Titik Balik

Titik Balik
DELAPAN PULUH EMPAT


__ADS_3

Agum berlari sambil membopong tubuh Lintang memasuki loby rumah sakit yang berada tidak jauh dari kontrakannya. Dan di belakangnya ada Danang yang juga terlihat cemas. Wajah Agum yang lebam-lebam dan kondisi Lintang yang dipenuhi dengan noda darah membuat para pengunjung rumah sakit yang kebetulan berpapasan dengannya hanya menatapnya dengan tatapan penuh tanya.


"Sus tolong istri saya, tolong segera panggilkan dokter sus!!", teriak Agum di depan perawat yang berada di loby rumah sakit. Sontak teriakan Agum itu membuat perawat yang ada di sana terkejut.


"Tunggu sebentar pak, biar kami bawakan brankar terlebih dahulu", jawab perawat itu.


Tak lama kemudian dua perawat laki-laki menghampiri Agum dengan mendorong sebuah brankar, dan Lintang pun di letakkan di atas brankar itu.


Lintang di dorong menggunakan brankar menuju ruang IGD. Dan di depan ruang itu sudah berdiri seorang dokter yang merupakan dokter jaga malam ini.


"Tolong selamatkan istri saya dok, tolong!!", ucap Agum dengan mata yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.


Dokter itu terlihat sedikit menyunggingkan senyum. "Tenang ya pak, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan istri anda"


Dokter itu mulai melangkahkan kaki memasuki ruang IGD dan diikuti oleh Agum. Seketika dokter itu menghentikan langkah kakinya.


"Bapak sebaiknya menunggu di luar. Biar kami yang menangani istri bapak", ucap dokter itu melarang Agum untuk masuk ke dalam.


Agum tersentak, ia tetap ingin menemani Lintang di dalam ruangan itu. "T-tapi saya ingin menemani istri saya dok".


Dokter itu mencoba mengerti kecemasan Agum. "Bapak tunggu di luar saja ya, biar ka____"


"Tapi saya ingin bersama istri saya dok!!", teriak Agum memangkas ucapan dokter.


Danang mendekat ke arah Agum dan menepuk pundaknya. "Gum tenang, kita tunggu Lintang di luar"


Akhirnya Agum menurut, dokter itu pun kembali masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa kondisi Lintang. Agum menjatuhkan bobot tubuhnya di atas lantai sambil bersandar di tembok ruang IGD. Ia mendekap kedua lututnya sembari mengacak kasar rambutnya.


Danang hanya bisa prihatin dengan kondisi Agum yang begitu terpuruk seperti itu. Ia mendekati Agum dan menepuk-nepuk bahunya berusaha memberinya kekuatan.


"Kenapa tidak aku saja yang terluka mas?, kenapa harus Lintang yang menanggung ini semua?", ucap Agum lirih dengan air mata yang begitu deras mengalir.


Danang menarik nafas dalam. "Kamu tahu betapa Lintang sangat mencintaimu Gum?, bahkan di puncak ia merasakan luka itu, dia masih mengorbankan dirinya untuk melindungimu"


Agum memandang langit-langit rumah sakit dengan tatapan kosong. Berkali-kali ia membenturkan kepalanya di tembok.


"Jangan seperti itu Gum!!", ucap Danang memperingatkan.


Agum sesenggukan. "Bahkan sampai aku matipun tidak akan pernah bisa menebus rasa sakit yang ditanggung oleh Lintang mas!"


Danang menarik nafas dalam. Dalam hatinya juga terbesit sebuah kekhawatiran akan kondisi Lintang, namun sebisa mungkin ia harus terlihat tegar untuk menguatkan Agum.


"Sudahlah Gum, sekarang kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan Lintang", ucap Danang

__ADS_1


Ceklek....


Terdengar pintu ruang IGD dibuka. Terlihat dokter yang tadi menangani Lintang keluar dari ruangan. Agum dan Danang pun mendekat ke arah dokter itu.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?!", tanya Agum tak sabar.


Dokter itu tersenyum. "Alhamdulillah luka tusukannya tidak terlalu dalam pak. Setelah ini, istri anda akan kami pindah ke ruang perawatan. Inshaallah, maksimal satu minggu, istri anda sudah bisa di bawa pulang"


Seketika Agum menghadap ke arah kiblat. Ia bersujud di lantai itu.


"Alhamdulillah... terima kasih Engkau telah menyelamatkan istriku ya Rabb!!"


