Titik Balik

Titik Balik
LIMA PULUH


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu, dan kini usia kandungan Lintang memasuki usia sembilan bulan. Lintang semakin tidak sabar untuk menantikan kelahiran sang buah hati. Jika dari hari prakiraan lahir, ia akan melahirkan sepuluh hari lagi, namun bisa saja maju ataupun mundur. Oleh karena itu Agum selalu berada di samping Lintang untuk menjalankan peran sebagai suami siaga.


Lintang selalu rutin memeriksakan kehamilannya. Ia begitu bersyukur karena posisi janinnya sudah berada di posisi yang tepat yaitu kepala di bawah. Sehingga kemungkinan besar ia akan melahirkan secara normal.


"Mas, pelan-pelan!!",


Dasar Agum, meski istrinya tengah hamil besar, tak lantas menyurutkan hasratnya untuk tetap menikmati tubuh istrinya itu. Agum selalu ingat yang dikatakan oleh banyak orang, jika sering berhubungan badan dengan istri yang sedang hamil itu akan mempermudah proses persalinannya. Entah itu teori yang bisa dibuktikan secara ilmiah atau tidak. Tapi itulah yang selalu menjadi pedoman Agum. Menurutnya, semakin sering ia melakukan hubungan intim dengan istrinya, maka akan semakin mudah proses persalinanya.


"Iya sayang, sebentar lagi, mas udah mau..... ahhhhhhh!!!"


Agum seketika lunglai di samping tubuh Lintang. Keringatnya terlihat menetes membasahi wajahnya. Dan Lintang hanya meringis melihat keinginan suaminya yang begitu menggebu itu.


"Terima kasih sayang. Mas mandi dulu ya". Agum kemudian beranjak dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Lintang masih terbaring lemas. Ia merasa saat ini tubuhnya begitu tidak bertenaga dan terasa tidak begitu enak dalam posisi apapun. Mau terlentang sudah bosan, mau tengkurap tidak bisa, malah nanti dikira timbangan, mau miring pun juga tidak nyaman. Akhirnya ia pun memilih duduk selonjoran di atas ranjang.


"Eh, apa ini?", lirih Lintang saat melihat ada cairan putih yang keluar dari area kewanitaannya. Tiba-tiba hatinya diliputi kecemasan, ia takut jika terjadi sesuatu dengan bayi dalam kandungannya.


"Mas, mas!!", seru Lintang sedikit panik.


Agum yang baru saja keluar dari kamar mandi dan masih bertelanjang dada langsung menghampiri istrinya yang terlihat panik itu.


"Ada apa sayang?",


"Lihat ini mas!", pinta Lintang sambil menunjuk sprei yang sudah basah dengan cairan putih itu.


"Eh kamu kenapa sayang, ini apa?", tanya Agum bingung.


"Aku juga gak tau mas, ini keluar terus!", jawab Lintang sambil berdiri.


"Apakah sakit sayang?", tanya Agum.


Lintang menggeleng. "Mas, tolong panggilkan ibuku mas, sepertinya ini air ketuban"


"Baik sayang, setelah itu, kita langsung ke rumah sakit ya", ucap Agum sembari meninggalkan kamarnya.


**************

__ADS_1


Pukul satu dini hari, di salah satu rumah sakit besar di kota Jogja, Lintang terlihat tengah duduk di atas kursi roda setelah keluar dari mobil ambulans. Sebelum sampai di rumah sakit ini, sebelumnya Lintang sudah singgah di dua klinik yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, namun pada akhirnya Lintang diberi rujukan untuk dibawa ke rumah sakit.


Dengan kursi roda yang di dorong oleh Agum, dan di sampingnya ada ibu Ratih, Lintang di bawa oleh dua orang perawat ke sebuah bangsal kelas dua. Kemudian perawat itu memasang selang infus di tangannya.


"Mohon tunggu sebentar ya pak, karena dokter sedang bertugas di ruang bersalin. Kami baru bisa memasang infus, untuk langkah selanjutnya biar langsung di jelaskan oleh dokter", ucap perawat itu.


Ketiganya nampak cemas karena menjelang persalinannya ini, tekanan darah Lintang justru tinggi, dan itulah yang membuat Lintang dirujuk di rumah sakit besar ini.


"Sayang, tunggu ya, dokter sebentar lagi datang", ucap Agum yang duduk di sebelah ranjang rumah sakit yang Lintang tempati sambil memegang tangannya.


"Banyak-banyak istighfar ya ndhuk", ucap ibu Ratih sambil mengusap kening Lintang.


Tak lama kemudian, seorang dokter wanita dengan balutan hijab masuk ke bangsal yang ditempati Lintang di dampingi dua perawat yang sebelumnya mengantarkan Lintang menuju bangsal.


"Gimana bunda, sekarang apa yang dirasakan?", tanya dokter yang bernama Hana itu. "Apa sudah merasakan seperti kontraksi?", sambung dokter itu pula.


