Titik Balik

Titik Balik
SEMBILAN PULUH TIGA


__ADS_3

Kabut pagi terlihat begitu tebal menyelimuti lapisan udara pagi hari ini. Meski jarum jam sudah menunjukkan pukul enam, namun masih saja terlihat begitu temaram. Dan sinar sang mentari sepertinya belum mampu untuk menembusnya.


Tiga bulan telah berlalu. Pagi ini Lintang disibukkan dengan persiapan menghadiri sidang kedua gugatan cerainya. Ternyata gugatan cerai tidak sesimpel yang ada dipikirannya. Banyak sekali prosedur yang harus dijalani. Mulai dari pendaftaran perkara, pembuatan berita acara dan lain sebagainya yang membuatnya selalu bolak-balik ke pengadilan Agama. Ia berpikir, mungkin lebih baik langsung di talak oleh suaminya daripada mengajukan gugatan yang ternyata malah justru memakan banyak waktu juga tenaga. Namun bagaimana pun juga, inilah yang harus ia dijalani.


Setelah menjalani sidang pertama satu bulan yang lalu, hari ini merupakan sidang kedua sekaligus sidang terakhir untuknya. Di sidang kali ini mengharuskan Lintang membawa dua orang saksi, dan Lintang pun meminta bantuan Tomi dan pak Sugeng untuk menjadi saksi.


Lintang memesan grab car untuk mengantarkannya ke pengadilan. Mesin motornya tiba-tiba mogok sehingga mengharuskan ia menggunakan aplikasi itu untuk bisa sampai ke tempat tujuan.


"Sudah siap ndhuk?", tanya ibu Ratih ketika melihat Lintang berdiri di teras depan sembari menunggu driver datang.


Lintang tersenyum tipis. "Inshaallah Lintang sudah siap bu".


Ibu Ratih memeluk tubuh Lintang. "Bismillah, semoga ini memang jalan yang terbaik ya ndhuk. Percayalah kamu kuat untuk menghadapi dan menjalani ini semua".


Lintang mengangguk. "Inshaallah Lintang kuat bu".


Ibu Ratih merenggangkan pelukannya. "Mau ibu temani?".


Lintang menggeleng. "Tidak perlu bu, Lintang sendiri saja yang datang ke pengadilan. Inshaallah tidak akan lama".


Ibu Ratih mengangguk sembari mengusap-usap pundak Lintang. Tak lama kemudian, mobil yang ditunggu Lintang pun datang.


Lintang mencium punggung tangan ibu Ratih. "Lintang berangkat dulu, bu".


Ibu Ratih mengecup pucuk kepala Lintang. "Hati-hati, nak!".


Lintang masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil itupun melaju dan meninggalkan halaman rumah Lintang.


*****


Persidangan Lintang akan digelar pukul delapan pagi. Dan kini tepat jam setengah delapan, ia sudah duduk di depan ruang sidang. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar. Matanya terbelalak melihat ada banyak perempuan muda seusianya yang juga tengah duduk di depan ruangan ini.


Lintang bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah perempuan-perempuan ini juga memiliki kasus yang sama dengannya?, bercerai dari pasangannya karena sebuah perselingkuhan?, ia pun hanya menatap mereka dengan tatapan nanar.


Lintang menggenggam erat kedua tangannya. Dadanya serasa bergemuruh dan berdebar hebat, dan keringat dinginnya keluar semua seolah menjadi tanda bahwa ia sedang gugup saat ini.


Entah apa yang membuat ia begitu gugup, padahal sebentar lagi di mata hukum juga agama ia resmi berpisah dari Agum. Mungkinkah ia gugup dengan status yang sebentar lagi akan ia sandang?, status janda di usianya yang masih terbilang muda?, atau apa?, sungguh hanya ia yang tahu.


"Lin?!", panggil seseorang yang ternyata adalah Tomi.


Lintang terperanjat dari lamunannya. "Mas Tomi?".


