
Sesaat setelah kehadiran Tomi, Reni, dan pak Sugeng di kantor Agum, kini di dalam ruangan itu hanya tinggal Agum, pak Ibra, juga pak Yusuf. Agum masih dengan wajah frustasinya, sesekali ia menghembuskan nafasnya kasar. Masalah yang tengah ia hadapi tak kunjung menemukan jalan keluarnya juga. Reni tetap kekeuh ingin berada di sampingnya dan meminta ia menceraikan Lintang.
Pak Yusuf memindai ekspresi wajah Agum yang terlihat frustasi itu "Mas?!"
Agum tersentak. "Ya pak?"
Pak Yusuf menghela nafas panjang. "Maaf jika kami harus membuat keputusan ini".
Bola mata Agum membulat. "M-maksud bapak?"
"Kami terpaksa harus memberhentikan mas Agum bekerja di sini", ucap pak Yusuf.
Agum menggeleng. "T-tapi saya bisa menyelesaikan ini semua pak, saya mohon beri saya kesempatan".
Pak Yusuf menghembuskan nafas kasar. "Meski sampeyan bisa menyelesaikan masalah ini, namun pusat sudah terlanjur mendengar berita ini mas. Jadi untuk tetap menjaga reputasi perusahaan, kami memutuskan untuk memberhentikan mas Agum".
"Saya mohon beri kesempatan kepada saya pak. Saya akan terima jika harus turun jabatan asalkan saya tetap bisa bekerja", mohon Agum.
Pak Yusuf melihat wajah Agum yang begitu memelas itu, kembali menghembuskan nafas kasar. "Baiklah kalau begitu. Jika mas Agum mau, mas bisa saya mutasi ke kantor Surabaya, tapi hanya sebagai cleaning service"
Mata Agum terbelalak. Ia kira jabatannya akan turun kembali menjadi kurir, tapi ternyata cleaning sevice dan di Surabaya, bukan di Jogja. Ingin rasanya ia menolak, tapi akhirnya...
"Baiklah pak, saya akan terima penawaran dari bapak", pangkas Agum.
***
Lintang berdiri di depan jendela ruang rawatnya sembari melihat sebuah taman yang ada di tengah-tengah gedung rumah sakit yang nampak begitu jelas dari tempat ia berdiri saat ini. Masih terasa sedikit nyeri di pundaknya, dan matanya juga terlihat sembab karena sejak ia terbangun dari tidur panjangnya, setiap mengingat kejadian malam itu, air matanya selalu saja menetes tanpa permisi.
Ibu Ratih sibuk mengemasi pakaian-pakaian Lintang. Hari ini tepat hari kelima sejak ia terbaring di rumah sakit, akhirnya ia diperbolehkan untuk pulang.
"Ndhuk, setelah ini apa rencanamu?", tanya ibu Ratih membuyarkan lamunan Lintang.
Lintang menghela nafas panjang. "Lintang akan pulang ke rumah ibu"
"Agum sudah mengetahui hal ini?", tanya ibu Ratih.
Lintang mengangguk pelan. "Kemarin Lintang sudah meminta izin ke mas Agum bu, dan mas Agum mengizinkan untuk sementara waktu Lintang tinggal di rumah ibu"
Ibu Ratih mengangguk. Bagaimanapun juga saat ini Lintang masih menjadi istri sah Agum, jadi apapun yang akan ia lakukan harus atas izinnya.
Ceklek....
__ADS_1
Lintang dan ibu Ratih mengedarkan pandangan ke arah pintu. Dan tak lama kemudian terlihat Hanan dan bu Nury memasuki ruangan.
"Assalamualaikum", ucap keduanya bersamaan.
"Wa'alaikumsalam", jawab ibu Ratih juga Lintang.
Bu Nury menghampiri Lintang dan matanya juga sedikit memerah. Entah mengapa sejak pertama ia bertemu dengan Lintang, ia begitu bersimpati dengan Lintang.
"Bagaimana keadaanmu mbak?", tanya bu Nury.
Lintang tersenyum tipis. "Alhamdulillah sudah membaik bu"
Bu Nury sedikit lega. "Alhamdulillah, semoga segera pulih seperti sedia kala ya mbak biar aku tidak pusing lagi kalau mau pesan catering"
Lintang terkekeh kecil. "Inshaallah secepatnya jasa catering akan saya buka kembali bu".
Hanan ikut mendekat ke arah Lintang. "Nanti kamu sama ibu pulang bareng aku saja ya dek".
Lintang terperangah. "T-tapi mas, Lintang tidak mau merepotkan. Lintang bisa naik grab mas"
Hanan tersenyum tipis. "Tidak dek, kebetulan aku juga ada keperluan di dekat rumahmu jadi sekalian jalan kan?"
Lintang melirik ke arah ibunya bermaksud meminta pendapat. Ibu Ratih pun hanya mengangguk pelan.
Cekleek.... pintu ruangan kembali terbuka.
Mata Lintang terbelalak melihat seorang laki-laki yang masuk ke dalam ruangannya.
"M-mas Tomi?", pekiknya.
Seketika Tomi menghampiri Lintang dan bersimpuh di bawah kaki Lintang.