Lintang menggeleng. "Belum dok, saya malah sama sekali tidak merasakan apa-apa",


Dokter Hana tersenyum. "Ayah, bunda, jadi di sini bunda mengalami pecah ketuban dini ya. Biasanya setelah ketuban pecah dilanjutkan kontraksi, tapi hampir tiga jam bunda tidak mengalami kontraksi, dan pembukaan juga baru dua, jadi mungkin kami akan melakukan cara induksi"


"Induksi merupakan cara untuk merangsang kontraksi pada kandungan bunda, ayah", jawab dokter Hana. "Ada banyak metode induksi, namun untuk bunda, saya pilihkan metode mentosa ya ayah", sambungnya pula.


Agum semakin bingung. Dokter Hana pun mengamati ekspresi kebingungan Agum.


"Jadi induksi mentosa adalah metode induksi dengan menggunakan obat-obatan ya bun,


nantinya obat-obatan ini akan bekerja di reseptor-reseptor dalam rahim ", jawab dokter Hana. "Ada dua macam obat induksi yang digunakan, yaitu oksitosin dan prostagladin E1, dan untuk bunda saya pilihkan obat oksitosin yang berupa cairan dan dimasukkan melalui selang infus ya bun ", sambungnya pula.


"Lalu bagaimana dengan tekanan darah saya dok, apa dengan tekanan darah saya yang tiba-tiba tinggi ini akan aman bagi saya untuk tetap menjalankan persalinan normal?", tanya Lintang cemas.


Dokter Hana tersenyum. "Kami akan melakukan yang terbaik bun, tadi perawat juga sempat memberikan obat penurun tekanan darah. Kita tunggu maksimal sampai jam tujuh pagi ya bun. Jika sebelum jam tujuh pagi tekanan bunda sudah normal kemudian diikuti kontraksi dan pembukaan, maka kita bisa melakukan proses persalinan normal, namun jika tidak, kita harus mengambil jalan secar untuk mengeluarkan janin dari dalam perut bunda".


Lintang tiba-tiba meneteskan air mata. Bagaimanapun juga, ia tetap ingin melahirkan secara normal. Dokter Hana pun tersenyum ramah.


"Tidak perlu khawatir bun, yang penting sekarang bunda banyak-banyak mengistirahatkan tubuh. Saya sarankan untuk tidak turun dari ranjang ya, akan saya pasang selang untuk saluran air seni bunda, jadi bunda tetap bisa bed rest", sambung dokter Hana, di barengi anggukan kepala dari Lintang.


*****************

__ADS_1


Allah, apapun yang akan terjadi padaku, aku sudah siap menghadapinya. Semoga ini semua bisa menjadi penghapus semua dosa-dosaku. Aku hanya meminta, berikanlah kekuatan untukku, dan berikanlah ridho Mu, agar aku bisa melahirkan secara normal.


Lintang masih terbaring dengan lemah. Air matanya tak berhenti mengalir. Agum masih setia menunggu istrinya itu, sembari menggenggam tangannya agar ia lebih kuat untuk menjalani proses persalinannya. Air matanya juga tumpah. Seketika ingatan mengenai perilaku-perilaku buruk yang pernah ia lakukan kepada istrinya itu seolah kembali terulang. Sikapnya yang seperti anak kecil ketika mendengar bahwa anak yang ada dikandungannya adalah perempuan, dan perbuatan yang pernah ia lakukan bersama Reni di taman kota beberapa bulan yang lalu.


"Mas, aku minta maaf ya", ucap Lintang lirih.


Agum tersentak. "Minta maaf untuk apa sayang?"


"Maaf jika sampai saat ini aku belum bisa menjadi istri yang baik", ucap Lintang sambil menatap suaminya.


Agum mengecup punggung tangan Lintang. "Mas yang seharusnya minta maaf sayang, karena mas yang sering melukai hatimu dan belum bisa menjadi suami yang sempurna untukmu"


Lintang tersenyum. "Bolehkah aku minta satu hal kepadamu mas?",


Agum mengernyitkan keningnya. "Apa itu sayang?"


"Tolong dampingi aku saat aku berada di ruang persalinan mas", ucap Lintang


Agum mantap menganggukkan kepalanya. "Pasti sayang, aku pasti akan mendampingimu"


Pandangan Lintang tertuju pada ibunya. Ia melihat ibunya sedang merapalkan doa dan dzikir yang terlihat jelas dari bibirnya. Dan kemudian ia meraih tangan ibunya. "Lintang juga mohon ampun ya bu, jika selama ini tanpa sengaja Lintang sering melukai perasaan ibu. Mohon doakan Lintang ya bu, agar Lintang bisa melewati persalinan ini dengan lancar"


Ibu Ratih tak bisa lagi membendung air matanya. Tidak terasa gadis kecilnya dulu, saat ini tengah berjuang untuk melahirkan malaikat kecil dari dalam perutnya.


Ibu Ratih mengecup kening Lintang. "Ibu sudah maafkan semuanya ndhuk. Ibu percaya, kamu adalah anak ibu yang kuat, jadi kamu pasti bisa melewati ini semua dengan baik"


.


.


.


. bersambung


Hai-hai para pembaca tersayang. Terimakasih banyak sudah berkenan untuk mampir di novel pertamaku ini ya. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like, dan komentarnya yaa... terima kasih


Salam love, love, love💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2