Titik Balik

Titik Balik
SERATUS EMPAT


__ADS_3

Hanan menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah berlantai dua yang ada di tengah area persawahan yang tak jauh dari kolam ikan yang pernah Lintang datangi beberapa bulan yang lalu.


Bibir Lintang terkatup, ia bengong melihat rumah yang ada di depannya ini. Sebuah rumah mewah dengan konsep minimalis dengan nuansa abu-abu.


Bentang hijau dari area persawahan ini juga membuat matanya seperti terhipnotis dengan segala pesonanya. Dan lihatlah di balik rumah ini ada sungai kecil yang mengalir dengan aliran air yang begitu jernih.


Hanan yang duduk di samping Lintang hanya terkekeh kecil memperhatikan sang istri yang sedang terbengong itu. Ia kemudian meraih tangan Lintang dan menggenggamnya dengan erat.


Hanan mengecup pipi istrinya itu. "Sayang, sudah dong bengongnya. Nanti kemasukan lalat loh".


Lintang mengerjapkan mata. Ia masih penasaran rumah siapa ini. Tadi ketika akan berangkat, Hanan hanya mengatakan ingin mengajaknya ke suatu tempat. Dan kini ia berhenti di depan rumah mewah ini, semakin menambah rasa penasarannya saja.


"Mas, ini rumah siapa?", tanya Lintang masih dengan lekat memperhatikan rumah itu dari balik kaca mobil.


Hanan tersenyum sembari mengusap pipi istrinya. "Kamu suka sayang?".


Dahi Lintang mengerut. "Maksud mas?".


Hanan meraih dagu Lintang berusaha mengalihkan pandangan Lintang ke arahnya. Dan kini mereka saling bertemu pandang.


"Ini rumah kita sayang".


Lintang terkejut setengah mati. "Rumah kita?".


Hanan mengangguk kemudian mengecup bibir Lintang yang merekah merah itu. "Iya sayang. Ini rumahku, rumahmu, rumah Nana dan rumah anak-anak kita kelak. Di rumah ini, nantinya akan menjadi tempat kita untuk bersama-sama menjalani takdir kita sebagai suami istri. Dan tentunya menjadi tempat di mana kita bersama-sama bergandengan tangan meraih surga Allah melalui bahtera rumah tangga yang kita jalani".


Mata Lintang memanas. Mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari bibir Hanan membuatnya trenyuh seketika. Dan bulir bening itu menetes dari pelupuk matanya. "Mas...?!".


Lintang memeluk tubuh Hanan dengan erat. Ia menangis sesenggukan dipelukan Hanan. Lidahnya terasa kelu. Rasanya ia tidak bisa berkata apa-apa, dan hanya isak tangis yang terdengar. Sebuah tangis yang merupakan tanda ia begitu bersyukur memiliki seorang suami seperti Hanan.


"Terima kasih mas, tapi apakah aku pantas mendapatkan ini semua?", ucap Lintang lirih.


Hanan merenggangkan pelukannya dan menghapus air mata Lintang. "Kamu pantas mendapatkan ini semua sayang, karena kamu adalah wanita yang istimewa, karena kamu adalah istriku, dan pastinya karena kamu adalah wanita yang dari dulu aku cinta".


Pipi Lintang menghangat dan membiaskan rona merah di sana dan membuatnya tersipu malu. Dan Hanan terkekeh kecil melihat istrinya yang tersipu seperti itu. "Masuk yuk sayang. Ummmm tadi aku sudah menitipkan Nana ke ibu, tiga hari ke depan kita bermalam di sini ya, sambil menyiapkan kamar untuk Nana, setelah itu baru kita jemput Nana".


Lintang mengangguk. "Iya mas".


"Dan...."


Lintang mengernyit. "Dan apa mas?".


Hanan mendekatkan bibirnya di telinga Lintang. "Dan untuk bulan madu kecil-kecilan kita".


Tubuh Lintang tiba-tiba merinding mendengar ucapan Hanan. Ia hanya bisa menunduk malu kemudian memeluk tubuh Hanan sembari mencium leher Hanan.


Hanan menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Lintang. "Kita lanjutkan di dalam sayang", ucap Hanan dengan nada sensual.


