Titik Balik

Titik Balik
DELAPAN PULUH DELAPAN


__ADS_3

"Bunda?!!!!",, teriak Nana saat melihat Lintang turun dari mobil di depan rumahnya.


Gadis kecil itu berlari menghambur ke arah sang bunda dengan wajah berbinar seolah ia menahan kerinduan yang mendalam.


Lintang tersenyum sembari mensejajarkan tinggi badannya dengan Nana. "Sayang, maafkan bunda ya, bunda masih belum bisa gendong Nana"


Nana mengangguk. "Tidak apa bunda, Nana tidak mau bikin bunda capek lagi, sampai bunda harus tidur lama seperti kemarin".


Lintang pun tersenyum kembali. "Tapi, kalau mau peluk bunda, sini sayang!!"


Nana pun bergegas memeluk Lintang. Di usapnya punggung juga kepala bagian belakang gadis kecil itu. Matanya kembali memerah dan lagi, setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.


Maafkan bunda nak, jika nanti keputusan yang akan bunda ambil melukaimu. Tapi sungguh, bunda hanya menginginkan yang terbaik untuk kita semua.


Hanan yang melihat pertemuan kembali antara ibu dan anak itu pun hanya bisa tersenyum getir. Ia tak menyangka jika dua orang yang ada di depannya ini akan mengalami kejadian sedahsyat ini.


"Masuk yuk, di luar mendung!", ucap Hanan tiba-tiba. Nana pun melepaskan pelukannya. Pandangan Hanan mengedar ke arah Nana. "Nana mau om gendong?"


Nana menggeleng. "Nana sudah besar om ganteng, Nana tidak mau minta gendong lagi"


Hanan tersenyum kecil. "Ya sudah sekarang masuk ya, nanti keburu hujan".


Hanan menggandeng tangan Nana, kemudian mereka pun bergegas masuk ke dalam rumah.


Sampai di dalam rumah, sudah ada Friska, om Toni, bu Nury juga ibu Ratih yang duduk di kursi ruang tamu.


"Lin?", ucap om Toni ketika melihat keponakannya itu.


Suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Prihatin, itulah yang ia rasakan melihat keadaan Lintang saat ini. Lintang menghampiri om Toni. Sejak di rumah sakit, ia memang belum sempat bertemu dengan om nya itu karena, baru saja ia tiba dari Klaten.


"Om______"


"Maafkan om Lin, seharusnya dulu om tidak memberikan restu Agum untuk menikahimu, om menyesal Lin", ucap Om Toni memangkas ucapan Lintang.


Lintang menggeleng. "Om tidak boleh mengatakan hal itu. Tidak ada yang perlu disesali. Ini semua sudah jalan yang memang harus Lintang lewati om".


Om Toni mengangguk. "Yang kuat ya ndhuk!"


Lintang tersenyum kecil. "Inshaallah Lintang kuat om"


"Lalu apa rencana kamu setelah ini Lin?"


"Nanti akan Lintang kasih tahu jika memang sudah waktunya om".

__ADS_1


***


Sementara itu di kontrakan Agum. Terlihat Agum, Danang, juga Reni sedang berkumpul di ruang tamu. Sedari tadi mereka mencoba mencari jalan keluar dari apa yang tengah terjadi, namun tetap saja hanya jalan buntu yang mereka dapati.


Agum bersandar di sandaran kursinya sembari memegang pelipisnya. Entah apa yang ia rasakan di kepalanya itu. Mungkin sebuah kepenatan yang begitu luar biasa.


"Pokoknya kamu harus menceraikan Lintang mas. Aku tidak mau diombang-ambing kan seperti ini!!", ucap Reni memecah keheningan.


Agum menggeleng. "Aku tidak bisa Ren, aku tidak mau menceraikan Lintang".


Agum tetap kekeuh dengan pendiriannya.


"Kamu tidak bisa seperti ini mas!!, kamu lupa dengan apa yang menjadi mimpi kita kalau kita akan hidup bersama?", sambung Reni.


"Itu semua sebuah kesalahan Ren, aku benar-benar___________"


"Cukup Gum!!, tunjukkan jika kamu memang lelaki. Ini semua sudah menjadi konsekuensi yang harus kamu tanggung".


"T-tapi mas_________"


"Lepaskan Lintang Gum, dia sudah teramat menderita akibat ulah kalian, jangan menambah derita untuknya lagi!!", pangkas Danang.


"Mulai saat ini, aku akan selalu ikut bersamamu mas. Aku sudah memutuskan untuk meninggalkan keluargaku, dan akan hidup bersamamu", ucap Reni dengan raut wajah yang sedikit berbinar.


Agum pun hanya mengacak rambutnya kasar. Dan sesekali menghela nafas dalam. Ia baru menyadari jika saat ini Tuhan tengah mengabulkan salah satu permintaannya ketika dulu ia dimabuk cinta oleh kehadiran Reni yaitu bisa memiliki Reni seutuhnya.


Reni tersenyum penuh arti.


Kau lihat Lin, siapa yang jadi pemenangnya. Sebentar lagi aku akan kembali memiliki apa yang seharusnya aku miliki.


