Titik Balik

Titik Balik
TUJUH PULUH


__ADS_3

Laki-laki itupun tersenyum. "Assalamu'alaikum dek Lintang"


Lintang masih terpaku. "Wa-waalaikumsalam mas.... Hanan"


"Apa kabarmu dek?", tanya Hanan


Lintang tersenyum kikuk, tak percaya jika ia dipertemukan lagi dengan laki-laki yang pernah ada di masa lalunya itu. "Alhamdulillah baik mas. Mas sendiri bagaimana?"


Hanan kembali tersenyum tipis. "Alhamdulillah aku juga baik dek", jawabnya "Oh iya sedang apa adek di sini?", sambungnya basa-basi.


"Aku nganter catering pesanan ibu Nury mas", jawab Lintang.


Lenggang suasana yang tercipta. Mungkin karena mereka tiba-tiba dipertemukan kembali sehingga membuat keduanya sama-sama kikuk.


"Mas Hanan, ayo masuk ke ruangan, rapat akan segera dimulai nih!!", teriak seorang laki-laki dari arah ruang kerja bu Nury.


"Iya sebentar", jawab Hanan, masih sambil memperhatikan wajah Lintang.


"Kalau begitu saya pamit dulu ya mas. Assalamu'alaikum", ucap Lintang berpamitan.


Hanan tersentak. "Tunggu dek. Boleh aku minta nomer kontak kamu?"


Lintang tersenyum. "Maaf mas Hanan, lebih baik kita sama-sama tidak pernah tahu nomer kontak kita masing-masing. Saya hanya sedang menjaga diri saya sendiri agar tidak __________"


Hanan terkekeh kecil. "Aku tahu dek. Ternyata kamu memang tidak pernah berubah. Kamu benar-benar bisa menjaga kehormatanmu sebagai seorang wanita"


Lintang menunduk. "Maafkan aku mas"


Hanan tersenyum. "Tidak apa dek. Aku tahu alasanmu. Semoga Allah senantiasa menjagamu ya dek"


"Aamiin, terima kasih banyak mas. Saya pamit, assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam dek", jawab Hanan.


Lintang meninggalkan Hanan yang masih terpaku di posisi nya. Hanan memperhatikan punggung Lintang dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia kemudian mengusap wajahnya.

__ADS_1


Aku tahu kamu sudah menjadi milik orang lain dek, tapi entah kenapa hatiku selalu mengatakan jika suatu saat nanti aku pasti bisa menjadi imam bagimu. Dan kau tahu? Sampai saat ini akupun masih dalam kesendirianku. Sangat sulit untuk menemukan sosok wanita sepertimu. Lintang Mahendrasti, wanita pertama yang mengenalkan kepadaku apa itu cinta. Semoga kebahagiaan senantiasa menyertaimu.


******


Sementara itu di sebuah kontrakan kecil yang ada di pusat kota Jogja. Terlihat Agum sedang berdiri di depan jendela sambil menikmati sebatang rokok. Pikirannya kacau. Sejak ia melihat perubahan pada diri Lintang seolah mengalihkan seluruh perhatiannya hanya untuk tertuju kepadanya.


Agum melirik seorang wanita yang sedang tertidur lelap di atas ranjang kontrakannya. Wanita yang telah membuatnya tergila-gila hampir satu tahun terakhir ini, wanita yang telah membutakan mata hatinya sehingga selalu membuatnya menutup mata akan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan oleh istrinya dan tentunya wanita yang sudah membuatnya menjadi lelaki jahat yang tega mengobarkan api untuk membakar ketentraman rumah tangga yang tengah ia bangun.


Agum mengacak rambutnya kasar. Mengingat sikap Lintang yang memposisikan dirinya sebagai pihak yang bersalah atas kekacauan rumah tangganya seolah membuat hatinya tercubit. Tubuhnya lolos di atas lantai. Kemudian ia terduduk dengan mendekap kedua lututnya dan menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya itu.


Reni menggeliat. Kemudian matanya tertuju kepada Agum yang tengah tertunduk di dekat jendela itu.


"Sayang, kamu kenapa?" , tanya Reni sambil mendekati Agum.


Agum tersentak. Kemudian mendongakkan kepalanya. "Ti-tidak apa-apa Ren".


Reni memutar kedua bola matanya. Tidak biasanya Agum memanggil hanya dengan namanya, biasanya ia memanggilnya dengan sayang atau mama.


"Iiihhhh kamu kenapa sih sayang kok jadi beda gini. Yang tadi kurang?, mau lagi?", ucap Reni menawarkan sambil menggelayut manja di lengan Agum.