Tomi dan pak Sugeng hanya tersenyum tipis, kemudian mereka duduk di bangku yang ada di sebelah Lintang.

__ADS_1


"Akan dimulai jam berapa Lin?", tanya Tomi memecah keheningan yang ada.


"Inshaallah setengah jam lagi mas".


Tomi mengangguk sembari tersenyum simpul ke arah Lintang.


"Mas?!"


"Ya, Lin".


Lintang menghela nafas dalam. "Aku minta maaf atas semua perbuatan yang telah mas Agum lakukan terhadap keluargamu".


Tomi tersenyum tipis. "Kenapa kamu yang meminta maaf Lin, padahal Agum sendiri tidak memiliki iktikad baik untuk menemuiku dan menemui keluarga besar Reni untuk minta maaf".


Lintang terperangah mendengar jawaban dari Tomi, yang seolah masih ada sebuah dendam di dalam hatinya. "Mas Tomi belum bisa memaafkannya?".


Tomi tersenyum getir. "Sangat sulit memaafkan semuanya Lin. Kejadian ini begitu membuatku terkoyak". Tomi menghentikan ucapannya kemudian menghembuskan nafas kasar. "Tapi dengan kejadian ini, aku mensyukuri satu hal".


Lintang menatap wajah Tomi dengan penuh tanda tanya. "Maksudnya?".


Tomi tersenyum penuh arti. "Dengan kejadian ini aku belajar memaafkan dan belajar tentang sebuah keikhlasan yang aku dapatkan darimu. Kamu tahu Lin, di sini kamu lah yang paling terluka, namun dengan mudahnya kamu memaafkan semua keadaan ini tanpa sebuah dendam sedikitpun. Kamu juga terlihat begitu tegar menghadapi ini semua. Aku justru malu kepadamu Lin".


"Mas___?!"


Air mata Lintang tiba-tiba menetes. Jika membahas perihal anak, entah mengapa hatinya seperti tersayat sembilu. Pada akhirnya anak-anaklah yang menjadi korban paling menderita atas keadaan seperti ini.


Lintang menghela nafas dalam. "Semoga kita bisa sama-sama kuat untuk menjalani ini semua ya mas. Aku juga tidak setegar seperti apa yang kamu katakan. Aku sangatlah rapuh, namun demi anakku, aku mencoba untuk menjalani ini semua dengan ikhlas".


Tomi tersenyum. "Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam otak suamimu Lin. Begitu mudahnya ia berpaling dari sosok seorang wanita sepertimu".


Lintang tersenyum getir. "Aku juga hanya seorang wanita biasa mas, mungkin ada sesuatu yang tidak didapatkan mas Agum dariku dan justru ia dapatkan dari istrimu". Lintang memegang dadanya yang terasa begitu terhimpit. "Tapi kembali lagi, ini semua adalah sebuah ujian dalam pernikahan, dan ternyata aku kalah".


Tomi menggeleng. "Tidak Lin, justru kamulah pemenangnya. Kita lihat saja, suamimu pasti akan hidup dalam sebuah penyesalan yang tak akan ada ujungnya".


"Entahlah mas!".


***


Tok.. tok.. tok...


Suara palu di atas meja persidangan terdengar menggema di ruangan yang terasa begitu hening ini. Sebelumnya hakim ketua membacakan putusannya. Dan ketukan palu itu menjadi tanda jika mulai detik ini, Lintang resmi berpisah dari Agum.


Lagi, air mata itu menetes tanpa permisi. Dadanya benar-benar terasa begitu sesak, mengingat apa saja yang pernah terjadi di dalam rumah tangganya yang ia bangun bersama Agum. Semua kenangan manis dan pahit seolah berputar-putar dalam ingatannya, dan ternyata hari inilah akhir dari perjalanan hidup rumah tangganya bersama Agum.

