Titik Balik

Titik Balik
DUA PULUH LIMA


__ADS_3

Terlihat mobil box yang dikendarai oleh Agum memasuki halaman rumahnya. Ia keluar dari balik kemudi sambil membawa beberapa kantong plastik yang berisi berbagai macam buah di dalamnya.


"Mas, udah pulang?, tumben jam segini udah pulang, biasanya jam delapan baru nyampe rumah?", tanya Lintang sambil melihat jam di handphone nya yang baru menunjukkan pukul lima sore.


"Iya sayang, mas kayaknya gak enak badan, kepala mas rasanya berat banget", jawab Agum.


Lintang memperhatikan wajah Agum, benar saja, ia terlihat sedikit pucat. Lintang menghembuskan nafas kasar. Baru saja ia dihadapkan dengan kondisi Friska yang terkena tipes, sekarang suaminya dalam kondisi yang tidak baik juga.


"Ada apa sayang?", tanya Agum


"Enggak apa-apa mas. Dah yuk masuk dulu", ajak Lintang.


Lintang menggandeng lengan Agum menuju kamar pribadi mereka. Agum pun langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Mas mau mandi dulu?, biar Lintang rebusin air hangat" tawar Lintang


"Iya dek, tolong rebusin air ya", ucapnya lirih.


Lintang menuju dapur, merebus air untuk keperluan mandi suaminya. Tak lama kemudian, semua telah siap, dan Lintang pun menuntun Agum ke kamar mandi.


"Masih berat mas kepalanya?", tanya Lintang sambil menuang air panas itu ke dalam ember plastik kemudian dicampur dengan air dingin.


"Masih dek, kayak muter-muter gitu", jawabnya lirih.


"Perlu Lintang mandiin mas?", tawar Lintang


Agum pun terdiam nampak berpikir. Tak menunggu lama Lintang pun mendudukkan Agum di atas closet, kemudian ia mandikan suaminya itu.


Setelah selesai Agum kembali berbaring di atas kasur. Ia memegang kening suaminya, tapi suhu badannya terasa normal, dan tidak demam.


"Mas punya riwayat hipertensi kah?", tanya Lintang sambil memijat lengan suaminya.


"Dulu pernah sih dek, tekanan darah mas tiba-tiba tinggi gitu", jawab Lintang


"Hemmm badan mas gak demam, tapi pusing. Kayaknya darah tinggi itu mas", ucap Lintang. Agum pun hanya menggeleng pertanda tidak tahu.


"Apa sekarang kita ke klinik mas, biar tahu pastinya?", ujar Lintang menawarkan.


"Besok aja ya dek. Sekarang mas pengen istirahat. Kepala rasanya berat banget.", jawab Agum.

__ADS_1


"Ya sudah, sholat maghrib dulu yuk mas, setelah itu lanjut istirahat", ajak Lintang.


Lintang dan Agum melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Tiga rakaat selesai mereka tunaikan, dan Lintang pun menuju dapur untuk menyiapkan makan malam suaminya. Sedangkan Agum, kembali berbaring di atas tempat tidurnya.


********************


Lintang terlihat sibuk di dapur pagi ini. Ia tengah menyiapkan menu sarapan untuk keluarganya. Sup ayam menjadi pilihannya untuk menjadi menu sarapan pagi ini.


"Dek, titip sayurnya ya, kalau kuahnya sudah mendidih, kompornya langsung dimatikan saja", pinta Lintang kepada Mimin.


"Iya mbak Lin", jawab Mimin


Lintang kembali ke kamar. Ia melihat Agum masih meringkuk di bawah selimutnya. Ia dekati Agum dan mencoba untuk membangunkannya.


"Mas, mas, bangun yuk, mandi terus sarapan!", ucap Lintang sambil mengguncang tubuh Agum.


Agum menggeliat, mengerjapkan matanya, berusaha bangun dari mimpinya. Wajahnya terlihat sayu dan lemas. Ia mencoba duduk kemudian


Hoooeeeekkkk, hooooeeekkk!!!


Agum memuntahkan seluruh isi perutnya tepat di pangkuan Lintang. Dan pastinya berhasil membuat baju Lintang penuh dengan sesuatu yang keluar dari perut Agum.


Lintang tersenyum sambil terus memperhatikan bekas muntahan Agum.


"Tidak apa-apa mas. Dah, Lintang bersih-bersih dulu. Setelah ini kita ke klinik ya mas. Adek takut kenapa- kenapa" , jawab Lintang sambil melenggang ke kamar mandi.


Lintang membersihkan tubuhnya. Ia gunakan handuk kimono nya kemudian menyiapkan air hangat untuk mandi Agum. Setelah itu ia menghampiri Agum yang masih terbaring di atas ranjang.


"Ayo mas, adek bantuin mandi", ucap Lintang.


Lintang pun memapah Agum yang terlihat sempoyongan. Seperti biasa, ia dudukkan Agum di closet kemudian ia guyur tubuh Agum dengan air hangat yang sebelumnya sudah ia siapkan.


