Titik Balik

Titik Balik
EMPAT PULUH DELAPAN


__ADS_3

Agum melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Sejak dari klinik tadi ia sama sekali tidak berbicara sepatah katapun, dan terkesan mendiamkan Lintang yang saat ini duduk di sampingnya. Pandanganya terlihat tajam ke depan namun seolah kosong. Hati Lintang seperti teriris melihat perubahan sikap suaminya itu. Mengapa ia menjadi berubah seperti ini. Lantas mau apa jika memang anak yang ia kandung adalah perempuan, apakah ia patut untuk kecewa?, padahal itu semua sudah di atur oleh Sang Maha pemilik kehidupan.


"Astaghfirullahal 'adziim mas!!!", pekik Lintang saat mobil Agum melewati sebuah jalan yang berlubang cukup dalam. Reflek ia memegang perutnya.


Sontak membuat tubuh Lintang terperanjat dan kepalanya hampir terbentur dashboard di depannya.


"Apa-apaan kamu mas, kamu mau bikin aku celaka?", tanya Lintang yang sudah tidak bisa menahan emosinya.


Agum masih terdiam tak menggubris istrinya. Lintang sudah tidak bisa menahan tangisnya yang sedari tadi tertahan di dadanya. Dan satu persatu air mata Lintang pun mulai menetes.


"Apa salahku mas?, apa kamu kecewa karena anak yang ada dalam rahimku ini seorang perempuan?", tanya Lintang. Agum masih tak bergeming sedikit pun.


Air mata Lintang semakin membanjiri pipinya.


"Kamu mau protes sama siapa mas, jika memang anak kita ini perempuan?, apakah kamu mau protes pada Tuhan?, aku bisa apa mas, aku bisa apa?, ini semua di luar kuasaku.", sambung Lintang sesenggukan sambil berusaha mengusap air matanya menggunakan tisu yang ada di depannya.


Agum masih saja terdiam, seolah tidak mendengar semua perkataan Lintang. Hati Lintang semakin hancur, melihat Agum tak memberikan respon sedikitpun.


"Sungguh, sikapmu ini sudah membuat aku terluka mas", ucap Lintang mengakhiri ucapannya.


Tak lama kemudian, mobil Agum pun memasuki halaman kontrakannya. Setelah Agum mematikan mesin mobilnya, Lintang keluar dan kemudian terlihat buru-buru masuk ke dalam kamar. Setelah itu ia kunci pintu dari dalam, dan menangis sejadi-jadinya.


Ibu Ranti yang sedang duduk di ruang tengah hanya memandang menantunya dengan tatapan penuh tanya yang melihat Lintang masuk kamar dengan tergesa-gesa, dan sama sekali tidak menyapanya. Padahal saat berangkat ke klinik tadi anak juga menantunya terlihat begitu bersemangat tapi sekarang mereka pulang dalam keadaan yang berbeda.


Ibu Ranti menuju ruang tamu, di sana terlihat Agum sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Ia menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Ia terlalu sulit untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Tapi ia bisa berbuat apa kalau memang Tuhan belum memberikan yang sesuai dengan keinginannya. Agum mengacak rambutnya kasar.


"Gum apa yang terjadi antara kamu dengan Lintang, kenapa Lintang tadi terlihat begitu sedih?", tanya ibu Ranti


"Gak ada apa-apa bu", jawab Agum singkat


"Kamu jangan berbohong Gum!", ucap ibu Ranti tak percaya.


"Sudah bu, tidak terjadi apa-apa antara aku dengan Lintang, dia mungkin sedang capek", sanggah Agum.


Ibu Ranti hanya bisa berdecak kesal. Ia yakin bahwa sedang terjadi sesuatu dengan anak dan menantunya itu. Ibu Ranti pun kemudian melenggang meninggalkan Agum.


*****************

__ADS_1


Selepas menunaikan sholat Isya', Lintang berbaring sambil mengusap-usap perutnya yang sudah membuncit itu. Sejak pulang dari klinik tadi, ia sama sekali tidak keluar kamar, dan Agum pun juga tidak mencoba menyusulnya ke kamar. Hatinya sedikit lebih tenang meski sisa-sisa air matanya masih terlihat menetes.


Hai anak bunda, maafkan bunda ya nak, jika hari ini bunda ikut membuatmu bersedih. Kau tahu nak, kehadiranmu di rahim bunda ini merupakan anugerah paling indah yang pernah bunda dapatkan, jadi sampai kapanpun bunda akan selalu menyayangimu. Maafkan sikap ayahmu tadi ya nak, tapi percayalah nak, ayahmu pasti juga sangat menyayangimu. Hanya saja ia belum terlalu bisa menunjukkannya.


