Titik Balik

Titik Balik
DELAPAN PULUH ENAM


__ADS_3

Semburat warna oranye telah nampak di ufuk timur. Hembusan angin pagi ini juga terasa lebih kencang dari biasanya yang membuat tirai putih di balik jendela rumah sakit berayun-ayun seiring seirama dengan hembusan itu.


Bola mata wanita yang sedang terbaring lemah itu sedikit bergerak meski kelopak matanya masih terpejam. Perlahan mulai terbuka. Ia sedikit memincingkan mata, berusaha menahan silau dari sinar mentari yang begitu terasa menusuk kornea matanya. Jemari tangannya juga bergerak seakan mengeluarkan sinyal jika ia telah bangun dari tidur panjangnya.


Ia menundukkan pandangan matanya. Terlihat ada seorang laki-laki yang tertidur dengan posisi duduk di kursi tepat di samping pinggangnya. Tangannya juga terlihat menggenggam jemari wanita itu, namun ia masih belum sadar jika sedari tadi jemari yang ada di genggamannya itu bergerak. Mungkin karena ia terlalu lelah sehingga membuatnya tertidur pulas.


Setetes air bening berhasil lolos dari pelupuk mata wanita itu. Seketika memory otaknya merekam ulang kejadian sesaat sebelum ia terbaring di atas pembaringan ini.


Ya Tuhan, terima kasih Engkau masih memberiku kesempatan untuk hidup. Setelah bangun, aku ingin sekali mendekap tubuh lelaki ini namun sungguh, hatiku masih terlalu sakit untuk menerima semua ini.


Lelaki itu menggeliat, merasakan ada sebuah gerakan dari jemari yang ia genggam. Ia mengerjap-ngerjap kan mata untuk meraih kesadarannya. Dan matanya tertuju pada wajah wanita yang ada di hadapannya itu.


Mata Agum terbelalak. "Sayang?!!, kamu sudah sadar??!!!"


Lintang pun hanya mengangguk. Seketika Agum menyentuh pipi Lintang dan kemudian mengecupnya.


"S-sayang kamu mau apa?, mau makan?, mau minum?", ucap Agum mencoba menawarkan.


Lintang menggeleng dengan sedikit menahan nyeri di pundak belakangnya.


"Mas?!", panggil Lintang lirih.


"Ya sayang", jawab Agum masih dengan menggenggam tangan Lintang.


Lintang menghela nafas dalam. Tetap saja dadanya masih begitu sesak jika teringat kejadian malam itu. Namun bagaimanapun juga ia harus membuat sebuah keputusan untuk melangkah.


"Aku mau kita berpisah".


Agum terkejut setengah mati, mendengar kata pertama yang keluar dari bibir Lintang setelah tiga hari ia tak sadarkan diri.


"S-sayang, apa maksudmu?"


Air mata Lintang kembali menetes. "Aku berhenti mas"


Agum menggeleng. "Tidak sayang, aku tidak mau berpisah darimu"


Lintang terisak sembari menahan nyeri bekas tusukan di pundaknya itu. "Aku bisa menerima atas perselingkuhan yang telah kamu lakukan di belakangku, dan aku pun telah memaafkanmu.. tapi untuk saat ini aku tidak bisa___________"


"Apa yang membuatmu tidak bisa sayang, bahkan aku sudah meninggalkan Reni",


Lintang menggeleng. "Tidak mas. Jangan menjadi orang jahat untuk kesekian kalinya"


Agum mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu sayang?"

__ADS_1


Lintang membuang nafasnya. "Saat ini ada darah dagingmu yang sedang bertumbuh di dalam rahim Reni, jangan biarkan anak tidak berdosa itu menanggung dosa dari kedua orang tuanya"


"T-tapi sayang_______"


"Aku memutuskan untuk berhenti mas. Bertanggung jawablah atas apa yang sudah kalian perbuat"


Agum berusaha menahan isak tangisnya. "Aku tidak mau sayang, aku tidak mau berpisah darimu. Kasihan Nana jika kita berpisah sayang, dia masih membutuhkan kedua orang tuanya"


Lintang tersenyum getir. "Saat kamu memutuskan untuk mencurangiku, kamu bahkan tidak memikirkan apa yang akan terjadi terhadap Nana mas!! "


Jleb!!!!


Jawaban telak dari Lintang seolah menusuk tepat di jantung Agum. Ya, ketika itu ia hanya dipenuhi oleh kebahagiaan semu yang dihadirkan oleh Reni, yang membuatnya lupa akan anak juga istrinya. Dan sekarang, setelah semua kehancuran ada di depan matanya, ia menggunakan Nana agar Lintang tetap bertahan. Sungguh seperti orang yang tidak tahu malu saja Agum saat ini.


Agum masih terdiam, terpaku. Lintang kembali menghela nafas dalam. "Jangan khawatirkan Nana, cinta kasih sayang dariku juga keluargaku, akan mampu menggantikan kasih sayang yang tidak ia dapatkan dari sosok seorang ayah"


Agum menggeleng. "Tidak sayang, aku tidak akan pernah menceraikanmu"


***


Suasana kantor ekspedisi tempat Agum bekerja saat ini terlihat sedikit ramai. Bukan ramai karena banyak customer yang datang untuk menggunakan jasa ekspedisi nya, namun ramai karena hari ini pak Yusuf dan beberapa orang yang merupakan pimpinan pusat dan staf dari Jakarta mendatangi kantor Jogja.


