Titik Balik

Titik Balik
ENAM PULUH SATU


__ADS_3

Hari demi hari terasa begitu cepat berlalu. Kini tepat empat bulan ibu Ranti berjuang melawan serangan kedua penyakit stroke nya. Selama empat bulan itu pula Lintang begitu sabar di dalam merawat sang ibu mertua.


"Ibu, ayo makan dulu", ucap Lintang sambil mengarahkan sendok ke mulut ibu Ranti.


Ibu Ranti menggeleng. Dua bulan terakhir ibu mertuanya itu terlihat jauh lebih menjadi sosok pendiam. Tidak banyak kata-kata yang keluar dari bibirnya, sedangkan untuk menanggapi yang menjadi lawan bicaranya, ia hanya menjawab dengan anggukan atau gelengan kepala saja.


Tubuh ibu Ranti terlihat semakin menyusut saja. Kini tubuhnya semakin kurus kering dan matanya terlihat cekung, sedangkan kulitnya terlihat semakin kering dan berkeriput.


Lintang terlihat cemas karena sejak dua hari kemarin, perut ibu mertuanya hanya terisi oleh air putih dan beliau tidak mau menyentuh makanan sama sekali.


"Ibu pengen makan apa bu?, coba kasih tahu ke Lintang, biar Lintang bikinkan bu", ucap Lintang berusaha membujuk.


Ibu Ranti menatap wajah Lintang. "Bubur sumsum"


Lintang terperangah, mendengar ibunya mengucapkan sesuatu. "Ibu pengen makan bubur sumsum?"


Ibu Ratih hanya mengangguk. Lintang menyunggingkan senyumnya, ia merasa bahagia karena setelah dua hari ibu mertuanya tidak mau makan sama sekali, hari ini beliau meminta bubur sumsum yang tentunya bisa menjadi pengganjal perut.


Lintang berdiri "Tunggu sebentar ya bu, Lintang buatkan dulu bubur sumsum nya". Lintang pun berlalu meninggalkan ibu mertuanya dan kemudian menuju ke dapur untuk membuat bubur sumsum.


Di dapur terlihat ibu Ratih sedang menyuapi Nana. Satu minggu terakhir ini, setiap siang ibu Ratih selalu mengunjungi anaknya itu, berharap ia bisa bantu-bantu Lintang mengurus rumah. Meski Lintang menolak, tapi beliau tetap saja datang ke kontrakan Lintang untuk membantunya mengurus rumah.


"Ndhuk, kamu mau bikin apa?", tanya ibu Ratih


Lintang terlihat sedang mengeluarkan tepung beras, santan, dan gula jawa. "Mau bikin bubur sumsum bu, ibu pengen dibikinkan bubur sumsum"


"Alhamdulillah, jadi ibu Ranti sudah mau makan?", tanya Ibu Ratih


Lintang mengangguk. "Iya bu, alhamdulillah"


"Bunda, bubur sumsum itu apa?", tanya Nana.


Sambil mengaduk adonan, Lintang berusaha menanggapi pertanyaan dari anaknya. "Nana belum pernah makan bubur sumsum?"


Nana menggeleng. "Belum bunda"


Lintang tersenyum. "Nanti kalau sudah matang, Nana makan sekalian ya"


"Mau bunda. Nana bantuin ya, biar cepat jadi", tawar Nana.


Lintang semakin gemas. "Nana lanjutkan makannya sama nenek saja ya, nanti kalau sudah matang, bunda kasih tahu"

__ADS_1


"Oke bunda"


Lintang kembali sibuk dengan adonan bubur sumsumnya. Setelah satu jam berkutat di dapur, akhirnya bubur sumsum pesanan ibu mertuanya pun siap. Lintang bergegas menuju kamar ibu mertuanya.


Saat masuk ke dalam kamar, terlihat ibu Ranti sedang memejamkan matanya. Lintang mengira ibu Ranti tengah tertidur. Ia meletakkan semangkuk bubur sumsumnya di atas nakas, kemudian ia duduk di kursi plastik yang ada di sisi ranjang ibunya bermaksud membangunkan ibu mertuanya.


