Titik Balik

Titik Balik
LIMA PULUH EMPAT


__ADS_3

"Mas, baru pulang?", ucap Lintang tiba-tiba sambil menghampiri Agum yang sedang duduk termenung di hadapan kue tart.


Agum terkejut setengah mati, dan kedatangan Lintang membuyarkan lamunannya. "Eh, dek?"


Lintang tersenyum kecil kemudian memeluk tubuh Agum dan mencium pipinya. "Selamat ulang tahun ya mas, semoga sehat selalu, diberikan rizqi yang berkah, dan semua doa terbaik senantiasa teruntai untukmu"


Agum membalas dengan senyum yang sedikit kikuk. "Terima kasih, dek"


Lintang mengangguk. "Mas kenapa baru pulang, dan dari tadi sore ponsel kamu mati, aku sampai frustasi menghubungimu, kami semua menunggumu mas. Nana bahkan sampai terkantuk-kantuk menunggu kepulanganmu"


Agum menampakkan wajah yang seolah terkejut. "Eh, benarkah dek?". "Maaf ya, tadi tiba-tiba aku dimintain tolong orang, jadi aku pulang larut seperti ini dan aku kehabisan baterai", sambungnya pula.


Lintang mencoba mengerti alasan yang diungkapkan oleh Agum. "Oohhh seperti itu ya mas?", ya sudah ndak apa-apa mas, mas hanya perlu membujuk Nana, agar ia tidak merasa kecewa. Karena sejak sore Nana lah yang bersemangat membuat kue untukmu ".


"Iya dek, besok aku libur. Besok kita jalan-jalan ya", jawab Agum.


Lintang pun memeluk Agum. "Terima kasih banyak mas!"


Eh ada apa ini. Kenapa bunga-bunga cinta yang dulu sering aku rasakan saat memeluk Lintang sekarang sudah tidak lagi terasa. Aku justru lebih merasakan sebuah getaran yang berbeda saat memeluk Reni.


*******


"Ayah bangun!!", teriak Nana sambil mengguncang tubuh Agum.


Agum menggeliat. "Sayang, bentar lagi ya, ayah masih ngantuk banget ini"


"Enggak ayah, pokoknya ayah harus bangun sekarang. Ayo temenin Nana sepedaan yah!", sambung Nana merengek. Agum masih tak bergeming dan malah kembali tertidur pulas.


"Huhhuhuhuhuhuhu bunda!!"


Lintang yang baru saja selesai menyiapkan sarapan untuk pagi ini kemudian bergegas menghampiri Nana.


"Sayang ada apa?", tanya Lintang sambil mengusap kepala Nana.


"Huhuhuhuhu, Nana pengen ditemenin ayah main sepeda bunda, tapi ayah gak mau bangun".


Lintang mencoba memahami keinginan putrinya itu. Tapi mau bagaimana lagi, ia melihat suaminya seperti kelelahan, tak sampai hati juga ia untuk membangunkannya.

__ADS_1


Lintang menatap teduh wajah putrinya. "Sayang, kita makan dulu yuk sambil nunggu ayah bangun, nanti setelah makan Nana bisa main sama ayah".


"Tapi Nana pengennya main sama ayah sekarang bunda", rengek Nana.


Lintang tersenyum sembari berusaha menenangkan putrinya. "Iya sayang, nanti pasti ditemenin ayah main sepeda, tapi sekarang Nana makan dulu ya, biar kuat main sepedanya". Lintang mencoba bernegosiasi dan Nana pun mengangguk.


Lintang menyiapkan sarapan untuk Nana dan ibu mertuanya.


"Mau disuapin sayang?", tanya Lintang sembari menciduk sayur bayam dari panci.


Nana menggeleng. "Enggak bunda, Nana kan sudah besar".


"Wah cucu nenek sudah pinter maem sendiri ya?", ucap ibu Ranti tiba-tiba kemudian duduk di sebelah Nana.


"Iya dong nek, siapa dulu dong, Nana!", ucapnya bangga sambil memasukkan nasi beserta sayur juga lauk tempenya ke dalam mulutnya.


Lintang pun hanya menggeleng melihat tingkah anaknya itu. Lintang kemudian menyerahkan sepiring sarapan pagi untuk ibu mertuanya. "Sarapan dulu bu, setelah ini nanti Lintang siapkan untuk mandi"


Ibu Ranti mengangguk. "Terima kasih mbak"


******


"Waahh iya, ternyata anak ayah udah pinter naik sepeda, tapi...."


Nana memutar kedua bola matanya. "Tapi kenapa yah?"


Agum tersenyum kecil. "Tapi kok masih pake roda kecil ini?", tanya Agum mengejek sambil menunjuk ke roda kecil yang ada di sisi roda utama.


"Eemmmm kalau gak pakai roda itu, nanti Nana bisa jatuh yah", protes Nana.


Agum mengelus kepala Nana. "Hemmm anak ayah harus berani dong, besok latihan dilepas ya"


Nana terlihat berpikir sejenak. "Oke ayah"


Ayah dan anak itupun terlihat begitu menikmati hari ini. Lintang mengamati dari balik jendela. Senyum lebar tersungging di bibirnya. Ia berharap keharmonisan seperti ini akan selalu menghiasi rumah tangganya.


"Sedang apa mbak Lin?", ucap bu Ranti tiba-tiba dan mengagetkan Lintang.

__ADS_1


"Eh ibu?, ini Lintang cuma sedang memperhatikan keceriaan mas Agum dengan Nana bu. Rasanya bahagia sekali bisa melihat mereka tertawa lepas seperti itu", jawab Lintang.


"Ya itulah salah satu kebahagiaan seorang istri mbak. Ibu berdoa, semoga kalian langgeng", ucap ibu Ranti.


Lintang menatap ibu mertuanya kemudian menggenggam tangannya dan tersenyum. "Aamiin, terima kasih banyak ya bu"


Lintang melangkahkan kakinya untuk menyusul suami juga anaknya.


"Wahh sepertinya seru nih main sepedanya!", seru Lintang. "Sayang, istirahat dulu yuk", sambungnya pula.


"Tapi Nana masih pengen naik sepeda bunda, ya kan yah? "


Lintang dan Agum saling melirik. "Emmm sudah-sudah. Mainnya berhenti dulu ya sayang. Abis maghrib nanti kita main lagi", ucap Agum.


"Maghrib kok main sih yah, kan itu tidak boleh?", protes Nana.


Agum tersenyum simpul. "Boleh kok, tapi kita mainnya di taman lampion, mau?"


Nana terlihat bingung. "Taman lampion, apa itu yah?"


"Nanti kamu bisa lihat sendiri sayang, mau tidak?", tanya Agum menegaskan


"Mau yah mau. Horeee!!!!", teriak Nana girang


*********


.


.


.


. bersambung


Hai-hai para pembaca tersayang. Terima kasih banyak sudah berkenan mampir di novel pertamaku ini ya. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentarnya. Terima kasih


Salam love, love, love💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2