
Pandangan Lintang tertuju pada sosok seorang wanita yang tengah berjalan memasuki foodcourt di mana Lintang juga duduk di sana. Terlihat ia kerepotan membawa beberapa paper bag yang isinya barang-barang branded. Ingin rasanya ia memalingkan wajahnya agar keberadaannya tidak disadari oleh Reni, tapi ternyata ia lebih dulu mengarahkan pandangannya ke arah Lintang.
Akhirnya mereka saling bertemu pandang. Dan Reni terlihat menghampiri Lintang yang sedang duduk di sudut foodcourt itu.
Reni berdiri di samping Lintang sembari membuka kacamata hitamnya kemudian ia sematkan di atas kepalanya.
Lintang tersenyum sinis memperhatikan style wanita yang menjadi rival nya ini.
Oh jadi seperti ini model wanita yang digilai oleh suamiku?, hot pant, tanktop, dengan kacamata hitam dan rambut pirang?, macam bule Jowo gini? Ckckckck
"Belanja juga Lin?", tanya Reni sembari duduk di hadapan Lintang.
"Iya", jawab Lintang singkat.
Reni melihat belanjaan Lintang dengan tatapan sinis. Bibirnya terlihat mencibir. "Cuma dikasih segini aja jatah belanjaanmu?"
Lintang menatap jengah. "Memang apa urusan kamu?"
Reni mencibir. "Lihatlah, suamimu bahkan lebih banyak ngasih jatah belanja ke aku daripada ke kamu"
"O ya?, dan kamu bangga?", tanya Lintang.
Reni bersedekap. "Ya jelas banggalah, aku bisa mendapatkan perhatian dan jatah belanja yang lebih banyak dari suamimu daripada kamu"
Hati Lintang terasa tercubit, rasa sesak kembali ia rasakan seolah menahan air mata yang ingin tumpah, tapi sebisa mungkin ia menahannya. Ia tidak mau dipandang lemah oleh wanita yang saat ini ada di hadapannya itu. "Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan bangga sama sekali, menggunakan sesuatu yang bukan menjadi hak ku"
Reni membelalakkan matanya. "Maksud kamu apa?"
Lintang tersenyum sinis. "Kamu tahu, di dalam uang yang kamu pakai untuk belanja barang-barang branded ini terdapat hak ku juga anakku, jadi secara otomatis kamu mengambil hak kami berdua yang seharusnya menjadi milik kami, dan kamu tau apa sebutan untuk orang yang suka merampas hak orang lain?"
Reni hanya terdiam terpaku. Lintang semakin berada di atas angin. "Perampok", sambung Lintang sarkas.
Reni tersentak mendengar ucapan Lintang. Ia berusaha menutupi keterkejutannya. "Hahaha terserah apa kata kamu saja, yang jelas aku jauh lebih baik daripada kamu. Kamu lihat, mas Agum jauh lebih memanjakan aku daripada kamu".
Ternyata belum menyerah juga wanita ini. Ia masih saja membandingkan perlakuan mas Agum terhadapku dan terhadapnya.
Tubuh Lintang bergetar, namun ia mencoba untuk tetap tersenyum. "Bagiku kamu bahkan tidak jauh lebih baik daripada aku, karena sebaik-baik wanita, tidak akan pernah merebut apa yang telah menjadi kebahagiaan wanita lain dan yang tidak akan pernah meninggalkan keluarganya hanya untuk mengejar laki-laki yang menurutnya bisa membahagiakannya secara materi"
Duuuaarrrr!!!! Dada Reni terasa bergemuruh. Tak percaya Lintang akan mengatakan hal itu. Lintang justru semakin terhibur dengan ekspresi wajah Reni yang sudah memerah menahan amarahnya.
Percakapan Lintang dan Reni terhenti ketika seorang waiters menghampiri mereka dengan membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat jus mangga dan jus strawberry.
__ADS_1
Reni masih belum menyerah. "Aku sedang memperjuangkan cintaku agar suatu saat nanti kamu benar-benar tersingkir dan aku bisa menggantikan posisimu"
Lintang tersenyum kecut. "Berusahalah sebisamu untuk merebut suamiku. Saat ini aku bertahan hanya untuk anakku, dan jika suatu hari nanti aku menyerah, aku akan menyerahkan suamiku kepadamu, dengan penuh keikhlasan".
Reni terbahak. "Hahaha jadi saat ini kamu akan menyerah?"
