Titik Balik

Titik Balik
ENAM PULUH DELAPAN


__ADS_3

Lintang mematutkan badannya di depan cermin yang ada di kamarnya. Tak henti-hentinya ia memandang sosok yang ada dalam pantulan cermin itu yang saat ini terlihat sangat berbeda. Ia menyunggingkan senyumnya. Rambut yang terlihat lebih lurus, polesan sedikit make-up yang terlihat lebih natural, dan dengan dress malam warna lembut yang membalut tubuhnya.


Ceklek...


Terdengar suara pintu kamar di buka. Tak lama Agum pun masuk ke kamar. Malam ini Nana memang tidur di rumah ibu Ratih, sehingga saat ini di kamar hanya ada Lintang dan Agum saja.


"Assalamualaikum mas", ucap Lintang sambil menghampiri Agum kemudian mencium punggung tangannya.


Ya, meski beberapa saat yang lalu hubungan keduanya tidak dalam keadaan yang baik, sebisa mungkin Lintang menurunkan egonya untuk bisa memperbaiki semuanya bersama Agum.


Agum memperhatikan dengan seksama penampilan Lintang saat ini.


Deg!!


Jantung Agum berdetak lebih cepat saat menatap wajah istrinya itu. Jauh di sudut hatinya yang paling dalam terbesit sebuah kekaguman yang terasa sulit untuk ia ungkapkan. Ia pun hanya terpaku melihat perubahan pada diri Lintang.


Lintang memutar kedua bola matanya, ia heran melihat Agum hanya terdiam. "Mas?", panggilnya sambil menepuk bahu Agum.


Agum tersentak. "Eh, Wa'alaikumsalam dek!"


"Kok melamun?", tanya Lintang.


Agum tersenyum kikuk. "Kamu terlihat cantik malam ini dek"


Akhirnya pujian itu keluar juga dari bibir Agum. Sekeras hatinya menahan untuk tidak memuji istrinya, namun tetap saja tidak bisa.


Lintang menyunggingkan senyumnya saat mendengar pujian yang terlontar dari bibir Agum. Entah kapan terakhir kali ia mendengar pujian dari suaminya itu, dan kini setelah ia kembali mendengar, hatinya seperti di tetesi oleh kesejukan embun pagi.


"Mas, mau mandi sekarang?, biar aku siapkan", tanya Lintang sambil membuka kancing kemeja Agum.


Agum masih terdiam, ia semakin terpesona dengan kecantikan istrinya malam ini. Lama ia memandang wajah istrinya itu hingga Lintang menyadari jika Agum sedang memperhatikannya dengan lekat. Lintang membalas tatapan mata Agum. Wajah mereka saling mendekat dan akhirnya Agum mendaratkan ciumannya di bibir Lintang.


Semakin lama ciuman itu semakin dalam. Nafas Agum terdengar memburu seolah merasakan gejolak yang tak mampu ia bendung. Lidah keduanya saling melilit dan saling menyesap kenikmatan ragawi yang ada dalam tubuh ke duanya.


Tangan Agum mendorong tengkuk Lintang berupaya untuk menikmati ciuman yang lebih dalam lagi. Dan...

__ADS_1


Drrrrrtttt... drrrtttt...


Ponsel Agum berbunyi. Seketika ciuman mereka pun terhenti. Agum mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dan ada sebuah pesan masuk untuknya.


Agum membaca nama pengirim pesan itu, ia pun mengernyitkan dahinya. Ekspresi wajah Agum tak luput dari perhatian Lintang.


Lintang tersenyum, ia tahu siapa pengirim pesan itu. "Di balas dulu mas, takutnya nanti ada yang terlalu lama menunggu balasan dari kamu"


Agum menatap wajah istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Lintang kemudian mengusap pipi Agum. "Tidak perlu pikirkan aku mas, aku tidak apa-apa. Aku siapkan air untuk kamu mandi juga makan malam kamu dulu ya".


Lintang kemudian melenggang meninggalkan Agum. Hatinya seperti tersayat sembilu, berusaha membohongi dirinya sendiri dengan mengatakan tidak apa-apa padahal kenyataannya ia terluka. Hampir saja butiran bening itu menetes namun secepat mungkin ia menghapuskannya yang baru ada di pelupuk matanya.


