Titik Balik

Titik Balik
TUJUH PULUH TUJUH


__ADS_3

Mata Agum terbelalak ketika melihat salah seorang dari mereka yang sudah ia kenal. "D-dia Hanan?"


Lintang mengangguk. "Iya mas, mas Hanan yang sudah menolongku"


Hanan pun melangkahkan kaki menuju ruang tamu. Ibu Ratih yang tiba-tiba melihat lelaki yang dulu pernah ada di kehidupan anaknya juga tak kalah terkejutnya.


"Nak Hanan?", ucap ibu Ratih.


Hanan tersenyum. Kemudian menyalami ibu Ratih dan mengecup punggung tangannya. "Assalamu'alaikum ibu"


"Wa'alaikumsalam nak Hanan"


"Ibu sehat?", tanya Hanan.


Ibu Ratih mengangguk. "Alhamdulillah ibu sehat nak. Bagaimana dengan kamu?"


Hanan kembali menyunggingkan senyumnya. "Alhamdulillah Hanan sehat bu. Maafkan Hanan ya bu, karena selama ini Hanan belum sempat menjenguk ibu. Bahkan saat hari pernikahan dek Lintang pun, Hanan juga ada keperluan yang tidak bisa ditinggal, jadi Hanan tidak bisa datang",


Ibu Ratih tersenyum. "Tidak apa-apa nak. Oh iya sekarang sudah punya anak berapa?"


Hanan tersentak dan tersenyum kikuk. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Hanan belum menikah bu, masih ingin menikmati kesendirian dulu"


Ibu Ratih terkejut karena ternyata lelaki yang pernah mencintai anaknya dulu masih melajang. "Wooallaahhhh ibu kira sudah menikah"


Agum sedari tadi menatap wajah Hanan dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun dalam hatinya ia merasa kesal. Ia tidak menyangka jika Hanan sedekat itu dengan ibu mertuanya.


Hanan pun hanya tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Agum yang seperti tidak menyukai kedatangannya.


"Assalamu'alaikum mas Agum, apa kabar?", ucap Hanan kepada Agum.


Agum tersentak. " Wa-Wa'alaikumsalam. Aku baik"


Hanan pun hanya menyunggingkan senyumnya.


"Bunda?", ucap Nana tiba-tiba menghampiri Lintang sembari membawa boneka tedy bear di tangannya.


Lintang meraih tubuh mungil anaknya kemudian menggendongnya. "Sayang kok belum tidur?"


Nana mengucek-ucek matanya. "Nana gak bisa bobok bunda. Nana mau bobok sama bunda"


Lintang mengusap kepala Nana. "Maafkan bunda ya sayang, bunda pulangnya lama. Tadi ban motor bunda bocor"


Nana mengangguk sambil menguap. Kemudian pandangan matanya mengarah ke Hanan. Hanan pun tersenyum saat pandangannya bertemu dengan Nana.


Nana menyunggingkan senyum saat menatap Hanan. "Om ganteng ini siapa bunda?"

__ADS_1


Tak hanya Lintang, Agum dan bu Ratih pun terkejut mendengar Nana memanggil Hanan dengan sebutan om ganteng.


Hanan mencubit hidung Nana. "Hai anak cantik, nama om, om Hanan. Kalau anak cantik ini namanya siapa?"


Nana tersenyum. "Nana om ganteng"


Hanan pun terkekeh kecil.


"Eh ayo silakan duduk dulu nak, dari tadi kok berdiri saja?", ucap Ibu Ratih.


"Kalau boleh saya duduk di teras bu, sekalian istirahat sebentar", ucap Hanan.


"Biar saya yang temani Hanan di teras bu", ucap Agum. Pandangan Agum bergeser ke Lintang. "Sayang kamu temenin Nana tidur ya", sambung Agum.


Lintang mengangguk. "Mas Hanan, sekali lagi terima kasih banyak ya. Maaf aku sudah ngerepotin"


Hanan tersenyum. "Sama-sama dek"


******


Di depan teras rumah terlihat Agum juga Hanan sedang duduk di kursi yang ada di sana. Dengan dua cangkir kopi juga kacang rebus yang menemani mereka.


"Kamu ngikutin istriku?", ucap Agum tiba-tiba memecah keheningan diantara keduanya.


Hanan menyunggingkan senyumnya. "Sampeyan kenapa bisa memiliki pikiran seperti itu?"


Hanan menyeruput kopi yang ada di depannya. "Aku tidak pernah membuntuti Lintang dan aku pun juga tidak berencana membuntuti kemana pun Lintang pergi"


"Lalu?", tanya Agum yang masih belum puas dengan jawaban Hanan.


"Aku hanya percaya jika takdir lah yang menuntun langkahku untuk bertemu dengannya", jawab Hanan santai.


