Titik Balik

Titik Balik
TUJUH PULUH LIMA


__ADS_3

Lintang menyenderkan kepala di head board ranjangnya. Dan Agum terlihat masih melingkarkan lengannya di tubuh Lintang dan kepalanya berada di atas dada Lintang. Lintang hanya tersenyum lebar melihat mimik wajah suaminya itu. Mimik wajah yang mungkin menggambarkan sebuah kekecewaan karena malam ini masih saja tidak bisa menuntaskan hasrat yang terpendam.


"Sayang?", panggil Agum lirih.


"Ya mas"


"Harus berapa lama lagi aku menunggu tamu bulananmu itu pergi?"


Lintang terkekeh kecil. "Maksimal satu minggu mas"


Agum menghembuskan nafas kasar. "Selama itukah?"


Lintang menatap teduh wajah Agum. "Sabar mas, cuma satu minggu kan?"


Agum mengangguk lemas. "T-tapi aku sudah tidak bisa menahannya sayang"


Lintang mengecup kening Agum. "Sabar ya mas. Dah, tidur yuk mas, aku ngantuk banget ini"


Lintang membenahi posisinya hingga ia terbaring sempurna di atas ranjang. Agum masih saja melingkarkan lengannya dengan erat. Agum pun pasrah. Ia mencoba memejamkan matanya, menyelami alam mimpinya sembari menahan sebuah hasrat yang begitu menggebu terasa.


"Selamat tidur mas"


Agum menyunggingkan senyumnya. "Selamat tidur juga istriku"


****


Lintang terlihat sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk Agum juga Nana. Nana sudah duduk manis di depan meja makan sembari menunggu Agum yang baru mandi.


"Bunda, jadi ke pantai kan?", ucap Nana.


Lintang mendekatkan wajahnya ke Nana. "Jadi sayang, tapi tunggu ayah libur dulu ya. Ayah kan harus kerja"


"Ayah kapan libur bunda?",


Lintang hanya tersenyum sambil mengusap rambut Nana. Tak lama setelah itu Agum pun menghampiri mereka dan duduk di sebelah Nana.


"Tiga hari lagi ayah libur sayang, sabar ya", sambung Agum tiba-tiba.


Wajah Nana terlihat berbinar. "Beneran yah?"


Agum mengangguk. "Horee!!", timpal Nana seketika.


Agum dan Lintang pun hanya menggelengkan kepala melihat keceriaan putri mereka itu.


"Mas?", panggil Lintang.


"Ya sayang?",


" Aku minta izin mau nganter pesanan catering mas" ucap Lintang.


Agum meneguk air putih yang ada di depannya. "Ya silakan sayang, kok pakai minta izin, kan memang biasanya kamu nganter"

__ADS_1


"Tapi aku nganternya malam mas", ucap Lintang.


"Naik grab sayang?"


Arum terlihat berpikir. "Kalau naik motor gimana mas?, cuma sepuluh box sih"


Agum menatap wajah Lintang. "Gak kerepotan sayang?". Lintang menggeleng.


"Ya sudah kalau gitu. Hati-hati ya sayang", ucap Agum. Lintang pun mengangguk.


Pandangan Agum tertuju kepada Nana yang sedang asyik menyantap telur mata sapinya.


"Makannya sudah selesai sayang?"


Nana mengangguk. "Sudah ayah"


"Kalau begitu ayah berangkat kerja dulu ya nak", ucap Agum.


"Iya ayah".


"Sayang, aku berangkat dulu ya", ucap Agum kepada Lintang sembari beranjak dari duduknya.


Agum menghampiri Lintang yang masih duduk di kursi makannya kemudian mencium pucuk kepalanya. "Hati-hati ya mas", jawab Lintang sambil tersenyum.


******


Tok... tok.. tok...


"Silakan masuk"


Agum terperanjat melihat yang datang adalah pak Ibra. Seketika ia pun berdiri dan memberi salam hormat kepada atasannya itu.


"Selamat siang pak?"


Pak Ibra tersenyum kemudian duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Agum.


"Mas, apakah selama ini sampeyan ada hubungan dengan anak pak Sugeng yang ada di depan masjid?"


Agum terkejut. Anak pak Sugeng?, bukankah anak pak Sugeng itu Reni?


"M-maksud bapak gimana ya pak?"


Pak Ibra menghembuskan nafas kasar. "Saya dengar berita yang tersebar akhir-akhir ini kalau mas Agum punya hubungan khusus dengan anak pak Sugeng"


Badan Agum tiba-tiba gemetar. Hubungannya dengan Reni yang saat ini telah berakhir dan yang coba ia sembunyikan, justru malah kembali muncul ke permukaan.


