
"Mas Hanan", ucap Lintang lirih.
Ucapan lirih Lintang ternyata masih juga terdengar di telinga Agum yang duduk tepat di sampingnya.
Agum mengernyitkan keningnya. "Siapa Hanan dek?"
Lintang tersentak. Ia hanya tersenyum tipis. "Oh itu yang sedang ada di depan, teman satu sekolahku dulu mas"
Agum memperhatikan orang yang tengah membaca tilawah di balik mimbar itu. Seorang lelaki yang berusia sekitar 27 tahun. Kulit putih dengan jambang tipis yang menghiasi wajahnya. Satu hal yang terlihat mencolok, hidungnya begitu mancung.
Suara lantunan ayat suci yang ia baca nyatanya membuat merinding bagi siapa saja yang mendengarnya. Lintang tidak begitu heran, karena dulu Hanan lah yang selalu menjadi wakil dari sekolah ketika ada kejuaraan MTQ.
Agum hanya mengangguk, tapi ia memindai wajah Lintang yang dipenuhi dengan rasa takjub ketika mendengar lelaki itu melantunkan ayat suci itu sehingga terbesit dalam pikirannya, mungkinkah istrinya ini tengah terpesona dengan lelaki itu?
Menjelang maghrib serangkaian acara itupun selesai. Lintang dan Agum melangkahkan kaki mereka keluar aula. Dan nampak Hanan dan bu Nury berdiri di depan aula itu.
"Mbak Lintang, terima kasih banyak ya, sudah ikut hadir di acara ini", ucap bu Nury saat melihat Lintang keluar dari aula.
Lintang tersenyum. "Iya bu sama-sama. Saya juga berterima kasih karena ibu masih tetap menggunakan jasa catering kami untuk acara ini"
"Sudah pasti saya akan menggunakan jasa catering mbak Lintang, dari pertama mencicipi sudah langsung jatuh cinta", ucap bu Nury memuji.
Lintang hanya tersenyum kecil mendengar pujian itu. Sambil menganggukkan kepala sebagai ucapan terima kasih.
Hanan yang sedari tadi memandang lelaki yang ada di samping Lintang kemudian membuka suara. "Dek, itu suami kamu tah?",
Lintang mengangguk. "Iya mas". Kemudian pandangannya mengarah ke Agum. "Mas Agum kenalkan, ini mas Hanan"
Agum dan Hanan saling berpandangan. Keduanya berjabat tangan sambil memperkenalkan diri. Agum menatap lekat wajah lelaki di depannya itu.
Deg!!!
Siaal.. ternyata lelaki ini terlihat jauh lebih tampan saat dilihat dari dekat. Apakah dulu pernah terjadi sesuatu antara ia dengan istriku. Mendengar ia memanggil istriku dengan panggilan "dek", sepertinya mereka memiliki hubungan yang dekat.
"Mas, kita sekalian sholat maghrib di sini saja ya, nanggung juga kalau mau pulang sekarang", ucap Lintang tiba-tiba membuyarkan pikiran Agum.
Agum tersenyum kecil. "Iya sayang"
Mereka berempat pun menuju musholla yang ada di samping bangunan panti itu. Hanan dan Agum berjalan di belakang Lintang dan juga bu Nury.
Hanan menghentikan langkah kakinya. "Mas?!"
Agum menoleh ke arah Hanan. "Ya?"
Hanan menarik nafas dalam. "Boleh aku minta sesuatu ke sampeyan?"
Agum mengernyitkan keningnya. "Apa itu?"
Hanan tersenyum tipis. "Tolong jaga dek Lintang baik-baik. Bahagiakan ia, jangan pernah sekalipun sampeyan membuatnya menangis"
Agum tersentak. Mengapa lelaki ini tiba-tiba meminta hal demikian kepadanya. Seolah memberi sebuah isyarat jika lelaki ini tidak rela jika sampai Lintang menangis.
Agum tersenyum getir. "Aku pasti akan selalu membahagiakan istriku, dan tidak akan pernah membuatnya menangis"..... "lagi"
Agum melirihkan kata "lagi" bahkan sampai tidak terdengar oleh Hanan, karena ia sadar jika ia pernah membuat Lintang menangis. Ia pun mengusap wajahnya kasar. Berusaha membuang semua penyesalan-penyesalan yang tiba-tiba ia rasakan.
Hanan tersenyum. "Syukur Alhamdulillah kalau begitu"
Hanan melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Tunggu!", ucap Agum tiba-tiba.
Seketika langkah Hanan terhenti. "Ya?"
Agum menarik nafas dalam. "Ada hubungan apa antara kamu dengan istriku dulu?"
"Sampeyan bisa tanyakan langsung ke dek Lintang. Yang jelas saya hanya bisa memberi tahu jika sampeyan sangat beruntung bisa memiliki ia seutuhnya. Ia seorang wanita yang baik, jadi jangan sampai sampeyan menyia-nyiakan dia. Karena _______"
Agum membelalakkan matanya. "Karena apa?"
Hanan tersenyum. "Mari ke musholla, adzan maghrib sudah berkumandang"
Agum hanya menatap Hanan dengan tatapan penuh rasa penasaran. Hanan pun hanya tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Agum. Hanan pun melangkahkan kakinya.
Karena jika sampai kau menyia-nyiakan Lintang, akan ada banyak lelaki di luar sana yang siap menggantikan posisimu, termasuk aku....
*****
"Mas martabak manis rasa coklat keju satu sama martabak asinnya satu ya", ucap Lintang ke penjual martabak langganannya.