__ADS_1


Lintang keluar dari ruang persidangan dengan langkah gontai. Ia kemudian duduk di bangku yang ada di depan ruangan sembari menundukkan wajahnya mencoba untuk menguasai semua gejolak dalam jiwanya. Rasa sakit, rasa sesal, seolah berkecamuk dalam dadanya. Berkali-kali ia memegang dadanya berupaya untuk terlepas dari semua beban batin yang ia rasakan.


"Kamu membutuhkan ini?", ucap seseorang yang berdiri di hadapan Lintang.


Lintang mendongakkan wajahnya. Ia terkejut, melihat seorang laki-laki ada di hadapannya saat ini. "M-mas Hanan?".


Hanan tersenyum tipis. "Pakailah ini dek, jika tidak, jilbab mu akan basah dengan air matamu", ucap Hanan sembari mengulungkan sapu tangan ke arah Lintang.


Lintang menerima sapu tangan dari Hanan dan mencoba tersenyum. "Terima kasih mas". Lintang menghela nafas dalam. "Sejak kapan mas Hanan ada di sini?"


Hanan duduk di samping Lintang. Pandangannya mengarah ke dinding yang ada di depannya dengan tatapan kosong. "Sejak kamu masuk ke dalam ruang persidangan tadi. Bagaimana?, apakah semua berjalan lancar?".


Lintang mengangguk pelan. "Iya mas, semua berjalan lancar". Tiba-tiba air matanya mengalir lagi dengan derasnya. "A-aku sudah gagal, aku sudah gagal dalam mempertahankan rumah tanggaku, mas!".


Hanan menatap iba wanita yang ada di sampingnya itu. Ingin rasanya ia mendekap tubuh wanita yang sedang rapuh itu, untuk memberinya kekuatan, namun apalah daya, ia belum berhak untuk menyentuhnya.


"A-apakah Allah akan membenciku karena memilih jalan perceraian ini mas?", sambung Lintang dengan isak tangisnya.


Mata Hanan menatap teduh kedua bola mata Lintang. "Meski perceraian adalah sesuatu yang dibenci oleh Allah, namun jalan perceraian juga diperbolehkan ketika sudah tidak ada lagi sakinah, mawadah, warahmah dalam sebuah pernikahan". Hanan menghembuskan nafasnya pelan. "Percayalah, ini semua sudah jalan terbaik yang telah Allah pilihkan untukmu".


"Mengapa ini semua terjadi kepadaku mas, kenapa?!", cecar Lintang seperti begitu frustasi atas keadaan ini.


Hanan tersenyum simpul dan menatap netra Lintang dengan lekat. "Karena kamu mampu untuk menghadapi ini semua. Bukankah di dalam kitab kita sudah tertulis dengan jelas bahwa Allah tidak akan memberikan sebuah ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya?, jika saat ini kamu mengalami keadaan seperti ini, itu berarti kamu mampu untuk melewati semuanya".


Lintang terpaku mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Hanan. Ia kemudian mengusap kasar wajahnya. "Astaghfirullahal 'adziim".


Hanan masih menyunggingkan senyumnya. "Sudahlah dek, semua akan baik-baik saja". Ia kemudian beranjak dari posisi duduknya. "Ayo kita pulang. Setelah keluar dari tempat ini, berjanjilah kepadaku, jika kamu akan menjadi wanita yang lebih tangguh dari sebelumnya".


Lintang membalas tatapan Hanan dengan teduh pula. Ia menyunggingkan sedikit senyum di bibirnya. "Inshaallah mas".


.


.


. bersambung....


Akhirnya resmi sudah perceraian Lintang dengan Agum. Lalu apa yang akan terjadi setelah ini??, tunggu episode selanjutnya yaahh... 😘


Part untuk Agum dan Reni akan author tepati besok yaa kak... jadi yang kangen sama Agum juga Reni mohon bersabar sebentar lagi.. hihihihhi... 😘😘😘


Terima kasih untuk yang sudah setia menunggu kelanjutan cerita titik balik ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya yahh.. dan jangan lupa vote, vote, vote, agar author lebih bersemangat dalam menulis.. happy Reading kakak....


Salam love, love, love💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2