
Jogjakarta....
Rembulan nampak membulat sempurna. Cahayanya yang begitu terang, di sertai awan tipis dan beberapa bintang yang mengelilinginya, bagai sebuah lukisan malam yang terbentuk begitu indah.
Suara burung hantu di atas pohon nangka yang terdengar begitu jelas di telinga, tak lantas membuat malam ini terasa mencekam malah justru membuatnya semakin syahdu.
Hanan tengah duduk di depan teras rumah Lintang. Seperti biasa, ditemani secangkir kopi dan pisang goreng, membuat Hanan begitu betah berlama-lama berada di rumah ini. Entah itu karena kopi juga pisang gorengnya, atau karena si pembuat kudapan di depannya itu.
Hanan menghembuskan nafas pelan. Malam ini ia terlihat begitu gugup. Telapak tangannya terasa begitu dingin. Dan sesekali ia terlihat mengusap wajahnya kasar.
Ia merogoh ke dalam saku celananya. Ia mengambil sesuatu yang ada di sakunya itu. Kotak kecil beludru warna merah, yang di dalamnya ada sebuah cincin.
Ya, malam ini Hanan berencana mengutarakan niatnya untuk memperistri Lintang. Setelah beberapa bulan ia menahan diri untuk tidak terburu-buru melamar Lintang, dengan maksud agar Lintang bisa sembuh dari kepahitan hidup yang sedang ia rasakan, akhirnya malam ini, Hanan memberanikan diri untuk melamarnya.
Hanan bersegera memasukkan kembali kotak cincin itu ke dalam saku celananya saat mendengar langkah kaki seseorang keluar dari dalam rumah.
"Mas?, kopinya mau nambah?", tanya Lintang tiba-tiba saat melihat kopi di cangkir Hanan tandas tanpa bekas.
Hanan pun tersenyum kikuk. Entah mengapa kopi buatan Lintang selalu saja seperti candu untuknya. "Hehe, tidak usah dek. Bisa tidak tidur semalaman aku kalau kebanyakan kopi".
Lintang tersenyum sembari mendudukkan badannya di kursi yang ada di sebelah Hanan.
"Mas?!"
"Dek?!"
Panggil mereka secara bersamaan. Hanan dan Lintang pun saling memandang kemudian sama-sama terkekeh.
"Kamu dulu saja dek", ucap Hanan mempersilakan.
Lintang tersenyum kecil. "Tidak mas Hanan dulu?".
Hanan terkekeh. "Ladies first, gimana, adakah sesuatu yang ingin kamu sampaikan dek?", sambung Hanan.
Lintang menghela nafas dalam. Sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang mengusik hatinya sejak Hanan dekat dengan Nana, dan ia merasa jika saat ini adalah waktu yang tepat untuk menanyakannya.
"Uummmm mas Hanan tidak berencana untuk segera menikah?", akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari bibir Lintang.
"Maksud adek?", tanya Hanan balik seolah tidak paham apa yang dikatakan oleh Lintang.
Lintang tersenyum tipis. "Beberapa bulan terakhir ini waktu yang mas Hanan miliki selalu mas habiskan bersama Nana, apa mas tidak berniat untuk mulai mencari pendamping hidup? ".
Hanan terkekeh kecil. "Jadi adek keberatan jika aku terlalu banyak menghabiskan waktu bersama Nana?".
__ADS_1
Lintang terperangah, karena bukan itu yang ia maksud. "B-bukan seperti itu maksudnya mas".
"Lalu?"
Lintang menghela nafas dalam. "Aku takut jika mas Hanan lebih sering menghabiskan waktu dengan Nana, mas jadi lupa untuk mencari pendamping hidup".
Hanan tersenyum penuh arti. "Aku tidak akan pernah lupa akan hal itu dek".
"Syukurlah kalau begitu mas. Apakah seseorang itu sudah ada?", tanya Lintang penasaran.
"Kalau belum ada, apakah kamu ingin mendaftar menjadi salah satu kandidatnya dek?", tanya Hanan menggoda.
Wajah Lintang seketika memerah. "B-bukan begitu mas, aku________".
"Aku tahu maksud dari ucapanmu itu dek. Kamu pasti ingin bertanya kapan aku akan menikah kan?", sahut Hanan memotong ucapan Lintang.
"Ya seperti itulah maksudku mas".
Hanan berdiri dari duduknya. Kemudian Ia sandarkan tubuhnya di tiang penyangga yang ada di teras rumah Lintang. "Aku sedang menunggu seseorang. Aku tidak tahu apakah orang itu akan menerimaku atau tidak jika aku melamarnya".
"Bagaimana mas bisa tahu jawabannya jika mas tidak pernah mengungkapkannya?", jawab Lintang sekenanya.
Hanan menatap lekat netra Lintang itu. "Benar juga ya".
Hanan kemudian melangkahkan kakinya ke arah Lintang. Ia rendahkan tubuhnya dan ia gunakan kedua lututnya untuk bertumpu tentunya dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Ia kembali menatap lekat netra Lintang. Lintang pun terpana melihat bola mata Hanan yang begitu indah itu. Ia pun kemudian menundukkan pandangannya.
