
Pohon mangga di depan rumah dengan pagar beteng yang lumayan tinggi itu terlihat sedang berbuah sangat lebat. Dari mangga yang masih kecil, yang muda hingga yang sudah matang terlihat bergerombol seolah memanggil siapapun yang kebetulan lewat di di bawahnya, memanggil untuk memetik tentunya๐. Meski hari telah gelap tapi tetap saja tidak bisa menghalangi pesona buah- buah itu yang terlihat begitu menggiurkan.
Agum dan Danang berdiri di depan rumah pemilik pohon mangga. Agum tengah berpikir bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan buah mangga itu.
"Apa kita lemparin dari bawah aja ya mas?", tanya Agum memberi usul
"Hus!!, itu namanya kamu nyolong Gum, kamu mau anak dalam perut Lintang kamu kasih hasil curian?", tanya Danang.
"Ya enggak lah mas, tapi gimana dong?", tanya Agum bingung
"Temuin yang punya rumah aja deh, minta baik-baik. Pasti dibolehin lah sama yang punya rumah", jawab Danang. Agum mengangguk
Agum dan Danang mencoba masuk ke halaman rumah itu. Halaman yang sangat luas, dan tidak hanya ada pohon mangga yang ada di sana. Pohon rambutan, pohon nangka juga terlihat tumbuh dengan suburnya.
Tok.. tok.. tok....
Agum mengetuk pintu. Ia melihat jam di layar handphone nya sudah menunjukkan jam sebelas lewat. Lama Agum dan Danang menunggu sang pemilik rumah membukakan pintu. Hingga akhirnya
Ceklek.....
Terdengar suara pintu dibuka dari dalam. Terlihat laki-laki paruh baya membukakan pintu dengan mengenakan sarung dan kaos tipis.
"Assalamualaikum pak", ucap Agum memberi salam
"Wa'alaikumsalam, maaf siapa ya, kok tengah malam seperti ini bertamu?", tanya lelaki paruh baya itu
"Sebelumnya saya minta maaf jika kedatangan saya mengganggu istirahat bapak. Di sini saya mau minta izin untuk meminta mangga muda yang ada di depan itu pak", jawab Agum mengutarakan maksudnya sambil menunjuk letak pohon mangga itu.
Lelaki paruh baya itu masih terdiam. Ia memandangi Agum juga Danang dengan tatapan penuh curiga.
"Istri adik saya ini sedang ngidam Pak, dia minta dicarikan mangga muda", ucap Danang tiba-tiba saat mengetahui mimik muka lelaki paruh baya itu.
"Owalah, jadi istri mas ini lagi ngidam?", tanya lelaki itu. Agum mengangguk.
"Ya sudah ambil saja mas. Memang jika istri lagi ngidam itu harus diturutin, kalau enggak nanti anaknya bisa ngences", sambung lelaki paruh baya itu.
Agum begidik ngeri membayangkan kalau anaknya nanti ileran. Ia terlihat memukul- mukul kepalanya mencoba menghilangkan pikiran anehnya itu.
"Tapi...."
"Tapi kenapa Pak?", tanya Agum mendengar lelaki paruh baya itu menggantung kalimatnya.
"Saya tidak punya galah mas, jadi kalau mas mau metik buahnya ya harus manjat", jawab lelaki paruh baya itu.
Astaga... malam- malam gini aku suruh manjat pohon mangga?, ckckckck.. tapi tak apalah daripada nanti anakku ileran..
Agum pun mengangguk. Ia dan Danang berjalan menuju pohon yang tengah berbuah lebat itu. Ia buka kemeja biru yang ia pakai kemudian ia lempar ke arah Danang.
__ADS_1
Dengan gerak cepat ia mencoba memanjat pohon itu. Layaknya sang pemanjat hebat, hanya dengan waktu singkat ia berhasil bertengger di salah satu dahan pohon itu.
Ia memetik beberapa buah. Dan tiba-tiba
"Awwwwwwww... Adduuuuuhhhhhhh", teriak Agum. Danang yang mendengar teriakan Agum kemudian mendongakkan kepalanya.
"Koen lapo (kamu kenapa) Gum?", tanya Danang
"Hadduuuuhhhh banyak semut rangrang mas!!", jawab Agum
Agum pun bergegas turun setelah berhasil mendapatkan lima buah mangga muda. Sampai di bawah ia menggaruk- garuk badannya yang terasa gatal juga panas karena semut rangrang.
