
Deru suara kereta api yang sedang melintasi rel terdengar begitu menusuk gendang telinga. Terlihat beberapa anak kecil berlarian di sisi perlintasan dengan gelak tawa yang menggema, seolah tidak merasa takut akan bahaya yang mengintai dengan jaraknya yang begitu dekat dengan kereta yang sedang melintas. Mungkin karena sudah terbiasa, sehingga membuat mereka tidak merasa takut sama sekali.
Di sisi perlintasan rel kereta, berdiri beberapa bangunan dari papan yang sering digunakan untuk tempat tinggal para tunawisma. Tidak hanya dari papan, bahan kardus pun juga ikut digunakan oleh mereka sebagai tempat untuk berteduh dari terik matahari dan udara panas yang begitu terasa di kota Surabaya ini.
Seorang wanita yang berumur hampir kepala empat terlihat sedang mengorek-orek tempat sampah. Mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk bisa mengisi perutnya. Jika ia menemukan kardus bekas, botol plastik, kaleng bekas maka akan ia tukar ke pengepul barang rongsok sehingga menjadi lembaran uang. Dan jika ia menemukan sisa nasi, maka akan segera ia makan untuk mengusir rasa laparnya.
Wanita itu menggunakan kruk yang ia sandarkan pada salah satu ketiaknya, untuk menopang salah satu kakinya yang mengalami patah tulang. Meski ia terlihat begitu berat menopang beban tubuh karena salah satu kakinya tidak berfungsi maksimal namun ia tetap terlihat begitu bersemangat mencari sisa nasi di bawah terik matahari yang terasa begitu membakar kulit itu.
Reni Widyastuti. Goresan takdir ternyata mengantarkannya ke kota ini. Sebuah kota yang sebelumnya ia anggap sebagai kota yang akan memberikannya banyak kebahagiaan dalam hidupnya namun pada kenyataannya berbanding terbalik dengan apa yang ia impikan.
Allah tengah menunjukkan keadilan-Nya. Apa yang selama ini telah ia tanam, inilah hasil yang ia tuai. Hidup sendirian dengan kaki lumpuh, dan wajah yang tak cantik lagi seolah menjadikan ia sebagai manusia yang paling menderita. Lama mengais-ais tempat sampah, akhirnya sebuah lunch box berhasil ia temukan yang di dalamnya masih ada sedikit nasi dan sisa ayam.
Ia mendudukkan tubuhnya di samping tong sampah sambil mulai memasukkan sisa nasi yang ia dapatkan tadi ke dalam mulutnya. Ia mengunyah nasi itu dengan perasaan getir. Pandangannya menerawang jauh. Tidak ia sangka, hidupnya jungkir balik seperti ini dalam waktu yang sekejap. Tidak terasa setetes bulir bening lolos dari pelupuk matanya.
Tak jauh dari tempat Reni terduduk saat ini, terlihat dua orang paruh baya sedang mengamati apa saja yang ia lakukan. Dua orang paruh baya itu terlihat sama-sama meneteskan air mata melihat kondisi Reni yang begitu menyedihkan itu.
Sebesar apapun kesalahan yang pernah Reni lakukan hingga pada akhirnya membuat kedua orang paruh baya itu memutuskan hubungan dengan Reni, namun tetap saja ikatan darah lah yang membuat hati mereka luluh seketika. Mereka pernah dibuat malu oleh kelakuan Reni, namun sebagai keluarga, mereka tidak sampai hati melihat kondisi Reni yang seperti ini.
Atas informasi dari Jonas dan Lisa (sepupu Tomi), akhirnya pak Sugeng dan ibu Marni (orang tua Reni), memutuskan untuk menjemput Reni di Surabaya.
Perlahan pak Sugeng dan bu Marni menghampiri Reni yang tengah duduk dengan wajah yang tertunduk sambil menikmati nasi sisa di tangannya.
"Nak?", panggil pak Sugeng dengan rasa sesak yang begitu menghujam dada.
Reni menghentikan kunyahan di mulutnya, wajahnya mendongak. Seketika ia terkejut setengah mati dengan apa yang ada di depannya ini.
Ia mengambil kruk yang ia letakkan di dekat tong sampah. Dengan susah payah ia mencoba berdiri dan mulai menghindar dari dua orang yang ada di depannya ini.
