
Surabaya, 6 bulan kemudian....
Bayi mungil berusia empat bulan itu terlihat tertidur lelap di dalam gendongan seorang laki-laki dengan dot yang masih menempel di bibir kecilnya. Dengan perlahan, laki-laki itu meletakkan bayi yang ada di gendongannya di atas kasur kecil yang ada di ranjangnya. Setelah itu ia memunguti bekas diapers yang masih berserakan di lantai kamar, kemudian membuangnya ke tempat sampah. Dan ia lanjutkan dengan membereskan kamar agar terlihat lebih rapi.
"Mas, minta uang dong, buat ke salon. Aku mau creambath, manicure, pedicure, sama facial!", ucap seorang wanita yang tiba-tiba menghampiri laki-laki itu.
Laki-laki itu mengernyitkan dahi. "Bukankah baru dua minggu lalu aku ngasih uang untuk kamu pergi ke salon?".
Wanita itu sedikit mencibir. "Kamu lupa kalau aku harus ke salon setiap dua minggu sekali?".
Laki-laki itu masih terdiam, tidak memberikan jawaban apapun.
"Udah, mana sini uangnya, keburu siang nanti!!", sambungnya pula dengan nada sedikit memaksa.
Akhirnya laki-laki itu menyerah. Ia ambil dompet yang ada di dalam saku celananya. Kemudian perlahan ia membukanya. Matanya terbelalak karena di dalam dompet itu hanya tinggal tiga lembar uang seratus ribuan. Ia pun mengambil satu lembar lalu ia berikan ke wanita itu.
"Apa ini mas?!, uang segini mana cukup!!", teriaknya lantang.
Lelaki itu menghembuskan nafas kasar. "Pakai itu dulu saja, besok kalau aku sudah gajian, aku kasih lagi".
Wanita itupun memandang laki-laki itu dengan tatapan malas. "Bener lho ya, awas kalau kamu bohong!".
Hanya dijawab anggukan kepala oleh laki-laki itu. Ia kemudian mengambil tas nya dan melenggang pergi meninggalkan kamar. Laki-laki itu kemudian terduduk di tepi ranjang, sembari memegang kepalanya yang terasa sedikit pening.
Laki-laki itu menghembuskan nafas kasar. Ia merasa begitu sangat lelah hari ini. Di hari libur seperti ini, bahkan ia tidak bisa bersantai-santai. Ia justru lebih banyak disibukkan dengan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, mencuci karena wanita yang saat ini hidup bersamanya tidak mau mengerjakan pekerjaan itu, karena katanya bisa membuat kulitnya tidak halus lagi.
Ya, mereka adalah Agum dan Reni. Saat ini mereka tinggal di rumah milik Agum yang ada di Surabaya, yang dulu merupakan tempat tinggalnya bersama orang tuanya. Empat bulan yang lalu, Reni melahirkan seorang anak laki-laki yang ia beri nama Kevin.
Hingga saat ini Reni juga belum mengetahui jika Agum hanya sebagai cleaning service di kantornya. Biaya hidup di Surabaya yang lebih tinggi daripada di Jogja, membuatnya memutar otak untuk mencari pekerjaan lain agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Akhirnya ia memilih menjadi driver ojek online sebagai pekerjaan sampingan.
Agum kemudian merebahkan tubuhnya di samping bayi mungil itu. Ia tatap lekat wajah bayi itu. Tanpa terasa air matanya menetes, entah apa yang sedang ada dalam pikirannya.
***
Oeekkk... oeekkk.... oeekkk.....
Terdengar suara khas seorang bayi memecah keheningan tengah malam ini. Reni yang ada di samping anaknya itu tidak menggubris sama sekali, ia bahkan terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya. Agum yang berada di kamar sebelah yang mendengar suara tangisan itupun langsung bergegas menuju kamar anaknya bermaksud untuk menenangkannya.
Kamar sebelah?, ya Agum dan Reni tidur terpisah. Sejak mereka pindah ke Surabaya, Agum tidak pernah menyentuh Reni sama sekali. Itu memang kemauan Agum, bahwa ia tidak mau melakukan apapun yang berhubungan dengan kontak fisik bersama Reni. Saat ini pun ia hanya memposisikan dirinya sebagai seorang laki-laki yang bertanggung jawab atas anak yang telah dilahirkan oleh Reni.
