
Kaget dapat notif?!!.. hehehe... novel ini sudah TAMAT ya kak jadi ini bukan season 2 namun hanya sekedar ekstra part. Mungkin akan author kasih ekstra part kurang lebih lima bab lagi untuk memenuhi janji author kepada para pembaca yang minta bonus chapter tentang kehidupan Lintang-Hanan setelah menikah, kehidupan Agum dan juga Reni. tapi update nya nyicil ya kak, karena author juga punya tanggung jawab untuk melanjutkan novel yang satunya.. sekali lagi mohon dimaklumi, heheheππ
Happy Reading kakak....
__________________________________________________
Sang rembulan tengah bertahta di singgasananya. Sinarnya yang redup dan terasa hangat seakan menambah rasa damai di sepertiga malam terakhir seperti ini.
Hanan masih dengan sarung dan baju kokonya terlihat sedang berdiri di depan jendela kamar sambil menggendong bayi laki-laki mungil berusia tiga bulan yang merupakan hasil buah cintanya bersama sang istri. Ya, tiga bulan yang lalu, untuk kali kedua Lintang berjuang bertaruh nyawa untuk melahirkan seorang anak manusia. Ternyata Allah begitu cepat memberikan kepercayaan kepada keduanya dengan kehadiran sang buah hati di dalam pernikahannya.
"Uhhhh anak ayah ini cuma mau main toh?", ucap Hanan sambil mengayunkan lengan tangannya.
Lihatlah, Hanan sudah terlihat begitu mahir dalam menggendong seorang bayi. Hal itu nampak dari gerakannya yang luwes menimang-nimang sang buah hati.
"Bukankah kamu sudah kenyang sayang?, tapi kenapa tidur kamu seperti tidak nyenyak dan terbangun di dini hari seperti ini? Lihatlah, bunda sudah tertidur pulas dan terlihat begitu lelah", ucap Hanan mencoba mengajak bicara sang anak yang bahkan mungkin belum paham apa yang dikatakan olehnya sambil mengelus pipi tembamnya.
Seorang bayi laki-laki yang diberi nama Rafif Ahnaf Khairunnas, terlihat menatap lekat netra sang ayah dengan bibir yang bergerak-gerak seolah ingin menyahuti perkataan dari sang ayah. Tangan dan kakinya juga bergerak-gerak seolah ingin mengajak sang ayah bermain di dini hari seperti ini.
Tadi, setelah selesai melaksanakan sholat tahajjud, Hanan melihat Rafif menggerak-gerakan tubuhnya di dalam box bayi, setelah dihampiri oleh Hanan, ternyata sang anak bangun dari tidurnya. Meski Rafif terbangun di jam-jam seperti ini, namun ia sama sekali tidak rewel. Ia hanya membuka matanya dan menggerak-gerakkan tubuhnya. Sungguh, seorang anak yang begitu pengertian.
"Papa?, dedek Rafif rewel?", tanya Nana tiba-tiba ketika melihat pintu kamar bunda dan papanya terbuka.
Hanan tersenyum melihat kehadiran Nana. "Loh, anak papa jam segini kok bangun?".
Nana menghampiri Hanan dan adiknya. "Nana haus pengen minum, pa, terus Nana melihat pintu kamar bunda terbuka, jadi Nana masuk ke sini".
"Dedek Rafif tidak rewel sayang, dedek cuma pengen main sama papa".
"Nana temani ya, pa?".
"Nana tidak mengantuk?".
"Tidak, pa. Besok kan hari Minggu, jadi Nana libur sekolah".
Hanan tersenyum. Ia kemudian meletakkan Rafif di atas box bayi yang lumayan besar kemudian di susul Nana yang ikut berbaring di sisi sang adik.
"Dedek Rafif bobok ya, besok main lagi sama kakak", ucap Nana sambil mencium pipi adik laki-lakinya.
Hanan tersenyum lebar melihat kedua anaknya itu. Sungguh, kehadiran keduanya begitu membuat hidupnya dipenuhi kebahagiaan. Dan pastinya, melalui keduanya Allah melimpahkan banyak rezeki di dalam kehidupannya.
Lintang menggeliat. Ia memincingkan mata, berusaha untuk menyesuaikan sinar lampu yang masuk ke dalam matanya yang terasa menyilaukan. Ia terkejut karena sudah ada tiga orang yang berkumpul di dalam kamarnya.
"Mas, ini jam berapa?, kok sudah pada kumpul di kamar?, apakah aku bangun kesiangan?", tanya Lintang sambil mengikat rambut panjangnya asal.
Hanan terkekeh. "Tidak bunda, ini masih malam".
