Titik Balik

Titik Balik
SEMBILAN PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Hanan mengeluarkan kotak beludru warna merah dari dalam saku celananya. Kemudian ia buka di hadapan Lintang, sembari kedua bola matanya menatap lekat netra Lintang yang terlihat sedikit sembab itu.


"Ini sebagai salah satu bentuk keseriusanku jika aku benar-benar ingin menua bersamamu, dek!".


Bibir Lintang terkatup, ia tidak menyangka jika malam ini Hanan merencanakan ini semua dengan sempurna. "Mas, aku_____"


Hanan tersenyum. "Simpanlah terlebih dahulu dek".


"Tapi mas?!"


"Ambilah, ini sebagai tanda jika aku benar-benar ingin menjadi imam untukmu dan menginginkan kamu menjadi pendamping hidupku".


Akhirnya Lintang menerima kotak pemberian Hanan. Air matanya tiba-tiba kembali menetes. Ini untuk kedua kalinya Hanan mengungkapkan keseriusannya, namun rasanya kali ini begitu berbeda.


Hanan kembali menyunggingkan senyumnya. "Jangan menangis, aku sudah terlalu sering melihatmu meneteskan air mata, aku tidak ingin melihat itu lagi".


Lintang mencoba tersenyum dalam isak tangisnya. "Aku bahagia mas, tapi aku merasa tidak pantas untuk mendapatkan ini semua. K-kamu teramat sempurna untuk wanita seperti aku ini mas".


Hanan menggeleng. "Tidak dek, aku tidaklah sempurna. Justru dengan bersamamu lah kita akan saling menyempurnakan".


Tangis Lintang semakin pecah. Jantungnya berdenyut hebat mendengar setiap kata yang di ucapkan oleh Hanan. "Mas...."


Hanan menghembuskan nafasnya pelan. "Jika memang kamu menerima pinanganku, kamu bisa menjadi alasan untuk aku tetap bertahan di kota ini dek. Namun jika tidak, aku akan pergi dari kota ini dengan semua harap yang aku punya untukmu".


Lintang terperangah. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Hanan. Meninggalkan kota ini?, mungkinkah ia akan pergi dari kota ini?, tapi untuk apa?


"M-maksud mas Hanan?", tanya Lintang.


Hanan tersenyum sembari menatap bunga kamboja Jepang di teras rumah Lintang dengan tatapan kosong. "Aku mendapat tawaran untuk pindah ke Jakarta". Ia kembali menghela nafas dalam. "Maaf jika aku terkesan terlalu memaksamu dek, aku hanya ingin menjadikanmu sebagai alasan untuk aku tetap berada di kota ini, namun jika tidak biarlah aku meninggalkan kota ini dengan membawa semua harap yang aku miliki untukmu".


"Mas?!".


"Satu minggu lagi. Jika memang untuk kedua kalinya kamu tidak memilihku, aku akan memilih untuk menerima tawaran dari Jakarta".


"S-satu minggu?".


Hanan mengangguk. "Satu minggu lagi, jika kamu menerimaku, hubungi saja aku, agar aku bisa langsung menemui ibu, untuk memintamu. Namun jika untuk kedua kalinya kamu tidak memilihku, temui aku di rumah dengan membawa kotak itu untuk kamu kembalikan kepadaku, dek".


"Mas..", suara Lintang seolah tercekat dalam tenggorokannya. Ingin rasanya ia mengatakan iya, namun sungguh trauma itu masih begitu menghantuinya.


Hanan beranjak dari posisi duduknya. "Sudah terlalu larut, beristirahatlah dek". Ia mengambil kunci mobil yang ada di dalam saku kemejanya. "Kamu masih selalu ada dalam doa-doa yang aku panjatkan kepada Rabb-ku. Semoga suatu hari nanti aku benar-benar bisa membahagiakanmu lahir juga batin".


Bibir Lintang kembali terkatup. Memandang wajah Hanan di bawah sinar rembulan seperti ini, semakin memancarkan ketampanannya saja. Hanan kembali tersenyum penuh arti. "Aku pamit dek, assalamualaikum".