***********************


Lintang mengenakan gamis merah maroonnya yang ia padukan dengan kerudung instan warna hitam. Setelah itu ia menyuapi Agum dengan telaten. Setidaknya agar ada sesuatu yang mengisi perut suaminya itu.


"Kita nanti naik motor ya mas, biar adek yang boncengin", ucap Lintang sambil menyuapkan nasi dan sayur sup ke dalam mulut Agum.


"Emang gak apa-apa dek?", tanya Agum pula

__ADS_1


"Ya enggak apa-apa mas, memang kenapa?, Lintang malah gak tenang kalau pakai mobil", jawab Lintang pula.


"Tapi mas selalu merasa tenang kalau ada di samping kamu sayang," ujar Agum sambil mencium pipi Lintang. Yang dicium terlihat grogi sambil tersipu malu.


"Iihhhhh apaan sih mas, sakit gitu masih aja nge-gombal. Dah nanti pokoknya naik motor ya, biar adek yang boncengin", ucap Lintang sambil mencubit kecil pinggang suaminya.


Agum pun hanya mengangguk. Ia merasa benar-benar tidak bisa melakukan apapun karena kepalanya terasa begitu berat. Dan ia pun menurut apa yang dikatakan Lintang.


****************


Lintang memarkirkan motor matic nya di parkiran depan klinik. Ia menghembuskan nafas kasar. Baru kemarin ia berkunjung ke klinik ini dan hari ini harus balik lagi.


Ia tetap setia menggandeng lengan Agum saat memasuki tempat pendaftaran. Setelah mendaftar, mereka pun duduk di bangku yang dikhususkan untuk menunggu panggilan.


Lima belas menit kemudian nomor antrian Agum dipanggil. Lintang memapahnya memasuki ruangan dokter praktek di klinik itu.


"Selamat siang bapak, ibu", sapa dokter laki-laki muda berumur kisaran tiga puluh lima tahun.


"Siang dok", jawab Lintang.


"Bagaimana bu, ada yang bisa saya bantu?", tanya dokter itu yang ternyata bernama dokter Ilham.


"Begini dok, dari kemarin kepala saya rasanya berat. Dan tadi pagi juga terasa mual terus sempat muntah juga. Kira-kira kenapa ya dok?", ucap Agum


Dokter Ilham terlihat tersenyum tipis. Ia mengeluarkan tensimeter kemudian ia pasangkan di lengan Agum. Setelah tekanan darah Agum selesai di cek, dokter Ilham pun terlihat sedikit terkejut.


"Hemmm tekanan darah bapak tinggi. Hasil tekanan darah ditulis dalam dua angka ya pak. Angka pertama (sistolik) mewakili tekanan dalam pembuluh darah ketika jantung berkontraksi atau berdetak. Angka kedua (diastolik) mewakili tekanan di dalam pembuluh darah ketika jantung beristirahat di antara detak jantung. Seseorang bisa dikatakan mengalami hipertensi bila ketika diukur pada dua hari yang berbeda, pembacaan tekanan darah sistolik pada kedua hari adalah lebih besar dari 140 mmHg dan atau pembacaan tekanan darah diastolik pada kedua hari adalah lebih besar dari 90 mmHg. Dan setelah saya cek tekanan darah bapak 160/100", jawab dokter Ilham


"Untuk pengobatannya bagaimana ya dok?", tanya Agum lebih lanjut


"Untuk saat ini saya beri obat khusus penderita hipertensi saja ya pak. Yaitu obat untuk membuang kelebihan garam dan cairan di tubuh melalui urine. Obat untuk melebarkan pembuluh darah, sehingga tekanan darah bisa turun. Dan obat yang bekerja untuk memperlambat detak jantung dan melebarkan pembuluh. Tujuan penggunaan obat ini adalah untuk menurunkan tekanan darah pengidap hipertensi. Obat penurun tekanan darah yang berfungsi untuk membuat dinding pembuluh darah lebih rileks dan obat penghambat renin yang memiliki fungsi utama obat untuk menghambat kerja enzim yang berfungsi untuk menaikkan tekanan darah dan dihasilkan oleh ginjal. Jika renin bekerja berlebihan, tekanan darah akan naik tidak terkendali", terang dokter Ilham


"Nah untuk sementara rokok sama kopi dihindari dulu ya pak", sambung dokter Ilham pula.


Seketika rona wajah Agum terlihat berbeda. Ada sebuah ketidakrelaan jika dia untuk sementara waktu harus berhenti merokok juga tidak meminum kopi. Karena bagaimanapun juga ia tidak bisa lepas dari dua benda itu. Lintang pun mengetahui perubahan rona wajah suaminya. Dan setelah itu, ia cukupkan konsultasinya dengan dokter Ilham siang ini.


"Terima kasih banyak dok", ucap Lintang


**************

__ADS_1


__ADS_2