***


Lintang memasuki kamar pribadinya bersama Hanan yang berada di lantai dua. Sebuah kamar dengan desain interior skandinavia yang di dominasi oleh warna putih yang terlihat begitu elegan. Ia duduk di tepi ranjang berukuran king size yang ada di kamar itu. Sedangkan Hanan terlihat melangkahkan kaki masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Lintang berdiri di depan jendela kamarnya. Dari sini, ia bisa dengan jelas melihat sungai kecil yang ada di belakang rumah dengan hamparan pematang sawah yang begitu menyejukkan mata.


Ceklekk..


Pintu kamar mandi terbuka. Terlihat Hanan keluar dari kamar mandi dengan kaos putih dan celana pendek. Sembari mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.


Lintang terkesima melihat wajah laki-laki yang saat ini menjadi suaminya itu. Lihatlah, hanya dengan melihat rambut Hanan yang basah, baju Hanan yang terlihat begitu tipis di tubuhnya yang semakin menunjukkan dada bidangnya membuat jantung Lintang berdegup kencang. Ya, Hanan terlihat begitu tampan.


Hanan terkekeh kecil melihat ekspresi wajah Lintang itu. Kemudian ia mendekat ke arah Lintang. "Mandi dulu sayang, biar seger".


"T-tapi aku belum bawa baju ganti mas".


Hanan mencubit pipi Lintang. "Sudah mas siapkan di lemari pakaian sayang, tapi pakai yang ada dulu ya".


Lintang mengernyit. "Pakai yang ada?".


Hanan mengangguk. "Lihatlah sendiri di lemari sayang!".


Lintang membuka lemari bajunya. Matanya terbelalak. Melihat beberapa lingerie dengan bermacam model dan warna menggantung di sana.


"Mas?", panggil Lintang masih dengan keterkejutannya.


"Ya sayang?".


"Tidak ada baju lain kah?".


"Memang baju itu kenapa sayang?"


Hanan terkekeh sembari menghampiri Lintang yang ada di depan lemari. Ia memeluk tubuh Lintang dari belakang dan mendaratkan kepalanya di tengkuk Lintang. "Tidak ada yang salah kan sayang?, karena selama tiga hari ke depan kamu hanya akan berada di kamar ini dan tidak boleh kemana-mana!".


Kedua bola mata Lintang membulat. "Apa?!!!!".


***


Lintang keluar dari kamar mandi dengan lingerie warna merah maroon yang membalut tubuhnya. Meski gordyn kamar sudah tertutup rapat dan lampu kamar sudah dimatikan, tetap saja masih terlihat terang oleh sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela kamar. Karena bagaimanapun juga ini masih jam satu siang.


Hanan yang sedang menyandarkan tubuhnya di head board tempat tidur, hanya bisa berkali-kali menelan saliva nya ketika melihat penampilan Lintang. Ya, Lintang terlihat begitu sexy dengan lingerie warna merah maroon nya itu.


"Sini sayang", ucap Hanan sambil menepuk-nepuk sisi ranjangnya.


Lintang pun berjalan sembari menundukkan wajahnya. Ya, ia teramat malu berpakaian seperti ini di hadapan Hanan. Ia kemudian naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya dengan posisi miring di sisi Hanan.


Hanan menatap lekat dua bola mata Lintang sembari mengangkat sedikit dagunya. Senyum tipis tersungging di bibirnya.


"Kamu cantik sayang".


Lintang tersenyum. "Terima kasih mas".


Hanan mendekatkan wajahnya ke arah bibir Lintang, kemudian ia mengecup bibir merah istrinya itu. Ciuman Hanan tidak mendapat penolakan dari Lintang. Kecupan lembut itu kini berubah menjadi ciuman panas yang semakin dalam. Lidah mereka saling melilit seolah ingin mengabsen satu per satu semua yang ada di dalam rongga mulut mereka masing-masing. Hanan menghentikan ciumannya ketika Lintang sudah kehabisan nafas.


"Bolehkah hari ini aku mendapatkan hak ku sayang", ucap Hanan dengan suara yang sedikit parau.

__ADS_1


Lintang mengangguk. "Aku akan melayanimu dengan baik mas".