Reni masih belum menyerah melihat perubahan Agum. Saat di ranjang tadi pun Agum juga terlihat tidak bersemangat.


Agum menghembuskan nafas kasar. "Ren..."


"Ya, kenapa sayang?", tanya Reni masih menggelayut manja.


"Kalau kita akhiri ini semua bagaimana?", ucap Agum.


Reni membelalakkan kedua matanya kemudian menarik tubuhnya dari lengan Agum. "Apa maksud kamu mas?",


Agum mengusap wajahnya kasar. "Aku ingin kembali kepada keluargaku Ren, maafkan aku"


Mata Reni memerah dan dadanya juga bergemuruh tak menyangka Agum akan mengatakan hal itu. "Tidak mas, aku tidak mau. Kamu lupa akan janji yang pernah kita buat. Bahwa kita akan hidup bersama di depan nanti. Aku tidak mau berhenti sampai di sini mas".


Agum menundukkan wajahnya. "Ta-tapi aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini Ren, aku sudah terlalu jauh meninggalkan keluargaku"

__ADS_1


Reni menggeleng dengan air mata yang sudah membendung di kelopak matanya. "Tidak mas, aku tidak mau. Lagipula kenapa kamu tiba-tiba berubah seperti ini?, apa yang telah Lintang lakukan padamu sehingga ia bisa membuatmu meninggalkanku?"


Jlebb!! , ucapan Reni terasa seperti menghunus jantungnya. Memang apa yang telah Lintang lakukan hingga kini semua isi kepalanya dipenuhi oleh Lintang. Mungkinkah ini cara Tuhan menegurnya dan menyadarkannya?


Agum semakin menunduk. "Lin-lintang tidak me________"


Reni semakin tersulut oleh amarahnya. "Kau bahkan pernah mengatakan jika aku lebih segala-galanya daripada istrimu itu, dan sekarang kamu lupa?"


Agum mengusap air matanya yang juga telah menetes. "Maafkan aku Ren, tapi aku benar-benar ingin kita berakhir sampai di sini".


"Tidak mas, aku tidak mau. Terserah jika kamu mau kita berakhir, tapi aku tidak akan pernah menyerah sampai di sini. Kau tahu, sebentar lagi aku akan jadi pemenangnya", ucap Reni sambil melenggang pergi.


Braakkk!!!!, terdengar suara hentakkan pintu yang di tutup dengan keras oleh Reni. Agum pun hanya memandang pintu itu dengan nanar. Dadanya sesak. Air matanya kembali meleleh. Ia kembali memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya di sela kedua lututnya itu.


**********


Agum memberhentikan mobilnya di pelataran sebuah masjid yang ada di tepi jalan. Ia menatap masjid yang ada di depannya itu dari balik kaca mobilnya.


Entah apa yang menggerakkan aku untuk sampai ke tempat ini. Tapi Engkau pasti tahu jika saat ini aku sedang terpuruk oleh kesalahan yang telah aku buat sendiri, Tuhan...


Agum keluar dari mobil. Kemudian menuju tempat wudlu. Setelah itu ia langkahkan kakinya memasuki masjid yang terasa begitu sunyi di jam sebelas malam seperti ini.


Dua rakaat selesai ia tunaikan. Setelah salam ia duduk bersimpuh menghadap kiblat sambil bibirnya terlihat merapalkan dzikir.


Tuhan aku datang kepadaMu dengan membawa dosa-dosa yang telah melekat di sekujur tubuhku. Setelah apa yang aku lakukan terhadap istriku, terhadap anakku, terhadap ibuku, kepada mertuaku dengan mencurangi mereka semua, mungkinkah aku masih pantas mendapatkan ampunanMu ya Tuhan?, akulah yang bersalah atas semua ini. Akulah yang telah mengobarkan api itu, dan saat ini aku sendirilah yang hangus terbakar. Aku buta ya Rabb, aku buta. Kau telah menitipkan kepadaku seorang malaikat tak bersayap seperti istriku namun aku malah mengkhianatinya, mencuranginya, dan menancapkan luka yang begitu dalam dalam jiwanya. Jika Aku ingin kembali kepadanya apakah pintu itu masih terbuka untukku ya Rabb.. dan apakah jalanku akan mudah untuk bisa kembali mendapatkan kepercayaannya lagi?,


.


.


. bersambung...


Hai-hai para pembaca tersayang.. terima kasih banyak ya sudah mampir ke novel pertamaku ini.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di tiap episode nya yah.. dan bagi yang punya kelebihan poin boleh juga disumbangkan ke author dengan klik vote.. hihhihi terima kasih...


Salam love, love, love 💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2