Titik Balik

Titik Balik
ENAM PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Agum terlihat sedang memanaskan mesin mobilnya. Kemudian di susul Lintang yang berjalan menghampirinya sambil membawakan tas kerja Agum.


"Untuk laporan-laporan yang mas bikin semalam, sudah aku masukkan ke dalam tas semuanya ya mas, inshaallah tidak ada yang tertinggal"


Agum tersenyum. "Terima kasih ya dek. Kalau begitu aku berangkat dulu ya",


Lintang menjabat tangan Agum kemudian ia cium punggung tangannya. "Iya mas, hati-hati di jalan ya. Semoga Allah senantiasa menjagamu lahir maupun batin mas"


Agum mengecup pucuk kepala Lintang. "Aamiin, terima kasih untuk doanya sayang. Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam mas"


Perlahan Agum melajukan mobil yang dikendarainya. Hingga akhirnya mobil itu keluar dari halaman kontrakan Lintang dan hilang dari pandangannya.


Lintang kembali masuk ke dalam rumah. Ia selesaikan semua pekerjaan rumah tangganya. Mulai dari menyapu, mengepel, mencuci dan menyetrika. Sambil sesekali ia membuka ponselnya untuk mulai promosi catering yang akan ia jalani bersama ibunya.


Bismillah, semoga Engkau ridho atas ikhtiar yang aku lakukan ini ya Allah.


**********


"Ibu, maaf ya. Jadi serba dadakan seperti ini. Tadi Lintang iseng-iseng mulai promosi lewat WA, eh taunya langsung ada yang pesan", ucap Lintang sambil memotong-motong sayur kacang di depannya.


Ibu Ratih hanya tersenyum sambil menaikkan dandang ke atas kompor. "Ndak apa-apa ndhuk. Pesannya lima belas box kan?"


Lintang menggeser badannya di depan wastafel sambil mencuci daging ayam. "Iya bu, lima belas box dan di antar ke bank yang ada di dekat lapangan jam empat sore"


Ibu Ratih tersenyum lega, saat ini jarum jam menunjukkan pukul dua siang, cukuplah waktu dua jam untuk menyelesaikan pesanan perdana catering ini.


"Bunda?!", panggil Nana yang tiba-tiba berada di dapur.


"Ya sayang, ada apa?", jawab Lintang sambil mengulek bumbu ayam bakar.


"Nana lapar, bunda", jawab Nana memelas.


Lintang meletakkan ulekannya, kemudian menghampiri Nana. "Astaga, maafkan bunda ya sayang, bunda sampai lupa kalau Nana belum makan"

__ADS_1


Lintang pun mengambil sepiring nasi lengkap dengan sayur sup juga ayam gorengnya. Kemudian ia kembali mendekati Nana.


"Nah sekarang Nana makan dulu ya. Duduk di sana ya sayang", ucap Lintang sambil menunjuk arah bangku kecil dari plastik yang ada di pembatas antara dapur dengan ruang tengah.


Nana menurut. Ia terlihat begitu menikmati makanan yang ada di depannya. Lintang pun tersenyum lebar, ia bersyukur memiliki anak seperti Nana yang tidak rewel dan lebih mudah untuk diarahkan. Ia pun melanjutkan kembali pekerjaannya.


Lintang terlihat begitu menikmati aktivitasnya saat ini. Karena dengan begini ia bisa menjadi wanita mandiri yang bisa berdiri di atas kakinya sendiri dan bisa sedikit membantu ibunya untuk menyiapkan tabungan masa depan untuk sekolah Friska. Bagaimanapun juga sepeninggal ayah Lintang, saat ini Friska menjadi tanggung jawabnya.


Akhirnya setelah hampir dua jam memasak dan packing, pesanan perdana catering Lintang pun siap untuk di antar.


"Alhamdulillah akhirnya selesai juga bu" ucap Lintang sambil membereskan dapur.


"Iya ndhuk alhamdulillah", jawab ibu Ratih. "Ya sudah sekarang kamu mandi terus ngantar pesanan ini ya, takutnya nanti telat", sambung ibu Ratih.


