Titik Balik

Titik Balik
LIMA PULUH TUJUH


__ADS_3

"Ibu lumpuh lagi mas", jawab Lintang panik.


Agum terperanjat dan segera menghampiri ibunya yang ada di dalam kamarnya.


"Ibu kenapa?", tanya Agum sambil sedikit menahan nafas ketika mencium aroma pesing dari kasur ibunya.


Ibu Ranti tidak berkata sepatah katapun. Hanya kucuran air matanya yang seolah mengatakan ia begitu tersiksa dengan keadaannya saat ini.


"Bunda, nenek kenapa?", tanya Nana melihat kedua orang tuanya berkumpul di kamar neneknya.


"Nenek sakit sayang", jawab Lintang.


Nana menatap iba neneknya yang saat ini tengah terbaring lemah.


"Apanya yang sakit nek?, mau Nana pijitin biar cepet sembuh?", tawar Nana polos.


Ibu Ranti hanya tersenyum getir melihat perhatian yang ditunjukkan oleh cucu kesayangannya itu. Rasanya ingin sekali ibu Ranti membelai rambut Nana, tapi apa daya, organ tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan.


"Dek, coba bersihkan dulu bekas pipis ibu ini. Habis itu kamu mandikan. Setelah itu kita bawa ke rumah sakit", perintah Agum.


"Baik mas, aku minta tolong jagain Nana dulu", jawab Lintang patuh. Agum pun mengangguk.


Susah payah Lintang mencoba membangunkan tubuh ibu mertuanya itu. Sehingga saat ini beliau dalam posisi duduk di atas ranjang.


Lintang mengalungkan lengan ibu mertuanya di lehernya, berupaya membuat ibu mertuanya berdiri kemudian memapahnya menuju kamar mandi.


"Tunggu sebentar ya bu, Lintang bersihkan tempat tidur ibu dulu, setelah ini Lintang akan memandikan ibu", ucap Lintang sambil mendudukkan tubuh ibu mertuanya di atas kursi yang terbuat dari plastik. Ibu Ranti pun mengangguk.


*********


Lintang dan Agum menunggu ibu Ranti di dalam ruang UGD. Dokter Anwar yang merupakan dokter yang dulu menangani penyakit ibu Ranti terlihat sedang memeriksa keadaannya.

__ADS_1


"Bagaimana dok?", tanya Lintang setelah dokter Anwar selesai memeriksa kondisi ibu Ranti.


"Awal mula ibu seperti ini gimana ya mbak?", tanya dokter Anwar balik.


"Pagi-pagi bangun tidur, ibu teriak-teriak minta tolong dok, ternyata kaki dan tangannya tidak bisa digerakkan."


Dokter Anwar mencoba menjelaskan. "Dulu ibu pernah terserang stroke juga kan mbak?". Lintang mengangguk.


Dokter Anwar menarik nafas dalam. "Ternyata untuk saat ini karena diabetes, walaupun darahnya hanya normal tinggi (130/85), dapat terjadi sumbatan di otak akibat gumpalan kolestrol yang tadinya menempel di pembuluh darah yang telah terkena aterosklerosis terlepas dan ikut mengalir lalu menyumbat pembuluh darah otak"


Lintang dan Agum terlihat seksama mendengarkan penjelasan dokter Anwar.


"Kontrol penyakitnya tidak teratur ya mas? Dulu saya pernah mengatakan sama mas kan sakit begini harus rutin ke dokter supaya jangan terjadi serangan kedua?. Harus setia jadi pasien seumur hidup.", sambung dokter Anwar


Agum tersentak, ternyata ada satu hal yang sangat penting yang luput dari perhatiannya. Wajahnya terlihat memelas. "Maafkan kami dok, kami telah lalai dalam mengingat pesan dari dokter tiga tahun lalu. Karena ibu merasa sudah sehat dan tangannya kuat lagi, bahkan sudah bisa berjalan, ibu memilih tidak makan obat lagi dan tidak kontrol lagi"


Dokter Anwar tersenyum. "Jangan salah mas. Serangan kedua dan ketiga biasanya lebih parah, apalagi kalau ketemu diabetes, itu makanya saat ini ibu kena stroke nya subuh. Saat aliran darah perlahan, bekuan-bekuan itu menyumbat ke pembuluh darah yang sudah tebal karena perlemakan. Seharusnya ibu diatur gulanya sampai stabil, lalu diberikan rutin obat pengencer darah dan anti kolestrol yang dapat menghindarkan bekuan darah terbentuk dari pecahan dinding pembuluh darah yang telah menyempit".


"Jika ibu pernah mengalami serangan sebelumnya, maka pada serangan kedua ini, kemungkinan untuk sembuh akan semakin kecil karena kerusakan yang ditimbulkan oleh stroke tersebut", jawab dokter Anwar. "Untuk saat ini ibu biarkan rawat inap di rumah sakit dulu ya mas, mbak. Agar saya bisa memantau perkembangan beliau. Untuk kesembuhan, banyak-banyak berdoa saja", sambung dokter Anwar mengakhiri penjelasannya.


Lintang dan Agum pun terlihat terduduk lemas di sisi tempat ibu Ranti terbaring.


**********


Ibu Ranti di pindah ke ruang rawat kelas dua. Ia terlihat lemah dengan selang infus juga selang oksigen menempel di tubuhnya.


"Huhuhuhu Nana gak mau pulang bunda, Nana pengen di sini"


Lintang mencoba tersenyum. "Sayang, pulang sama nenek Ratih dulu ya, besok Nana bisa ke sini lagi", ucap Lintang kepada Nana.


Tangisan Nana terdengar semakin kencang. "Nana mau di sini, mau sama bunda, huhuhuhuhu"

__ADS_1


"Nana diam!", ucap Agum seketika berupaya mendiamkan Nana yang sedang merengek dengan nada yang tinggi.


Pandangan Lintang kemudian tertuju kepada Agum. "Mas?!"


Ibu Ratih pun juga ikut terkejut. "Sini ndhuk, Nana biar ibu yang gendong"


Lintang pun menyerahkan Nana ke gendongan ibunya. "Sayang, sekarang sudah besar kan?


Nana mengangguk. Lintang kembali tersenyum sambil mengusap kepala putrinya. "Kalau Nana sudah besar berarti harus nurut apa kata bunda. Sekarang Nana pulang sama nenek Ratih, nanti di rumah juga ada tante Friska, jadi Nana bisa main sama tante Friska"


Nana mulai menghentikan tangisannya. "Jadi nanti Nana tidur di tempat nenek Ratih ya bunda?, terus bunda kapan pulang?


Lintang mulai sedikit lega karena Nana sudah bisa sedikit mengerti. "Iya sayang nanti di rumah, Nana ditemani tante Friska, bunda pulangnya kalau nenek Ranti sudah sembuh ya"


Akhirnya Nana menurut apa yang dikatakan oleh Lintang. "Iya bunda"


Lintang menghampiri Agum. Dan mengajaknya keluar ruangan. "Kamu tidak seharusnya membentak anakmu seperti itu mas!",


Agum hanya memasang wajah datar dan tidak ada sepatah katapun yang terucap.


Lintang menarik nafas dalam. "Aku tahu kamu capek, tapi tidak seharusnya kamu berbuat seperti itu di depan anakmu mas!"


.


.


.


. bersambung


Hai-hai para pembaca tersayang. Terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir di novel pertamaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar kalian yaa... terima kasih..

__ADS_1


Salam love, love, love❤️❤️❤️


__ADS_2