"Waalaikumussalam mas Hanan".


****

__ADS_1


Nana terlihat sedang duduk di bangku yang terbuat dari beton yang ada di halaman sekolah nya. Sudah sejak satu bulan yang lalu ia didaftarkan di salah satu TK yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Dan siang hari seperti ini, Nana selalu setia menunggu kedatangan Hanan untuk menjemputnya.


Hanan?, ya Hanan lah yang selalu menjemput Nana sepulang sekolah. Ia sendirilah yang meminta untuk selalu menjemput Nana, alasan darinya simpel, ia ingin lebih sering menghabiskan waktu bersama Nana, meski ia sibuk dengan pekerjaannya, namun ia selalu meluangkan waktunya untuk bisa menjemput Nana.


"Om ganteng!!", teriak Nana kegirangan setelah melihat Hanan memasuki halaman sekolah Nana.


Hanan mendekat ke arah Nana. Seperti biasa, ia meraih tubuh mungil Nana ke dalam gendongannya. "Assalamualaikum sayang, belajar apa di sekolah hari ini?".


"Wa'alaikumsalam om ganteng. Hari ini Nana belajar mewarnai om".


"O ya?, lalu dapat bintang berapa anak cantik ini?", tanya Hanan sambil mencubit hidung Nana.


"Dapat bintang lima dong om", jawabnya polos.


Hanan tersenyum. "Pinter kesayangan om ini. Emmmmm mau es krim?".


Mata Nana membulat. "Es krim?, mau om, mau!!".


"Kalau begitu, ayo kita beli es krim".


"Hore!!!!"


Hanan masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi, sedangkan Nana duduk di samping Hanan. Hanan memasangkan sabuk pengaman di bangku Nana dan terdengar bunyi klik yang memastikan tubuh Nana berada di posisi yang aman.


"Sudah siap?", ucap Hanan sembari mengusap keringat yang ada di kening Nana.


"Berdoa dulu yah".


Bismillahirahmanirrahiim...


Hanan menginjak pedal gas nya pelan. Dan perlahan mobil yang ia kendarai pun melaju, meninggalkan sekolahan Nana.


***


Lintang terlihat sedang mengamati kotak merah pemberian Hanan. Ia buka kotak itu, sebuah cincin dengan tiga mata berlian yang terlihat begitu indah. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Jika mengingat semua ucapan-ucapan Hanan, rasanya ia ingin sekali menerimanya namun seketika senyum itu pudar ketika memory tentang pernikahannya dengan Agum terlintas dalam kepalanya.


"Kenapa hanya dilihat saja ndhuk?", tanya ibu Ratih tiba-tiba dan sontak membuat Lintang terperanjat.


Buru-buru Lintang kembali menutup kotak kecil itu. "Eh, ibu?!".


Ibu Ratih tersenyum kemudian duduk di tepi ranjang Lintang. "Bukankah akan lebih baik kamu menerima lamaran dari Hanan, ndhuk?".


"Lintang tidak tahu bu. Ingin rasanya Lintang menerima pinangan dari mas Hanan, namun rasanya Lintang masih trauma", jawab Lintang. Tiba-tiba air matanya menetes. "Lintang takut jika nanti Lintang_______"


"Ndhuk, rasa takut setelah gagal dalam mempertahankan sebuah rumah tangga itu hal yang wajar. Namun ibu rasa kamu tidak boleh terlalu larut dalam keadaan seperti ini", timpal ibu Ratih memangkas ucapan Lintang.


"Tapi Lintang takut bu, Lintang takut jika suatu hari nanti mas Hanan______".

__ADS_1


Ibu Ratih menghela nafas dalam. "Kamu masih meragukan rasa cinta yang dimiliki oleh Hanan untukmu?".


Lintang menggeleng. "Tidak bu, Lintang tidak meragukan hal itu. Namun bagaimana jika dalam perjalanan pernikahan kami nanti mas Hanan_____"


Ibu Ratih tersenyum simpul. Ia tahu apa yang dimaksud oleh putrinya itu. "Tidak semua laki-laki itu sama, ndhuk. Kamu mungkin pernah mendapatkan suami yang tidak bisa setia hanya dengan satu wanita, namun ketahuilah jika tidak semua laki-laki memiliki sifat seperti itu".