Air mata ibu Marni menetes dengan deras. Hampir saja ia tidak mengenali wajah anaknya yang terlihat menghitam seperti bekas terkena luka bakar.
"Nak, tunggu!!", teriak pak Sugeng sambil mencoba mengikuti langkah kaki Reni.
Reni menghentikan langkah kakinya. Seketika pak Sugeng dan bu Marni memeluk tubuh Reni. Keduanya mendekap Reni dengan erat.
"A-ayah, ibu___", suaranya seperti tercekat di tenggorokannya. Dan hanya deraian air mata yang membasahi pipinya.
"Kami ke sini ingin menjemputmu, Nak!", ucap bu Marni dengan suara yang terdengar sumbang.
"Pulanglah bersama kami, Nak!", sambung pak Sugeng.
Reni merenggangkan pelukannya. Ia menggeleng. "Aku tidak mau yah, aku tidak mau pulang".
"Kenapa, Nak?".
__ADS_1
Reni sudah tidak bisa lagi menahan isak tangisnya. Ia menangis sejadi-jadinya di depan kedua orang tuanya dengan nafas yang tersengal-sengal. Ia kemudian menjatuhkan bobot tubuhnya dan bersujud di bawah kaki kedua orang tuanya. "Ampuni aku ayah, ibu. Ampuni aku!"
Bu Marni semakin mengeraskan tangisannya. Seberapa besar luka yang pernah Reni torehkan kepada keluarganya, tetap saja pintu maaf itu akan selalu terbuka untuk sang anak. "Bangunlah, Nak. Jangan seperti ini!".
Reni menggeleng. "Tidak bu, bahkan seribu kali aku bersujud di depan kalian, tidak akan pernah cukup untuk menghapus semua dosa-dosaku".
Pak Sugeng meraih tubuh Reni, dan akhirnya kini posisinya berdiri di hadapannya. "Apa yang membuatmu bertahan di kota ini, Nak?".
"Aku akan menghabiskan sisa umurku di sini yah. Aku akan menebus semua dosa-dosaku di sini. Dengan hidup sendiri dan hanya sesal yang menemani".
Pak Sugeng menggeleng. "Bukan dengan cara seperti ini, Nak". Pak Sugeng menghela nafas dalam. "Pulanglah, temuilah orang-orang yang pernah kamu lukai perasaannya, dan minta maaflah kepada mereka".
Pandangan Reni menerawang jauh. "Apakah mereka akan memberikan pengampunannya untukku?, dan apakah aku ini pantas mendapatkan pengampunan dari mereka, mengingat begitu besar kesalahan yang pernah aku lakukan?".
Pak Sugeng mengangguk. "Ayah yakin Nak, ayah yakin mereka akan memaafkanmu".
"Tapi aku ini sudah terlalu kotor, yah. Sebagai manusia aku sudah terlalu hina dengan kubangan dosa yang telah aku lakukan. Aku seperti tidak pantas untuk menampakkan wajahku di hadapan mereka".
Pak Sugeng kembali memeluk Reni. "Allah Maha pengampun Nak, sebesar apapun dosa yang pernah kamu lakukan pasti akan ada pintu ampun yang terbuka untukmu. Dan untuk orang-orang yang pernah kamu lukai, pasti mereka akan membukakan pintu maaf mereka untukmu".
"T-tapi_______".
"Pulanglah bersama kami, Nak. Pastinya kamu juga merindukan Rio dan Farrel kan?".
***
Reni terlihat tertidur pulas di dalam mobil. Setelah mengalami perdebatan panjang, akhirnya ia mau untuk kembali ke Jogja. Benar apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya. Jika ia masih memiliki hutang kata 'maaf' dari orang-orang yang pernah ia lukai. Delapan jam berada di perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai oleh pak Sugeng tiba di rumahnya.
Reni mengerjapkan mata. Seketika ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Ternyata tidak banyak yang berubah, hampir masih sama semenjak ia meninggalkan Jogja dua tahun yang lalu.
"Ayo Nak kita turun", ucap bu Marni.
Reni menurut, ia turun dari mobil dibantu oleh ibu Marni, kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.
Saat pak Sugeng membuka pintu. Mata Reni terbelalak, membulat sempurna, melihat siapa yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
"M-mas Tomi?!", ucapnya lirih.