Kamu tidak boleh cengeng Lin, kamu harus kuat.


Agum memandang punggung istrinya dengan nanar. Kemudian perhatiannya tertuju pada ponsel yang ada di tangannya.


Mama❤️: jangan terlalu dekat sama istri kamu itu mas, aku gak rela pokoknya..


Me: iya mah, tenang saja..


Agum terduduk lunglai di atas tempat tidur yang biasa dipakai oleh Nana. Ia mengacak rambutnya dengan kasar. Dan memijat keningnya. Ia tak paham dengan apa yang sedang ia rasakan. Ingin rasanya ia bermesra-mesraan dengan istrinya namun bayangan Reni kembali mengusiknya.


"Gimana kerjaan hari ini mas?", tanya Lintang saat ia menikmati makan malam bersama Agum.


"Lancar dek, oh iya Nana masih tidur di tempat ibu?", sambung Agum sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Alhamdulillah kalau lancar mas. Iya, Nana masih tidur di tempat ibu. Katanya sih masih pengen tidur sama tantenya"


Agum tersenyum. "Dek, kok tiba-tiba kamu merubah penampilan seperti ini?"


Lintang meneguk air putih yang ada di depannya. "Memang kenapa mas?, mas keberatan?", tanyanya.


Reflek Agum menggeleng. "Ti-tidak, bukan begitu maksudku dek".


Lintang tersenyum kemudian ia meraih tangan Agum. "Aku hanya sedang berupaya untuk membuatmu bahagia mas. Aku sadar jika mungkin apa yang tengah menimpa keluarga kita saat ini karena kelalaianku juga. Lalai dalam merawat tubuhku yang seharusnya bisa menyejukkan pandanganmu. Maafkan aku ya mas"

__ADS_1


Agum semakin kikuk mendengar permintaan maaf dari Lintang. Hatinya serasa tercubit. "Ta-tapi dek_________"


Telunjuk tangan Lintang menyentuh bibir Agum. "Sudah ya mas, tidak perlu dibahas lagi. Yang terpenting saat ini aku sedang berupaya mempertahankan sesuatu yang memang menjadi milikku dan anakku, sampai______"


Agum mengernyitkan dahi. "Sampai apa dek?"


Lintang menatap wajah suaminya dengan teduh. "Sampai Allah mengatakan berhenti"


Hati Agum tiba-tiba begidik ngeri. Bulu kuduknya meremang. Tak ia sangka jika Lintang memposisikan dirinya sebagai pihak yang bersalah, padahal sebenarnya Lintang adalah korban dari keserakahan nafsunya dan dari kekufuran nikmat yang telah Allah berikan untuknya. Agum semakin menunduk. Ucapan Lintang memang terdengar lembut namun dapat menembus benteng keangkuhannya selama ini.


"Mas?", panggil Lintang


"I-ya sayang?"


Lintang tersenyum. "Ayo dimakan, nanti keburu dingin"


Agum mengangguk. "Iya sayang"


"Oh iya mas, kalau aku buka catering sama ibu boleh?", tanya Lintang sambil mengupas buah jeruk.


"Kamu mau buka catering sayang?", tanya Agum balik.


"Iya mas, ya untuk mengisi waktu luang saja daripada tidak ngapa-ngapain"


Agum terlihat berpikir. "Sekiranya itu tidak mengganggu aktivitas kamu yang lain, silakan sayang"


Lintang pun tersenyum lebar. "Terima kasih banyak ya mas".


Agum mengangguk. "Sama-sama sayang".


.


.


. bersambung..

__ADS_1


Wah, wah, wah Lintang sama Agum malah baikan, terus cerainya kapan sih Thor kok lama banget??, hehehe sabar ya kak.. nanti kalau sudah waktunya mereka pasti bercerai😄.. terima kasih banyak ya sudah mampir ke novel pertamaku ini.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di tiap episodenya. Dan kalau punya kelebihan poin, boleh lah klik vote sekalian.. hhihihi terima kasih


Salam love, love, love 💗💗💗


__ADS_2