Penjual martabak itupun tersenyum. "Siap mbak cantik, antri tiga orderan dulu ya!",
Lintang mengangguk.
Lintang duduk di kursi plastik di samping Agum. Lintang memperhatikan wajah Agum. Ia heran dengan sikap Agum. Sejak dari panti tadi, ia yang biasanya banyak bicara tiba-tiba menjadi pendiam seperti ini.
Lintang menepuk bahu Agum. "Mas?!"
Agum tersentak. "Ya sayang?"
Lintang tersenyum. "Apa yang terjadi kepadamu mas?, kok tiba-tiba murung seperti ini?"
"Beneran?", tanya Lintang memastikan.
Agum mencoba tersenyum sambil mencubit pipi Lintang. "Beneran sayang, aku gak kenapa-kenapa kok".
Lintang pun sedikit lega. Sedangkan Agum, dalam hatinya masih saja bertanya-tanya. Ada hubungan apa Lintang dengan Hanan di masa lalu?. Ia pun berniat untuk menanyakan langsung kepada Lintang di rumah nanti.
*****
Lintang membersihkan make up di wajahnya menggunakan micellar water yang ada di meja riasnya. Sedangkan Agum terlihat tengah berbaring di atas tempat tidur.
"Sayang?!", panggil Agum.
"Ya mas?",
"Boleh aku tanya sesuatu?"
Lintang mengernyitkan keningnya. "Apa itu mas?"
Agum bangkit dan duduk di tepi ranjang kemudian menepuk-nepuk sampingnya. Lintang menurut, ia pun duduk di samping Agum.
Lintang memindai ekspresi wajah Agum. "Ada apa mas?"
Agum menari nafas dalam. "Apakah dulu kamu sempat ada hubungan dengan lelaki yang ada di panti tadi?"
Deg!!
Jantung Lintang berdegup kencang. Sebuah cerita masa lalu yang selama ini tidak pernah ia ceritakan kepada suaminya, kini mau tak mau harus ia ceritakan.
__ADS_1
Lintang menarik nafas dalam dan tersenyum. "Apa yang ingin mas tahu?"
"Semuanya sayang" jawab Agum menggebu.
Lintang kembali menyunggingkan senyumnya. "Mas Hanan adalah orang pertama yang mengungkapkan akan menjalin hubungan yang serius dengan aku mas".
Mata Agum terbelalak. "J-jadi sebelum aku melamarmu, Hanan lah yang lebih dulu melamarmu sayang?"
Lintang menggeleng. "Mas Hanan memang orang pertama yang mengungkapkan ingin menjalin hubungan yang serius denganku tapi kamu lah orang pertama yang datang melamarku di hadapan ibuku mas. Mas Hanan baru berencana akan melamarku ketika ia telah selesai dengan study nya".
Agum semakin terperangah. "Jadi jika saat itu aku tidak melamarmu, kamu akan menikah dengan Hanan sayang?"
Lintang mengendikkan bahunya. "Aku tidak pernah tahu rencana Allah seperti apa mas. Pada kenyataannya aku justru menerima lamaranmu kan?"
Deg!!
Hati Agum bergemuruh. Ternyata dulu istrinya rela melepas Hanan hanya untuk menerima lelaki seperti dirinya. Hanan terlihat jauh lebih segalanya. Ia tampan, masih muda, dan seorang lelaki yang taat dalam beribadah. Jauh berbeda dari dirinya. Hati Agum menciut. Bahkan saat ini, lelaki yang telah dipilihnya justru banyak menyakitinya.
Lintang memperhatikan wajah Agum. "Apa ada yang salah Mas?"
Agum menggeleng. "Apakah saat ini kamu menyesal pernah menolaknya sayang?"
Lintang tersenyum sambil mengusap pipi Agum. "Tidak ada yang pernah aku sesali mas. Apapun yang aku jalani saat ini pastilah sudah yang terbaik menurut Allah untukku"
Agum memeluk Lintang dengan erat. "Aku minta maaf sayang, aku minta maaf"
Lintang melengkungkan senyumnya. "Sudahlah mas, tidak perlu di bahas lagi"
Agum merenggangkan pelukannya. Ia tetap lekat wajah istrinya itu. Lintang pun membalas tatapan dari Agum dengan teduh pula. Agum mendekatkan bibirnya ke bibir Lintang dan berhasil mendaratkan kecupannya di bibir tipis istrinya itu.
Lama keduanya hanyut dalam ciuman itu. Semakin lama semakin dalam dan nafas keduanya terdengar memburu.
Agum mendekatkan bibirnya ke telinga Lintang yang membuat ia merinding seketika. "Malam ini bolehkah aku kembali mendapatkan hak ku sayang?"
Hanya di jawab dengan sebuah anggukan kepala, Agum kemudian melanjutkan permainannya di leher Lintang dengan liar. Lintang terlihat larut dalam permainan suaminya itu, dan tiba-tiba...
"Mas?"
Agum tersentak. "Ya sayang?"
"Sepertinya tidak untuk malam ini"
Agum menghentikan ciumannya. "Maksud kamu?"
Lintang tersenyum kikuk kemudian membisikkan sesuatu di telinga Agum. "Aku kedatangan tamu bulanan mas!"
"Apa?????"
.
.
.
. bersambung...
Tuh tuh tuh yang minta Lintang tidak jadi melayani Agum udah author kabulkan kan???, seneng??, hihihihihi... terima kasih banyak ya kak sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di tiap episodenya yah... dan bagi yang punya kelebihan poin, boleh lah di sumbangin ke author, hhihihii... happy Reading kakak..
Salam love, love, love💗💗💗
__ADS_1