
Lintang kembali terdiam. Ia merubah posisinya, lebih banyak miring ke kiri. Dokter Hana setiap dua jam berkunjung, dan beruntung tekanan darah Lintang sudah mulai kembali normal dan pembukaannya perlahan bertambah.
"Mas, tolong panggilkan dokter mas, ini sakit sekali", rintih Lintang saat merasakan perutnya seperti di remas-remas.
Agum bangkit dan kemudian berlari ke ruangan dokter Hana untuk memberitahu keadaan istrinya. Di wajahnya juga terlihat begitu cemas.
Tak selang lama Agum beserta dokter Hana pun masuk ke ruangan Lintang. Samar terdengar Lintang berkali-kali beristighfar, untuk menahan rasa sakit akibat kontraksinya.
Dokter Hana tersenyum. "Atur nafasnya ya bun, sekarang kita pindah ke ruang bersalin. Inshaallah bunda bisa melahirkan secara normal"
Lintang pun menitikan air matanya karena Allah mendengarkan doa-doanya. Kini satu langkah lagi, ia harus menyiapkan fisiknya untuk melahirkan anak dari dalam rahimnya.
"Dok, ini sakit sekali", ucap Lintang setelah memasuki ruang bersalin.
Dokter Hana memberikan instruksi untuk menarik nafas juga membuang nafas. Lintang pun patuh. Agum ikut begidik ngeri melihat Lintang yang tengah kesakitan itu. Tak banyak yang bisa ia lakukan selain hanya dengan terus menggenggam tangan istrinya untuk menguatkannya.
Sesekali ia juga mengecup kening Lintang sebagai salah satu ungkapan betapa ia mencintainya.
"Kamu pasti bisa sayang", bisik Agum.
***************
Oeeeekkk... oeeekk
Terdengar suara tangis khas bayi yang baru lahir menggema memecah keheningan di ruang bersalin rumah sakit ini. Setelah mengalami ketuban pecah dini, dan langkah induksi, akhirnya tepat jam tujuh pagi, bayi dalam perut Lintang lahir dengan selamat.
"Alhamdulillah bayinya perempuan, lengkap, dan sehat bun", ucap dokter Hana.
"Alhamdulillah", ucap Lintang, Agum, dan ibu Ratih bersamaan.
Setelah bayi Lintang dibersihkan oleh perawat, perawat itupun memberikannya kepada Agum. Dengan bergetar, tangan Agum menerima makhluk kecil yang masih terlihat merah itu.
"Silakan di adzani Pak", ucap perawat itu.
Agum pun mengadzani putri pertamanya itu. Kemudian ia serahkan lagi ke perawat. Kemudian, perawat memberikan bayi itu ke arah Lintang, yang saya ini sedang terbaring. Tangisnya pecah, seolah tidak percaya bahwa baru saja ia melahirkan seorang anak. Ia kecup kening putrinya itu.
__ADS_1
"Silakan di letakkan di dada bunda ya. Kita akan melakukan proses IMD", ucap dokter Hana
"Apa itu IMD dok?",
Dokter Hana tersenyum. "IMD singkatan dari inisiasi menyusu dini bun, adalah usaha aktif bayi untuk menyusu dalam satu jam pertama kelahiran, baik persalinan normal maupun seksio sesaria. Caranya seperti ini bun, bayi di letakkan di perut dan dada bunda segera setelah lahir dan diberi kesempatan untuk mulai menyusu sendiri dengan cara merangkak mencari payudara (the breast crawl) dan membiarkan kontak kulit bayi dan bunda setidaknya selama satu jam bahkan lebih sampai bayi menyusu sendiri. Jam pertama bayi menemukan payudara ibunya adalah awal suatu life-sustaining between mother and child",
Lintang pun mengangguk. Setelah itu dokter Hana pun meninggalkan ruang bersalin.
"Sayang, anak kita cantik sekali", ucap Agum.
"Iya mas"
"Mirip sekali sama kamu nak Agum", ucap ibu Ratih.
"Masak sih bu?", tanya Agum
"Coba perhatikan hidung, bibir, sama keningnya, benar-benar foto copy an ayahnya"
Lintang mengernyitkan dahinya. "Terus yang turun dari Lintang apanya bu?",
Ibu Ratih pun terkekeh. "Yang turun dari kamu cuma jenis kelaminnya ndhuk"
"Eh, mau dikasih nama siapa mas?", tanya Lintang.
"Hehehe aku sama sekali belum menyiapkan nama untuk anak kita sayang"
Lintang tersenyum. "Sebenarnya aku sudah menyiapkan sebuah nama mas"
"Benarkah?, siapa sayang?, mas ngikut kamu aja".
"Kita kasih nama Nasywa Khanza Azzahra ya mas"
***********
Selang dua hari, akhirnya Lintang diperbolehkan untuk pulang. Ketika sampai di teras rumah, Lintang pun di sambut hangat oleh ibu mertuanya, Friska, dan juga Mimin. Bayi Lintang digendong oleh ibu Ratih, sedangkan Lintang terlihat berjalan sambil dipapah oleh Agum.
__ADS_1
"Mbak Lin!!", seru ibu Ranti
Lintang pun tersenyum kemudian menghambur di pelukan ibu mertuanya itu.
"Semua baik-baik saja kan mbak?", tanya ibu Ranti
"Alhamdulilah semua baik-baik saja bu"
Pandangan ibu Ranti kemudian tertuju pada bayi mungil yang ada di gendongan besannya. Ibu Ratih seolah paham, kemudian menghampiri ibu Ranti.
"Lihat bu, ini cucu pertama kita, cantik kan?", ucap ibu Ratih.
Ibu Ranti pun tersenyum. "Boleh saya gendong bu?"
Ibu Ratih pun mengangguk, kemudian memberikan anak Lintang ke tangan besannya.
"Wah, benar-benar mirip kamu Gum", seru ibu Ranti setelah memperhatikan dengan seksama wajah cucunya itu.
"Semua orang juga bilang seperti itu bu. Agum tidak egois kan, karena dek Lintang tidak kebagian apa-apa?", tanya Agum sambil terkekeh.
"Oh iya bu, mulai hari ini ibu sama Friska tinggal di sini saja ya, biar Lintang bisa belajar banyak untuk mengurus bayi, boleh kan mas, kalau ibu sama Friska tinggal di sini?", tanya Lintang.
"Sangat boleh sayang", jawab Agum. "Mulai sekarang ibu sama dek Friska tinggal di sini ya bu?", sambung Agum sembari memandang wajah mertuanya. Ibu Ratih pun mengangguk.
"Ya sudah, sekarang kita masuk yuk. Setelah ini kita bahas untuk acara aqiqah untuk Nasywa", ucap ibu Ratih.
Hari ini merupakan hari yang begitu bahagia untuk keluarga besar Lintang. Terlebih untuk Lintang sendiri. Mulai hari ini perannya bertambah, tidak hanya menjadi seorang istri ataupun menantu, melainkan juga sebagai seorang ibu. Pastilah akan banyak hal-hal yang terjadi selama ia menjalankan perannya itu. Namun ia percaya dengan adanya dukungan dari orang-orang yang ada di dekatnya, ia pasti bisa menjalankan perannya dengan baik.
.
.
.
. bersambung
__ADS_1
Hai-hai para pembaca tersayang. Terimakasih sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini ya. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like dan komennya ya.. terima kasih...
Salam love, love, love 💗💗💗