
Lintang berjalan gontai menuju kamarnya. Ia menyusul Nana yang tengah terlelap dengan nyenyak. Lintang membelai pucuk kepala Nana dengan lembut kemudian mengecupnya.
"Kamu pasti sangat menantikan kehadiran ayahmu ya sayang? Semoga kamu tidak kecewa ya nak. Bunda yakin, ayahmu pasti punya alasan yang masuk akal kenapa ia pulang selarut ini" ucap Lintang lirih.
Lintang menaikkan kakinya ke atas ranjang. Ia menarik selimut hingga di atas dadanya. Kemudian ia ikut terlelap bersama putri kecilnya.
**************
Ceklek.....
Agum menarik tuas pintu kemudian masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat istri dan anaknya tengah tertidur lelap. Ia memandang istri dan anaknya itu dengan tatapan yang tidak biasa. Entah apa yang sedang ada di dalam pikirannya.
Ia keluar kamar menuju kulkas. Di jam sebelas malam seperti ini, tenggorokannya terasa kering, ia membuka kulkas, dan matanya terbelalak melihat kue tart dengan tulisan "selamat ulang tahun ayah, sehat selalu dan berkah dunia akhirat", teronggok di dalam kulkas.
Ia mengeluarkan kue tart itu dan ia letakkan di atas meja makan. Ia perhatikan dengan seksama kue yang ada di depannya, dan seketika ingatannya kembali memutar memory yang lima jam yang lalu terjadi.
Flashback on
Prang... prang.. prang!!!!
Terdengar pecahan piring menggema di sebuah rumah yang terletak di depan masjid tempat Agum menunaikan sholat Isya'. Samar telinga Agum mendengar suara gaduh orang-orang yang sedang bertengkar di dalam rumah itu. Agum yang biasanya tidak tertarik untuk ingin tahu urusan orang lain, tapi kini seolah rasa ingin tahunya begitu besar dan membuat ia lebih lama duduk di serambi masjid.
"Kalau kamu gak kerja, terus kamu mau ngasih makan kita apa hah?!!", terdengar suara wanita yang sedang marah-marah.
"Maafkan aku mah, tapi aku sedang berusaha untuk cari pekerjaan lain", jawab seorang laki-laki yang menjadi lawan bicaranya.
"Kamu tahu, sudah hampir satu tahun belakangan kamu gak bisa ngasih penghasilan yang cukup untuk keluarga kita bahkan sangat kurang, aku sudah gak tahan lagi!!", teriak wanita itu.
Wanita itu kemudian berlari keluar meninggalkan lelaki itu.
Agum membelalakkan matanya ketika melihat Reni keluar dari dalam rumah itu. "Reni?!"
__ADS_1
Reni juga sama terkejutnya, melihat Agum ada di serambi masjid. "Mas Agum?!"
Agum memindai ekspresi wajah Reni. Terlihat ada kesedihan di raut wajahnya. Matanya pun juga terlihat sembab, mungkin karena habis menangis.
Reni berlari dan menghambur ke pelukan Agum. "Mas, aku sudah gak kuat lagi hidup bareng Tomi mas, aku gak kuat!"
Agum merasa iba dengan keadaan Reni. Tangan Agum pun reflek membalas pelukan Reni dan mengusap punggungnya. "Ada apa sebenarnya Ren?, kamu kenapa seperti ini?"
Reni merenggangkan pelukannya, merasa tidak enak jika sampai ada orang lain melihat. "Bawa aku pergi dari sini mas!"
Agum pun mengangguk kemudian membawa Reni pergi ke suatu tempat.
************
Agum memberhentikan mobilnya di sebuah restoran kelas atas di pusat kota Jogja. Agum sengaja memilih privat room yang terpisah dari meja-meja lainnya, agar pembicaraannya dengan Reni tidak terganggu.
Dua orang waiters terlihat membawa masuk menu pesanan Agum ke dalam ruangannya. Aneka menu telah menghiasi meja. Mulai dari steak, spagethi, milk shake, dan strawberry juice yang terlihat begitu menggugah selera.