Lintang mencibirkan bibirnya. "Aku bahkan baru akan memulainya"
Reni semakin angkuh. "Akulah yang akan jadi pemenangnya"
Lintang tersenyum. "Semoga"
Reni semakin tak berkutik. Niatnya untuk membuat Lintang kesal dan tersulut amarah malah ia yang merasa kesal sendiri bahkan tidak sedikitpun emosi Lintang terpancing.
Lintang menyeruput jus mangga yang ada di depannya. "Apakah ada hal lain yang masih ingin kau bicarakan?", tanya Lintang.
Reni berdiri sambil membawa barang belanjaannya. Kemudian melenggang pergi.
Lintang menundukkan wajahnya. Akhirnya air mata yang sejak tadi tertahan, saat ini tumpah. Hatinya terasa sesak menghadapi wanita yang telah mengusik ketenangan keluarganya itu.
Aku baru saja akan memulai ya Rabb.. ku mohon berilah kuatkan padaku.
*********
"Wa'alaikumsalam", jawab Ibu Ratih sambil membuka pintu. "Ayo masuk', sambung ibu Ratih pula.
Lintang masuk ke ruang tamu kemudian duduk di kursi sambil meletakkan martabak manis di atas meja. "Maafkan Lintang ya bu, Lintang perginya lama, Nana sedang apa Bu?"
"Itu ada di kamar Friska, ndhuk"
Lintang mengangguk. Ia terdiam sejenak. Sejak dari mall tadi ia berpikir untuk membuka sebuah usaha rumahan untuk mengisi waktunya, dan tentu saja agar ia bisa menjadi wanita mandiri dan tidak terlalu bergantung kepada suaminya.
"Bu?", panggil Lintang
"Ya ndhuk, ada apa?", tanya ibu Ratih
"Gimana kalau kita buka usaha kecil-kecilan di rumah, ya untuk mengisi waktu kita saja bu. Dan pastinya bisa jadi tabungan untuk sekolah Friska selanjutnya", ucap Lintang meminta pendapat.
Ibu Ratih mengernyitkan dahi. Ia heran mengapa anak sulungnya itu tiba-tiba ingin membuka usaha. "Memang uang belanja dari suamimu kurang ya ndhuk?"
Lintang tersenyum. "Tidak bu, uang belanja dari mas Agum cukup kok, tapi kalau Lintang punya tabungan sendiri kan enak bu"
__ADS_1
Ibu Ratih mengangguk. "Lalu kamu mau buka usaha apa ndhuk?"
Lintang seperti berpikir keras. Tiba-tiba ia menyunggingkan senyumnya. "Gimana kalau kita buka catering bu?"
"Catering?", tanya bu Ratih memastikan.
Lintang mengangguk. "Peralatan masak punya ibu kan cukup lengkap, jadi tidak perlu cari-cari lagi".
Ibu Ratih menarik nafas dalam. "Lalu untuk modalnya, ndhuk?"
"Lintang ada sedikit tabungan bu, Lintang rasa cukup kok, untuk operasionalnya", jawab Lintang bersemangat.
Ibu Ratih terlihat berfikir sejenak. "Boleh kita coba ndhuk"
Lintang tersenyum. "Bismillah, kita coba ya bu". Ibu Ratih pun mengangguk.
"Bunda!!", teriak Nana ketika melihat ibunya ada di ruang tamu kemudian menghambur di pangkuan Lintang.
"Sayang, maafkan bunda ya, bunda agak lama perginya", ucap Lintang sambil mencium pipi Nana.
"Memang bunda dari mana?", tanya Nana.
Lintang tersenyum sambil membuka kerudungnya. Dan terlihat Lintang dengan model rambut barunya.
Mata Nana terbelalak. "Bunda kok tambah cantik. Nana juga mau rambutnya dikayak gini bun", ucap Nana sambil memainkan rambut Lintang.
Lintang terkekeh. "Besok kalau Nana sudah besar ya. Sekarang kita makan martabak dulu, panggil tante Friska sekalian ya",
"Horee, martabak!!, tante ayok ke sini, kita makan martabak" teriak Nana.
Dan mereka berempat pun terlihat menikmati martabak yang ada di hadapan mereka. Lintang menyunggingkan senyum. Seberat apapun permasalahan yang sedang ia hadapi, ia selalu saja punya tempat untuk pulang yaitu ibunya.
.
.
.
. bersambung
Hai-hai para pembaca tersayang.. terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar kalian semua yaa... terima kasih..
__ADS_1
Salam love, love, love💗💗💗