
Lintang tersenyum sinis. "Kau mungkin bisa menghapus bekas yang ada di pipiku ini mas, tapi sampai kapan pun akan tetap membekas di sini" jawab Lintang sembari menunjuk ke dadanya.
"Sayang, aku ingin menjelaskan semuanya, maukah kau mendengarkan aku?", ucap Agum. Kali ini ia kembali memanggil Lintang dengan panggilan sayang, mungkin dengan maksud membuat Lintang lebih percaya.
Lintang tersenyum getir. "Apakah penjelasan darimu itu akan bisa menghapus luka yang tengah aku rasakan saat ini?"
Wajah Agum memelas. "Aku mohon sayang, beri aku kesempatan untuk menjelaskannya"
Tubuh Lintang sedikit menjauh dari Agum kemudian ia melangkahkan kakinya meninggalkan Agum. "Kita bisa bicara di kamar mas!", ucap Lintang tanpa menoleh ke arah Agum.
Agum pun melengkungkan senyumnya. Ia bergegas menyusul Lintang ke kamar. Lintang terlihat duduk di depan meja rias, dan Agum memilih duduk di tempat tidur Nana.
Hening yang tercipta di kamar Lintang di pagi ini. Hari ini Agum masih mendapatkan cuti jadi ia terlihat lebih santai.
"Apa yang mau kamu jelaskan kepadaku mas?", tanya Lintang memecah kebisuan antara keduanya.
Posisi Lintang menghadap cermin, sehingga ia melihat Agum dari bayangan yang terpantul di cermin itu. Agum menghampiri Lintang, kemudian sedikit membungkukkan tubuhnya, dan kini kepalanya tepat berada di ceruk leher Lintang.
Lintang membalikkan tubuhnya sehingga kini ia membelakangi cermin. Agum kemudian meletakkan kedua lututnya di atas lantai, sambil memegang kedua tangan Lintang.
"Sayang", ucap Agum lirih.
Lintang serasa tidak sabar ingin segera mendengar penjelasan dari Agum. "Sudah berapa lama kalian bermain di belakangku mas?", tanya Lintang langsung pada poin utamanya.
Agum menunduk. Entah jalan apa yang harus ia tempuh untuk menutupi semuanya, tapi saat ini ia benar-benar berada di posisi yang begitu membuatnya tersudut. Dan tidak mungkin lagi ia menutupinya karena sudah kepalang basah. "Empat bulan sayang", jawab Agum lirih.
Mata Lintang terbelalak. Seketika ia melepaskan genggaman tangan Agum. "Kamu bilang empat bulan?, jadi selama empat bulan ini aku bersusah payah merawat ibu yang sedang sakit, kamu di luar sana bermesra-mesraan dengan wanita itu mas?"
Agum semakin menunduk sambil mengangguk pelan.
Hati Lintang bergemuruh, ia mencoba menahan tangisnya. "Kamu tega mas!, kamu anggap aku ini apa?, apakah kamu menganggap aku ini seorang pembantu?, seperti inikah balasan darimu untuk semua baktiku kepadamu juga ibumu?"
Air mata Lintang tak lagi dapat ia bendung, tubuhnya bergetar hebat. Emosinya seolah tidak bisa ia tahan lagi.
Agum tiba-tiba memeluk tubuh Lintang. "Sayang, aku minta maaf", ucapnya lirih.
Lintang tidak membalas pelukan Agum, tangannya masih menjuntai ke bawah. "Apakah selama empat bulan ini, wanita itu juga melayani kamu di atas ranjang?", tanya Lintang dengan air mata yang terus mengalir.
Agum semakin mengeratkan pelukannya. "Sayang, maafkan aku"
"Jawab aku mas!",
__ADS_1
Agum semakin tak bisa menjawab dengan kata-kata. Hatinya juga bergemuruh. Pada akhirnya kebohongannya selama ini terbongkar juga. Agum mengangguk pelan.
Hati Lintang terasa dipaksa untuk kembali bergejolak. Bertubi-tubi tikaman pisau tak kasat mata itu seolah menghujam jantungnya. Tubuhnya semakin bergetar di pelukan Agum.
