Titik Balik

Titik Balik
EMPAT PULUH


__ADS_3

Agum dan Danang terlihat sedang duduk di deretan kursi tunggu para penumpang yang akan melakukan perjalanan menggunakan armada bus antar provinsi di terminal Giwangan. Sambil menikmati sebatang rokok, Danang terlihat begitu sabar menunggu kedatangan bus yang akan mengantarkannya kembali ke Surabaya.


"Mas, setelah ini aku akan menemui Reni", ucap Agum di sela-sela hisapan rokoknya.


Danang mengernyitkan dahi "ada urusan apa kamu mau menemui Reni?"


Agum menghembuskan nafas kasar "aku cuma ingin menyelesaikan sesuatu yang belum terselesaikan mas"


Danang memutar bola matanya "sesuatu?, bukankah sesuatu itu sudah sejak lama selesai?"


"Aku cuma ingin meluruskan apa yang dulu pernah aku katakan ke dia mas", jawab Agum


"Apakah kali ini aku bisa mempercayaimu Gum?", tanya Danang ragu


"Iya mas, seharian tadi ketika aku memperhatikan wajah Lintang ketika ia tidur, dalam hatiku terbesit sebuah rasa bersalah. Ya aku memang salah mas karena sempat terusik oleh kehadiran Reni", jawab Agum


"Lalu, apa yang akan kamu katakan kepada Reni?", tanya Danang masih penasaran


Agum hanya mengendikkan bahunya. Ia merasa bahwa ia sama sekali belum mempersiapkan kata-kata yang akan ia sampaikan kepada Reni. Namun dalam satu sisi ruang hatinya, ia harus bertemu untuk menyelesaikan sesuatu yang dulu pernah ada diantara dia dengan Reni.


"Gum, hati-hati. Apa yang akan kamu bahas dengan Reni, aku harap semua itu tidak akan melukai hati Lintang", ucap Danang mengingatkan.


"Iya mas, aku janji", jawab Agum


Danang memindai ekspresi wajah Agum. Di wajahnya masih terlihat ada sedikit keraguan yang terpancar dari wajahnya. Entah itu keraguan dengan perasaannya atau apa itu, Danang masih belum bisa mengetahui pastinya.


Tak lama kemudian, bus antar provinsi dengan tujuan Surabaya pun masuk dan berhenti di salah satu deretan bus yang tengah berjejer di sisi sebelah kiri terminal.


Danang beranjak dari duduknya, ia gendong ransel di punggungnya. Kemudian melangkahkan kaki menuju bus Jogja- Surabaya itu, Agum pun mengikutinya dari belakang.


"Aku pamit Gum, ingat pesan-pesanku!", ucap Danang sambil mengulurkan tangannya ke arah Agum.


Agum menyambut uluran tangan Danang "iya mas, aku akan mengingat pesan dari sampeyan. Hati-hati ya mas, semoga selamat sampai tujuan"

__ADS_1


Agum dan Danang saling berpelukan sebagai ucapan perpisahan. Danang masuk ke dalam bus, kemudian sibuk mencari-cari kursi tempat ia duduk sesuai dengan nomor yang ada di tiketnya. Dan Agum pun kemudian melangkah meninggalkan terminal.


**********


Di sebuah taman kota, yang di hiasi dengan lampu taman yang terlihat temaram, di sana terlihat Agum tengah duduk di salah satu bangku yang terbuat dari beton. Sambil menyulut sebatang rokok, kemudian ia hisap dengan penuh kenikmatan. Rambutnya terlihat sedikit berantakan dan wajahnya juga memancarkan keraguan, entah apa yang mengusik hati juga pikirannya.


Ia masih sibuk memandangi ponsel yang ada di tangannya. Sejak satu jam lalu, ia menunggu kedatangan seseorang yang ia hubungi via telepon dan hingga detik ini seseorang itu belum juga terlihat menampakkan batang hidungnya.


"Mas?!", sapa seseorang di balik bangku yang diduduki oleh Agum.


Agum membalikkan badannya, dan nampak wanita yang terlihat mengenakan rok di atas lutut dengan t-shirt berwarna putih menghampirinya.


"Sudah lama menunggu mas?", tanya Reni yang kemudian duduk di sebelah Agum.


"Belum terlalu lama kok, baru sekitar satu jam", jawab Agum dengan nada sarkas.


