
Matahari tengah naik dari peraduannya. Awan tipis yang membentuk jaring- jaring kapas seakan menahan teriknya untuk sampai ke bumi namun nyatanya masih saja terasa panas saat menyentuh kulit.
"Mbak Lin, tadi pagi Agum ngasih ibu uang, emang udah gajian?", tanya ibu Ranti setelah beristirahat dari latihan jalannya.
"Oh itu bukan gaji bu, tapi dikasih orang", jawab Lintang
"Habis nolong orang ya mbak?", tanya ibu Ranti pula
"Iya bu, Lintang juga heran kok orang itu ngasih banyak banget ya?", ucap Lintang
"Ya seperti itulah mbak, anggap saja rezeki", kata bu Ranti
"Kalau seperti itu terus, mas Agum bisa cepat kaya bu, hihhihihihii" sambung Lintang sambil terkekeh. Ibu Ranti pun ikut tertawa.
Drrrrtttt drrrttt
Suara handphone Lintang berbunyi
Percakapan via handphone**
"Assalamu'alaikum mas", sapa Lintang
"Waalaikumussalam sayang. Lagi apa sayang, udah makan?, tanya Agum
"Sudah mas, mas Agum sudah makan siang?"
"Sayang, hari ini masak kan?, kalau mas makan siang di rumah bisa?, ini sekalian ngantar paket di dekat rumah",
"Oh iya mas, Lintang bikin soto babat nih, udah mateng juga kok"
"Oke sayang, inshaallah lima belas menit lagi mas sampai, Assalamu'alaikum"
Wa'alaikumsalam
Tuuttttt....
Sambungan terputus
***********************
"Sayang, kenalin ini pak Yono. Pak Yono ini partner kerja mas di kantor", ucap Agum memperkenalkan pak Yono ke istrinya
"Lintang pak", jawab Lintang sambil menjabat tangan pak Yono
"Mari mas, pak, kita ke ruang makan. Mumpung masih panas makanannya", sambung Lintang mempersilahkan
Mereka bertiga pun menuju ruang makan. Di sana telah tersaji soto babat lengkap dengan sambal bawang, kecap manis juga jeruk nipis.
Lintang mengambilkan nasi untuk Agum dan pak Yono, kemudian mereka meracik soto babatnya sendiri.
"Waaah ternyata istrimu pinter masak juga ya Gum, sotonya mantep banget", ucap pak Yono memuji maskan Lintang. Yang dipuji merasa besar kepala😂
"Gak salah pilih istri kan pak aku?", tanya Agum bangga sambil melirik ke arah istrinya.
__ADS_1
"Sumpah ini enak banget Gum, aku kalau nambah boleh kan? Haahahaaha", ucap pak Yono sambil terbahak
"Silakan pak, atau mau dibawa pulang juga boleh, hihihihihi", jawab Lintang sambil tertawa.
Agum dan pak Yono pun kembali fokus menyantap makan siangnya. Lintang berbinar melihat dua orang dihadapannya begitu antusias menikmati masakannya. Lintang merasa ilmu memasak dari mertuanya sudah menurun kepadanya.
"Kenyang nyaa!!!!", ucap Agum sambil mengelus perutnya.
"Mas, hari ini adek boleh ke tempat ibu?", tanya Lintang
"Boleh sayang, hati-hati ya", jawab Agum. Lintang mengangguk.
Tak lama kemudian Agum juga pak Yono pun berpamitan. Melanjutkan pekerjaan mereka mengantar paket dari satu tempat ke tempat yang lain. Tak lupa Lintang membawakan satu rantang soto babat untuk pak Yono.
"Istrimu itu sempurna Gum, udah cantik, pinter masak, baik lagi sama orang", ucap pak Yono sambil melihat rantang yang dibawakan oleh Lintang di tengah perjalanan mereka.
"Yah seperti itulah Lintang pak", jawab Agum singkat
"Semoga kalian langgeng ya Gum", doa pak Yono
"Aamiin pak", jawab Agum
*******************
Lintang memacu motor matic nya menuju rumah ibunya. Sepuluh menit di perjalanan, akhirnya ia pun sampai di kediaman ibunya.
"Lintang?" ucap ibu Ratih sedikit terkejut
"Tumben siang- siang gini kamu ke sini ndhuk?", tanya ibu Ratih
"Gak apa-apa bu, Lintang cuma pengen ke sini aja, sambil cari udara segar, hehe", jawabnya
"Ya sudah, ayo masuk dulu", perintah ibu Ratih. Mereka pun masuk ke dalam rumah.