****


Wanita itu terbaring lemah di atas hospital bed di bangsal kelas dua sebuah rumah sakit. Matanya masih terpejam. Selang infus, selang oksigen dan sebuah perban di bahunya juga terlihat menghiasi tubuhnya yang lemah itu. Meski dari raut wajahnya seperti menahan sakit tak terperi, namun wajahnya tetap saja memancarkan aura kedamaian bagi siapapun yang melihatnya. Ia tampak begitu damai dalam kondisinya saat ini.


Agum duduk di kursi kecil di samping ranjang rumah sakit tempat Lintang terbaring. Ia menggenggam tangan Lintang dan ia letakkan di pipinya.


Agum terisak. Melihat kondisi Lintang saat ini, tak henti-hentinya ia merutuki dirinya sendiri.


"Mengapa kau tidak membiarkan aku yang terkena tusukan itu sayang? Mengapa kamu harus mengorbankan dirimu hanya untuk melindungi lelaki seperti aku ini?", ucap Agum lirih.


Ia mencium punggung tangan Lintang. "Sayang, bangunlah. Aku membutuhkanmu!!"


Isak tangis Agum terhenti ketika pintu ruangan Lintang di buka dari luar. Matanya terbelalak.


Ibu Ratih kemudian menghambur mendekap Lintang yang tengah terbaring lemah itu.


"Ya Allah Ndhuk, kenapa bisa seperti ini?", ucap ibu Ratih sesenggukan. "Bangun nak, bangun!!", sambungnya pula.


"Mbak sudah, tenangkan dirimu dulu", ucap om Toni.


Ibu Ratih menggeleng. "Ini pasti sakit sekali Ton, aku tidak sanggup melihatnya seperti ini"


Om Toni menghela nafas dalam. "Lintang wanita yang kuat mbak, aku yakin Lintang bisa melewati ini semua "


Om Toni hanya bisa menatap tubuh Lintang dengan tatapan nanar. Setelah mendapat kabar tentang keponakannya, ia bergegas ke rumah ibu Ratih dan kemudian menuju rumah sakit. Pandangannya mengedar ke arah Agum.


"Ada apa ini sebenarnya Gum?", tanya om Toni langsung pada pokok persoalan.


Agum terisak. "Maafkan saya om, ini semua salah saya"


Om Toni mengernyitkan keningnya. "Apa maksudmu Gum?"

__ADS_1


"Saya telah....."


***


Plak!!!!!


Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Agum, kini om Toni lah yang menghujani Agum dengan tamparan itu.


"Laki-laki br*****k kamu Gum!!, Bisa-bisanya kamu melakukan ini terhadap Lintang.


Ibu Ratih yang mendengar cerita dari Agum, seketika badannya lemas dan ia terduduk di kursi kecil di samping ranjang Lintang.


Agum kemudian menghampiri ibu Ratih kemudian bersimpuh di kaki mertuanya itu sembari menggenggam tanganya "Agum mohon ampun bu, Agum mohon ampun!!"


Ibu Ratih menggeleng. "Apa salah anakku mas??!"


Agum menggelengkan kepala. "Ini semua kesalahan saya bu. Saya mohon ampun!!"


Ibu Ratih hanya terdiam, terpaku melihat menantunya yang bersimpuh di pangkuannya itu. Hatinya ikut remuk ketika mengetahui lelaki yang ada di bawah kakinya ini telah mengkhianati putrinya.


"Seperti inikah balasanmu kepada Lintang dengan semua cinta juga bakti yang ia punya untukmu juga Almarhum ibumu?", tanya om Toni sarkas.


"Maafkan Agum om, maafkan Agum!!", ucap Agum memohon.


Om Toni mendengus. "Bahkan beribu-ribu kata maaf dari kamu tidak akan pernah bisa mengembalikan hati Lintang seperti semula!!"


Agum masih bersimpuh di kaki mertuanya.


"Kami sebagai keluarga tidak pernah menorehkan luka seperti ini di hati Lintang, aku menyesal memberikan restu untukmu. Jika dari awam aku tahu bahwa kau laki-laki br****ek, aku tidak akan pernah membiarkan Lintang menjadi istrimu Gum!!", sambung om Toni.


Tangisan ibu Ratih semakin kencang. Ia bisa merasakan apa yang saat ini tengah Lintang rasakan. Rasa sesak menguasai dadanya. Ia menarik tangannya dari genggaman Agum.


Ibu Ratih menghela nafas dalam. "Bebaskan Lintang dari deritanya ini mas!!"


Agum tersentak. "M-maksud ibu?"


"Ibu minta, tolong kembalikan Lintang kepada kami"


.


.


. bersambung ...

__ADS_1


Hai-hai para pembaca tersayang, terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya yah... dan bagi yang punya kelebihan poin, bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik vote. Happy Reading kakak... terima kasih...


Salam love, love, love💗💗💗


__ADS_2