Titik Balik

Titik Balik
DELAPAN PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Lintang melajukan motor matic nya menuju kontrakan. Sudah hampir satu minggu ia tinggal terpisah dari Agum, dan ia rasa sekaranglah waktu yang tepat untuk menyelesaikan semua permasalahan yang tidak kunjung menemukan titik temu ini.


Lintang memasuki teras kontrakan. Terlihat pintu terbuka, menandakan ada orang di dalam sana.


"Lin?", ucap Danang ketika melihat Lintang sudah ada di depan teras.


Lintang pun tersenyum, kemudian menyalami Danang. "Apa kabar mas?",


"Baik Lin, kamu bagaimana?", tanya Danang balik.


Lintang tersenyum penuh arti. "Alhamdulillah aku baik mas. Mas Agum sudah berangkat ke kantor mas?"


Danang menggeleng. "Agum tidak ke kantor, dia ada di kamar"


Lintang terperangah. "M-mas Agum sakit mas?"


Danang menggeleng. "Dia tidak akan pernah kembali ke kantor lagi Lin, dia sudah dipecat dari pekerjaannya"


Bibir Lintang terkatup. "Astaghfirullahal 'adziim. Bagaimana bisa sampai dipecat mas?"


Danang menarik nafas dalam. "Berita tentang perselingkuhannya dengan Reni sampai ke pusat, dan pusat memutuskan untuk memberhentikan Agum". Danang kembali menghembuskan nafas kasar. "Dan sekarang Agum selalu menyendiri di dalam kamarnya, ia tidak mau berkomunikasi dengan siapapun".


"Ya Allah....", ucap Lintang sambil menutup mulutnya.


Lintang pun melangkahkan kakinya menuju kamar yang dulu merupakan kamar pribadinya dengan Agum. Perlahan ia membuka tuas pintu kamar.


Kamar yang dulu selalu terlihat terang, saat ini nampak gelap. Sinar matahari di luar sana nyatanya tidak dapat menembus kain gordyn tebal yang dibiarkannya tetap menutupi jendela kamar itu.


Nampak seorang laki-laki yang tengah duduk di pojok kamar dengan memeluk kedua lututnya, ia menenggelamkan wajah nya di sela-sela lutut itu, dengan nafas yang terlihat tidak beraturan yang menjadi tanda ia sedang menahan isak tangisnya.


Lintang menghampiri Agum dan berjongkok di hadapan tubuhnya yang masih menunduk itu.


"Mas?", ucap Lintang lirih.


"Pergi Ren, aku mau sendiri. Tinggalkan kamar ini!!", teriak Agum.


Lintang tersentak. Seperti inikah keadaan suaminya semenjak ia tinggal terpisah. Membenamkan dirinya dalam kesendirian dan tidak ingin diganggu oleh siapapun.


"Mas, ini aku, Lintang!",


Agum terperangah mendengar nama yang sangat ia rindukan. Ia kemudian mengangkat kepalanya. Dan pandangannya pun bersiborok dengan Lintang.


Seketika Agum memeluk tubuh Lintang. "S-sayang, benarkah ini kamu?"


Lintang mengangguk pelan di dalam pelukan Agum dan ia mencoba mengusap-usap punggung Agum, mencoba membuatnya sedikit lebih tenang.


"Mas_______"


"Biarkan seperti ini sayang, biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar saja", ucap Agum memangkas ucapan Lintang sembari memeluknya lebih erat lagi.


Dan air mata Lintang kembali menetes tanpa meminta persetujuan darinya. Lihatlah bagaimana keadaan suaminya saat ini. Ia terlihat semakin kurus. Jambangnya dibiarkan tumbuh begitu saja, matanya sembab, terlihat sedikit cekung dan kantung matanya menghitam. Menandakan bahwa sejauh ini ia tidak mengistirahatkan tubuhnya dengan benar.


"Sayang, tetaplah di sini. Jangan tinggalkan aku", ucap Agum.