Lintang merebahkan tubuhnya di atas sofa. Ia merasakan kembali suasana rumah yang sudah beberapa minggu ini sudah tidak ia rasakan karena terpisah dari ibu juga adiknya.
"Friska belum pulang bu?", tanya Lintang masih dengan posisi rebahan.
"Belum Lin, mungkin sebentar lagi", jawab ibu Ratih sembari membawa keripik juga segelas jus jambu.
Tak selang lama, terlihat sesosok anak kecil masuk ke ruang tamu dengan seragam merah putihnya dengan rambut dikucir kuda.
"Mbak Lintang!!", teriak Friska
Lintang tersenyum "Udah pulang dek?"
"Udah mbak. Mbak Lintang bawa apa, hehehe", tanya Friska sambil menghampiri kakaknya.
"Mbak gak bawa apa-apa dek. Kamu siap-siap aja, kita ke minimarket di depan jalan sana, kamu boleh ambil jajan apa aja", jawab Lintang
"Horeee!!", teriak gadis berusia sembilan tahun itu.
Friska bergegas mengganti seragamnya. Kemudian berlari menyusul kakaknya di ruang tamu
__ADS_1
"Ayo mbak, aku udah siap nih", ajak Friska tak sabar.
"Let's go!" seru Lintang pula
******************
Tiba di minimarket Friska langsung berlari menuju rak- rak yang terdapat berbagai jenis snack. Mulai dari cokelat batangan, keripik kentang, keripik singkong, permen coklat, dan segala macam jenis makanan yang pastinya digemari oleh anak seumuran Friska.
Tak lupa Lintang mengambil telor, mie instan, minyak goreng, terigu, gula pasir untuk persediaan di kontrakan juga untuk ibunya di rumah.
Lintang begitu bahagia melihat adiknya kegirangan ketika mengambil jajanan yang ia suka. Tak lupa ia bersyukur karena dengan menjadi istri Agum, ia bisa membahagiakan ibu juga adiknya pula.
"Kamu mau es krim dek?", tanya Lintang
"Mau mbak, mau!", jawab Friska antusias
"Ambil gih, terus bawa sini biar mbak bayar sekalian", ucap Lintang sambil membawa belanjaannya di depan kasir
Lintang menyelesaikan pembayarannya. Kemudian ia juga Friska meninggalkan minimarket itu.
"Mbak Lintang kok punya banyak uang, mas Agum itu orang kaya ya mbak?", tanya Fiska polos di tengah perjalanan
Lintang terkekeh "Enggak dek, mas Agum orang biasa aja kog"
"Tapi kok mbak Lintang bisa belanja banyak gini?", tanya Friska penasaran
"Udah gak usah banyak tanya dek, yang penting sekarang kamu sekolah yang pinter biar besok bisa punya banyak uang", jawab Lintang. Friska pun mengangguk.
*********************
"Ya Allah, kalian beli apa aja ini, banyak banget?" ucap ibu Ratih melihat belanjaan yang di bawa kedua anaknya.
"Itu jajanannya Friska bu", jawab Lintang
Ibu Ratih hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Friska pun masuk ke dalam kamarnya untuk tidur siang.
"Lin, emang Agum itu jadi dukun ya?", tanya ibu Ratih di sela- sela Lintang memilah- milah belanjaannya. Lintang terkejut
"Ibu dapat berita itu dari mana?", tanya Lintang penasaran
"Banyak orang bilang, Agum itu sering dimintain tolong orang- orang yang berhubungan dengan hal- hal ghaib gitu", ucap ibu Ratih
Lintang menarik nafas dalam. Sungguh dalam hatinya yang paling dalam ia juga tidak merasa nyaman jika suaminya disebut seorang dukun.
"Bu, tidak semua orang yang bisa tahu dengan hal- hal ghaib itu di sebut dukun. Mas Agum memang sering dimintain tolong sama orang tapi Lintang jamin yang dilakukan tidak melenceng dari syariat agama bu", jawab Lintang menjelaskan
"Syukurlah kalau begitu Lin, karena di sini banyak yang nganggap Agum itu dukun", ucap ibu Ratih lega
"Lintang percaya mas Agum tidak menggunakan sesuatu dalam melakukan itu bu, maksud Lintang ia tidak menggunakan semacam sesajen gitu", sambung Lintang pula meyakinkan ibunya.
Ibu Ratih pun mengangguk tanda mengerti. Ia lega mendengar langsung penjelasan dari anaknya. Ia tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain, karena mereka berhak dengan pemikiran mereka sendiri.
******************
__ADS_1