
Senja menyapa, semburat warna oranye terlihat mempesona, dengan sedikit gumpalan awan yang membentuk bulu domba, dan matahari yang sudah mulai turun dari tahtanya, berganti petang yang sebentar lagi akan datang.
Lintang duduk sendiri di teras kontrakan. Pikirannya menerawang jauh. Terlintas dalam benaknya tentang obrolan dengan Danang siang tadi. Sungguh, ia teramat takut jika sampai Agum mengalami fase di mana ada wanita di luar sana tertarik oleh pesona yang Agum miliki. Apakah mungkin Agum bisa bertahan dari ujian itu, ataukah ia justru akan larut dan terbawa arus dari ujian itu.
"Astagfirullah aku tidak boleh seperti ini. Maafkan bunda nak, seharusnya bunda tidak membebanimu dengan pikiran semacam ini", ucapnya lirih sambil mengelus perutnya.
"Hayoooo sore-sore gini jangan ngelamun ndhuk, nanti kesambet loh!", seru seseorang yang tak lain adalah budhe Yani
Budhe Yani adalah tetangga Lintang yang rumahnya bersebelahan dengan kontrakan Lintang. Usianya sekitar limapuluh tahun namun masih terlihat sangat bugar.
"Eh Budhe, enggak kok, ini Lintang lagi duduk- duduk aja. Budhe dari mana, tumben rapi gitu?", tanya Lintang sedikit terkejut.
"Budhe habis kondangan di tempat saudara ndhuk. Ini buat kamu, tadi budhe dibawain banyak", ucap budhe Yani sambil memberikan sesuatu yang di taruh di kantong plastik.
"Ini apa budhe?", tanya Lintang
"Itu isinya ada lemper, nagasari, sama mendhut", jawab budhe Yani.
"Wah makasih banyak budhe", ucap Lintang
"Iya sama-sama ndhuk. Masuk gih, tidak baik bagi wanita hamil ada di luar rumah menjelang maghrib seperti ini", sambung budhe Yani mengingatkan.
"Iya budhe, Lintang masuk ya. Sekali lagi makasih banyak untuk oleh- olehnya, hehehe", pamit Lintang sambil berlalu.
Lintang meletakkan pemberian budhe Yani di atas meja makan. Di sana juga terlihat ibu Ranti sedang duduk santai di kursi makan.
"Ibu mau makan sekarang, biar Lintang siapkan sekalian?", tanya Lintang
"Biar Mimin aja mbak Lin", jawab ibu Ranti
"Ndak apa-apa bu, biar Lintang ambilkan sekalian ya", tawar Lintang. Ibu Ranti pun mengangguk.
Lintang beranjak untuk mengambilkan mertuanya makan. Ikan tuna yang ia masak tadi pagi masih ada dan masih layak untuk dikonsumsi, hanya tinggal dipanaskan saja.
"Silakan dimakan bu", ucap Lintang seraya menyodorkan piring yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Makasih mbak Lin", ucap ibu Ranti.
"Bu, apa dulu sebelum mas Agum menikahi Lintang, dia pernah punya kekasih, maksud Lintang menjalin hubungan dengan seorang wanita?", tanya Lintang.
Ibu Ranti terlihat memutar bola matanya, mencoba mengingat sesuatu.
"Agum itu orangnya sedikit tertutup mbak, jadi ibu tidak banyak tahu. Setahu ibu ya dia cuma ngenalin kamu ke ibu sebagai calon istrinya, kalau kekasih, ibu malah tidak pernah tahu", jawab ibu Ranti
"Oh seperti itu ya bu?", ucap Lintang.
"Eh tapi..."
"Tapi kenapa bu?", tanya Lintang penasaran
"Dulu waktu di Surabaya, Agum itu pernah punya pacar mbak, namanya Vivi. Tapi ibuk gak suka" jawab ibu Ranti
"Eh ibu gak suka?, memang kenapa bu?", tanya Lintang semakin penasaran
"Dia itu sering morotin Agum mbak. Pas awal- awal Agum kerja di Surabaya, dia udah berani minta beliin ini itu. Saat itu ibu bilang mereka gak bakalan lama bertahan, eh taunya beneran. Setelah tiga bulan pacaran, mereka putus", kenang ibu Ranti
"Memang kenapa sih mbak?", sambung ibu Ranti pula
"Dek Mimin, tolong siapin obatnya ibu ya!", teriak Lintang
"Iya mbak, ini udah Mimin bawain", jawab Mimin menghampiri Lintang juga ibu Ranti di dapur.