Lintang terperangah. Ia mendongakkan pandangannya. "M-maksud mas?".
"Maukah kamu menikah denganku?".
Lintang tersenyum kecil. "Mas Hanan kalau bercanda keterlaluan deh!", ucap Lintang sembari terkekeh berusaha menutupi kegugupannya. Saat Hanan mengungkapkan hal itu, jantungnya terasa berdetak lebih cepat.
Hanan mengernyitkan dahi. "Apakah wajahku ini mengisyaratkan sebuah candaan?".
Lintang memberanikan diri kembali menatap mata Hanan, ya di matanya nampak jelas jika Hanan serius dengan ucapannya.
Hanan kembali menyunggingkan senyumnya. "Aku mencintaimu. Maukah kamu menikah denganku?, menua bersamaku?, bersama-sama membesarkan anak-anak kita?, dan saling bergandengan meraih jannah-Nya?"
Deg.. deg.. deg...!!!
Lagi, jantung Lintang berdetak tak karuan. Jika posisi Hanan lebih dekat dengannya, mungkin saat ini Hanan dapat mendengarkannya.
"A--ku?"
__ADS_1
"Iya kamu!"
Tiba-tiba mata Lintang memerah, jantung yang sebelumnya berdetak kencang kini menjadi rasa sesak yang begitu menghimpit dadanya.
Menikah. Satu kata yang membuat memory otaknya kembali mengulang peristiwa beberapa bulan yang lalu. Salah satu perjalanan hidup yang ia impikan akan dipenuhi dengan kebahagiaan di dalamnya justru malah sebaliknya. Luka, kecewa, dan air mata yang justru menjadi akhir dari semuanya.
Tak bisa dipungkiri, melihat Nana begitu dekat dengan Hanan, membuat Lintang sedikit menggantungkan harapannya kepada Hanan. Seharusnya saat ini, saat Hanan mengutarakan niatnya untuk menjadikannya istri, ia jawab dengan sebuah anggukan kepala. Namun kenyataannya setiap mendengar kata menikah, jantungnya terasa berdenyut tak terkendali. Ada sepercik rasa sakit yang ia rasakan. Ya, Lintang trauma dengan kata menikah.
"Mas... aku...", ucap Lintang seolah tercekat di tenggorokannya.
Hanan tersenyum. Ia tahu pasti apa yang sedang dirasakan oleh Lintang.
"A-apakah kamu hanya merasa kasihan melihat keadaanku saat ini, mas?", sambung Lintang pula.
"Tidak, aku tahu jika kamu adalah wanita yang kuat, jadi aku rasa, aku tidak perlu mengasihanimu".
Lintang mengernyitkan dahi. Dan Hanan pun memindai ekspresi wajah Lintang. "Aku mencintaimu sejak kita duduk di bangku SMA dulu. Bahkan hingga saat ini, aku masih belum bisa membuka hati untuk wanita lain".
"T-tapi saat itu aku yang meninggalkanmu mas. Aku tidak memilihmu".
Hanan tersenyum simpul. "Iya, kamu memang tidak memilihku. Namun aku bisa apa, jika sampai saat inipun Allah masih memilihkan namamu untuk menjadi wanita yang aku cinta?" Hanan kembali membuang nafas kasar. "Aku selalu meyakini jika suatu saat nanti aku akan kembali dipertemukan denganmu di waktu yang lebih baik".
Mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Hanan, membuat tubuh Lintang bergetar hebat. Ia tidak menyangka jika ada seorang laki-laki yang mencintai nya dengan luar biasa seperti ini. Tiba-tiba air matanya menetes.
"Saat ini akulah yang tidak pantas untuk bersanding denganmu mas".
"Alasan apa yang membuatmu mengatakan hal itu dek?"
"Statusku", jawab Lintang lirih.
Hanan kembali berdiri dan duduk di kursi yang sebelumnya ia duduki. "Aku sama sekali tidak mempermasalahkan status_______"
"Tapi kamu pantas mendapatkan yang jauh lebih sempurna dari aku mas. Dan pastinya yang tidak memiliki beban masa lalu seperti aku ini", pangkas Lintang.
Hanan tersenyum simpul. "Tapi di mataku, kamu tetaplah Lintang-ku yang dari dulu aku cintai hingga saat ini dan itu tidak akan pernah berubah". Hanan menatap lekat kedua bola mata Lintang. "Tidak perlu terburu-buru untuk memutuskan, aku akan tetap menunggu hingga kamu siap".
.
.
.bersambung...
Terima gak nih lamaran dari Hanan??, hihihii.. tunggu episode selanjutnya yaahh kak.. 😘😘
__ADS_1
Terima kasih banyak untuk semua yang sudah setia menunggu kelanjutan novel titik balik ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya yaahh.. jangan lupa vote, vote, vote, biar author lebih semangat lagi dalam menulis.. happy Reading kakak..
Salam love, love, love💗💗💗