Lintang melirik ke arah box bayi putranya. "Rafif bangun mas?".
"Iya bunda, memang kenapa?".
"Kok mas Hanan tidak bangunin aku?".
Hanan terkekeh. "Kenapa harus bangunin bunda, kalau akupun bisa untuk menggendong Rafif?".
__ADS_1
"Tapi mas____"
"Tidak ada tapi-tapian bunda, ini sudah menjadi salah satu tugasku untuk bergantian menjaga anak kita. Kita bikinnya sama-sama, masak cuma bunda saja yang bertugas untuk jagain anak kita", ucap Hanan memotong perkataan Lintang dengan kalimat yang sedikit ngawur.
Pipi Lintang menghangat. Satu tahun lebih ia menjalani kehidupan berumah tangga dengan Hanan, ada saja ucapan-ucapan dari Hanan yang selalu membuatnya tersipu seperti ini.
"Lihatlah, Rafif bahkan tidak rewel kan bun?, cuma ditemani kakaknya saja, ia lanjutkan lagi tidurnya", ucap Hanan ketika melihat Rafif dan Nana sudah kembali tertidur pulas.
"Aku pindahkan Nana dulu ya bun?".
Lintang mengangguk. "Makasih mas!"
Hanan menghampiri kedua anaknya. Ia kemudian membopong tubuh Nana untuk ia pindahkan ke kamarnya. Lintang menatap punggung Hanan. Ada setetes rasa bahagia yang membasahi hatinya. Bahagia karena Hanan begitu menyayangi Nana. Sejauh ini Hanan selalu memperlakukan Nana seperti anak kandungnya sendiri sama seperti saat ia memperlakukan Rafif.
Setetes bulir bening kembali lolos dari pelupuk matanya. Hanan yang saat itu sudah kembali ke kamar pribadinya hanya menatap sang istri dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia kemudian duduk di samping sang istri.
"Bunda kenapa?, kok menangis?", tanya Hanan sambil mengusap air mata Lintang.
"Aku bahagia mas, aku bahagia".
Hanan menyunggingkan senyumnya kemudian mendekap tubuh Lintang dengan erat. "Syukur alhamdulillah jika bunda bahagia hidup bersamaku. Ini merupakan salah satu tujuan hidupku bun, bisa membahagiakanmu, membahagiakan Nana, dan membahagiakan anak-anak kita nanti".
"Mas_____"
"Aku bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa tanpa kalian, sehingga kebahagiaan kalianlah yang menjadi prioritas untukku".
Hanan merenggangkan pelukannya, ia tatap lekat netra Lintang. "Bantu aku menjalankan peranku sebagai seorang suami juga seorang ayah ya bun. Bunda pasti tahu pasti tugas seorang suami itu sangatlah berat, di mana ia harus membimbing keluarganya agar bisa terhindar dari api neraka. Maka dari itu, aku juga membutuhkan bunda untuk membantuku".
"Inshaallah mas".
Inilah yang membuat Lintang jatuh cinta setiap hari kepada Hanan. Meski sebagai seorang suami, tidak lantas membuat dia melakukan sesuatu sesuka hatinya. Ia paham betul jika sebuah keluarga dibangun dari dua orang yang yang mempunyai sifat, karakter, dan pola berpikir yang berbeda. Oleh karenanya ia selalu mengajak Lintang berbagi tentang apa-apa yang harus mereka lakukan tentunya untuk meraih apa yang mereka cita-citakan yaitu jannah-Nya.
"Bun?!"
"Ya, mas?".
Hanan kemudian mencium bibir ranum Lintang dengan sedikit menggigit bibir istrinya itu. Hanan tersenyum nakal. "Aku kangen bunda".
Lintang menatap lekat wajah Hanan. Ia menarik tengkuk Hanan kemudian memberikan ciuman panasnya untuk sang suami. Keduanya saling mengecup, saling menghisap, seolah mencari suatu kenikmatan yang ada dalam tubuh masing-masing.
Raut wajah Hanan terlihat berbinar melihat respon dari Lintang. Ia kemudian mendaratkan kecupannya di leher Lintang yang seketika membuat tubuhnya menegang. Disusul dengan desahan-desahan nikmat keluar dari bibir Lintang yang seolah menjadi bensin yang membakar gairah Hanan.
"Aku suka melihat bunda yang seperti ini", ucap Hanan sambil menyeringai nakal.
Sungguh, ini gila. Selama ini Lintang tidak terlalu berani untuk bertingkah 'liar' saat melakukan bersama Hanan. Namun kali ini sungguh ia merasakan sesuatu yang berbeda. Dan akhirnya malam panjang sepasang suami istri itu pun di mulai.
