
"Aku__________"
"Tunggu!!", ucap Lintang memotong kata-kata Reni.
Lintang mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Ia merasa tidak nyaman jika harus berbicara dengan Reni dengan posisi berdiri seperti ini.
"Ada baiknya kita tidak mengobrol di sini", ucap Lintang
Reni mengangguk. Akhirnya Lintang dan Reni pun melangkahkan kaki menuju warung kupat tahu yang ada di samping pintu masuk pasar.
Lintang memesan dua teh hangat, tentunya untuk dirinya sendiri dan juga Reni. Tak lama kemudian si empunya warung meletakkan dua teh hangat di hadapan mereka.
Lintang memindai wajah Reni. "Jadi, apa yang ingin kamu katakan?"
Reni menatap lekat wajah Lintang. "Jadi ini yang membuat mas Agum kembali kepadamu?"
Lintang memutar bola matanya. "Maksud kamu?"
Reni tersenyum sinis. "Aku lihat, sekarang penampilanmu jauh berbeda. Apakah kamu ingin bersaing denganku?"
Lintang tersenyum sinis. "Aku tidak pernah merasa tersaingi. Antara kamu dengan aku tanpa bersaing pun, akulah yang jadi juaranya"
Reni menyunggingkan senyumnya dengan sinis pula. "Kau terlalu percaya diri"
Lintang menghembuskan nafas kasar. "Itu semua sudah jelas. Akulah yang menjadi istri sah mas Agum, sedangkan kamu?, kamu hanyalah seorang wanita yang tidak punya kerjaan selain mengganggu rumah tangga orang lain"
Reni mencibir. "Apakah kamu benar-benar tidak mau menyerah?, dan melepaskan mas Agum untukku?"
Lintang tersenyum getir. "Aku tidak akan menyerah karena Tuhan memang belum menyuruhku untuk berhenti"
Reni memindai ekspresi wajah Lintang. Ia pun hanya tersenyum sinis.
Ternyata wanita ini belum menyerah juga. Kita lihat, nanti siapa yang akan menerima kekalahan itu. Aku ataukah kamu?
"Apakah hanya ini yang ingin kamu bicarakan?", tanya Lintang tiba-tiba membuyarkan lamunan Reni.
"Ya, sebenarnya aku hanya ingin memastikan jika kamu sudah menyerah dan melepaskan mas Agum untukku. Tapi ternyata kamu masih begitu terlalu percaya diri dengan upayamu untuk mempertahankan mas Agum", jawab Reni.
Lintang tersenyum sinis. "Ya, aku memang percaya diri. Karena ikatan pernikahan jauh lebih suci daripada sebuah ikatan perselingkuhan. Dan tugasku untuk tetap menjaga kesucian itu belum selesai sampai di sini, meski kalian pernah menodainya"
Reni mencibir. "Lakukan saja apa yang kau yakini. Tapi bisa aku pastikan, suatu hari nanti mas Agum akan aku miliki"
*****
"Assalamualaikum", Lintang mengucap salam ketika tiba di teras rumahnya.
"Wa'alaikumsalam", jawab seseorang yang sedang berada di ruang tamu.
Lintang mengedarkan pandangannya ke ruang tamu itu. Ia pun tiba-tiba terkejut..
"M-mas Danang?!!" , ucap Lintang masih tidak percaya jika Danang ada di rumahnya.
Danang tersenyum. "Apa kabar adikku?"
Lintang menghampiri Danang kemudian menjabat tangan Danang.
__ADS_1
"Aku baik mas. Mas Danang kapan nyampai Jogja, kok bisa langsung tau kalau Lintang ada di rumah ibu?", ucap Lintang.
Danang tersenyum. "Baru saja aku sampai Jogja Lin, dan tadi Agum juga ngasih kabar kalau kamu ada di rumah ibu, jadi aku langsung kemari"
Lintang mengangguk. Danang memindai ekspresi wajah Lintang. "Apa saja yang terjadi selama hampir empat tahun aku tidak menginjakkan kaki di Jogja Lin?"
Lintang tersenyum. "Banyak mas, mungkin jika aku ceritakan bisa jadi satu novel"
Danang terkekeh. "Tidakkah kau ingin membuat sebuah novel agar banyak orang yang tahu kisah hidupmu?"
Lintang terbahak. "Hhaaaha mas Danang nih bisa saja".
"Bunda, sudah pulang dari pasar?", ucap Nana sambil berlari kecil menghampiri Lintang.
Lintang mensejajarkan tinggi badannya dengan tinggi Nana. "Sudah sayang. Nana sudah salim sama om Danang?"
Nana mengangguk. "Sudah bunda, om Danang tadi juga ngasih Nana permen, katanya oleh-oleh dari Surabaya"
"Lalu bilang apa sama om Danang?", tanya Lintang.
"Terima kasih om"
Danang pun tersenyum sambil mengacak rambut Nana. "Sama-sama sayang"
Tak lama kemudian munculah ibu Ratih dari arah ruang tengah. "Mas Danang, ayo sarapan dulu. Itu sudah ibu siapkan di meja makan"
Danang tersenyum kikuk. "Terima kasih bu, maaf Danang jadi merepotkan"
Ibu Ratih tersenyum. "Tidak mas, ayo sarapan dulu"
****
membelah kesunyian awal senja ini. Selesai menyiram tanaman yang ada di halaman rumahnya Lintang memilih untuk duduk di depan teras rumah sembari menikmati suasana sore hari ini.