Merasakan lelah hati, lelah fisik juga lelah karena terlalu lama menangis, membuat mata Lintang terpejam. Tak lama kemudian ia pun terlelap dalam tidurnya, dalam keadaan perut sama sekali belum terisi sejak sore tadi. Dan pintu kamarnya pun masih terkunci dari dalam.


**************


Setelah menyiapkan sarapan pagi untuk Agum, dan menyiapkan segala keperluan Agum sebelum pergi ke kantor, Lintang memilih duduk di teras rumah.


"Ndhuk, sini sebentar", panggil Budhe Yani.


"Ada apa Budhe?", tanya Lintang sambil menghampiri Budhe Yani.


"Sini ikut Budhe ke dalam ndhuk!", pinta budhe Yani.


Lintang pun menurut, ia mengekor di belakang punggung budhe Yani dan Budhe Yani pun membawa Lintang ke dapur.


"Budhe baru saja bikin pepes ikan nila ndhuk, nah ini buat kamu", ucap budhe Yani sambil menyerahkan empat bungkus pepes ikan nila ke tangan Lintang.


Bhdhe Yani ikut tersenyum. "Bagaimana kandungan kamu ndhuk?, sudah tahu jenis kelaminnya apa?", tanya budhe Yani


Deg!!!!


Mendengar kata jenis kelamin, hati Lintang seperti tercubit lagi. Ia kembali teringat kejadian setelah dari klinik kemarin. Hampir saja air matanya menetes namun Lintang berusaha menahannya.


"Eh, alhamdulillah semua baik-baik saja budhe, dan inshaallah jenis kelaminnya perempuan", jawab Lintang.


"Alhamdulillah, selamat ya ndhuk, di jaga baik-baik ya, dua bulan lagi siap-siap untuk melahirkan", ucap budhe Yani.


Lintang pun tersenyum dan mengangguk. Samar terdengar, suara mesin mobil Agum dari dapur budhe Yani. Dan tak selang lama, mobil Agum pun melaju dan tak terdengar lagi di pendengaran Lintang.


Lintang menarik nafasnya dalam. Hingga pagi ini pun ternyata ia dan suaminya masih tidak bertegur sapa, yang membuat dada Lintang kembali sesak.


"Budhe, Lintang balik dulu ya, masih banyak kerjaan di rumah. Sekali lagi terima kasih banyak pepes ikannya ya budhe, hehehe" ucap Lintang sambil berpamitan.


"Iya ndhuk, buruan makan, biar gak lemes", jawab budhe Yani. Lintang pun mengangguk.

__ADS_1


*************


"Ibu sudah sarapan?", tanya Lintang


"Sudah mbak", jawab ibu Ranti. "Mbak?", panggilnya pula


"Ya bu, ada apa?", tanya Lintang


"Apa yang terjadi antara kamu dan Agum mbak?", tanya ibu Ranti yang sudah tidak bisa menahannya lagi untuk bertanya.


Lintang menatap wajah mertuanya, ia merasa sangat bersalah, karena mungkin perselisihannya dengan Agum membuat ibu mertuanya cemas. Dan tetiba air mata Lintang menetes lagi.


"Ibu?", ucap Lintang lirih sambil menahan tangis.


"Mbak, kamu kenapa?, coba cerita ke ibu mbak!", pinta ibu Ranti yang melihat menantunya menangis.


Lintang pun memeluk ibu mertuanya itu. "Mas Agum kecewa sama Lintang bu", jawab Lintang lirih.


"Kecewa?, maksudnya bagaimana mbak?", tanya ibu Ranti tidak paham.


"Anak dalam perut Lintang ini perempuan, sedangkan mas Agum menginginkan anak laki-laki bu", jawab Lintang semakin tidak bisa menahan isak tangisnya.


"Ya Allah...", ucap ibu Ranti. Dan Lintang masih sesengukkan di dekapan ibu mertuanya. Ibu Ranti pun mengusap-usap punggung menantunya, berusaha untuk menenangkan.


Keterlaluan kamu Gum, dari dulu ibu tidak pernah mengajarkanmu menyakiti hati wanita, tapi sekarang sikapmu ini membuat wanita di sampingmu sangat terluka Gum.


.


.


.


. bersambung


Hai-hai para pembaca tersayang. Terima kasih banyak sudah berkenan mampir di novel pertamaku ini ya.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like, komentar, vote, dan juga rate bintang lima nya yaa... terima kasih...


Salam love, love, love💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2