****
"Sayang, telor nya tolong bawa kesini ya, kita bikin cap cay buat sarapan!", ucap Hanan sambil menumis bumbu di atas wajan.
"Siap, pa!", ucap Nana sambil membawakan telor yang diminta oleh Hanan.
Lintang yang tengah duduk sambil menggendong Rafif itu hanya terkekeh pelan, melihat kedua orang yang begitu ia cinta mengacak-acak dapurnya.
__ADS_1
"Biar aku saja yang masak, mas. Mas sama Nana mending jagain dedek Rafif aja", ucap Lintang menawarkan.
Hanan menggeleng sambil memasukkan sayuran di atas tumisan bumbu itu. "Tidak bunda, hari ini semua pekerjaan rumah biar aku yang handle, bunda istirahat saja".
"Betul kata papa, bunda. Hari ini bunda istirahat saja. Nana juga libur kok, jadi bisa bantu papa bersih-bersih rumah".
"Nah pinter anak papa. Tos dulu dong!!", ucap Hanan sambil mengangkat telapak tangannya. Mereka pun ber-tos ria.
Sungguh nikmat dari Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan?, melihat keluarga kecilnya yang harmonis seperti ini membuat Lintang tiada henti bersyukur atas limpahan karunia ini.
"Sayang, PR dari sekolah sudah selesai semua?", tanya Lintang saat melihat Nana membantu sang papa mencuci perkakas dapur.
"Sudah bunda. PR dari sekolah cuma menggambar rumah. Kemarin papa Hanan yang ngajarin Nana. Gambar papa bagus banget deh bun!", ucap Nana sedikit memuji Hanan.
Lintang terkekeh. "Jika belajar gambar menggambar memang harus sama papa sayang!".
"Nana pengen seperti papa bun, yang pinter gambar".
Hanan mematikan kompornya setelah cap cay buatannya matang. Ia kemudian mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Nana. "Kalau pengen seperti papa, jangan lupa________?".
"Rajin belajar, rajin berdoa, berbakti sama orang tua, dan suka menolong ya pa?".
Hanan mengusap lembut kepala Nana. "Pinter anak papa. Dah yuk, sekarang kita sarapan sama-sama yuk!".
Nana mengangguk. Mereka kemudian berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Lintang membantu menyiapkan tiga piring masih dengan Rafif masih ada di gendongannya.
"Eitssss piringnya satu saja bun!", ucap Hanan.
Lintang mengernyit. "Kok cuma satu mas?".
"Iya pa, kok cuma satu?, yang mau sarapan kan ada tiga", protes Nana pula.
Hanan terkekeh. "Biar papa yang suapin kalian!".
"Apa?!", ucap Lintang dan Nana bersamaan.
Akhirnya Hanan mengambil nasi dengan porsi besar. Kemudian menyuapkan nasi beserta sayur juga lauknya itu bergantian ke mulutnya sendiri, mulut Lintang, dan mulut Nana.
"Uuuhhh anak ayah yang ganteng ini pengen disuapi juga ya?", ucap Hanan sambil menatap Rafif yang ada di gendongan Lintang.
"Kalau sudah bisa makan nasi, besok ayah suapi ya sayang", sambungnya pula. Rafif kecil pun hanya bisa berceloteh pelan tanpa ada yang bisa mengartikan.
Sedangkan Lintang hanya terkekeh melihat tingkah laku suaminya itu.
Ya seperti inilah keseharian Lintang hidup bersama Hanan. Hanan selalu saja memanjakan Lintang dengan sikap-sikap manisnya yang seperti ini. Bahkan sebagai seorang suami, ia tidak malu untuk sekedar menyapu, mengepel, bahkan mencuci piring. Lintang sebenarnya sudah melarang Hanan melakukan hal itu, namun jawabannya hanya seperti ini.
"Tugas bunda mengurus rumah tangga sudah begitu banyak. Aku hanya ingin sedikit meringankan pekerjaan bunda".
Sungguh berbanding terbalik dengan apa yang dulu pernah dilakukan oleh Agum terhadapnya. Ketika Lintang kelelahan mengurus semuanya, tanpa perasaan Agum meremehkan apa yang telah Lintang kerjakan.
Ternyata, janji Allah kepada orang-orang selalu bersabar memang benar adanya. Atas kesabaran Lintang menjalani seluruh ujian hidupnya, kini Allah menggantikannya dengan kebahagiaan yang tak terkira, yaitu dengan kehadiran Hanan dalam hidupnya.
.
__ADS_1
.
. masih akan lanjut... tapi mohon sedikit bersabar yah... ππ