"Lin?", panggil Danang.
"Ya mas?", jawab Lintang.
Danang menarik nafas dalam. "Aku tahu apa yang tengah terjadi di dalam rumah tanggamu dengan Agum. Apakah kamu masih bertahan untuk tetap berada di sisi Agum?"
Lintang mengernyitkan keningnya. "Apa menurut mas, aku lebih baik menyerah saja?"
Danang menggeleng. "Bukan begitu maksudku". Danang kembali menghembuskan nafas kasar. "Sering aku temui ketika seorang istri mengetahui suaminya bermain di belakang, mereka langsung mengajukan sebuah gugatan perceraian________"
"Aku masih bisa untuk melewati ini semua mas", ucap Lintang memangkas perkataan Danang. Lintang menarik nafas dalam. "Lagipula dulu Lintang juga pernah berjanji kepada ibu mertua kalau aku akan selalu mendampingi mas Agum"
Danang terperangah. "Aku tidak menyangka jika kamu setangguh ini Lin"
Lintang tersenyum. "Meski Reni masih mengusik kehidupanku, tapi aku masih belum ingin menyerah mas. Mas Agum sudah berupaya untuk memperbaiki semuanya jadi tidak adil juga jika aku tidak berusaha untuk menerima dan memaafkannya"
"Begitu beruntungnya Agum memiliki seorang istri seperti kamu Lin. Aku hanya bisa merutuki kebodohan Agum karena sempat melukaimu", ucap Danang.
Lintang menyunggingkan senyumnya. "Setidaknya aku juga berterima kasih kepada Reni mas"
Danang mengernyitkan keningnya. "Berterima kasih?, maksudnya?"
__ADS_1
Lintang terkekeh kecil. "Karena kehadiran Reni lah yang telah menempaku menjadi seorang wanita yang lebih kuat dan bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Saat Allah memberikan aku luka di satu titik, ternyata Allah juga memberiku keberkahan di titik yang lain"
Danang mengangguk. Ia paham dengan apa yang dikatakan oleh Lintang. Bahwa kesabarannya selama ini membuat ia berhasil dengan usaha yang dirintis olehnya.
Kamu benar-benar bodoh Gum..
*****
"Mas Danang besok ikut ke Pacitan sekalian saja ya", ucap Agum.
Saat ini Lintang, Agum dan Danang berada di ruang makan untuk menyantap makan malam. Sedangkan Ibu Ratih, Nana dan Friska sudah lebih dulu beristirahat di kamar.
"Apa aku tidak mengganggu acara kalian?", tanya Danang.
Lintang meneguk air putih yang ada di depannya. "Sama sekali tidak mas, kita justru seneng kalau bisa rame-rame piknik, jadi tambah seru"
Agum mengangguk. "Benar itu mas. Lagipula mumpung kita bisa liburan bareng kayak gini"
"Baiklah kalau begitu", jawab Danang.
Mereka pun kembali menikmati makan malam mereka. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring yang membuat ramainya di ruang makan itu. Tak lama setelahnya mereka selesai menyantap menu makan malam dan kembali ke kamar masing-masing.
Saat di kamar, Lintang terlihat tengah mengganti baju dengan daster tanpa lengan yang membuatnya lebih nyaman untuk tidur.
"Sayang?", ucap Agum di belakang tubuh Lintang.
"Ya mas?", jawabnya sambil mengoles night cream di wajahnya.
Agum memeluk tubuh Lintang dan meletakkan kepalanya di tengkuk Lintang. Agum menggigit kecil leher Lintang dan membuatnya merinding seketika.
"Tamu bulananmu belum pergi juga sayang?", tanya Agum dengan suara yang sedikit parau.
Lintang tersenyum tipis. "Belum mas, Inshaallah setelah pulang dari Pacitan aku udah suci lagi"
Agum menghembuskan nafas kasar. "Padahal di sana aku pengen menghabiskan waktu dengan bermesraan denganmu sayang"
Lintang mencubit pipi suaminya itu dengan gemas. "Mana bisa kita bermesra-mesraan mas, siapa yang mau jagain Nana?"
Agum tersenyum kikuk. "Hehe bisa kita titipkan ke ibu sayang"
Lintang menggelengkan kepala kemudian mencium pipi Agum dengan lembut. "Udah sekarang tidur yuk mas. Besok kita akan melakukan perjalanan jauh loh"
Ia kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sedangkan Agum terlihat masih belum rela. "Sayang, tapi aku gimana?, aku udah pengen banget"
"Enggak mas, nunggu besok setelah pulang dari Pacitan", ucap Lintang sambil menutupi kepalanya dengan selimut.
"K-kamu jahat sayang!!!", timpal Agum sembari menjatuhkan bobot tubuhnya di samping tubuh Lintang. Lintang pun hanya cekikikan di bawah selimutnya. Ia mulai memejamkan mata dan berusaha memeluk mimpi....
.
.
. bersambung...
Ciieeee-cieeeeee yang kecewa karena ternyata Reni tidak ngasih tahu bahwa dia hamil... hihihihihi apa yang akan terjadi setelah ini ya??,, tunggu di episode selanjutnya ya... terima kasih banyak ya kak sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya yah.. dan bagi yang punya kelebihan poin, bolehlah kalau mau disumbangin ke author.. hihihhii happy Reading kakak.... terima kasih..
__ADS_1
Salam love, love, love💗💗💗