Lintang tersenyum tipis. "Mas sudah makan?"

__ADS_1


Agum menggeleng. "Aku tidak mau sayang, lebih baik aku seperti ini agar bisa segera menjemput kematianku".


Lintang merenggangkan pelukan Agum, ia tatap lekat wajah yang masih menjadi suaminya itu. "Mas tidak boleh seperti ini, mas harus makan".


Agum menggeleng. "Tidak sayang, aku tidak mau".


Lintang masih belum menyerah. Bagaimanapun juga ia tetap ingin Agum dalam kondisi yang sehat agar bisa menyelesaikan ini semua. "Aku suapin ya mas?"


Agum menatap teduh kedua bola mata Lintang. Ia pun mengangguk pelan, menurut apa yang dikatakan oleh istrinya itu.


Lintang pun meninggalkan kamar, dan bergegas ke motor yang terparkir di halaman depan. Ia membuka jok motor dan mengambil dua buah rantang yang berisikan makanan yang memang sengaja ia siapkan untuk Agum dan Danang.


Lintang kembali ke dalam kamar kemudian menghampiri Agum dan menyuapinya.


****


"Sayang, kamu tetap akan tinggal di sisiku kan?", tanya Agum setelah sepiring nasi yang ada di tangan Lintang tandas tanpa bekas.


Lintang tersenyum getir. Ia memang tidak tega melihat kondisi suaminya saat ini. Tapi bagaimanapun juga ia harus tetap meninggalkan Agum.


"Tolong ceraikan aku mas!", ucap Lintang.


Agum terbelalak dengan apa yang keluar dari bibir Lintang. Ia mengira kedatangan Lintang ke sini sebagai pertanda jika ia telah memaafkannya dan memutuskan untuk di sisinya kembali. Namun justru perceraianlah yang diinginkan oleh Lintang.


Air mata Agum yang sempat berhenti, kini seolah dipaksa untuk menetes kembali. "Kamu masih belum bisa memaafkan aku sayang?"


Lintang menggeleng. "Aku sudah memaafkan semua kesalahanmu mas. Tapi aku tidak bisa untuk melanjutkan pernikahan ini. Aku memutuskan untuk berhenti mas".


"Jika kamu sudah memaafkan aku, kenapa kamu tidak bertahan di sisiku sayang?", tanya Agum dengan suara yang sedikit serak.


Agum menggeleng. Seketika ia memeluk tubuh Lintang. "Aku tidak mau dan tidak akan pernah mau menceraikan kamu sayang, aku membutuhkanmu".


"Jangan seperti ini mas. Ini semua hanya akan memperumit keadaan kita. Aku sudah tidak mampu menanggung beban ini sendiri. Ku mohon ceraikan aku mas!!".


Agum semakin sesenggukan. "Tidak sayang, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan kamu!"


"Mas_____________"


Plok.. plok.. plok....


Suara tepuk tangan menggema di kamar pribadi Lintang dan Agum yang hening ini. Ucapan Lintang pun terpangkas ketika melihat seseorang wanita yang menghampiri mereka.


"Jadi ini yang kamu lakukan Lin?, kamu masih tetap kekeuh di sisi mas Agum, dan tidak ingin melepaskannya?", tanya Reni sambil bersedekap dan menyandarkan badannya di pintu kamar.


Lintang terperangah. Ia mencoba lepas dari pelukan Agum. Kemudian beranjak dan menghampiri Reni.


Lintang menatap lekat wajah Reni. "Apa maksudmu?"


Reni mencibir. "Bisa dilihat kan, kalau kamu masih saja mendekati mas Agum?, masih belum mau menyerah juga kamu ternyata!!"


Lintang tersenyum sinis. "Tanyakan ke mas Agum, aku ke sini untuk apa". Lintang kembali menghela nafas panjang. "Aku minta talak dari mas Agum!".


Pandangan Reni beralih kepada Agum. "Benarkah apa yang dikatakan wanita ini mas?",


Agum terdiam tak bergeming sedikitpun.