"Maafkan aku Lin, maafkan aku!!", ucap Tomi dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
Lintang hanya terpaku, melihat ada seorang laki-laki yang bersimpuh di bawahnya. "M-mas, bangunlah jangan seperti ini"
Tomi menggeleng. "Tidak Lin, aku telah melukaimu, dan sekarang jika kamu akan memperkarakan atas kejadian malam itu, aku terima. Hidupku sudah hancur dan aku ikhlas jika aku harus mendekam di balik penjara"
Air mata Lintang kembali menetes. "Mas, tolong jangan seperti ini, bangunlah".
Tomi masih kekeuh di posisinya. Hanan yang melihat itupun kemudian meraih tubuh Tomi untuk membuatnya berdiri. "Duduklah di kursi mas, apapun permasalahannya bisa kita selesaikan baik-baik".
__ADS_1
Tomi menurut, ia pun duduk di kursi yang ada di ruangan Lintang. Ia mengacak rambutnya kasar dan mengusap wajahnya.
Lintang menghembuskan nafas pelan. "Aku tidak akan memperpanjang masalah ini mas!"
Ibu Ratih terperangah. Ia tahu jika Tomi lah yang telah menusuk Lintang, ia heran mengapa anaknya tidak mau melaporkannya ke pihak yang berwenang. Namun ia hanya bisa menahan pertanyaan itu dalam pikirannya. Ia ingin tahu apa yang diinginkan oleh anaknya itu.
Tomi pun lebih terperangah. "Tidak Lin, aku sudah melakukan kejahatan terhadapmu, meski sebenarnya bukan kamu yang menjadi tujuanku, tapi bagaimanapun juga tindakanku itu telah menjatuhkan korban". Tomi menghela nafas dalam. "Saat ini jika kamu akan melaporkan aku, aku bisa menerimanya".
Lintang tersenyum tipis. "Tidak mas, aku tidak akan memperkarakan kasus ini".
Tomi semakin bingung dibuatnya. "T-tapi percuma saja Lin, hidupku sudah hancur sehingga ada baiknya aku menghabiskan sisa umurku di balik jeruji".
Lintang menggeleng. "Tidak mas, aku tidak akan melakukannya. Sudah cukup orang-orang yang menjadi korban atas perbuatan yang dilakukan oleh pasangan kita. Aku tidak ingin menambah korban lainnya".
Tomi tersentak. "M-maksud kamu?"
Lintang tersenyum getir sembari menatap ke arah pintu dengan tatapan kosong. "Aku tidak mau anak-anakmu menjadi korban jika sampai kamu masuk ke dalam penjara mas". Lintang mencoba menahan sesak di dadanya. "Mereka sudah menderita kehilangan sosok seorang ibu, dan aku tidak akan menambah derita mereka lagi dengan membiarkannya kehilangan sosok seorang ayah".
Tomi terpaku mendengar ucapan Lintang. "T-tapi Lin_______"
"Sudah mas. Aku sudah memaafkan semuanya. Aku tidak ingin berlarut-larut berada dalam permasalahan ini. Aku ingin segera beranjak dari keterpurukan ini", ucap Lintang memangkas ucapan Tomi.
"Lin......", ucapan Tomi seperti terhenti di tenggorokannya. Dan hanya air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya. Ia tidak menyangka jika ada orang yang berhati mulia seperti wanita di hadapannya ini. Tomi pun hanya menundukkan wajahnya.
"Sudah mas. Aku anggap ini semua sudah selesai. Mas Tomi bersiap-siap saja, mungkin suatu hari nanti, aku memerlukan bantuan dari sampeyan", ucap Lintang.
Tomi terperangah. "B-bantuan apa Lin?".
Lintang tersenyum tipis. "Jika sudah waktunya, aku pasti akan menghubungimu mas"
Ibu Ratih yang duduk di tepi ranjang juga terlihat berderai air mata mendengar kata-kata dari anaknya. Ia sesenggukan, sesakit apapun luka yang di rasakan oleh anaknya itu, ia masih saja memikirkan kebahagiaan orang lain. Bu Nury hanya bisa menenangkan ibu Ratih dengan memeluknya sembari berusaha memberinya kekuatan.
Hanan terdiam, terpaku, mendengar kata-kata yang keluar dari bibir wanita yang masih menjadi pemilik hatinya itu. Sejak kemarin ia tidak mengetahui permasalahan apa yang tengah dihadapi oleh Lintang, namun saat ini, saat ia mendengar percakapan antara Lintang dengan Tomi, Hanan pun semakin paham apa yang sedang terjadi di dalam pernikahan Lintang itu. Tanpa terasa setetes air bening berhasil lolos dari pelupuk mata Hanan.
Terbuat dari apa hatimu itu Lin. Berkali-kali kamu dihantam oleh ujian-ujian kehidupan, kamu masih saja memikirkan kebahagiaan orang lain padahal kamu lah orang yang paling menderita. Jika Allah mengizinkan, aku berjanji akan menjadi penawar atas luka yang kamu tanggung ini.
.
.
. bersambung...
__ADS_1
Yuk vote, vote, vote!!!, hihiihihihi... tuh untuk para pembaca yang tanya kenapa Tomi gk dipenjara author jawab di episode ini yah.. jika masih ada yang tanya kok gitu sih Thor?, mana keadilan buat Lintang Thor?, hehehe tunggu yah, author pasti akan ngasih keadilan buat Lintang.. dan yang minta Agum dipecat itu juga udah author kabulkan.. seneng?, seneng?, hihihihi... terima kasih banyak sudah mampir ke novel pertamaku ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya... happy Reading kakak...
Salam love, love, love💗💗💗