"Hahaha nasibmu Gum... kasian, kasian, kasian!!", ledek Danang dengan menirukan salah satu tokoh animasi anak.
Agum hanya meringis. Menahan gatal juga panas di sekujur tubuhnya. Setelah itu ia kenakan lagi kemejanya lalu pamit kepada lelaki pemilik pohon mangga itu.
"Semoga istri juga anaknya selalu sehat ya mas", ucap lelaki paruh baya itu mendoakan.
"Aamiin, terima kasih atas doanya Pak, dan terima kasih untuk mangga mudanya", jawab Agum.
**************
Lintang terlihat gelisah menunggu Agum pulang. Ia mondar mandir layaknya setrikaan dengan perasaan khawatir sekaligus hasrat ingin segera menikmati mangga muda. Sesekali ia terlihat menguap, menahan kantuk yang mendera.
"Mbak, mending tidur dulu, nanti kalau Agum pulang pasti bangunin kamu kan?", ucap ibu Ranti tiba-tiba
"Kamu juga tidur mbak, gak baik sampai jam segini masih begadang", nasihat ibu Ranti
Lintang menarik nafas dalam kemudian ia hembuskan. Niat hati ingin menunggu Agum tapi apalah daya, matanya juga sudah tidak bisa diajak kompromi.
Akhirnya Lintang pun menuju kamarnya. Melihat bantal juga guling, seolah membuat ia merasa ingin bersegera memeluk dua benda itu, dan ia pun terlelap dalam tidurnya.
***************
"Aaaaaaaaaaaa mas!!!", teriak Lintang ketika jarum jam menunjuk angka tiga dini hari.
"Haahh, ada apa dek, ada gempa kah?!!!", ucap Agum terperanjat
"I-itu kenapa badan mas bentol- bentol semua?", tanya Lintang sambil menunjuk bagian dada juga punggung Agum yang kebetulan ia bertelanjang dada.
"Huh, ini gara-gara mangga muda dek", jawab Agum masih dengan mata yang hanya tinggal lima watt.
Hiks.. hiks.. hiks..
Agum terkejut tiba-tiba melihat Lintang menangis
"Loh, loh, loh, kamu kenapa nangis sayang?", tanya Agum penasaran
__ADS_1
"Jadi mas nyalahin adek?, karena adek yang minta mangga muda bikin mas bentol- bentol gini?, hiks.. hiks.. hiks" jawab Lintang sambil terisak
Aduh kayaknya aku salah bicara ini. Kenapa wanita hamil itu jadi lebih sensitif gini.
"Cup cup cup sayang, ini bukan salah kamu kok. Mas yang salah karena pas tadi manjat pohon mangga, mas gak pake baju", jawab Agum mencoba menghentikan isakan Lintang.
Lintang sedikit lebih tenang "Jadi bukan karena Lintang ataupun mangga muda kan mas?"
Agum mengangguk "Iya sayang, ini salah mas sendiri. Udah ya jangan nangis lagi"
Lintang pun tersenyum kemudian memeluk tubuh Agum
"Terima kasih mas. Mas udah bela-belain sampai bentol- bentol kayak gini, gatal ya mas?", tanya Lintang tanpa beban
Aduuhhh dek, gak hanya gatal, ini panas dan perih juga karena terlalu sering digaruk
"Udah sayang gak apa-apa kok, besok juga sembuh" ucap Agum
Lintang semakin mengeratkan pelukannya. Ia teramat bahagia melihat suaminya yang susah payah berusaha memenuhi permintaannya.
"Mas?!", ucap Lintang
"Iya sayang, kenapa?", tanya Agum
"Temenin adek yuk!", pinta Lintang
Agum mengernyitkan keningnya "Temenin?, ke mana?",
"Ke dapur mas", jawab Lintang
Agum semakin penasaran "Ngapain sayang?",
"Bikin lotis mas!!", jawab Lintang bersamangat
"A-apaa???????", teriak Agum mendengar jawaban Lintang
.
.
.
. bersambung
Hai para pembaca tersayang.. Jangan lupa tinggalkan jejak like juga komentar kalian semua ya... terima kasih
Salam love, love, love ๐๐๐
__ADS_1