Hanan tersenyum. Ia mencium leher Lintang dengan penuh gairah. Tangannya menarik tali pengait lingerie milik Lintang dan membuat tubuh Lintang bagian atas sedikit terlihat. Hanan masih bermain di area leher Lintang.


"Aaaaahhhh ....", Lintang tersentak saat Hanan menggigit dan menghisap lehernya sehingga meninggalkan kiss mark di sana.


Hanan kemudian memainkan tangannya di area dada Lintang yang membuat tubuh Lintang menegang seketika.


"Aahhhhhh mas.....", Lintang melenguh.


Nyatanya sapuan-sapuan tangan Hanan itu membuatnya merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia kemudian meremas rambut Hanan seolah menjadi tanda ia menginginkan yang lebih dari itu.


Tak bisa dipungkiri, desahan-desahan dari bibir Lintang seolah membangkitkan hasrat ingin mengecap kenikmatan ragawi yang ada dalam tubuh Hanan.


Hanan menyeringai nakal. "Boleh aku melakukannya sekarang, sayang?".


Lintang mengangguk. "Lakukanlah mas".


Deg.. deg... deg...


Jantung Lintang berdetak kencang tak beraturan. Jantungnya terasa memompa darahnya lebih cepat dari biasanya. Meski hal ini bukan kali pertama Lintang merasakannya, namun tetap saja membuat Lintang dipenuhi dengan gelenyar-gelenyar aneh di sekujur tubuhnya.


Hanan membaringkan tubuh Lintang dengan sempurna. Ia kembali menghujani Lintang dengan ciuman-ciuman panas. Dan kemudian...... terjadilah sesuatu yang memang seharusnya terjadi.


***


Dua insan itu terbaring lemas di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka. Peluh-peluh dari keduanya terlihat deras berjatuhan. Meski pendingin ruangan sudah di atur dengan suhu paling dingin, namun tetap saja mereka masih dipenuhi dengan peluh di sekujur tubuhnya.


Hanan menatap lekat kedua bola mata Lintang. "Terima kasih sayang".


Mata Lintang memerah, ia bahagia namun tetap saja ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. "Aku minta maaf mas".


Hanan mengernyit. "Untuk apa sayang?"


"K-karena mas Hanan tidak mendapatkan keperawananku".


Hanan tersenyum simpul kemudian memeluk tubuh Lintang dengan erat. "Aku mencintaimu dan menikahimu karena Allah yang sudah memberikan semua rasa cinta ini hanya untukmu sayang. Aku tidak peduli apapun keadaanmu saat ini. Yang terpenting kamu adalah Lintang-ku yang dari dulu aku cintai".


"Mas..".


"Sssttt sudah sayang, aku mencintaimu bukan hanya sebatas kamu perawan atau tidak. Aku mencintaimu karena aku percaya jika Allah akan memberikan keberkahan untuk hidupku dengan kehadiranmu, kehadiran Nana, dan kehadiran anak-anak kita nanti. Dan yang perlu kamu tahu, aku bahagia memilikimu sayang".


Air mata Lintang mengalir begitu deras di sela-sela peluh yang membasahi wajahnya. Tangis bahagia karena Allah telah mengirimkan sosok seorang laki-laki seperti Hanan. Dalam hati tak henti-henti ia merapalkan doa. Semoga pernikahannya kali ini merupakan pernikahan terakhir untuknya hingga tiba ia kembali ke pangkuanNya.


Titik balik... Ya, Lintang telah menemukan titik balik hidupnya dengan seorang laki-laki yang menjadi pengganti mantan suaminya. Sebuah titik di mana ia kembali mendapatkan kebahagiaan dari sorang laki-laki yang mencintainya dengan begitu luar biasa. Segala kesakitan dan kepahitan hidup yang ia rasakan selama ini, kini mendapatkan ganti sebuah kebahagiaan yang tak terkira. Kesabaran serta ketabahannya menjalani ujian-ujian kehidupan, kini berbuah manis dengan kehadiran Hanan di sisinya.


Lintang- Hanan- Agum- Reni- Tomi, empat manusia yang memberikan banyak pelajaran untuk kita semua. Semoga kita bisa mengambil apa-apa yang baik dari mereka, dan meninggalkan apa-apa yang buruk yang diperankan oleh mereka...


.


.

__ADS_1


. TAMAT


__ADS_2