
"Eh Lin, apa mas main ke rumahmu sekarang aja?", tanya Danang di sela-sela obrolan mereka
"Gimana bu, mas Danang boleh main ke rumah sekarang?", tanya Lintang kepada ibunya
"Boleh mas. Mumpung di rumah ada ikan nila banyak, jadi sampeyan bisa masak juga di sana", jawab ibu Ratih
"Ikan nila bu? Memang tadi ibu beli ikan nila?" , tanya Lintang
"Bukan ndhuk, kemarin pakdhe Yanto ke rumah, bawain banyak ikan nila, habis jaring di kolam katanya", jawab ibu Ratih
"Kok gak biasanya pakdhe Yanto ngasih ikan bu?", tanya Lintang penasaran
"Ibu juga ndak begitu paham ndhuk. Kemarin itu bilangnya buat ibu juga buat Agum. Ini tadi ibu ke sini malah lupa ndak bawa ikannya, malah yang ibu bawa cuma daster untuk kamu tadi", jelas ibu Ratih.
"Oh begitu, rejeki nomplok itu namanya bu, hehe", ucap Lintang
"Iya benar, mana ikannya besar- besar lagi", sambung bu Ratih
"Mantul pak eko!!!", timpal Danang.
Yang terlibat dalam obrolan itupun seketika tertawa. Tak lama setelah itu ibu Ratih pamit undur diri dan diikuti oleh Lintang dan Danang.
"Ibu, Lintang sama mas Danang ke rumah Lintang dulu ya. Tidak lama kok bu", ucap Lintang berpamitan kepada mertuanya
"Iya mbak, hati- hati ya", jawab ibu Ranti
*****************
"Mbak Lintang!!!", teriak Friska ketika melihat Lintang masuk ke halaman rumahnya kemudian menghampirinya.
Lintang tersenyum "Kok jam segini udah pulang sekolah dek?",
"Iya mbak, tadi guru di sekolahku ada rapat, jadi pulang lebih awal", jawab Friska
"Dek kenalin, ini om Danang, saudara mas Agum yg tinggal di Surabaya. Mas Danang, ini adikku namanya Friska", ucap Lintang saling memperkenalkan antara Danang dengan Friska
"Wahh cantik sekali kamu ndhuk, kelas berapa sekarang?", tanya Danang
__ADS_1
"Kelas empat om", jawab Friska
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Terlihat ibu Ratih sudah menyajikan es teh manis lengkap dengan satu toples peyek.
"Gimana mas Danang, apa mau masak ikan nilanya sekarang?", tanya ibu Ratih
"Emmmm kalau semisal saya bawa ke kontrakan Lintang saja gimana bu?, tanya Danang
"Eh boleh mas. Mau di masak di sana kah?", tanya ibu Ratih
"Nanti malam anak- anak yang sering latihan sama Agum pada kumpul bu, saya berencana bakar ikan bareng-bareng", jawab Danang
"Oh seperti itu, monggo kalau gitu mas", ucap bu Ratih
"Terima kasih bu", sambung Danang. Ibu Ratih mengangguk
"Ndhuk, sudah ada peralatan buat bakar belum di kontrakan kamu?", tanya ibu Ratih
"Hehehe belum bu, soalnya Lintang belum pernah bakar ikan", jawab Lintang terkekeh
"Ya sudah, bawa dari sini saja ya, daripada beli. Itu ada anglo, arang, sama penjapit buat bakaran, nanti dibawa saja", ucap ibu Ratih
"Mbak Lintang, ayo beli jajan", teriak Friska
"Hemmm minta jatah ya kamu dek?", tanya Lintang. Friska mengangguk
"Ya udah, let's go kita ke minimarket!!", sambung Lintang
"Horeee!!!", seru Friska
*************
Pukul dua siang Agum terlihat sibuk di ruang kerjanya. Jari- jarinya terlihat menari-nari di atas keyboard, mendata kiriman paket yang masuk melalui cargo bandara. Perusahaan ekspedisi tempat Agum bekerja memang menjalin kerja sama dengan salah satu cargo yang ada di bandara. Dari cargo itu kiriman diambil kemudian paket diantar door to door melalui jasa ekspedisi tempat Agum bekerja.
Tok.. tok... tok..
Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan Agum.
__ADS_1
"Masuk!", jawab Agum masih dengan kesibukannya di depan komputer.
Terlihat Aan masuk ke ruangan Agum dengan membawa beberapa map di tangannya.
"Mas, ada sedikit masalah", ucap Aan
Agum mengernyitkan dahinya "Masalah apa An?",
"Beberapa kiriman yang datang dari Surabaya, ada yang hilang mas", jawab Aan
"Hilang?", tanya Agum
"Jadi gini mas, ada yang mengirim dua lusin kain sutera Bugis dari Sulawesi ke Jogja tapi setelah barang sampai di tempat tujuan, ternyata jumlahnya tidak sesuai", jawab Aan
Agum terlihat berpikir. Akan sangat sulit melacak posisi di mana kiriman itu hilang. Karena sebelum kiriman itu sampai di Jogja, pasti sudah lebih dahulu transit di beberapa tempat.
"Apakah kiriman itu di asuransikan An?", tanya Agum
"Sepertinya iya mas, mengingat barang kiriman itu nilainya besar", jawab Aan
"Emmm untuk kasus ini, yang bisa meng-klaim asuransi adalah dari pihak pengirim, jadi begini saja An, kamu hubungi pengirim agar ia meng-klaim asuransi lewat kantor di mana ia mengirim barang tersebut. Nanti semua ganti rugi akan diberikan dari sana", jawab Agum. Aan mengangguk.
"Ada lagi?", tanya Agum
"Ada juga kiriman paket yang rusak mas, kiriman barang elektronik dari Jogja ke Semarang", jawab Aan
"Untuk kiriman paket yang rusak, kamu bisa menghubungi pihak pengirim, minta si pengirim menyertakan bukti foto barang sebelum dikirim dan sesudah diterima. Jika memang kerusakan paket itu murni kesalahan dari pihak kita, maka ia bisa meng-klaim untuk ganti rugi di kantor kita. Juga sertakan pula surat perjanjian tertulis yang sudah ditandatangani pihak pengirim dan juga kantor kita yang menjadi bukti barang yang ia kirim memang dalam keadaan yang baik atau tidak cacat", jawab Agum
"Baik mas, saya akan segera menghubungi pihak- pihak yang bersangkutan", ucap Aan
"Tolong segera diselesaikan ya An, bagaimanapun juga jasa ekspedisi kita sudah sangat terkenal sebagai ekspedisi yang terpercaya. Baik dari ketepatan waktu kiriman sampai tujuan dan keamanan barang yang mereka kirim, takutnya jika kejadian seperti ini sering terjadi, kita kehilangan kepercayaan dari relasi kita", ucap Agum.
"Baik mas. Kalau begitu aku keluar dulu mas", ucap Aan sambil melenggang meninggalkan ruangan Agum
"Terima kasih An", ucap Agum
Agum menyandarkan bahu di sandaran kursi kerjanya. Ia menghembuskan nafas kasar. Memang hal- hal semacam itu sering terjadi di tempat Agum bekerja, namun jika tidak segera diselesaikan maka reputasi kantor Agum lah yang akan menjadi taruhannya. Ia mengusap wajahnya, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
**************