Bagaimana dengan Reni?, ya dia terlihat tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya yang terpenting adalah Agum bisa memenuhi segala keinginannya. Dari shopping, ke salon, makan enak, liburan, dan lain sebagainya.
Agum mengangkat tubuh Kevin.
"Ren, bangun!!, lihatlah, anakmu haus ini, dia minta susu!!", ucap Agum sembari mengguncang tubuh Reni yang terlihat begitu nyenyak itu.
__ADS_1
Reni menggeliat. "Hoooaaaammm, apa sih mas!!, udah deh suruh anak itu diem, gak liat apa kalau aku lagi tidur? , gangguin aja!!"
"Sana bikin susu Ren, kamu gak kasian apa denger dia nangis kayak gini?".
"Haduuhhh udah deh mas, kamu aja sana yang bikin susu, aku capek!!", teriak Reni kemudian melanjutkan tidurnya.
Agum hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Reni. Ia kemudian bergegas menuju dapur sambil menggendong Kevin yang masih menangis itu, bermaksud membuatkan susu untuknya. Ia membuka kaleng susu, ia ambil beberapa sendok susu bubuk lalu ia masukkan ke dalam dot.
"Sssttt... sssttt... ssttttt tenang ya nak, ini ayah lagi bikin susu untukmu, setelah ini kamu bobok lagi ya", ucap Agum sembari menuangkan air hangat ke dalam dot.
Saat Agum mencoba menenangkan anaknya, terdengar suara pintu diketuk. Agum pun bergegas menuju ruang tamu untuk membuka pintu.
"Mas Danang, tumben jam segini ke sini?", tanya Agum ketika melihat Danang sudah ada di depan pintu rumahnya.
Danang mengernyitkan dahi melihat Agum yang seperti sangat kerepotan menggendong Kevin. "Dari rumahku tangisan Kevin terdengar jelas, dia kenapa sampai nangis kayak gini?".
Agum tersenyum kecil. "Tidak apa-apa mas, dia hanya kehausan".
Agum berjalan ke ruang tamu diikuti Danang di belakangnya. Kemudian mereka pun duduk di kursi ruang tamu itu.
"Ibunya ke mana?", tanya Danang.
"Tidur mas!".
"Aku tidak mau ribut sama Reni mas. Mas tahu sendiri kan, Reni itu gimana?", ucap Agum sembari menatap lekat bayi yang ada di dalam gendongannya itu.
"Kenapa kamu jadi lemah seperti ini Gum?, kenapa kamu tidak bisa berbuat tegas terhadap Reni?", cecar Danang sedikit gemas dengan sikap Agum.
Agum tersenyum getir. "Entahlah mas. Aku sendiripun sebenarnya sudah kehilangan sumber kehidupanku".
"Maksud kamu?"
Agum memandang dinding yang ada di depannya dengan tatapan kosong. "Lintang dan Nana lah yang menjadi sumber kehidupanku, dan kini aku kehilangan mereka, itu sama saja aku sudah tidak memiliki kehidupan di dunia ini. Saat ini aku masih bertahan hanya sebagai bentuk tanggung jawabku terhadap Kevin. Maka dari itu aku tidak mau membuat masalah dengan Reni. Terserah dia mau melakukan apapun, aku tidak peduli mas".
Danang tercengang mendengar ucapan Agum. Ternyata sampai saat ini, ia masih hidup di dalam penyesalan itu. Dan Danang pun sedikit iba dengan keadaan Agum saat ini, ia sibuk bekerja sebagai cleaning service, setelah itu ia lanjutkan menjadi driver ojek online, dan ketika sampai rumah, ia sibuk mengurus Kevin dan pekerjaan rumah.
"Ya sudah, semisal kamu kerepotan mengurus Kevin, kamu bisa minta tolong mbak Nunik untuk gantian menjaga Kevin", ucap Danang.