***


Shodaqallahul'adziim....


Lantunan ayat suci, menggema memecah keheningan sepertiga malam terakhir di dalam kamar yang terlihat temaram ini.


Masih dengan mukena yang menempel di badannya, Lintang bersujud, bersimpuh menghadap kiblat mencoba mencari ketenangan dalam batinnya. Air matanya tak henti-hentinya menetes. Ia mencoba untuk kuat, namun tetap saja ketika mengingat hari-hari yang telah berlalu itu, seolah hatinya tertikam oleh pisau tak kasat mata yang membuatnya sulit untuk berdiri.


Tertatih ia mencoba untuk kembali berdiri. Dengan sisa harapan dan doa jika suatu hari nanti Sang Maha pemilik kehidupan akan mengganti rasa sakit ini dengan sebuah kebahagiaan yang tak terkira. Seberat apapun hari-hari yang ia lalui saat ini, ia harus segera beranjak dari keterpurukan ini.


Ia mengusap air mata yang sedari tadi mengalir tiada henti. Sembari menghela nafas dalam, mencoba menerima dengan ikhlas apapun yang telah ditakdirkan oleh Allah.


Aku mohon ampun jika aku harus memilih jalan ini ya Rabb. Aku tahu keputusanku ini merupakan sesuatu yang Engkau benci, namun aku percaya jika ini pasti merupakan jalan yang terbaik untuk semua. Maaf atas segala kelemahanku, yang tidak bisa mempertahankan bahtera rumah tangga yang telah aku bangun ini.

__ADS_1


***


Di tempat yang berbeda juga bersimpuh sosok seorang laki-laki yang mengenakan sarung juga baju koko nya. Sebelas rakaat selesai ia tunaikan, tentunya untuk lebih mendekatkan dirinya dengan dzat yang maha sempurna. Yang selalu memiliki skenario terbaik untuk hamba-hamba Nya.


Rabbi, Engkaulah yang paling mengetahui apa yang tersimpan dalam hatiku ini. Hingga saat ini nama wanita itulah yang masih selalu aku semogakan melalui untaian doa-doa yang aku panjatkan kepada Mu. Berikan jalan terbaik untuknya. Jika memang Engkau mengizinkan aku untuk merengkuhnya, menjaganya lahir maupun batinnya, semoga Engkau kembali mempertemukan kami di waktu yang tepat.


Tok... tok... tok...


Suara ketukan pintu itu membuat Hanan terperanjat. Ia mengusap wajahnya sembari menghilangkan sisa-sisa air mata yang tertumpah.


"Iya tante, masuklah!", ucap Hanan.


Bu Nury pun memasuki kamar dan duduk di tepi ranjang. Ia melihat mata keponakannya itu yang sembab.


"Setelah mengetahui permasalahan yang ada di dalam pernikahan Lintang, apa yang akan kamu lakukan Nan?", tanya ibu Nury langsung pada pokok persoalan.


Hanan tersenyum tipis. "Aku bahkan belum bisa melakukan apa-apa tante".


Ibu Nury terperangah. Bukankah saat ini merupakan kesempatan yang bagus untuk dia bisa mendekat ke arah Lintang, tapi mengapa dia malah mengatakan hal itu. "Apa maksudmu Nan?"


Hanan menghembuskan nafas kasar. "Bagaimanapun juga Lintang masih sah menjadi istri suaminya tan, dan aku juga tidak tahu langkah apa yang akan ia ambil saat ini".


"Lalu apa kamu tidak berniat untuk lebih mendekat kepadanya?"


Hanan tersenyum kecil. "Tanpa aku berniat pun, takdir sudah mendekatkan aku dengannya".


"Lalu?"


Hanan menghela nafas dalam. "Aku akan tetap mencintainya dengan cara-cara terhormat. Aku percaya jika memang Lintang adalah takdirku, kita akan kembali dipertemukan di waktu yang terbaik".


Ibu Nury tersenyum simpul. Ia tidak percaya jika keponakannya ini memiliki cinta yang luar biasa untuk seorang wanita. Sebuah cinta yang selalu ia pupuk dengan doa-doa yang semakin membuatnya tumbuh subur hingga saat ini.


"Semoga yang terbaik senantiasa menyertaimu, Nan"


"Aamiin tante"


.


.


. bersambung ..


Mohon maaf untuk para pembaca tersayang, dikarenakan ada beberapa urusan di dunia nyata, kemarin author tidak sempat up🙏 nah di episode ini pastinya sudah ada gambaran kan tentang langkah apa yang akan Lintang ambil?, dan apa yang akan terjadi setelah ini?? , tunggu di episode selanjutnya yah... semisal nanti ada waktu luang, author up lagi deh agak maleman, tapi gak janji yah. 😅

__ADS_1


Terima kasih banyak sudah setia menunggu kelanjutan titik balik ini ya kak, semoga banyak pelajaran yang dapat diambil dari novel ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya yah... dan jangan lupa vote, vote, vote, biar author lebih bersemangat lagi.. hihihihi... happy Reading kakak...


Salam love, love, love💗💗💗


__ADS_2