
Satu minggu berlalu. Ibu Ranti masih terbaring di ranjang rumah sakit. Hari ini Agum libur, dan menyempatkan diri untuk menemani Lintang di rumah sakit.
Setiap hari, sehari dua kali dokter Anwar melakukan kunjungan di ruangan ibu Ranti di rawat. Selama seminggu ini, keadaan ibu Ranti memang tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan, malah justru terlihat semakin drop.
Ibu Ranti juga terlihat beberapa kali merengek minta untuk pulang, ia merasa sudah bosan di rumah sakit.
"Mbak?", panggil ibu Ranti.
"Ya Bu?"
"Aku ingin pulang, aku sudah bosan, mbak"
Lintang pun tersenyum kemudian ia menggenggam tangan ibu mertuanya. "Sabar ya bu, sebentar lagi dokter Anwar ke sini, nanti kita bisa tanya apa ibu sudah bisa pulang atau belum". Ibu Ranti pun mengangguk.
"Mas, bisa minta tolong?", tanya Lintang kepada Agum yang terlihat selonjoran di lantai dengan alas tikar di depan nakas sambil terlihat sibuk dengan ponsel nya.
"Apa dek?", tanya Agum singkat.
"Tolong jagain ibu sebentar ya mas, aku mau ke musholla sebentar, mau sholat dhuha.
Agum pun mengangguk dan Lintang melangkahkan kaki menuju musholla. Namun langkah kakinya terhenti ketika melihat dokter Anwar masuk ke ruangan ibu mertuanya. Lintang pun mengurungkan niatnya untuk ke musholla dan memilih menemui dokter Anwar.
"Selamat pagi bu?," ucap dokter Anwar ramah menyapa ibu Ranti.
"Pagi dokter", jawab ibu Ranti.
"Gimana keadaan hari ini bu, apa sudah merasa lebih sehat dari sebelumnya?", sambung dokter Anwar
Ibu Ranti menggeleng. "Saya ingin pulang dok, saya sudah tidak betah di sini"
Dokter Anwar pun hanya tersenyum. Kemudian mengedarkan pandangannya ke arah Lintang dan Agum.
"Bagaimana keadaan ibu saya dok?", tanya Agum.
"Sepertinya keadaan ibu anda tidak menunjukkan sebuah perkembangan yang signifikan mas, jadi semisal hari ini memang mau dibawa pulang, saya mengijinkan. Takutnya ibu merasa bosan di sini, lalu membuat psikis beliau down sehingga menghambat semangatnya untuk sembuh. Barangkali, jika beliau ada di rumah bisa lebih merasa bahagia sehingga bisa kembali membangkitkan semangatnya" jelas dokter Anwar.
"Lalu, apa yang harus kami lakukan di rumah dok?", tanya Agum.
"Nanti saya berikan resep obat yang harus selalu rutin di minum ya mas. Di rumah juga bisa di terapi dengan sering memijat tangan dan kaki ibu menggunakan minyak gosok agar terasa lebih hangat mas, sehingga bisa merangsang syaraf-syarafnya juga", jawab dokter Anwar.
"Jadi hari ini ibu diperbolehkan untuk pulang dok?", tanya Lintang menegaskan
Dokter Anwar pun tersenyum. "Silakan mbak"
**********
"Bundaaaaaaa!!!", teriak Nana sambil berlari menghambur ke pelukan Lintang sesaat setelah sebuah taxi online berhenti di depan rumahnya.
"Sayang...!!!", ucap Lintang sambil meneteskan air mata karena hatinya dipenuhi rasa rindu yang menggebu untuk putri kecilnya itu. "Bagaimana keadaanmu sayang, Nana sehat?, tidak bikin repot nenek sama tante Friska kan?", sambung Lintang.
__ADS_1
Nana menggeleng. "Enggak bunda, Nana selalu nurut sama nenek"
Lintang pun tersenyum. Agum terlihat sedang memapah ibu Ranti kemudian membawanya masuk ke kamar.
Agum membaringkan tubuh ibunya di atas tempat tidur. Ibu Ratih juga terlihat menunggu kepulangan besannya itu dan saat ini duduk di kursi plastik di samping ranjang besannya.
"Bagaimana keadaannya bu?", tanya ibu Ratih.
Ibu Ranti hanya menggeleng. "Saya sudah bosan di rumah sakit bu, makannya saya minta pulang",
"Yang sabar ya bu, ibu harus punya semangat agar bisa lekas sembuh",
Ibu Ranti tetiba meneteskan air matanya. "Saya tidak tahu sampai kapan keadaan saya seperti ini bu, saya juga terkadang ingin menyerah". Ibu Ranti mencoba menahan isak tangisnya. "Tapi saya bersyukur punya menantu seperti mbak Lintang bu, dia sama sekali tidak merasa keberatan ketika mengurus saya apalagi saat membersihkan kotoran dari badan saya, dia tidak merasa jijik sama sekali"
Ibu Ratih tersenyum. "Itu sudah menjadi kewajiban Lintang bu jadi ibu tidak perlu merasa sungkan".