Agum tersenyum. "Terima kasih banyak mas. Maaf, aku sudah terlalu sering merepotkan sampeyan sama mbak Nunik".
***
Reni dengan rok di atas lututnya dan kemeja putih ketat terlihat sedang berjalan memasuki kantor tempat Agum bekerja. Rambutnya dibiarkan tergerai yang membuat kesan sexy bagi siapapun yang melihatnya.
Setelah menitipkan Kevin di rumah Danang, ia bermaksud mendatangi kantor Agum untuk meminta uang. Hari ini ia begitu ingin pergi shopping, karena sudah lama ia tidak memanjakan mata membeli barang-barang branded di mall.
__ADS_1
Ini kali pertama Reni menginjakkan kaki di kantor Agum. Selama ini, Agum melarang Reni untuk menemuinya di kantor, Reni pun tidak tahu apa alasannya. Namun hari ini keinginannya shopping begitu menggebu, akhirnya ia nekat datang ke kantor Agum untuk meminta uang.
"Mbak, pak Agum nya ada?", tanya Reni kepada seorang wanita yang merupakan customer service di kantor Agum.
Wanita itu menatap Reni dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan sinis. "Pak Agum?, pak Agum cleaning service maksudnya?".
Reni sedikit terkejut. "Mbak ini sudah berapa lama sih kerja di sini?, masak tidak tahu suami saya itu siapa?". Reni menghembuskan nafas kasar. "Suami saya itu kepala operasional di sini mbak!!".
"Maaf, sepertinya anda salah orang. Di kantor ini yang namanya pak Agum, dia bekerja sebagai cleaning service, bukan sebagai kepala operasional".
Reni menggeleng sembari tersenyum sinis. "Mbak ini benar-benar tidak tahu sopan santun. Masak pimpinannya di bilang cleaning service!!".
"T-tapi bu, pimpinan di kan_________"
"Ada apa ini, kok ribut-ribut seperti ini?!", pangkas seorang laki-laki yang terlihat gagah dan tampan dengan setelan jas kerja yang membalut badannya.
Reni dan customer service itupun seketika mengarahkan pandangannya ke lelaki itu. Dan mata Reni terbelalak melihat ada seorang laki-laki yang nampak begitu tampan di depannya saat ini.
"Maaf pak, ibu ini mencari suaminya yang bernama pak Agum".
"Lalu?", tanya lelaki itu.
"Ibu ini ngotot mengatakan kalau pak Agum adalah kepala operasional di sini, padahal kepala operasional di kantor ini kan bapak!".
Lelaki itu tersenyum tipis ke arah Reni. Ia mengulurkan tangannya ke arah Reni. "Saya Jonas, saya lah yang menjadi kepala operasional di sini!".
Mata Reni membulat. Ada dua hal yang membuat ia terkejut. Yang pertama ia mengetahui jika Agum bukan sebagai kepala operasional di sini yang kedua ia sedikit terkejut lelaki tampan di depannya ini mengajaknya bersalaman.
Reni membalas jabat tangan lelaki yang bernama Jonas itu. Namun tiba-tiba....
"Mas Agum????!!!!!!", ucapnya dengan mata terbelalak melihat laki-laki yang ada di belakang punggung Jonas yang sedang sedang membawa alat-alat kebersihan di tangannya.
Agum pun tak kalah terkejutnya. "R-Reni??!!!!"
.
.
. bersambung...
Yuk vote, vote, vote!!!... tuh udah author tepatin ngasih part kehidupan Reni dan Agum di Surabaya. Tentunya part-part ini masih berlanjut untuk beberapa episode yang akan datang, jadi bagi yang kangen sama Agum dan Reni bisa lebih lama melepas rindu.. hihihihii.😅😅. oh iya 6 bulan yang ada di awal paragraf, author hitung dari Lintang setelah dari pengadilan ya kak... jadi sama saja sudah bulan ke 9 Agum dan Reni tinggak di Surabaya.
Terima kasih banyak untuk yang sudah selalu menunggu kelanjutan cerita titik balik ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode yah.. jangan lupa vote, vote, vote biar author lebih semangat dalam menulis... happy Reading kakak..
Salam love, love, love💗💗💗
__ADS_1