"Lintang paham akan hal itu bu, tapi semakin ke sini Lintang merasa jika tidak pantas untuk bersanding dengan mas Hanan. Mas Hanan terlalu baik untuk Lintang bu".


Ibu Ratih tersenyum tipis. "Jika Hanan merasa bahwa kamu tidak pantas menjadi pendamping untuknya, lalu untuk apa hingga detik ini dia masih menunggumu, ndhuk?,"


Lintang mengendikkan bahunya. Ibu Ratih memindai ekspresi wajah Lintang dan kemudian menggenggam tangannya. "Percayalah jika cinta yang Hanan miliki akan menjadi kebahagiaanmu juga kebahagiaan Nana kelak, ndhuk. Kamu bisa lihat kan bagaimana Hanan memperlakukan Nana?, ia begitu menyayangi Nana seperti menyayangi anaknya sendiri. Dan kamu pastinya juga bisa melihat upaya yang selalu dilakukan Hanan untuk bisa mengisi kekosongan hati Nana yang membutuhkan kasih sayang dari seorang ayah?"


Lintang mengusap wajahnya kasar. Kini ia tengah dilanda kebimbangan yang begitu terasa menghujam jiwa. Di satu sisi ia trauma dengan sebuah pernikahan namun melihat ketulusan dari Hanan rasanya ia juga ingin menyambut niat baiknya itu. Dan ketika ia sudah memantapkan hati untuk menerima pinangannya, justru sisi dari hatinya ia merasa tidak pantas untuk mendampingi seorang laki-laki seperti Hanan.


Ibu Ratih hanya tersenyum melihat kegundahan hati putrinya itu. "Tumben Hanan sama Nana belum sampai rumah ya ndhuk?", ucap ibu Ratih mencoba mengganti pokok pembicaraan.


Lintang melirik jam yang ada di dindingnya. Dahinya sedikit mengkerut karena ini sudah lebih dari satu jam dari jam pulang sekolah Nana, namun ia belum juga tiba di rumah.


"Iya ya bu, kok tumben mas Hanan belum tiba di rumah?".


Lintang kemudian meraih ponsel yang ada di atas nakas, bermaksud untuk menghubungi Hanan.


Tok... tok... tok....


Terdengar pintu rumah diketuk. Lintang dan ibu Ratih saling menautkan pandangan. Mereka pun sama-sama tersenyum karena yang dibicarakan sudah ada di depan rumah.


Lintang dan ibu Ratih melangkahkan kaki menuju ruang tamu.


Ceklek...


Pintu terbuka. Tubuh Lintang tiba-tiba mematung. Bibir Lintang terkatup, matanya membulat sempurna. Betapa terkejutnya Lintang melihat seseorang yang ada di depan teras rumahnya saat ini.


"Assalamualaikum, dek?!", ucap laki-laki itu dengan senyum manis yang terukir di bibirnya.


"Wa-waalaikumussalam mas.....Agum?!".


.


.


. bersambung....


Nah loh, Agum datang lagi. Kira-kira mau apa ya dia mendatangi Lintang?, mau ngajak rujuk?, atau apa??, hihiihihihi tunggu episode yang akan datang ya kak.. mohon maaf kemarin author tidak sempat update dikarenakan sedang sibuk update novel kedua author yang beberapa hari gak sempet up. Inshaallah nanti jika ada waktu luang author up episode selanjutnya deh, tapi gak janji yah.. 😘


Terima kasih banyak untuk semua yang sudah setia menunggu kelanjutan novel titik balik ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya yahh.. dan jangan lupa untuk vote, vote, vote agar author lebih bersemangat lagi dalam menulis.


Dan silakan mampir juga ke novel kedua author dengan judul terpaksa Menikah karena Dipaksa menikah, baru ada 19 episode sih.. hihiihi... happy Reading kakak...

__ADS_1


Salam love, love, love💗💗💗


__ADS_2