
Plakkk!!!
Terdengar suara telapak tangan Agum mendarat di pipi Lintang. Seketika tangan Lintang menjatuhkan ponsel Agum yang dari tadi berada dalam genggamannya, dan kini beralih memegang pipinya.
Rasa panas terasa menjalar di pipi Lintang. Namun rasa perih di pipinya saat ini tidak sebanding dengan perih yang ia rasakan dalam hatinya. Jiwanya tengah terkoyak, tercabik-cabik seolah tiada percaya jika laki-laki yang menjadi suaminya kini tega bermain tangan terhadapnya.
"Astaghfirullahal 'adziim, ya Allah sakit" , ucap Lintang lirih, masih dengan memegang pipinya.
Tangan Agum yang baru saja ia pakai untuk menampar istrinya itu terlihat bergetar. Ia memandang sosok seorang wanita yang saat ini tengah menunduk dengan deraian air mata yang mulai membasahi wajahnya.
Agum memandang Lintang dengan tatapan nanar. Untuk menutupi kebohongannya sendiri ia seolah hilang kendali yang membuatnya teramat tega menyakiti istrinya secara fisik.
Lintang mencoba mengangkat wajahnya dan menatap sosok laki-laki yang saat ini terlihat begitu mengerikan itu. Laki-laki yang dulu selalu dipenuhi dengan kelembutan, kini setelah tiga tahun menjalani kehidupan berumah tangga, menjadi sosok laki-laki yang teramat kasar.
Lintang mencoba menghapus air matanya. "Setelah tamparan dari tanganmu ini apa lagi yang akan kau tinggalkan dalam diriku mas?"
"A-a_____", ucapan Agum seolah tercekat di tenggorokannya.
Lintang tersenyum getir. "Setelah apa yang sudah aku berikan untukmu, baktiku kepadamu, baktiku kepada ibumu, dan pertaruhan nyawaku untuk melahirkan anakmu, seperti inikah balasan yang aku terima?"
Agum masih terdiam. Ia kemudian menjatuhkan tubuhnya dan terduduk di samping Lintang, ia mencoba untuk menarik tubuh Lintang agar berada dalam dekapannya, namun seketika Lintang menolak dan menggeser tubuhnya.
"Dek?", ucap Agum
Lintang semakin tidak bisa menahan sesak dalam dadanya. "Aku salah apa mas, aku salah apa?"
"Maafkan aku dek", ucap Agum.
__ADS_1
"Dari dulu aku mencoba untuk percaya jika kamu dan wanita itu tidak ada hubungan apa-apa, tapi kini setelah aku lihat wajah wanita itu pulalah yang memenuhi layar di ponselmu, bisakah aku kembali percaya bahwa kalian memang tidak memiliki hubungan apa-apa?"
"Aku mengaku salah dek, tolong maafkan aku", ucap Agum mengiba.
Lintang tersenyum sinis "Apakah kita lebih baik bercerai saja?",
Seketika Agum menggelengkan kepalanya. Agum seolah tengah bingung dengan perasaannya sendiri. Ia masih tetap ingin bersama Lintang tapi ia juga tidak ingin melepaskan Reni.
"Tidak dek, aku tidak mau kita bercerai. Tolong maafkan aku", ucap Agum memohon.
"Lalu mau kamu seperti apa mas?, apakah kamu mau menggenggam dua hati sekaligus?, bisakah kau menggenggam keduanya tanpa membuat salah satunya merasa tersakiti?", tanya Lintang.
"Dek.. a______",
"Tolong tinggalkan aku sendiri mas, pergilah!!"
***********
Lagi, perlakuan Agum kembali berputar di otaknya. Lintang masih tidak bisa mempercayai jika suaminya begitu tega menyakitinya secara fisik seperti ini.
Rabbi, apakah aku masih bisa bertahan? Apakah aku masih bisa kuat menjalani ini semua?. Jika aku meminta cerai dari suamiku lalu bagaimana dengan anakku ya Rabb. Dia masih terlalu kecil untuk menerima akibat perilaku dari orang tuanya. Aku tidak tega jika harus melihatnya menjalani hari-harinya tanpa adanya sosok seorang ayah di sisinya. Rabbi, apapun yang saat ini tengah terjadi kepadaku, aku mohon, kuatkan aku demi anakku.
Lintang berdiri kemudian ia duduk di bangku kecil yang berada di depan cermin meja riasnya. Dipandanginya sosok yang ada di dalam pantulan cermin itu. Pipi bekas tamparan tangan Agum masih terlihat sedikit memerah, dan matanya juga terlihat membengkak karena sudah terlalu banyak air mata yang telah tumpah.
Lintang tersenyum getir. Di usapnya pipi yang masih meninggalkan bekas semburat merah itu.
Apakah wanita itu terlalu mempesona sehingga bisa menarik hati suamiku?, apakah aku ini tidak pandai merawat diriku sendiri sehingga membuat suamiku bosan dan membuatnya mencari sesuatu yang berbeda di luar sana?. Tidak, ini tidak boleh terjadi lagi. Jika memang karena alasan fisik yang membuat suamiku berpaling, aku akan kembali mempertahankannya dengan merubah penampilanku. Saat ini aku akan tetap bertahan mempertahankan gelarku sebagai seorang istri demi anakku, Nana.
__ADS_1
*********
Matahari pagi mulai naik ke singgasananya. Memancarkan kehangatan dan rona keceriaan bagi siapapun yang mengawali hari ini. Lintang tengah sibuk berada di dapur. Setelah secangkir teh hangat untuk Agum telah siap di atas meja, menu sarapan pagi pun juga telah terhidang pula.
"Dek?", panggil Agum sambil menghambur ke arah Lintang yang saat ini masih berdiri di depan kompor kemudian memeluknya dari belakang.
"Ya?", jawab Lintang singkat.
"Tolong maafkan aku sayang, maafkan aku", ucap Agum lirih.
Lintang tersentak.
Sayang?, aku bahkan lupa kapan terakhir kali kau memanggilku dengan panggilan sayang mas.
Agum membalikkan tubuh Lintang. Dan saat ini posisi mereka saling berhadapan. Agum melihat pipi istrinya yang masih sedikit memerah itu kemudian ia kecup berkali-kali.
"Maafkan aku, atas apa yang sudah aku tinggalkan di pipimu ini sayang, sekarang aku akan menghapuskannya" ucap Agum saat menyapu pipi Lintang dengan kecupannya.
Lintang tersenyum sinis. "Kau mungkin bisa menghapus bekas yang ada di pipiku ini mas, tapi sampai kapan pun akan tetap membekas di sini" jawab Lintang sembari menunjuk ke dadanya.
.
.
.
. bersambung
__ADS_1
Hai-hai para pembaca tersayang. Terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir di novel pertamaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar kalian semua ya.. terima kasih...
Salam love, love, love💗💗💗