"Ibu, bangun yuk, bubur sumsum nya sudah matang", ucap Lintang berusaha membangunkan ibu mertuanya.


Hening, tak ada jawaban sama sekali.


"Ibu?!"


Hening...


"Ibu?!"


Hening...


"Ibu?!", panggil Lintang mulai sedikit panik.


Lintang mencoba mengguncang tubuh ibu mertuanya. Namun sama sekali tidak ada respon. Hatinya mulai diselimuti ke khawatiran, khawatir jika yang ada di dalam pikirannya itu benar adanya.


Dengan gemetar, tangan Lintang meraih tangan ibu mertuanya itu. Benar saja, tangannya sudah terasa begitu dingin. Untuk memastikan, Lintang mencoba memegang pergelangan tangan ibu mertuanya.


"Innalillahi wa Inna ilaihi roji'uun", ucap Lintang lirih.


***********


Sementara itu di sebuah kontrakan kecil di dekat pusat kota. Terlihat dua orang manusia sedang bercengkerama hangat di bawah selimut tebal. Entah apa yang baru saja mereka lakukan, yang membuat mereka berkeringat di jam sepuluh pagi seperti ini.


Ya, mereka adalah Agum dan Reni. Karena kerinduan yang begitu mendalam terhadap wanita yang begitu ia cintai itu, membuat Agum rela untuk bolos kerja hanya demi menghabiskan waktu bersama Reni. Dari rumah, ia pamit berangkat kerja, tapi ternyata ia justru bermesra-mesraan dengan wanita yang masih terikat dalam sebuah ikatan pernikahan itu.


Bagi orang mungkin terlihat menjijikkan karena keduanya masih sama-sama berstatus suami dan istri orang lain, tapi rasa cinta yang mereka punya seolah membutakan mata juga hati mereka.


Agum berdiri, kemudian memungut bekas k****m yang ia pakai saat melakukan aktifitas ranjang bersama Reni, kemudian ia buang ke tempat sampah.


Agum meneguk air mineralnya dengan masih bertelanjang dada, berharap keringatnya segera mengering. Dan berdiri di dekat jendela.


"Gimana sayang, apa kamu puas dengan pelayananku?", tanya Reni sambil memakai kembali bajunya yang berserakan di lantai.


Agum tersenyum lebar. "Sudah pasti sayang, kamu paling pinter bikin aku puas di atas ra________"

__ADS_1


Drrrrttt... drrrtttt... drrrtttt....


Tiba-tiba ponsel Agum yang ada di atas nakas berbunyi. Reni yang kebetulan berada di dekat nakas, kemudian mengambil ponsel itu. Ia melihat ada nama Lintang di layar ponsel Agum. Reni kemudian menyerahkannya kepada Agum.


"Siapa sayang?", tanya Agum.


"Istrimu mas", jawab Reni singkat.


Agum terkejut, tidak biasanya jam segini Lintang menelponnya. Karena biasanya Lintang menelpon di jam makan siang untuk mengingatkan makan siang.


Agum pun menggeser warna hijau di layar ponselnya.


"Mas?!", suara dari sebrang


"Ada apa dek?",


"Ibu mas, ibu!!"


Agum mengernyitkan dahinya. "Ibu kenapa dek?"


"Hiks.. hiks.. hiks.. ibu meninggal mas"


Seketika tubuh Agum melorot. Ia terduduk di lantai dan ponsel yang ada di tangannya terlepas dari genggamannya. Air matanya seolah ingin keluar tapi tertahan di pelupuk matanya.


"*Hallo, mas, mas masih dengar aku kan?"


Tuuuttt..... tuutttt... sambungan terputus*


Reni terheran melihat Agum. Ia pun tak sabar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dengan Agum.


"Sayang, ada apa?", tanya Reni


Agum menarik nafas dalam, disertai sebutir air bening lolos dari pelupuk matanya. "Ibuku meninggal, Ren"


.


.


.


. bersambung...

__ADS_1


Hai-hai para pembaca tersayang. Terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar kalian semua ya... terima kasih...


Salam love, love, love💗💗💗


__ADS_2