
Surabaya....
Matahari mulai meninggi. Sinarnya yang terasa sangat terik seolah membakar kulit siapapun yang saat ini berada di bawahnya secara langsung. Seorang laki-laki dengan jaket warna hijau khas ojek online, nampak sedang duduk di bawah pohon waru, sambil sesekali mengusap peluh yang membasahi wajahnya.
Ia mengambil dompet dari dalam saku celananya. Ia buka dompet itu, kemudian ia hitung lembaran-lembaran uang yang ada di dalamnya.
"Alhamdulillah...", ucapnya lirih.
Tiba-tiba pandangannya terpaku pada selembar foto yang terselip di dalam dompet itu. Dengan gemetar ia menarik foto itu dan kini ia pandang dengan lekat.
Apa kabar kalian?, apakah saat ini kalian hidup bahagia?, ah.. tentu saja iya. Saat ini kalian telah berada di dalam dekapan lelaki yang tepat. Seorang laki-laki yang pastinya bisa membahagiakan kalian lahir maupun batin.
Mata laki-laki itu tiba-tiba memanas, tanpa sadar genangan air bening telah berkumpul di pelupuk matanya. Dan tanpa permisi air itu mulai menetes satu per satu.
Dadanya terasa sesak, seolah dihantam sebuah batu besar yang seakan mendorong air mata itu untuk lebih deras mengalir dari pelupuk matanya. Saat ia melihat selembar foto dengan gambar seorang wanita yang tengah menggendong bayi mungil dengan senyum yang mengembang, seolah membuat memory otaknya kembali memutar kejadian-kejadian di beberapa tahun yang lalu.
Agum Widiharsetyo yang saat ini tengah duduk itu terlihat sedang terpaku dalam kenangan masa lalunya. Sebuah memory yang tiba-tiba muncul seolah kembali mengingatkan jika ia adalah salah satu suami yang telah berbuat jahat terhadap keluarganya. Ketamakan, rasa kurang bersyukur atas pemberian Allah seperti telah membuatnya terpuruk dalam kubangan penyesalan yang tak pernah berakhir seperti ini.
Bertahun-tahun ia mencoba ikhlas untuk melepaskan istri juga anaknya namun tetap saja, tidak bisa. Ia berandai-andai. Kalau saja saat itu ia tidak membiarkan Reni kembali masuk ke dalam hidupnya, kalau saja saat itu ia tidak terjerat dengan kebahagiaan semu yang dihadirkan olehnya, kalau saja sedikit saja ia bersyukur atas apa saja yang ada di dalam diri istrinya (Lintang) , pastilah keadaan seperti ini tidak akan pernah terjadi.
Ia membuang nafas kasar. Sebesar apapun penyesalan yang saat ini ia rasakan, tidak akan pernah bisa mengembalikan sesuatu yang telah ia buang. Ya, dengan keputusannya menjalin hubungan dengan Reni saat itu, secara tidak langsung ia telah membuang istri dan anaknya dari hidupnya. Mereka terbuang dari singgasana yang ada dalam hatinya.
Ia kembali menghela nafas dalam. Berapa banyak waktu yang ia habiskan untuk menyesali perbuatannya, sama sekali tidak akan pernah membuat apa yang pernah ia lepaskan akan kembali kepadanya. Inilah cara kerja sebuah takdir, inilah cara Allah menegurnya, dan inilah cara Allah untuk mengembalikan ia ke jalan yang semestinya.
Berbahagialah selalu Lin.. aku di sini hanya bisa selalu mendoakan yang terbaik untukmu.
****
"Sayang, lari-lariannya sudah dong, nanti rumah om Danang jadi berantakan!", seru seorang wanita yang sedang berada di ruang tamu.
"Lali-lalian di cini enak, Ma, hehehe!", jawab anak lelaki itu, dengan gaya yang masih cedal.
Sang wanita itupun hanya geleng-geleng kepala. "Maaf ya mbak, karena Kevin rumah mbak Nunik jadi berantakan".
Wanita yang bernama Nunik itu hanya menyunggingkan senyumnya. "Tidak apa-apa Sar, namanya juga anak-anak".
Sarah Hayuningtyas, seorang janda yang tanpa sengaja bertemu dengan Agum beberapa saat yang lalu terlihat begitu telaten menjaga anak kecil yang berusia dua tahun itu.
__ADS_1
"Sar, apa tidak sebaiknya kamu dan Agum menikah saja?", tanya mbak Nunik di sela-sela obrolan mereka.
Sarah hanya tersenyum tipis. Semenjak bertemu dengan Agum, ia memang merasakan sesuatu yang beda. Dan setelah ia mengenal Agum lebih jauh, ia merasa semakin bersimpati atas apa yang menimpa Agum.
"Sepertinya mas Agum masih sangat mencintai mantan istrinya mbak. Dan sepertinya mas Agum juga masih larut dalam penyesalannya", jawab Sarah dengan tatapan mata yang menerawang.
"Kesalahan yang dilakukan oleh Agum memang besar Sar, karena kesalahannya itulah yang selalu membuatnya merasa tidak pantas untuk bahagia", sambung Danang yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Mungkin memang seperti itu mas", ucap Sarah membenarkan perkataan Danang.
