. Dan lagi..
Pyuurrrrr!!!!!
Untuk kedua kalinya Lisa membuat wajah Reni basah dengan jus apel yang ada di tangannya.
"Nikmatilah penderitaanmu wahai wanita ja**ng, dan jangan kira kamu bisa menikmati uang dari suamiku juga!!! ", ucap Lisa sembari menyambar paper bag yang tadi di beli oleh Jonas. Lisa pun melangkah ke arah Jonas kemudian menggandeng lengan suaminya itu. "Ayo pah, kita pergi dari sini!!".
Reni mendengus kesal. "Aaaaarrrrggggghhhh!!!".
***
Krriiinggggg.. kriiingggg....
Suara alarm dari ponsel Reni menggema di kos-kosan sempit yang ia tinggali saat ini. Ia menggeliat dan mengerjapkan matanya. Ia kemudian duduk di atas kasur sambil memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing. Jambakan dari Lisa kemarin masih terasa sakit sampai di kulit kepalanya.
Reni mengambil ponselnya. Ia kemudian membuka aplikasi salah satu media sosial yang ia punya. Matanya terbelalak melihat sebuah video yang menampilkan kejadian yang kemarin ia alami di mall. Sebuah video yang begitu viral dengan tagar awas pelakor berkeliaran di mana-mana.
Seketika ia melempar ponsel itu. "Aaaarrrggghhhh apa-apaan ini?!!", teriaknya frustasi.
"Aawwwhhhhh", pekik Reni saat memegang area wajahnya.
__ADS_1
Ia merasakan rasa panas seperti terbakar di wajahnya. Diambilnya cermin yang ada di atas nakas. Ia kemudian melihat pantulan wajahnya dari cermin itu. Matanya terbelalak dan kemudian menjerit.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!"
***
"Jadi apa yang terjadi dengan wajah saya ini dok?", tanya Reni di klinik dokter spesialis kulit.
Dokter itupun menghembuskan nafas pelan. "Ini efek dari hydroquinone yang ada di dalam pemutih wajah yang ibu pakai. Yang menyebabkan lapisan kulit menjadi tipis, kemerahan, timbul ruam pada kulit, kulit mengelupas dan nantinya bisa berdampak wajah ibu malah justru menghitam secara permanen (ochronosis) ".
"Apa?, menghitam dok?", ucap Reni tidak percaya. "Lalu saya harus bagaimana dok?", sambung Reni pula.
Dokter itu hanya tersenyum tipis. "Yang sabar juga banyak berdoa saja bu, semoga kondisi kulit wajah ibu bisa kembali seperti semula".
Reni mendengus kesal karena dokter yang ia datangi tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Ia pun kemudian meninggalkan ruangan itu.
"Aaarrrgghhhh... kesel, kesel, kesel. Dokter macam apa itu?!!, tidak solutif banget!!", teriak Reni frustasi sambil menyusuri jalan yang ada di depan klinik.
Reni terus berjalan dengan wajah yang ditekuk yang menggambarkan kekesalannya. Ia masih saja memprotes dokter yang baru saja memeriksanya.
Ia bermaksud menyebrang jalan. Tatapannya ke depan namun seperti kosong.
Tiiiiinnnnnnnn.......
Reni terkejut setengah mati mendengar suara klakson kendaraan dari arah samping. Ia menengok ke arah sumber suara dan tiba-tiba..
"*Aaaaaaaaaa.....!!!",
Brukkk... brukk.. brukk*....
Sebuah motor merk To*a yang mengangkut tumpukan sampah yang menggunung menabrak Reni. Seketika tubuh Reni terkapar di tengah jalan. Dan sampah-sampah itupun berhasil mengubur Reni hidup-hidup.
"Siiaaalaaannnn!!!!", teriak Reni dalam kubangan sampah-sampah itu.
Pengemudi kendaraan itupun menghampiri Reni. "Mbak gak apa-apa?"
Ia meringis. "Gak apa-apa m*t* mu?!!, lihat nih, aku jadi kotor kayak gini!!".
Pengemudi itupun mengulurkan tangannya bermaksud membantu Reni berdiri. "Mari mbak, saya bantu".
Reni menepis tangan pengemudi itu. "Gak usah, aku bisa berdiri sendiri".
Ia pun mencoba untuk berdiri. Namun tiba-tiba.
"Kenapa kakiku ini?, kenapa aku tidak bisa merasakan apa-apa di kakiku?!!", teriak Reni sambil menepuk-nepuk kakinya.
Pengemudi itupun melihat kaki Reni, matanya terbelalak melihat tulang di kaki Reni ada yang menonjol keluar. "Ini kaki sampeyan patah mbak!!".
Reni tambah terkejut lagi. "Apa??, patah?? Tiidaaaaaaakkkkkk!!!!!!"
.
.
. bersambung...
Dah ya kak... itu saja ya balasan untuk Reni. Author gak kuat lagi bikin dia menderita.. hihihihi... 😅😅yuk vote, vote, vote biar author lebih semangat lagi untuk menulis. Hihihihi
Terima kasih banyak untuk semua yang sudah setia menunggu kelanjutan cerita titik balik ini yaaa.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya yahh.. happy Reading kakak... 😘😘
__ADS_1
Salam love, love, love💗💗💗