Titik Balik

Titik Balik
TUJUH PULUH SATU


__ADS_3

Agum tiba di rumah jam satu malam. Saat ia memasuki kamar pribadinya terlihat Lintang juga Nana telah tertidur lelap. Agum duduk di tepi ranjang sambil menatap istrinya yang sedang mendekap putri semata wayangnya itu. Nampak jelas sebuah kedamaian dari wajah keduanya seolah sejauh ini mereka hidup dalam keadaan yang baik-baik saja.


Perlahan butiran air bening itu lolos dari pelupuk mata Agum. Hatinya sesak, dipenuhi penyesalan mengapa sampai sejauh ini ia menghempaskan keluarga kecilnya hingga ke dasar jurang kehancuran. Dua makhluk yang tidak tahu apa-apa yang hanya menjadi korban dari kekufuran nikmat yang telah Tuhan titipkan kepadanya.


Lintang menggeliat, merasakan ada seseorang yang duduk di dekatnya. Ia mengerjapkan matanya dan melihat Agum sedang memandangnya dengan pandangan kosong. Dan dengan mata yang terlihat sedikit sembab.


Lintang terbangun dan duduk di samping Agum. "Mas?", panggilnya sambil menepuk pundak Agum.


Agum terperanjat, tersadar dari segala pikiran yang mengganggunya. Seketika Agum pun memeluk tubuh Lintang dengan erat. Lintang tak kalah terkejutnya, ia kemudian membalas pelukan Agum dengan erat pula. Agum terisak, air mata yang sedari tadi ia coba untuk menahannya akhirnya mengalir juga dengan derasnya.


"Apa yang tengah terjadi kepadamu mas?", tanya Lintang sambil mengusap-usap punggung Agum.


Agum menggeleng. "Maafkan aku sayang, maafkan aku"


Lintang menarik nafas dalam. "Untuk?"


"Untuk semua yang telah aku lakukan kepadamu juga kepada keluarga kita sayang"


Lintang tersenyum kecil. "Aku sudah memaafkanmu mas"


Agum menggelengkan kepalanya. "T-tapi semua yang aku lakukan telah menyakitimu sayang. Tidakkah kau ingin membalas semua perbuatanku?"


"Aku memang hancur mas namun aku sama sekali tidak memiliki hak untuk membalas apa yang telah kamu perbuat. Aku hanya selalu memohon, semoga Allah selalu memberikan aku kekuatan untuk menjalankan peranku ini"


Agum semakin mengeratkan pelukannya. "Apakah aku masih pantas untuk mengetuk pintu maafmu, dan apakah aku masih bisa untuk kembali di sisimu, sayang?"


Lintang menarik nafas dalam. "Jika mengingat apa yang sudah kamu perbuat terhadapku, pastinya akan sulit untuk memaafkan dan memberimu kesempatan lagi mas. Tapi biarlah Allah yang memulihkan semua keadaan ini, biarlah Allah yang menyembuhkan semua luka yang aku rasa. Jika memang saat ini kau benar-benar menyesali semua perbuatanmu, akupun selalu berusaha untuk ikhlas memaafkanmu"


Tangis Agum semakin tak terbendung. Ia menangis sejadi-jadinya di pundak istrinya itu. "Aku memang bodoh sayang, maafkan aku"


"Iya mas. Perbanyaklah minta ampun kepadaNya, karena secara tidak langsung, kamu juga telah mengingkari perjanjian yang telah kamu ucapkan empat tahun yang lalu".


Agum semakin terisak. "Astaghfirullahal 'adziimm"


"Mas?", panggil Lintang lirih.


"Ya sayang",


"Bolehkah aku meminta satu hal kepadamu?",

__ADS_1


Agum mengernyitkan dahinya. "Apa itu sayang?"


Lintang menarik nafasnya dalam. "Aku memang sudah memaafkanmu, tapi bolehkah untuk sementara waktu aku tidak menjalankan kewajibanku kepadamu di atas ranjang?


Dahi Agum mengkerut, berupaya untuk memahami ucapan Lintang. "M-maksud kamu bagaimana sayang?"


Lintang kembali menarik nafasnya dalam. "Aku hanya masih belum bisa menerima jika kamu masih menjadikan wanita itu sebagai objek fantasimu mas. Dan dalam kepalaku masih saja selalu terngiang akan kemesraan yang kalian lakukan di luar sana. Aku masih belum bi_________"


Agum mengangguk paham dan memotong ucapan Lintang. "Aku mengerti sayang, baiklah untuk sementara waktu aku tidak akan memintamu untuk melaksanakan kewajibanmu di atas ranjang. Aku akan menunggumu sampai kamu bisa menerima aku sepenuhnya lagi. Dan ini semua akan menjadi bukti jika aku benar-benar telah menyesal dan meninggalkan Reni"


Lintang tersenyum lega. "Terima kasih untuk pengertiannya mas, semoga dari sini kita bisa sama-sama saling memperbaiki diri"


Agum mengangguk. "Aaminn sayang"


*******


"Ayahhh!!", seru Nana saat melihat Agum sedang duduk di kursi makan.