Agum memasuki kantor. Ia mencoba tersenyum ramah kepada karyawan-karyawan yang berpapasan dengannya. Namun hari ini sepertinya sedikit berbeda, karena mereka terlihat lebih dingin.


"Sudah di tunggu pak Yusuf juga pak Ibra di ruang pimpinan mas!", ucap Aan sambil membawa beberapa dokumen di tangannya.


"Iya mas", jawab Aan singkat.


"Ada masalah apa ya An?"


Aan hanya mengendikkan bahunya. "Aku tidak tahu mas. Yang jelas beliau sudah menunggu sampeyan di ruang pimpinan.


Agum menghela nafas panjang mencoba membuang rasa cemasnya. Namun tetap saja, keringat dinginnya keluar semua seolah menjadi tanda saat ini ia tengah dilanda kecemasan yang luar biasa.


Agum melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju ruang pimpinan yang ada di lantai dua. Sampai di depan pintu, Agum kembali menarik nafas panjang, kemudian ia menarik tuas pintu ruangan itu.


Ceklek.... pintu terbuka...


Saat berada di dalam ruangan mata Agum terbelalak melihat ada lima orang di sana. Ya mereka adalah pak Yusuf, pak Ibra, pak Sugeng, Tomi dan Reni.


Bugg!!!, bugg!!!


Lagi, Tomi menghujani tubuh Agum dengan hantaman di perutnya. Seketika kaum laki-laki yang ada di ruangan itu menahan Tomi.

__ADS_1


"Lihatlah.. ini lelaki b*****an yang sudah mengacaukan rumah tanggaku", ucap Tomi sambil meronta mencoba terlepas dari kungkungan orang-orang itu.


Pak Ibra menghampiri Agum dan memegang tubuhnya yang hampir saja terjatuh.


"Tenang mas, kita bisa bicarakan baik-baik", ucap pak Yusuf kepada Tomi.


Akhirnya suasana pun terkendali.


Pak Yusuf menarik nafas panjang. Dan pandangannya mengedar ke arah Agum. "Jadi apa benar mas yang dikatakan oleh mas Tomi terkait sebuah hubungan terlarang antara sampeyan dengan mbak Reni?"


Agum tersentak. Ia tidak menyangka jika permasalahannya dengan Reni akan terkuak secepat ini di kantor.


Agum pun mengangguk kepalanya pelan. "I-iya benar pak"


"Jadi langkah apa yang akan sampeyan ambil untuk bisa keluar dari masalah ini?", tanya pak Yusuf.


"Saya akan bertanggung jawab, tapi saya tidak bisa meninggalkan istri saya"


Mata Reni terbelalak. Ia tidak percaya jika di situasi seperti ini pun, Agum tetap kekeuh tidak ingin melepaskan Lintang.


"Tidak mas, aku tidak terima. Aku ingin kamu menceraikan Lintang. Kamu harus bertanggung jawab atas anak yang sedang aku kandung ini", sanggah Reni.


Tomi yang mendengar jawaban dari wanita yang masih menjadi istrinya itu hanya bisa menatap dengan tatapan nanar.


Ternyata kamu benar-benar sudah tergila-gila dengan laki-laki itu Ren. Jika kamu minta maaf kepadaku, aku akan memaafkanmu dan akan menerimamu kembali. Tapi kini aku semakin yakin jika aku memang harus menceraikanmu.


Agum menggeleng. "Tidak Ren, aku akan tetap bertanggung jawab, tapi aku tidak akan pernah menceraikan Lintang"


"Tidak mas, aku tidak mau. Aku tidak peduli, setelah ini aku mau kamu hidup bersamaku, bukan bersama istrimu ________"


"Hentikan Ren!!!, kamu seperti wanita yang tidak punya harga diri!!! ", ucap pak Sugeng memangkas perkataan Reni. Ia menarik nafas dalam sebelum melanjutkan kata-katanya. "Jika kamu tetap bersikeras untuk tetap bersama laki-laki itu, aku tidak akan pernah lagi menganggapmu sebagai anak!!"


Reni tersenyum getir. "Aku tidak peduli yah, aku akan tetap hidup bersama mas Agum. Aku akan tetap mendapatkan apa yang memang seharusnya aku miliki"


Deg!!!!!


Jantung Agum bergemuruh. Ia menundukkan wajahnya. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya jika perselingkuhan yang ia lakukan bersama Reni akan menyisakan masalah yang begitu rumit seperti ini.


.


.


. bersambung....

__ADS_1


Tuh, tuh, tuh udah ada sedikit angin surga kan???, hihihihi... kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Lintang setelah ini ya?!, hehe tunggu di episode selanjutnya yah.... terima kasih banyak sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya yah.. dan bagi yang punya kelebihan poin, boleh lah kalo mau disumbangin ke author dengan cara klik vote.. happy Reading kakak... terima kasih Yaa...


Salam love, love, love💗💗💗


__ADS_2