Reni menyunggingkan bibirnya "ahaahaa maaf ya mas, tadi pas kamu telepon, aku sedang sibuk ngurusin toko ayahku"


"Ada perlu apa kamu ngajak ketemuan mas?, kangen sama aku, hahaha?", tanya Reni asal sambil terbahak.


Agum tersentak, tidak menyangka Reni menanyakan sebuah pertanyaan kerinduan pada dirinya. Sampai detik ini pun ia juga masih bingung, hal apa yang akan ia sampaikan kepada Reni, namun dalam hatinya terasa ada sesuatu yang memang harus segera diselesaikan.


"Kamu ingat tempat ini lima tahun yang lalu?", tanya Agum membuka pembicaraan


Reni mengangguk "aku ingat mas, kenapa?, apakah kamu ingin kembali mengulang sesuatu yang pernah terjadi di antara kita?"


Agum hanya menyunggingkan bibirnya, dan menatap mata Reni dengan tatapan yang sulit diartikan "apa maksudmu Ren?",


Reni menghembuskan nafas kasar "aku juga tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi kepadaku mas, sejak mendengar kabar kamu menikah, aku malah semakin ingin mengulang sesuatu yang pernah terjadi di antara kita"


Agum memutar kedua bola matanya "kamu tau ini semua salah, Ren?, kita sama-sama telah berkeluarga"


"Aku tahu ini salah mas, tapi sungguh, aku tidak pernah mendapatkan cinta yang begitu hebat dari seorang laki-laki selain cinta dari kamu", jawab Reni

__ADS_1


"Maksud kamu?", tanya Agum


"Aku tidak bahagia dengan pernikahanku dengan Tomi mas, aku tidak bahagia", ucap Reni tegas


"Tapi apa yang pernah terjadi diantara kita hanyalah sebuah masa lalu Ren, dan tidak seharusnya kita kembali terjebak di dalamnya", protes Agum


Reni hanya tersenyum sinis, terdengar suaranya sedikit serak dan ada sebuah buliran air mata yang tertahan di pelupuk matanya "aku paham itu mas, tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri, bahwa aku masih mencintaimu"


Bak mendengar kilatan petir, hati Agum begitu terkejut saat Reni mengucapkan kalimat itu. Segala upaya yang telah ia lakukan untuk berusaha keras membunuh bayang-bayang Reni seolah runtuh seketika. Dia masih tidak percaya jika dia masih mempunyai perasaan itu kepadanya.


Agum menarik napas dalam kemudian menghembuskannya. Tiba-tiba terlintas wajah Lintang yang saat ini tengah mengandung anaknya. Dan ia juga teringat semua perkataan dari Danang, bahwa tidak seharusnya ia melukai perasaan Lintang dengan sikap-sikapnya yang tidak bisa tegas dalam memperlakukan Reni.


"Aku tidak bisa Ren, saat ini ada hati yang harus aku jaga. Bahkan saat ini istriku sedang mengandung anakku, jadi tidak mungkin aku melukainya", jawab Agum. "Bisakah kau membunuh perasaan itu seperti yang dulu pernah aku lakukan ketika kau memilih untuk menikah dengan Tomi? ", sambung Agum pula


Reni mengendikkan bahunya, sambil mengusap air matanya yang sudah menetes. Agum memperhatikan wajah Reni. Dulu bagi Agum, Reni merupakan seseorang yang begitu spesial sehingga ia juga tidak ingin melihat ia meneteskan air mata. Dengan lembut, Agum pun mengusap air mata yang mengalir di pipi Reni.


"Aku tahu ini memang salah mas. Seharusnya dulu aku tidak menerima kehadiran Tomi, dan berupaya untuk memperjuangkan cinta kita", ucap Reni.


Reni mendekatkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Agum dan tangannya melingkar di pinggang Agum. Seketika membuat dada Agum berdesir begitu cepat, seolah kembali membuka kenangan-kenangan yang dulu pernah ia lewati bersama Reni.


Tangan Agum pun mengusap bagian belakang kepala Reni, berusaha untuk menenangkan segala gejolak rasa yang dialami wanita yang sangat ia cintai dulu. Reni mendongakkan kepalanya, dan kepala Agum pun menunduk ke bawah, kemudian......


.


.


.


. bersambung


Hai-hai para pembaca tersayang... jangan lupa untuk tinggalkan jejak like juga komentar kalian semua yaa... terima kasih


Salam love, love, love 💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2