Danang memindai ekspresi wajah Sarah. Ia tahu jika selama ini Sarah menyimpan sebuah perasaan untuk Agum. Hal itu ia tunjukkan dengan bersedianya ia membantu menjaga Kevin di sela-sela aktifitasnya berbisnis online.
"Semisal Agum berniat menikahimu, apakah kamu bersedia menerimanya Sar?", tanya Danang penuh rasa ingin tahu.
Sarah tersenyum tipis. "Sepertinya hal itu tidak mungkin mas. Aku tahu, bagaimana mas Agum mencintai mantan istrinya, dan sepertinya tidak ada yang bisa menggantikan posisi istrinya dalam hati mas Agum".
"Bukan itu jawaban yang aku maksud, Sar. Aku bertanya apakah kamu akan menerima Agum jika ia berniat menikahimu?, tentunya jawabannya hanyalah iya atau tidak".
Sarah kembali tersenyum. "Ya, aku akan menerimanya mas".
Langkah kaki seorang laki-laki yang ada di depan teras rumah Danang tiba-tiba terhenti sesaat setelah ia mendengarkan perkataan Sarah. Ia menghela nafas dalam. Apakah ia berbahagia dengan ucapan yang dikatakan oleh Sarah?, atau malah justru sebaliknya?.
"Assalamualaikum", ucap Agum memberi salam saat masuk ke dalam rumah Danang.
"Waalaikumussalam", jawab semua orang yang ada di ruang tamu itu secara serentak.
Sarah menyunggingkan senyumnya. "Mau istirahat makan siang mas?".
Agum hanya tersenyum tipis. "Nanti saja mbak, aku masih belum lapar". Hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Sarah.
Pandangan Agum mengarah ke Danang. "Kevin bikin berantakan rumah sampeyan lagi ya mas?".
"Tidak masalah Gum, namanya juga anak-anak".
"Lalu di mana dia sekarang kok tidak terdengar celotehannya?".
"Habis lari-larian, ia tidur di ruang tengah mas, mungkin dianya kecapekkan", ucap Sarah memberikan penjelasan.
__ADS_1
Agum menyunggingkan senyumnya. "Terima kasih banyak ya mbak untuk semua bantuannya. Maaf, karena aku sudah sering merepotkan sampeyan".
"Tidak masalah mas. Lagipula saya tidak merasa kerepotan kok", ucap Sarah penuh ketulusan.
Agum tersenyum simpul sembari menghela nafas dalam. "Mbak?".
"Ya, mas?, ada yang bisa saya bantu?".
Danang melihat ekspresi wajah Agum. Ia merasa bahwa Agum akan menyampaikan sesuatu yang penting kepada Sarah.
Agum kembali membuang nafas kasar. Apakah ia pantas menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan?, namun kembali lagi, ia harus memutuskan sesuatu untuk menjadi pijakan kakinya di kehidupannya yang masih akan terus berlanjut.
"Bersediakah mbak Sarah untuk menjadi istriku?", akhirnya pernyataan itu lolos juga dari mulut Agum.
Sarah terperangah dengan pertanyaan Agum itu. Mungkinkah ini merupakan jawaban dari doa-doa yang ia panjatkan selama ini?, ya, Sarah memang sudah sejak lama memendam perasaan kepada Agum. Dan hari ini, Agum melamarnya secara langsung.
"S-saya____".
"Aku sadar jika aku pernah menjadi seorang suami yang begitu jahat terhadap keluargaku. Jika saat ini aku ingin berubah melalui kehadiran sampeyan, bersediakah sampeyan untuk mendampingiku, mbak?".
Sarah mengedarkan pandangannya ke arah Danang dan Nunik. Dan mereka pun hanya mengangguk pelan.
"Setiap orang punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya mas. Dan saya percaya jika mas Agum memiliki kesempatan itu". Sarah menghela nafasnya pelan. "Saya bersedia mendampingimu mas".
"Apakah semua itu hanya sebagai bentuk rasa kasihanmu terhadapku mbak?", tanya Agum meminta sebuah kepastian.
Sarah tersenyum tipis. "Tadinya saya memang merasa kasihan terhadap sampeyan. Namun lama kelamaan rasa itu berubah. Saya ingin membersamai langkah kaki sampeyan untuk kehidupan yang akan datang".
Agum menitikan air matanya. Ia merasa seperti tidak pantas untuk mendapatkan ini semua mengingat begitu besar dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Namun ternyata Allah masih memberinya kesempatan untuk mengecap satu kebahagiaan seperti ini.
"Alhamdulillah. Terima kasih banyak mbak", ucap Agum dengan wajah yang begitu sendu.
Danang juga Nunik juga terlihat meneteskan air mata. Sejauh ini mereka lah yang tahu pasti bagaimana Agum menjalani takdir hidupnya. Mereka sedikit lega karena dengan ini, Agum sudah mencoba untuk berdamai dengan dirinya sendiri.
.
.
__ADS_1
. masih ada kelanjutannya.. mohon bersabar yah.. 😘