Titik Balik

Titik Balik
TUJUH PULUH TIGA


__ADS_3

Lintang tersentak, mendengar ucapan Agum. Sesuatu?, nanti malam?, mungkinkah itu maksudnya aktivitas di atas ranjang?, setelah tiga bulan Lintang diijinkan oleh Agum tidak melaksanakan kewajibannya itu, apakah nanti malam untuk kali pertama ia akan melakukannya lagi bersama Agum?


Lintang tersenyum kikuk. "Ma-maksud mas?",


Agum tersenyum simpul sambil mengusap pipinya. "Sayang, aku masih harus menunggu berapa lama lagi?, kamu tidak kasihan kepadaku?, sama yang ada di situ juga?", ucapnya memelas sambil menunjuk arah bawah.


Lintang terperangah kemudian mencubit pinggang Agum. "Apaan sih mas, malu tau!! ", ucapnya sambil melirik ke arah ibu-ibu yang terlihat masih packing. Mereka pun hanya tersenyum simpul.


Agum semakin menampakkan wajah melasnya. "Sayang, mau ya?!, aku udah kangen banget sama kamu!"


Lintang sedikit berpikir, kemudian ia pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil.


"Yes!!!!, akhirnyaaaa!!!!", ucap Agum tiba-tiba. "Terima kasih sayang!", sambungnya pula.


Lintang pun hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku Agum.


Lintang dan Agum beriringan memasuki rumah utama. Terlihat ada ibu Ratih, Friska, dan juga Nana sedang duduk di depan TV. Lintang memang meminta ibu juga adiknya untuk menjaga Nana, agar ia bisa segera menyelesaikan pesanannya.


"Sudah selesai ndhuk?", tanya ibu Ratih sambil menyuapi Nana.


Lintang tersenyum. "Alhamdulillah sudah bu, tinggal beberapa yang masih harus di packing"


Lintang mengarahkan pandangannya ke arah Nana. "Sayang maem nya udah?"


"Belum bunda, Nana masih pengen nambah, habis ikannya enak sih", jawabnya.


Lintang hanya tersenyum kecil.


"Ayah udah makan?", sambung Nana ketika melihat Agum berdiri di sisi Lintang.


Agum tersenyum sambil menghampiri Nana kemudian mengangkatnya ke dalam gendongannya. "Sudah sayang, habis ini dimandiin ayah terus bobok siang ya",


"Nana tadi pagi sudah mandi ayah", jawabnya protes.


"Sekarang kan keringetan abis main, jadi lebih bagus mandi terus bobok siang deh, oke?",


Nana pun mengangguk. "Oke ayah!"


"Oh iya bu, nanti titip Nana sebentar ya. Lintang mau nganter pesanannya", ucap Lintang.


"Jadinya mau pakai grab lagi?",

__ADS_1


"Tidak perlu pakai grab bu, nanti biar Agum yang ngantar dek Lintang pakai mobil kantor", jawab Agum


"Syukurlah kalau begitu nak Agum", jawab ibu Ratih.


Nana mengerutkan keningnya. "Ayah sama bunda memang mau ke mana, kok Nana gak diajak?"


Agum mencubit pipi Nana. "Nanti ayah cuma nganter bunda sebentar sayang".


Nana seperti merajuk. "Tapi Nana mau ikut ayah"


Agum kembali tersenyum. "Hari ini Nana di rumah dulu ya, besok kalau ayah libur, kita jalan-jalan ke pantai",


Nana membelalakkan matanya. "Pantai?, mau yah mau!!", ucap Nana girang.


********


Agum memberhentikan mobilnya di sebuah pelataran panti asuhan yang terletak di pinggiran kota. Tepat jam empat sore ia tiba di panti asuhan itu. Kali ini ibu Nury memang tidak memesan untuk acara rapat, namun untuk kegiatan amal yang setiap bulan selalu diadakan.


Agum mematikan mesin mobilnya. "Sayang, benar ini tempatnya?"


Lintang melihat-lihat sekeliling panti asuhan itu. Sebuah pelakat kayu terpampang di luar bangunan itu. "Panti Asuhan Kasih Ibu"


"Inshaallah benar mas, shareloc dari bu Nury kan di sini", jawab Lintang sambil membenahi pasmina nya.