Agum mengernyitkan dahinya. "Apakah kamu masih mencintai Lintang?, dan apakah kamu ingin berusaha merebut Lintang dariku?"


Hanan menyunggingkan senyumnya. Tak sedikitpun ia merasa getir dengan laki-laki yang telah menjadi suami wanita yang ia cintai dulu. "Apakah aku masih mencintai Lintang atau tidak, itu sama sekali bukan urusan sampeyan. Yang pasti saya tidak akan pernah menggunakan cara-cara kotor untuk mendapatkannya"


Agum semakin penasaran dibuatnya. "M-maksud kamu?"


"Lintang adalah wanita terhormat, jadi jikapun aku ingin memilikinya, aku akan menggunakan cara yang terhormat pula untuk mendapatkannya. Bukan dengan cara merebutnya dari sampeyan" , jawab Hanan.


Agum masih menampakkan kerisauannya. Tidak pernah ia sangka jika ada seorang laki-laki yang mencintai istrinya dengan begitu luar biasa. Ia menundukkan pandangannya. Di dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri karena pernah mengecewakan istrinya itu.


Hanan memindai ekspresi wajah Agum, ia pun tersenyum. "Sampeyan tidak perlu khawatir, aku bukanlah lelaki perebut istri orang. Aku hanya berpesan, tolong jaga Lintang baik-baik, dan jangan pernah kecewakan dia"


Jleb!!!

__ADS_1


Perkataan Hanan seolah menghujam tepat di jantung Agum. Tiba-tiba dada Agum bergemuruh. Di telinganya terngiang ucapan Hanan tentang perebut istri orang. Ia kembali tersadar bahwa selama ini dia lah yang menjadi lelaki perebut istri orang. Ya, ia pernah merebut Reni dari Tomi.


Ya Tuhan, apakah saat ini sebuah karma tengah aku alami?, dulu aku yang menyia-nyiakan istriku dan sekarang ada lelaki yang begitu luar biasa mencintainya. Dulu aku membanding-bandingkan kecantikannya dengan kecantikan Reni, dan sekarang aku justru semakin tidak bisa berpaling sedikitpun dari kecantikan istriku dan begitu takut kehilangannya. Kenapa penyesalan itu selalu datang terlambat ya Tuhan.


*****


Agum duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan wajah istri juga anaknya yang tengah tertidur pulas. Tangannya tergerak untuk menyentuh wajah istrinya yang terlihat penuh kedamaian itu.


Lintang menggeliat. Ia merasakan tangan seseorang yang sedang mengusap wajahnya. Ia pun mengerjap-ngerjapkan mata berupaya meraih kesadarannya.


"Mas?", panggil Lintang.


Agum tersenyum. "Maaf jika aku mengganggu tidurmu sayang"


Lintang memindai wajah suaminya itu. "Ada apa mas?, apakah ada yang sedang kamu pikirkan?"


Agum menggeleng. "T-tidak sayang"


Lintang masih tidak percaya, karena di raut wajah Agum tergambar sesuatu yang sedang ia pendam. Lintang kemudian bangun dari posisi rebahannya dan duduk di sisi Agum.


"Hampir lima tahun kita hidup bersama mas. Jadi aku tahu jika saat ini ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu. Ada apa?"


Mata Agum tiba-tiba memerah, tak kuasa ia menahan gejolak di dalam hatinya. Gejolak rasa betapa ia mencintai istrinya dan gejolak rasa takut jika ia akan kehilangan istrinya.


Agum memeluk tubuh Lintang. Dan ia pun menangis di pelukan Lintang. "Aku takut sayang, aku takut"


Lintang mengusap punggung Agum. "Apa yang kamu takutkan mas?"


Agum terisak. "Aku takut kehilanganmu sayang. Aku takut kamu meninggalkanku"


Lintang merenggangkan pelukannya dan menatap lekat wajah Agum. "Untuk saat ini apa alasan aku meninggalkanmu mas?"


Agum menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu sayang. Tapi aku merasa suatu hari nanti kamu akan meninggalkanku"


Lintang mengusap lembut pipi Agum. "Tidak perlu mencemaskan apa yang akan terjadi di depan nanti mas. Yang terpenting saat ini aku tidak memiliki alasan apapun untuk meninggalkanmu"


Agum menggenggam erat tangan Lintang, kemudian mencium punggung tangannya. "Berjanjilah padaku, jika kamu tidak akan pernah meninggalkanku sayang"


Lintang tersenyum. "Aku tidak________________"


.


.


. bersambung...

__ADS_1


Nah loh kira-kira apa jawaban Lintang ya??, hehehe tunggu di episode selanjutnya ya.. terima kasih banyak ya kak, sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya yah.. dan bagi yang punya kelebihan poin, bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik vote.. hehehe happy Reading kakak...


Salam love, love, love💗💗💗


__ADS_2