__ADS_1


"Jika benar dia meminta talak dari kamu, kenapa tidak kamu kabulkan mas?!!", ucap Reni penuh emosi.


"Aku tetap tidak mau Ren, aku tidak mau!!" , teriak Agum.


Lintang tersenyum sinis. "Kamu dengar sendiri kan ucapan dari mas Agum?"


Reni mendengus kesal. "Aku pastikan kamu akan tersingkir dari kehidupan mas Agum Lin!!".


Lintang tersenyum getir. "Silakan lakukan apa saja yang ingin kamu lakukan".


Lintang menghampiri Agum kembali. "Temui aku jika kamu berubah pikiran untuk bersegera menceraikan aku mas".


Lintang pun kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan kamar itu dan hanya tersisa Agum dan Reni di sana. Air matanya kembali tumpah kemudian bergegas menuju halaman.


Langkahnya terhenti ketika Danang memanggil namanya.


"Lin?",


Lintang mengusap air matanya. "Kenapa mas Agum seperti ini mas?, kenapa mas Agum tidak mau melepaskan aku?".


Danang menggeleng. "Aku tidak tahu apa yang menjadi kemauan Agum Lin. Tapi bersabarlah jika Agum sudah kembali tenang, ia pasti akan mengambil keputusan yang terbaik".


"Semoga saja mas. Aku hanya ingin segera selesai dari ini semua. Aku sudah lelah".


Danang mengangguk. "Bersabarlah sedikit lagi Lin, Allah pasti sudah mempersiapkan yang terbaik kalian"


***


Agum berdiri di depan jendela kamarnya. Pantulan cahaya bulan terlihat jelas dari balik jendelanya inu. Ia menghembuskan nafas kasar dan mengacak rambutnya. Ia kembali mengingat kata-kata yang diucapkan oleh istrinya siang tadi. Ya dia tidak bisa menggenggam dua hati tanpa membuat salah satunya terluka. Dan memang benar bahwa ia harus melepaskan salah satunya.


"Sudah bisa kamu putuskan Gum?", tanya Danang membuyarkan lamunan Agum.


Agum menghela nafas dalam kemudian mengangguk. "Aku akan menuruti apa yang menjadi kemauan Lintang, mas!".


Danang terbelalak. "Kamu akan menceraikan Lintang".


Agum kembali menatap luar jendela dengan tatapan kosong. "Apapun keputusanku nanti, pastinya akan membuka jalan kebahagiaan untuk Lintang mas".


Dada Agum terasa begitu sesak. "Sudah cukup aku membuat Lintang menderita mas. Aku hanyalah laki-laki bre****k yang tidak bisa menjaga lahir maupun batinnya. Aku yang sudah mengotori ikatan suci kami dengan penghianatanku. Aku__________"


Tubuh Agum merosot. Dan ia sandarkan di tembok dekat jendela. "Aku akan membebaskan Lintang dari derita ini mas", ucapnya lirih.


Danang mendekat ke samping Agum. Ia merengkuh tubuh Agum dan memeluknya. Ia menepuk-nepuk punggung Agum. "Syukurlah jika kamu membuat keputusan ini Gum, biarkan Lintang menjemput kebahagiaannya"


.


.


. bersambung...


Janji untuk up lagi udah author tepatin ya kak.. author kok jadi mewek ya bikin part ini... 😔 gak tau rasanya seperti tercubit gitu. Kalo ada yang tanya, itu Lintang kok masih mau dipeluk2 sama Agum sih thor? Harusnya kan gak mau, !!, hehehe jawabannya cuma satu Lintang masih sah menjadi istri Agum, jadi dia masih boleh dipeluk Agum. 😅


Terima kasih banyak sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini ya kak. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya yah.. jangan lupa vote, vote, vote biar author lebih semangat nulisnya.. hehehe happy Reading kakak...


Salam love, love, love💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2