Lintang mengoleskan sedikit lipgloss yang membuat bibirnya sedikit lembab. "Kamu kenapa sih mas, kok ngeliatin aku kayak gitu?"


Agum semakin terpesona dengan kecantikan istrinya itu. Apalagi bibirnya seolah menggoda untuk ia kecup. Agum mendekatkan bibirnya ke bibir Lintang. Kemudian...


Cup...


"Kamu cantik sayang!", ucap Agum sambil mengecup lembut bibir Lintang.


Lintang pun hanya terperanjat. Kemudian menepuk pipi Agum. "Terima kasih untuk pujiannya mas. Dah yuk, kita masuk, takutnya ibu Nury sudah terlalu lama menunggu".


Agum dan Lintang keluar dari mobil kemudian menuju aula panti asuhan di mana acara itu diadakan. Aula itu terlihat ramai oleh anak-anak kecil yang berkumpul di sana. Beberapa orang memakai peci dan baju koko juga terlihat ada di ruangan itu.


"Mbak Lintang!", panggil seseorang yang tak lain adalah bu Nury.


"Ibu?", ucapnya sambil menjabat tangan bu Nury.


"Oh iya ini siapa mbak?",tanya bu Nury ketika melihat Agum.

__ADS_1


Lintang tersenyum. "Perkenalkan ini suami saya bu, namanya mas Agum"


Agum dan bu Nury pun saling menganggukkan kepala sebagai salam perkenalan.


"Mbak Lintang, pesanannya ada di mana?, biar di ambil sama mas-mas ini", ucap ibu Nury sambil menunjuk beberapa laki-laki yang ada di dekatnya.


"Oh itu ada di pelataran depan bu", jawab Lintang. Pandangannya kembali mengarah ke arah Agum. "Mas, bisa minta tolong antar mas- mas ini ke mobil?",


Agum pun mengangguk. "Iya sayang"


Agum dan beberapa orang itu meninggalkan Lintang dan bu Nury menuju mobil mengambil pesanan yang ada di dalam mobil box Agum.


Ibu Nury memperhatikan penampilan Lintang. Ia kemudian tersenyum. "Mbak Lintang terlihat berbeda sore ini. Terlihat lebih cantik"


Lintang tersipu malu. "Terima kasih untuk pujiannya bu"


Ibu Nury terkekeh. "Kalau saja mbak Lintang ini belum punya suami, pasti sudah saya jodohkan dengan keponakan saya"


Lintang terlihat kikuk tidak tahu harus menjawab apa. Ia pun hanya terlihat sedikit menyunggingkan senyumnya.


"Oh iya mbak, mbak Lintang sekalian ikut acara ini saja ya, cuma pengajian biasa kok" , sambung ibu Nury tiba-tiba.


"T-tapi bu______"


"Sudah gak apa-apa mbak. Suami mbak Lintang pasti juga mengijinkan", potong ibu Nury.


Lintang tersenyum dan mengangguk. "Baiklah bu".


********


Agum dan Lintang duduk bersebelahan di kursi yang ada di aula tempat berlangsungnya acara itu. Kegiatan amal ini biasanya di awali dengan sebuah tausiyah kemudian dilanjutkan dengan membagi-bagikan sesuatu yang sangat di perlukan oleh anak-anak di panti itu. Baik itu baju, peralatan sekolah dan lain sebagainya.


Sebelum tausiyah di mulai terlihat seseorang memasuki ruang aula kemudian berdiri di depan sebuah mimbar kecil dengan membawa Al- Qur'an di tangannya.


Pandangan Lintang mengarah pada lelaki itu. Seorang laki-laki dengan baju koko berwarna cokelat dan sarung dengan warna senada juga kopiah warna hitam yang ada di kepalanya.


.


.


. bersambung...

__ADS_1


Hayooo siapakah laki-laki itu??, Hihihihihi tunggu di episode selanjutnya yaahh... terima kasih banyak ya kak sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di tiap episodenya yah.. bagi yang punya kelebihan poin boleh juga kalau mau disumbangin ke author... hihihihi.... terima kasih.. happy Reading kakak-kakak tersayang...


Salam love, love, love💗💗💗


__ADS_2