Reni melihat wajah Agum yang saat ini duduk di depannya. Hiks... hiks... hiks...., terdengar isakan tangis Reni mulai pecah lagi.
Agum semakin iba dibuatnya. Ia kemudian berdiri dan pindah tempat di samping Reni. Ia pun menarik tubuh Reni dan kini berada dalam dekapannya.
"Tomi udah hampir satu tahun belakangan ini tidak punya penghasilan tetap mas, bahkan tidak bisa mencukupi kebutuhanku dan anak-anakku, aku udah gak tahan lagi hidup serba kekurangan seperti ini mas!", ucap Reni
Agum seolah tidak percaya. Wanita yang dulu sangat dicintainya, sekarang hidup dalam kesusahan. Ia pun semakin iba dengan keadaan Reni.
"Apa yang bisa aku lakukan untukmu Ren?", tanya Agum lirih.
Reni hanya menggelengkan kepalanya, dan masih tenggelam dalam pelukan Agum. "Kalau saja dulu aku memilihmu, pasti sekarang aku tidak akan hidup kesusahan seperti ini mas!"
Agum menarik nafas dalam. Mungkinkah wanita dalam dekapannya ini sedang menyesal. "Sudahlah Ren, jangan diungkit-ungkit lagi. Sekarang katakan padaku, apa yang bisa aku lakukan untukmu?"
__ADS_1
Reni mulai merenggangkan pelukannya. Dan kini posisinya berhadapan langsung dengan Agum dengan jarak yang begitu dekat.
"Aku juga tidak tahu mas. Semakin ke sini, aku seperti hidup dalam sebuah penyesalan karena dulu pernah meninggalkanmu. Dan aku saat ini malah ingin sekali memilikimu"
Agum menatap wajah Reni dengan teduh. Terbesit sebuah kekaguman ketika melihat wajah Reni dari jarak yang begitu dekat. Meski ia seumuran dengannya dan selisih sepuluh tahun dengan Lintang, namun Reni terlihat lebih fresh dengan make up yang ia poleskan di wajahnya. Dan baju yang ia gunakan pun lebih fashionable daripada baju yang sering dipakai oleh Lintang, yang hanya daster rumahan, rok-rok panjang dan atasan panjang dan juga gamis yang justru membuatnya terkesan lebih tua dari usianya.
"Ta-tapi aku tidak boleh terlalu berharap padamu mas, aku tahu kau sudah beristri dan tidak sepatutnya aku mengharapkanmu untuk kemb......... hhheemmmppphhhhhhh"
Seketika Agum, membungkam mulut Reni dengan ciumannya. Agum seolah tergoda dengan pesona yang ada dalam tubuh Reni dan membuat ia lupa akan siapa dirinya.
Agum semakin dalam ******* bibir Reni. Dan lidah mereka saling melilit. Ciuman mereka semakin panas hingga terpaksa terhenti ketika Reni mulai kehabisan nafas.
"Aku akan membantumu Ren, kamu boleh minta apa saja kepadaku", ucap Agum sambil mencakup kedua pipi Reni
"T-tapi bagaimana dengan istrimu mas?", tanya Reni seolah ikut iba dengan Lintang padahal dalam hatinya ia sedang bersorak gembira.
"Lintang biar nanti aku yang atur, yang pasti saat ini justru aku yang sudah jatuh hati kepadamu lagi, dan aku akan membahagiakanmu".
Akhirnya kata-kata seperti itu lolos dari mulut Agum. Ia seakan melupakan siapa dirinya, siapa yang saat ini seharusnya ia bahagiakan dan siapa yang seharusnya menjadi prioritasnya. Hanya berawal dari rasa iba kepada sang mantan kekasih, kini membuat ia hilang ingatan bahwa dia sudah berkeluarga. Bukan hanya sebagai seorang suami tapi juga seorang ayah.
Flashback off
.
.
. bersambung
Hai-hai para pembaca terasayang... terimakasih banyak sudah berkenan mampir di novel pertamaku ini yaa.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like dan komentar kalian semua.. terima kasih.
Salam love, love, love💗💗💗
__ADS_1