
"Terima kasih banyak ya mas, mbak, sudah mengajak aku dan anak-anak makan malam bersama kalian"
Itulah kata-kata yang terucap dari bibir Reni sesaat setelah mereka selesai makan bersama. Dalam hatinya bersorak, karena malam ini ia bisa bersama-sama dengan Agum meski harus kucing-kucingan.
Lintang membenahi posisi Nana yang saat ini tengah tertidur lelap di dalam gendongannya. "Sama-sama mbak Ren, hati-hati di jalan ya, semoga selamat sampai rumah"
Reni pun mengangguk. "Iya mba, kalau begitu saya pamit ya"
Reni dan kedua anaknya pun melangkahkan kaki meninggalkan Agum dan Lintang. Terlihat taxi online berhenti di hadapan Reni, kemudian membawa Reni dan anak-anaknya meninggalkan taman lampion ini.
Drrtttt... drrrrtttt...
Ponsel Agum kembali bergetar. Sebuah pesan baru masuk di WhatsApp nya.
Mama❤️: terima kasih untuk malam ini sayang, besok kita ketemu lagi ya...
Agum pun menyunggingkan senyumnya. Hatinya seolah bergetar tak karuan layaknya anak muda yang sedang jatuh cinta.
Lintang mengamati ekspresi wajah Agum. "Mas?!",
Agum tergagap. "Eh, ada apa dek?",
Lintang seolah ingin tahu ada pesan dari siapa yang membuat Agum terlihat berseri-seri seperti itu.
"Baca pesan dari siapa sih, kok kayaknya seneng banget?", tanya Lintang menyelidik.
"Eh, enggak kok dek. Ini cuma ada pesan dari kantor Semarang, mungkin bulan depan aku ada dinas ke Semarang selama dua minggu", jawab Agum berbohong. "Ya udah sekarang pulang yuk, kasihan Nana sepertinya gak nyaman tidurnya", sambung Agum.
Lintang pun mengangguk menyetujui ucapan Agum. Meski dalam hatinya masih terbesit sebuah rasa penasaran yang begitu besar, namun Lintang mencoba untuk menahannya, dan mencoba menepis segala pikiran buruknya.
Tempat ini terlihat semakin sepi. Satu per satu para pengunjung mulai meninggalkan taman lampion ini. Lintang dan Agum berjalan menuju tempat parkir. Dan tak lama kemudian Agum melajukan mobilnya menembus dinginnya malam ini.
**********
__ADS_1
Agum dan Lintang berbaring bersisihan. Kali ini mereka tidur di bawah. Ranjang yang biasanya mereka tempati saat ini ditempati oleh Nana. Dan kini jika mereka akan tidur maupun melakukan aktifitas yang lain, mereka lakukan di atas kasur busa yang lumayan lebar, tanpa menggunakan dipan.
Agum mengusap pipi Lintang. Dengan seksama ia memperhatikan wajah wanita yang sudah tiga tahun mendampinginya itu.
Wajahnya terlihat semakin tidak memancarkan rona kesegaran bahkan cenderung kusam. Meski tidak ada jerawat namun terlihat amat kusam. Seketika ia teringat wajah Reni yang terlihat semakin cantik itu. Agum menghembuskan nafas kasar dan tanpa sengaja terdengar oleh Lintang.
"Mas kenapa?", tanya Lintang penasaran.
"Enggak apa-apa dek", jawab Agum.
Agum kemudian mengecup bibir Lintang. Perlahan ia mencoba menikmati bibir Lintang. Ia mencoba mencari getaran-getaran cinta yang saat ini sudah tidak pernah ia rasakan lagi saat melakukan kontak fisik dengan istrinya itu. Malah justru sekarang Reni lah yang lebih bisa membuat Agum merasakan getaran itu.
Meski tanpa greget yang dirasakan oleh Agum, namun Agum berusaha untuk tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami, yaitu memberikan nafkah batin untuk Lintang. Dan tak bisa dihindari juga jika bayangan Reni lah yang menjadi objek fantasinya.
Sesaat setelah Lintang dan Agum selesai melakukan hubungan suami istri, Agum pun langsung beranjak ke kamar mandi. Lintang dibuat terkejut oleh sikap Agum yang terlihat berbeda.
Eh ada apa dengan suamiku?, biasanya setelah pelepasan, ia selalu mengucapkan terima kasih dan mengecup keningku. Tapi kenapa sekarang tidak?, bahkan ia terlihat sangat terburu-buru dan tidak menikmati semua ini. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
*************
Lintang yang baru saja selesai memandikan Nana terkejut mendengar panggilan ibu mertuanya.
Lintang selesai menguncir rambut Nana. "Sayang, main di depan TV dulu ya, bunda mau ke kamar nenek. Setelah itu baru kita sarapan",
"Iya bunda", jawab Nana sambil membawa boneka barbie nya.
Lintang pun masuk ke kamar ibu mertuanya.
"Ibu?, ada apa bu?", tanya Lintang penasaran.
"Mbak, aku tidak bisa bangun, tubuhku tidak bisa digerakkan", jawab ibu Ranti sambil menahan tangisnya.
Lintang duduk di tepi ranjang ibu mertuanya. Matanya terbelalak, sprei kasur ibu mertuanya sudah basah oleh air seni (pipis).
__ADS_1
"Astaghfirullah... ibu kenapa?, kenapa bisa seperti ini bu?", tanya Lintang gusar yang juga berusaha menahan tangisnya.
"Aku lumpuh lagi mbak, aku tidak bisa merasakan apa-apa ditubuhku", jawab ibu Ranti. Kali ini ibu mertuanya tidak bisa lagi menahan tangisnya.
"Ya Allah...", suara Lintang seolah tercekat di tenggorokannya.
Lintang pun turut menangis saat melihat ibu mertuanya tergolek lemas di atas pembaringan dan tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya sama sekali.
"Sebentar ya bu, Lintang panggilkan mas Agum dulu", ucap Lintang sambil berlalu meninggalkan kamar mertuanya.
"Bunda kenapa?", tanya Nana yang terlihat sedang bermain boneka barbie nya di depan TV.
Lintang mencoba tersenyum. "Tidak apa-apa sayang. Nana lanjutkan mainnya, bunda bangunin ayah dulu ya"
Nana mengangguk. "Iya bunda"
Di kamar, Agum masih terlihat meringkuk di bawah selimutnya.
Lintang menghampiri Agum kemudian mengguncang tubuh suaminya itu. "Mas, mas bangun mas!!",
Agum mengucek matanya berusaha meraih kesadarannya. "Ada apa sih dek?"
"Ibu mas, ibu lumpuh lagi", jawab Lintang panik.
************
.
.
.
. bersambung
__ADS_1
Hai-hai para pembaca tersayang. Terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar kalian semua ya.. terima kasih...
Salam love, love, love💗💗💗