Pandangan Agum mengarah ke suara putri kecilnya itu. Ia tersenyum. "Sayang?!"


Nana kemudian duduk di pangkuan Agum dan memuluk tubuh Agum. Agum membelai rambut putrinya itu. Ia tersentak.


Agum mengecup kepala Nana dengan lembut. Kemudian Lintang pun menghampiri mereka sambil membawa ayam goreng di atas piring yang baru saja selesai ia goreng.


"Sayang, ayo duduk di sebelah ayah, kita sarapan sama-sama", ucap Lintang sambil mengambilkan nasi untuk Agum.


Nana menggeleng. "Nana mau disuapin sama ayah, bunda. Nana kangen sama ayah"


Agum tersenyum melihat putrinya yang sedikit manja itu. Ia paham jika ia memang jarang memanjakan Nana dengan hal-hal sekecil ini, jadi wajar saja jika saat bisa berkumpul ia bersikap manja.


"Nana sudah besar bukan?, jadi bisa makan sendiri kan? , lagipula ayah juga mau sarapan juga sayang, nanti bisa telat ke kantornya", sambung Lintang berusaha bernegosiasi.


"Sudah sayang, tidak apa-apa. Biar mas suapin Nana", ucap Agum kepada Lintang.


"T-tapi mas?"


Agum menggeleng sambil tersenyum. "Ayo, putri kecil ayah yang cantik ini mau makan apa?", ucap Agum sambil mencium pipi Nana.


"Nana mau ayam goreng ayah!", jawabnya bersemangat.

__ADS_1


Agum pun mengambil nasi beserta ayam goreng kemudian menyuapkannya ke Nana. Sesekali terdengar celotehan dari Nana yang begitu menghangatkan suasana pagi ini. Suasana layaknya sebuah keluarga yang utuh yang selalu dipenuhi kebahagiaan dalam kesehariannya.


Lintang tersenyum kecil. "Semoga ini menjadi awal yang baik, ya Rabb", ucapnya lirih.


******


Lintang terlihat tengah mengancingkan kemeja milik Agum. Meski ia meminta untuk sementara waktu tidak menjalankan kewajibannya di atas ranjang, namun ia masih mengurus semua keperluan Agum.


Agum menatap lekat netra istrinya. Lintang pun hanya tersenyum kikuk.


"Ada apa mas?, apa ada yang salah dengan wajahku?, tanya Lintang.


Agum menggeleng. "Kamu cantik sayang"


Lintang pun hanya tersenyum. Agum kemudian mengangkat dagu istrinya itu. "Bolehkah aku menciummu sayang?"


Lintang terpaku. Tanpa menunggu jawaban dari Lintang ia pun kemudian mendaratkan kecupannya di atas bibir Lintang. Sebuah kecupan lembut dan tidak terlihat memburu. Lintang semakin terbuai oleh kelembutan kecupan Agum itu. Tiba-tiba..


"Bunda!!", teriak Lintang.


Seketika Lintang menghentikan ciumannya. Kemudian menjauhkan tubuhnya dari Agum.


"Iya sayang?", ucap Lintang sambil menghampiri Nana.


"Nana pengen pup", jawab Nana polos.


Lintang tersenyum kemudian melirik ke arah Agum. Agum pun hanya mengangkat kedua bahunya sambil terkekeh. Lintang melenggang, mengantarkan Nana ke kamar mandi.


Agum menatap punggung istrinya.


Semoga aku bisa merebut kembali hatimu sayang. Dan semoga secepatnya aku bisa kembali memilikimu seutuhnya. Lahir maupun batin...


.


.


. bersambung...


Iihhhhh kok belum cerai-cerai juga sih thor ?, itu Lintang kenapa juga bodoh banget sih!!!, hehehehe maafkan author ya kakak-kakak, ini memang alurnya aku bikin kayak gini.. jadi mohon bersabar yaa🙏... terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar kakak-kakak semua di setiap episodenya yah.. dan yang punya kelebihan poin boleh juga disumbangin ke author, hihihihi... terima kasih... happy Reading kakak-kakak tersayang...

__ADS_1


Salam love, love, love💗💗💗


__ADS_2