Ibu Ranti malah semakin terisak. "Terima kasih banyak bu"
"Sama-sama bu", jawab ibu Ratih.
************
Satu bulan berlalu. Keadaan ibu Ranti masih sama. Tidak ada perkembangan apa-apa malah justru ibu Ranti terlihat sudah tidak memiliki semangat untuk hidup.
"Ayo bu diangkat sedikit ya badannya, biar Lintang ganti diapers nya, ini sudah terlalu kotor, Lintang khawatir bikin ibu tidak nyaman", ucap Lintang sambil memakaikan diapers khusus orang dewasa ke ibu mertuanya.
Lintang tersenyum. "Memang kenapa sayang?"
"Bunda tidak bau?", tanya Nana polos
Lintang mencakup kedua pipi anaknya itu. "Nana ingat, dulu sewaktu masih bayi siapa yang sering menggantikan popok dan yang merawat Nana?"
"Bunda", jawabnya singkat.
"Nah besok ketika bunda sudah tua dan tidak bisa ngapa-ngapain lagi, gantian Nana ya yang merawat bunda. Sama seperti sekarang, ketika nenek sedang sakit, jadi bunda yang harus merawatnya" ucap Lintang.
"Tapi yang jadi anaknya nenek kan ayah, bukan bunda, jadi yang seharusnya merawat nenek itu kan ayah", protes Nana.
Lintang gemas melihat celotehan putri kecilnya itu. "Sayang, ayah sedang bekerja untuk menghidupi kita semua, jadi bunda lah yang menggantikan ayah"
"Oohhh gitu ya bunda?"
"Iya sayang"
Nana kemudian naik di atas tempat tidur ibu Ranti. Ia memijat-mijat tangan neneknya itu.
"Nenek cepat sembuh ya, biar bisa main sama Nana lagi"
*********
__ADS_1
Lintang terlihat sibuk di sore hari ini. Setelah ia memandikan Nana dan kini asyik bermain lego di ruang tamu, Lintang beralih mengurus ibu mertuanya. Ia mengepel badan ibunya dengan air hangat kemudian mengganti diapers juga bajunya.
Setelah selesai, ia memasak makanan untuk menyambut Agum. Dari pagi ia memang belum sempat memasak dan hanya membeli sayur matang di warung nasi, oleh karenanya sore ini ia sempatkan masak untuk menyambut kepulangan Agum.
Selesai sudah pekerjaannya. Meski masih ada tumpukan panci juga wajan kotor Lintang memilih beristirahat sejenak dengan duduk di ruang tamu sembari menunggu Nana bermain.
Ceklek...
Terdengar suara pintu dibuka. Tak lama kemudian Agum pun masuk. Lintang sedikit terkejut, tidak biasanya Agum pulang jam segini.
"Mas, sudah pulang?", ucap Lintang sambil menghampiri suaminya dan mencium punggung tangannya. Nana yang ada di sana juga ikut menyalami ayahnya.
Agum hanya tersenyum masam. "Iya", jawabnya singkat.
Mata Agum terbelalak melihat keadaan ruang tamu yang berantakan dengan mainan Nana. Ia melangkahkan kaki menuju kamar, ia kembali terbelalak melihat tempat tidur juga berantakan. Kemudian ia menuju dapur, ia terkejut juga melihat cucian sudah menumpuk di atas wastafel.
Agum membuang nafasnya kasar. Melihat keadaan rumah yang seperti kapal pecah ini.
"Mas mau makan sekarang?", tanya Lintang menawarkan.
Agum menatap mata Lintang dengan tatapan yang sedikit berbeda. "Kamu sebenarnya bisa mengurus rumah gak sih?"
Lintang tersentak, mendengar pertanyaan Agum yang terdengar kasar itu. "Ma-maksud mas apa?"
Agum mengacak rambutnya kasar. "Kamu tahu, aku pulang kerja capek, pengen istirahat tapi malah melihat keadaan rumah kayak kapal pecah gini. Ngapain aja kamu seharian?"
Deg!!!
Hati Lintang seolah tertikam pisau tak kasat mata mendengar pertanyaan dari Agum. Sebuah pertanyaan yang tidak seharusnya dilontarkan olehnya.
Lintang tersenyum getir. "Mas tanya aku ngapain aja seharian?"
Agum terdiam tak bergeming.
Lintang mencoba menahan rasa sesak di dadanya. "Aku ngurusin ibu, aku ngurus anak kita, aku ngurus rumah, dan mas masih bertanya aku ngapain aja seharian?, pantaskah pertanyaan kau tanyakan kepadaku mas?
Agum masih memasang muka datarnya. "Kalau kamu ngurus rumah kenapa rumah ini ma_________________"
"Aku hanya sedang mengistirahatkan tubuhku sebentar, hanya sebentar mas!!", ucap Lintang memotong ucapan Agum dengan air mata yang sudah tidak dapat lagi ia bendung.
.
.
. bersambung
Hai-hai para pembaca tersayang. Terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like dan komentar kalian semua ya... terima kasih...
Salam love, love, love💗💗💗
__ADS_1