
Lintang mengernyitkan dahi "Mami?"
Tangannya bergetar saat mengambil handphone itu. Matanya terbelalak membaca nama kontak yang tertera di layar ponsel, hatinya berdegup tak beraturan, ia semakin dibuat penasaran, siapakah mami yang dimaksud.
Lintang masih terpaku, tubuhnya mematung. Dering ponsel itu masih berbunyi sampai akhirnya berhenti dengan sendirinya. Mungkin orang yang bersangkutan memutus sambungan teleponnya karena tidak ada jawaban.
"Sayang?", panggil Agum.
Lintang masih mematung, kemudian mencoba meraih kesadarannya. Agum melihat handphone miliknya ada di tangan Lintang. Kemudian ia memindai wajah istrinya itu. Terlihat ada semburat rona kesedihan di sana.
"Ada yang menelpon kamu mas", ucap Lintang sambil memberikan ponsel ke tangan Agum
"Maaf, aku ke kamar dulu, tiba-tiba perutku sedikit sakit. Sampaikan juga maafku ke teman-teman sampeyan, aku tidak bisa menemani mereka makan", sambung Lintang sambil berlalu meninggalkan Agum
Agum merasa ada sesuatu yang terjadi pada istrinya. Ia mengamati ponsel yang ada di tangannya. Terlihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari Reni. Ya, mami merupakan nomor Reni yang ia simpan di ponselnya. Sejak dulu ia simpan dengan nama itu. Sejak ia dan Reni pacaran, itulah panggilan kesayangan Agum untuknya.
***************
Agum terlihat tidak begitu menikmati ikan nila yang ada di depannya. Ia masih berpikir kenapa Lintang tiba-tiba menunjukkan wajah yang terlihat sedih. Apakah ia sempat menjawab panggilan telepon itu, atau apakah ia hanya sekedar terkejut melihat ada nama kontak "mami". Agum terlihat larut dalam pikirannya sendiri.
"Gum?", panggil Danang.
Agum masih terlihat memandang ke sembarang arah dengan tatapan kosong. Danang dan yang lainnya ikut menatap curiga, melihat Agum yang larut dalam lamunannya.
"Mas Agum!!", seru Candra sambil menepuk bahu Agum
"Eh?",
__ADS_1
"Gum, Lintang kok gak ikut makan kenapa?", tanya Danang
"Itu mas, tadi kata Lintang perutnya sedikit sakit, jadi dia istirahat di kamar", jawab Agum
Danang pun hanya mengangguk tapi ia tetap merasa ada yang tidak beres dengan Agum juga Lintang. Danang dan lainnya masih menikmati makan malam mereka sambil ngobrol mengenai ilmu-ilmu yang mereka pelajari. Hingga akhirnya obrolan mereka berhenti saat jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam.
Joni dan kawan-kawan ikut membersihkan sisa-sisa makan malam mereka. Tanpa diminta pun mereka mencuci tumpukan piring kotor bekas mereka pakai. Setelah semuanya bersih, mereka pun pamit pulang.
"Ada masalah apa lagi Gum?", tanya Danang sambil merebahkan tubuhnya di atas tikar
"Aku juga kurang tahu mas. Tadi Lintang tiba-tiba terlihat murung saat memegang ponsel ku" , jawab Agum
"Ponsel?, ada apa dengan ponselmu?", tanya Danang penasaran
"Tadi itu Reni telepon mas, tapi tidak aku angkat", jawab Agum
"Nama kontak Reni dari dulu belum aku ganti", jawab Agum menggantung
"Memang kamu kasih nama apa?, tanya Danang
"Mami", jawab Agum singkat
Danang tersentak, seolah tak percaya jika Agum masih menggunakan nama itu untuk menyimpan kontak Reni.
"Sudah lima tahun lebih kalian memutuskan hubungan, dan kamu masih simpan dengan nama itu?", tanya Danang dengan nada yang sedikit meninggi. Agum tetap tak bergeming.
"Keterlaluan kamu Gum!!, sudah, sana susul Lintang ke kamarnya, kamu jelasin semuanya!!", perintah Danang
__ADS_1
"Tapi kalau aku jelasin semuanya, Lintang akan tahu kalau dulu aku sama Reni pernah menjalin hubungan mas", ucap Agum gusar
"Lebih baik dia tahu dari kamu sendiri daripada dari orang lain Gum!", ucap Danang
Agum masih nampak risau. Danang mengernyitkan dahinya, tidak paham apa yang ada di pikiran Agum.
"Nunggu apalagi?, kamu masih bingung dengan perasaanmu?", tanya Danang mengintimidasi. Agum masih tak berkata sepatah katapun
"Aku ingatkan ke kamu Gum, jangan sampai hanya karena orang di masa lalumu membuat kamu lupa akan perjanjian berat yang sudah kamu ucapkan di depan penghulu, jika kamu terus seperti ini, sungguh, Lintang dan anak kamu yang sedang bertumbuh di rahim Lintang yang akan jadi korbannya", seru Danang panjang lebar
"Aku juga bingung kenapa bisa seperti ini mas. Sudah sejak lama aku mencoba untuk merelakan Reni, dan aku merasa telah berhasil melupakannya, maka dari itu aku berani menikahi Lintang. Tapi semenjak beberapa waktu yang lalu, saat Reni kembali hadir dengan menanyakan cinta matiku yang pernah aku ucapkan, aku jadi terusik lagi mas", jelas Agum sambil mengacak kasar rambutnya
"Sekarang sudah jelas toh kalau kehadiran Reni itu hanya menjadi pengusik kebahagiaan yang kamu bangun bersama Lintang, jadi apa kamu masih akan tetap membiarkannya?", tanya Danang.
Agum hanya menggeleng pelan.
Danang tersenyum kecil "Masuklah, temui Lintang, dan jelaskan sejelas- jelasnya. Dan aku harap setelah ini, kamu tidak berurusan apa-apa lagi dengan Reni"
.
.
. bersambung
Hai- hai para pembaca tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak like juga komentar kalian semua yaa.. terima kasih
Salam love, love, love 💗💗💗
__ADS_1