"Iya bu, Lintang mandiin Nana dulu", jawab Lintang.


Lintang menghampiri Nana yang sedang asyik menyusun lego. "Sayang, mandi dulu yuk, nanti keburu sore"


Nana mengangguk. "Iya bunda".


**********


"Selamat sore mbak", ucap seorang security yang ada di depan pintu masuk.


"Sore pak, maaf saya Lintang dari Az-Zahra catering. Saya mau bertemu dengan ibu Nury yang tadi pesan catering pak", jawab Lintang.


"Oh mari saya antar ke ruang beliau mbak. Kebetulan rapatnya belum di mulai kok" jawab security itu.


Lintang mengangguk kemudian menjinjing plastik besarnya. Security itu tersenyum melihat Lintang sedikit kerepotan. "Biar saya yang bawakan mbak"


Lintang tersentak. "Eh?, te-terima kasih banyak ya pak". Security itupun mengangguk.


Lintang mengekor di belakang security itu. Hingga sampai di salah satu ruangan. Di depan ruangan itu terdapat beberapa sofa kecil dan Lintang pun menunggu di sana.


"Mbak Lintang?", panggil wanita yang berusia sekitar empat puluh tahun.

__ADS_1


"Ibu Nury?", tanya Lintang memastikan.


"Iya mbak saya ibu Nury. Terima kasih banyak ya mbak sudah mengantar pesanan saya tepat waktu. Ini untuk biaya pesanannya", ucap ibu Nury sambil menyerahkan amplop putih kepada Lintang.


Lintang tersenyum. "Iya ibu, terima kasih juga karena sudah pesan di catering kami. Semisal ada kritik maupun saran mengenai rasa dari menu yang kami sajikan, bisa langsung hubungi saya saja bu", jawab Lintang.


Ibu Nury tersenyum. "Iya mbak. Semisal kami cocok dengan menu yang mbak bikin, inshaallah untuk rapat-rapat selanjutnya kami akan menggunakan jasa catering dari mbak Lintang lagi"


Wajah Lintang terlihat sumringah. "Terima kasih banyak ibu. Kalau begitu saya pamit undur diri"


Lintang pun meninggalkan ruangan ibu Nury sambil memasukkan amplop ke dalam tas nya. Saat itu pandangan Lintang fokus ke dalam tas yang ia bawa dan tiba-tiba.


"Aawwwww....." teriak seorang laki-laki yang terlihat sedang sibuk berbicara lewat handphone sambil membawa beberapa dokumen di tangannya.


Mata Lintang terbelalak melihat lembaran-lembaran kertas yang berhamburan di bawah kakinya. Reflek ia pun jongkok dan mengambil kertas-kertas itu.


"Ma-maf ya mas, saya tidak sengaja", ucap Lintang sambil memungut kertas-kertas yang berhamburan itu tanpa melihat laki-laki yang ada di depannya.


Laki-laki itupun hanya memandang Lintang yang sedang menunduk dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia seperti familiar dengan suara wanita yang baru saja menabraknya itu. Tiba-tiba bibirnya tersenyum.


Lintang mulai berdiri masih sambil menata kertas-kertas di tangannya. "Se-sekali lagi ma_____________"


Mereka pun saling bertemu pandang. Lintang terkejut setengah mati melihat sosok laki-laki yang ada di depannya kini.


Laki-laki itupun mengulas senyum. "Assalamu'alaikum dek Lintang"


Lintang masih terpaku. Wa-waalaikumsalam mas...... Hanan "


.


.


.


. bersambung....

__ADS_1


Nah nah nah siapa lagi Hanan thor??, hehe bagi yang belum tau Hanan, bisa di lihat di episode-episode awal ya... enaknya dijadikan apa ya si Hanan ini?, hihihhihi... tunggu episode selanjutnya ya... terima kasih banyak sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini ya kak... jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar kalian semua yaahh.. bagi yang punya kelebihan poin boleh juga kalau mau disumbangin ke author dengan cara klik vote.. 😄 happy Reading kakak-kakak tersayang...


Salam Love, love, love 💗💗💗


__ADS_2