"Apa salahku mas, mengapa kamu tega melakukan semua ini kepadaku. Kepada wanita yang telah kau ikat dalam sebuah ikatan suci pernikahan, yang telah mengandung dan melahirkan anakmu, dan juga yang telah merawat ibumu??
"Sayang aku minta maaf",
Lintang menarik nafasnya dalam. "Ijinkan aku untuk pulang ke tempat ibu mas, aku ingin menenangkan diriku"
"Sa-sayang!!"
"Aku butuh waktu mas, tolong!", ucap Lintang memohon.
**********
"Bunda!!!", teriak Nana saat melihat Lintang berada di halaman depan rumah ibu Ratih.
"Sayaangg!!", jawab Lintang sambil memeluk putri kecilnya itu.
Lintang kemudian menggendong Nana. "Nana sudah makan?"
Nana menciumi pipi ibunya itu. "Sudah dong bunda, tadi nenek masak sayur bayam, enak banget"
"Ndhuk, kamu ke sini?", ucap ibu Ratih tiba-tiba setelah melihat kedatangan Lintang.
Lintang dan Nana pun masuk menghampiri ibu Ratih yang saat ini sedang berdiri di depan pintu.
Lintang mencoba menyunggingkan senyumnya. Mencoba menutupi kesedihannya di depan ibunya.
"Iya bu, tiba-tiba Lintang kangen sama Nana", jawab Lintang sedikit berbohong.
Ibu Ratih memindai wajah anak sulungnya itu. Melihat mata Lintang yang sedikit membengkak dan sembab, ia tahu bahwa anaknya itu sedang berbohong.
Ibu Ratih mencoba menahan rasa penasarannya. "Ayo masuk dulu"
Lintang dan Nana pun masuk ke dalam. Nana kemudian turun dari gendongan Lintang.
"Bunda, Nana main boneka di kamar tante Friska dulu ya", ucap Nana sembari melenggang pergi.
Lintang tersenyum. "Iya, sayang"
__ADS_1
Lintang menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi ruang tamu. Kepalanya terasa sedikit berat, dan perutnya terasa lapar karena sejak kemarin sama sekali belum terisi. Ibu Ratih hanya menatap anaknya itu dengan tatapan penuh tanya.
"Apa yang sedang terjadi padamu, ndhuk?", tanya ibu Ratih.
"Eh?", Lintang tersentak kaget. "Ti-tidak bu, tidak terjadi apa-apa pada Lintang"
Ibu Ratih hanya tersenyum kecut. "Ndhuk, jangan bohong. Ada apa dengan kamu?"
Seketika ingin rasanya Lintang menceritakan permasalahannya dengan Agum kepada ibunya. Namun sekuat tenaga ia menahannya. Bagaimanapun juga ini merupakan aib suaminya yang semestinya ditutup rapat oleh Lintang.
Lintang mencoba tersenyum lebar, agar bisa memangkas segala kekhawatiran ibunya. "Tidak bu, tidak terjadi apa-apa kok"
Ibu Ratih masih tidak percaya. "Tapi kenapa mata kamu bengkak dan sembab seperti itu ndhuk?",
"Eh iya kah bu?", tanya Lintang seolah terkejut. Ibu Ratih mengangguk.
"Oh, mungkin ini karena Lintang sering teringat dengan ibu mertua bu, kan baru kemarin beliau tiada, jadi Lintang masih merasa sedih", jawab Lintang berbohong.
"Hemmm kamu ini ndhuk, bisa saja cari alasannya", ucap Ibu Ratih.
"Hemmm Lintang lapar bu, pengen makan", ucap Lintang sedikit manja.
"Ya sudah duduk di sini dulu, biar ibu ambilkan", jawab ibu Ratih.
"T-tapi bu________"
"Sudah, kamu duduk di situ saja, jangan ngeyel!", seru ibu Ratih.
"Hehe makasih bu!"
Lintang pun merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang yang ada di ruang tamu. Matanya menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Dadanya masih terasa sesak. Tanpa terasa sebutir air bening jatuh dari pelupuk matanya.
"Biarkan aku istirahat sebentar ya Rabb", ucapnya lirih.
.
.
.
. bersambung
__ADS_1
Hai-hai para pembaca tersayang. Terima kasih banyak ya sudah mampir di novel pertamaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar kalian semua ya.. terima kasih
Salam love, love, love💗💗💗