"S-saya____", ucap Agum tergagap.


"Mas, saya tidak pernah mau tau tentang kehidupan pribadi karyawan saya. Tapi jika sampai masalah pribadi karyawan saya itu menjatuhkan reputasi perusahaan saya, maka saya juga tidak akan segan untuk melakukan sebuah tindakan"


Agum begidik ngeri mendengar ucapan pak Ibra. Mungkinkah hubungan gelap yang pernah ia jalin bersama Reni akan segera terbongkar di depan umum?, mengingat selama ini yang mengetahui hubungannya dengan Reni hanyalah Lintang seorang.

__ADS_1


Pak Ibra menatap lekat mata Agum. "Untuk saat ini saya belum bisa bertindak apa-apa karena saya tidak memegang bukti-buktinya mas. Jadi jika memang ada masalah antara sampeyan dengan anak pak Sugeng itu, tolong segera di selesaikan"


Agum hanya mengangguk pelan. Pak Ibra beranjak dari duduknya kemudian melangkah meninggalkan ruang kerja Agum.


Agum menyandarkan kembali punggungnya di kursi kerjanya. Ia mengacak rambut dan mengusap wajahnya kasar. Dan mencoba menarik nafas dalam kemudian ia hembuskan pelan.


"Apa yang harus aku selesaikan?, bukankah sudah sejak lama hubunganku dengan Reni berakhir dan aku pun sudah tidak pernah bertemu dengannya lagi?, tapi kenapa justru saat ini kabar itu baru terdengar?", ucapnya lirih.


******


Agum memarkirkan mobil box nya di depan kedai kopi yang ada di pinggiran kota. Sebelumnya ia membuat janji untuk bertemu dengan Reni. Dan di kedai inilah tempat mereka janji untuk bertemu.


Agum melihat Reni duduk di pojok kedai itu. Penampilannya masih sama. Ia mengenakan rok jeans di atas lutut dengan t-shirt yang begitu ketat sehingga memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya. Di depannya sudah ada secangkir Mocca latte dan satu piring french fries.


"Hai mas, apa kabar?", ucap Reni sembari berdiri dan bermaksud memeluk Agum.


Seketika Agum menghindar kemudian duduk di kursi yang ada di hadapan Reni. Reni pun hanya tersenyum sinis.


"Ada yang perlu aku bicarakan Ren", ucap Agum to the point.


Reni melirik Agum sambil menyeruput mocca latte nya. "Apa itu mas?, kamu kangen sama aku? Kamu mau kita kembali seperti dulu?"


Agum menggeleng. "Tidak, aku tidak akan melakukan hal itu lagi"


Reni mencibir. "Lihatlah, apa yang sudah dilakukan istrimu sampai kamu seolah lupa dengan semua yang pernah terjadi diantara kita"


Agum menarik nafas dalam. "Bagaimana orang-orang sekitar kantor bisa tahu tentang hubungan kita dulu?"


Reni mengendikkan bahunya. "Aku tidak tahu. Tapi bukankah itu lebih bagus. Karena dengan begitu, kita bisa mewujudkan apa yang menjadi mimpi kita yaitu bisa hidup bersama?


"Cukup Ren, itu sebuah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan. Dan aku tidak akan lagi mengulanginya" timpal Agum.


Reni kembali tersenyum sinis. "Tidak semudah itu mas. Aku tidak akan pernah membiarkanmu melepaskan aku, karena aku yakin jika kamu adalah milikku"


Agum mengacak rambutnya kasar. "Hentikan ini semua Ren!!, aku sudah bahagia hidup bersama keluargaku dan hanya kepada mereka lah aku ingin kembali"


"Kita lihat saja siapa yang akan menjadi pemenang, aku ataukah istrimu itu!!"


Agum beranjak. "Aku mohon hentikan ini semua Ren!!, pangkas Agum. Kemudian ia pun pergi meninggalkan Reni.


Reni hanya memandang punggung Agum dengan tatapan nanar. Ia menyunggingkan senyum tipisnya.


Kamu lihat saja mas. Aku akan mendapatkan apa yang memang menjadi milikku. Dan kau Lintang, sebentar lagi aku akan menghempaskan mu hingga ke dasar bumi.


.


.


. bersambung


Hai-hai para pembaca tersayang. Terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya ya... dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik vote.. hehe happy Reading kakak.... terima kasih

__ADS_1


Salam love, love, love💗💗💗


__ADS_2