Tomi hanya tersenyum tipis ke arah Reni. Kemudian ia mendekat ke sisi Reni. Seketika Reni melepaskan kruk yang ada di tangannya kemudian bersimpuh di kaki Tomi.
"Ampuni aku mas...", ucap Reni lirih dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.
Tomi mengangkat tubuh Reni untuk membuatnya berdiri sambil memberikan kruk yang ia punya. Tomi tersenyum tipis. "Sudah sejak lama aku memaafkanmu Ren, bahkan sebelum kamu meminta maaf".
__ADS_1
Reni mengangguk. Ia mencoba menghapus air matanya. Sesekali ia mencuri pandang ke arah lelaki itu. Dalam hatinya terbesit sebuah kekaguman. Ternyata lelaki yang ia campakkan dua tahun yang lalu, saat ini berubah menjadi lelaki yang penuh kharisma. Wajahnya terlihat lebih segar dan badannya terlihat sedikit berisi.
"Papa, ayo kita pulang!", ucap anak laki-laki yang hampir menginjak usia remaja dan di sebelahnya ada adiknya juga.
Pandangan Reni terpaku pada dua orang anak laki-laki itu. Ya mereka adalah Rio dan Farrel. Entah sudah berapa lama ia meninggalkan anak-anaknya itu, hingga saat ini mereka sudah terlihat begitu besar.
"Sayang?!", ucap Reni sambil berusaha memeluk Rio dan Farrel.
Yang dipeluk hanya memasang ekspresi keterkejutannya. Mereka meronta ingin lepas dari pelukan Reni. "Papa, ini siapa?", tanya Farrel yang masih terkejut dengan apa yang dilakukan Reni.
Reni terperangah ketika menyaksikan kedua anaknya tidak mengenalinya. "I-ini mama sayang, ini mama!".
Rio menggeleng. "Bukan, kamu bukan mama kita. Kita tidak punya mama".
Mata Reni memerah hingga butiran air itu menetes satu persatu. Beginikah rasanya tidak diakui keberadaannya oleh anak-anaknya. Seperti inikah rasa sakit yang ana-anaknya rasakan ketika ia meninggalkan mereka?.
"Sayang, ini mama kalian, mama Reni!", ucap Tomi menjelaskan.
Rio tetap menggeleng. "Tidak Pa, aku tidak mau. Aku cuma mau yang menjadi mamaku tante Sinta".
Reni terperangah, siapa Sinta?, apakah Sinta adalah calon istri Tomi?.
Tomi tersenyum. Ia tahu, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk kembali mempertemukan ibu dan anak itu. "Ya sudah, sekarang Rio sama Farrel tunggu papa di mobil ya. Sebentar lagi papa nyusul".
Rio dan Farrel mendekat ke arah pak Sugeng dan bu Marni. Mereka mencium punggung tangan kakek dan neneknya kemudian menunggu sang ayah di dalam mobil.
Reni hanya menatap punggung kedua anaknya dengan nanar. Inilah kehancuran yang sebenarnya dalam hidupnya. Ia tidak diakui oleh kedua anaknya. Pak Sugeng dan bu Marni pun juga ikut larut dalam rasa sakit itu, ketika sang cucu tidak mau mengakui ibu kandungnya. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin butuh waktu untuk memulihkan semua keadaan ini.
"Aku minta maaf atas sikap Rio dan Farrel, Ren. Aku berjanji akan kembali memulihkan keadaan ini", ucap Tomi, tulus.
Reni mengangguk sambil menghapus air matanya. "Tidak apa-apa mas, aku memang pantas mendapatkan perlakuan seperti ini".
Tomi menghela nafas dalam. "Ren, aku ingin menyampaikan sesuatu".
Reni terperangah, dengan apa yang akan disampaikan oleh Tomi. "A-apa mas?".
Tomi menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan pelan. "Aku menjatuhkan talagh untukmu, dan mulai hari ini kamu bukanlah istriku".
.
.
. masih ada lanjutannya tapi mohon bersabar ya.. hehehe
__ADS_1
Bagi yang tanya, kenapa Tomi men-talagh Reni, karena memang setelah Reni melahirkan Kevin, Tomi belum sempat men-talagh Reni, hehehe...