"Ya sudah, Lintang masuk kamar ya bu", pamit Lintang sambil berlalu menuju kamar. Hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh ibu Ranti.
****************
Suasana malam di salah satu sudut kota Jogja. Tepatnya di dekat tugu yang menjadi icon kota Jogja itu sudah berjejer angkringan yang merupakan tempat yang menjadi ciri khas kota Gudeg ini. Di angkringan ini tersaji berbagai jenis makanan khas Jogja seperti nasi kucing, sate usus, gorengan, susu jahe, dan yang paling digemari adalah kopi joss, yaitu segelas kopi yang merupakan minuman khas Yogyakarta berupa kopi hitam yang diseduh seperti biasa, namun saat dihidangkan akan dicelupkan dengan arang kayu yang masih membara.
Agum juga Danang terlihat duduk di atas tikar yang memang dipakai untuk para pengunjung angkringan itu. Dengan segelas kopi joss dan berbagai macam makanan yang ada di depan mereka. Mereka terlihat begitu menikmati suasana malam ini. Sambil sesekali terdengar suara kereta api yang melintas yang berada tidak jauh dari tempat mereka nongkrong saat ini.
"Mas, aku mengundang seseorang", ucap Agum tiba-tiba.
__ADS_1
"Eh?, siapa?", tanya Danang sedikit terkejut.
"Nanti mas juga akan tahu", jawab Agum santai.
Tak selang lama, munculah seorang wanita yang terlihat sexy dengan celana jeans panjang dipadukan dengan t-shirt yang terlihat ketat sehingga menonjolkan lekuk-lekuk tubuhnya.
"Re-Reni?", ucap Danang terkejut
"Hai mas Danang, gimana kabarnya?", tanya Reni yang terlihat sudah mengenal Danang sebelumnya sambil menjabat tangan Danang.
"Baik, kamu apa kabar, di mana anak juga suamimu?", tanya Danang dengan berbagai macam pertanyaan.
"Aku baik mas, anak- anakku ada di rumah, dan suamiku......"
"Kenapa?", tanya Danang penasaran
"Gak usah tanya soal suamiku mas, aku sedang malas membahasnya", jawab Reni enteng.
Danang hanya memandang wajah Agum juga Reni dengan pandangan penuh pertanyaan. Danang tahu kalau Reni merupakan mantan pacar Agum ketika awal- awal Agum pindah ke Jogja. Hubungan mereka sempat berjalan satu tahun namun harus berakhir karena Reni dijodohkan oleh orang tuanya dengan Tomi.
Dan sekarang Reni datang lagi di kehidupan Agum dengan membawa cerita jika ia sedang bermasalah dengan suaminya, dan Agum membiarkannya. Mungkinkah Agum mengalami cinta lama bersemi kembali? Danang malah terjebak dengan pikirannya sendiri. Terlintas seketika wajah Lintang yang saat ini sedang hamil.
"Mas, jangan berpikir macam- macam", ucap Agum seolah bisa membaca pikiran Danang
"Iya mas, aku tidak ada hubungan apapun sama mas Agum, kita hanya teman biasa, bagaimanapun juga dulu kita punya hubungan yang sangat dekat, jadi tidak salah kan jika saat ini kita berteman baik?", ucap Reni dengan nada meyakinkan.
"Terserah kalian sajalah. Aku cuma mengingatkan, kalian sudah sama-sama berkeluarga jadi seharusnya kalian tahu batasan apa yang harus kalian pegang", jawab Danang dengan nada yang sedikit tinggi. Agum dan Reni terlihat mengangguk bersamaan.
.
.
.
. bersambung
__ADS_1
Hai para pembaca tersayang.. jangan lupa tinggalkan jejak like juga komentar kalian yaa... terimakasih..
Salam love, love, love💗💗💗