
Lintang tersenyum. "Aku tidak bisa menjanjikan apapun mas, yang terpenting saat ini aku masih ada di sini, mendekapmu erat dengan cinta dan bakti yang aku punya untukmu"
Agum menatap dengan teduh kedua bola mata Lintang. "Jika saat ini kamu tahu jika Hanan masih mencintaimu, apakah kamu akan meninggalkanku dan kembali kepadanya sayang?"
Lintang mengernyitkan keningnya tidak begitu paham dengan apa yang diucapkan oleh Agum. "Maksud mas?"
Agum menarik nafas dalam. Akhirnya pertanyaan yang mengusiknya mampu ia tanyakan kepada Lintang. Ia ingin tahu bagaimana respon Lintang jika mengetahui bahwa Hanan masih mencintainya.
"Hanan masih mencintaimu sayang. Dan akupun juga pernah membuatmu terluka. Apakah dalam hatimu tidak terbesit sebuah keinginan untuk meninggalkanku mengingat luka yang pernah aku tancapkan begitu dalam di hatimu dan kembali kepadanya?", ucap Agum.
Lintang menyunggingkan senyum di bibirnya. "Jadi menurut mas, aku akan membalas semua perlakuan yang sudah mas lakukan kepadaku dengan cara menerima kehadiran mas Hanan?"
Agum mengangguk pelan.
Lintang kembali tersenyum tipis. "Aku bukanlah seorang pendendam mas. Sudah pernah aku katakan jika aku tidak memiliki hak sedikitpun untuk membalas semua perlakuanmu".
"T-tapi Hanan masih mencintaimu sayang",
"Mengenai perasaan mas Hanan yang masih ada untukku, aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikannya mas. Tapi satu hal yang harus mas tahu, jika mas Hanan tidak akan pernah mencoba merebut apa yang memang bukan menjadi miliknya. Dan aku sendiri pun juga tidak akan melakukan hal serendah itu dengan menerima kehadirannya di saat aku masih sah menjadi istrimu, karena___________"
"Karena apa sayang?"
Lintang menghembuskan nafas pelan. "Karena aku tidak ingin kamu merasakan luka sama seperti apa yang pernah aku rasakan mas... bahwa terjebak dalam masa lalu itu hanya akan membawa kehancuran untuk diri kita masing-masing"
Agum kembali memeluk tubuh Lintang dengan erat. "Maafkan aku sayang, maafkan aku"
Lintang mengangguk sembari berusaha menahan sesak di dadanya. "Untuk saat ini aku masih bisa menanggung rasa sakit ini sendiri mas, aku hanya meminta semoga Allah senantiasa memberiku kekuatan untuk tetap berada di sisimu"
Agum semakin terisak dalam pelukan Lintang. "Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa memperbaiki semuanya sayang. Sungguh aku tidak mau kehilangan kamu"
Lintang mengusap punggung Agum. "Syukuri apa yang telah Allah berikan kepadamu mas. Apapun itu, meski terlihat begitu tidak sempurna di matamu, tapi percayalah, apa yang sudah Allah berikan pastilah yang terbaik untukmu"
"Aku memang bodoh sayang, aku memang bodoh. Karena kekufuranku, aku hampir saja kehilangan malaikat tak bersayap seperti dirimu", ucap Agum lirih.
Lintang merenggangkan pelukan Agum dan mengusap lembut pipi Agum. "Sudahlah mas, tidak perlu dibahas lagi. Sekarang tidur yuk. Aku lelah sekali hari ini. kamu tahu mas?, kakiku rasanya pegal semua, hampir satu kilometer aku dorong motor"
Agum gemas memandang wajah istrinya itu. "Berbaringlah sayang, biar aku pijitin"
"Eh, tapi?"
Agum mendorong tubuh Lintang sembari tersenyum tipis. "Ini benar-benar murni pijit kaki sayang. Tenang saja, aku tahu kok jika tamu bulananmu belum pergi, jadi aku tidak akan macam-macam"
Agum mulai memijit kaki Lintang, dan Lintang pun tersenyum lebar. "Terima kasih mas"
****
Semalam Lintang dan keluarga kecilnya memang tidur di tempat ibu Ratih dan pagi ini ia mulai mengacak-acak dapur ibunya. Ia terlihat tengah sibuk dengan telor mata sapi yang ada di teflon sembari membuat nasi goreng.
"Sayang?", panggil Agum tiba-tiba sembari memeluknya dari arah belakang.
__ADS_1
"Ya mas?", jawabnya masih dengan memegang sotil di tangannya.
"Besok kamu tidak ada pesanan catering kan?"
Lintang mencoba mengingat-ingat sesuatu. Ia pun menggeleng. "Tidak ada, memang kenapa mas?"
"Weekend ini kita liburan sekeluarga ya sayang"
Lintang mematikan kompor. Dan membalikkan badannya. "Liburan?, sekeluarga?".
Agum mengangguk. "Iya sayang, aku ingin memenuhi janjiku kepada Nana. Dan besok kita akan liburan ke Pacitan"
Lintang membelalakkan matanya. "Pacitan?, serius mas?"
"Iya sayang, besok ibu sama Friska diajak sekalian ya, biar ramai", jawab Agum.
"Naik?", tanya Lintang.
Agum tersenyum lebar. "Naik sepeda sayang, biar sehat, hahahaa"
Lintang mencubit pinggang Agum. "Iihhhh serius mas!"
Agum kembali memeluk tubuh Lintang. "Besok biar aku rental mobil sayang, jadi kita bisa pergi ramai-ramai".
Lintang pun mengangguk dengan muka yang berbinar.
"Ayah?!", panggil Nana tiba-tiba dari arah ruang tengah.
"Ayah ngapain peluk-peluk bunda?, ayah kan belum mandi, nanti bunda bisa bau tau?!", protes Nana.
Lintang dan Agum terkekeh mendengar celotehan Nana. Agum menghampiri Nana kemudian menggendongnya. "Siapa bilang ayah bau, buktinya bunda seneng tuh dipeluk ayah, ya kan bunda?"
Lintang hanya tersenyum kemudian memindah telor mata sapinya ke piring lauk.
Nana mengerucutkan bibir mungilnya. "Ayah jorok!"
Agum tersenyum simpul. "Besok kalau kita jalan-jalan, Nana mau ikut tidak?"
Nana membelalakkan matanya. "Jalan-jalan?, mau yah mau!!!"
"Kalau mau, cium dulu dong pipi ayah ini", ucap Agum sambil menunjuk pipinya.
Nana pun menurut kemudian mencium pipi Agum.
"Eh tapi, ayah pergi sama bunda aja deh, Nana di rumah aja ya", ucap Agum bercanda.
Wajah Nana seketika berubah. "Hiks.. hiks.. hikss... Bunda, Nana mau ikut jalan-jalan"
Lintang melirik ke arah Agum. "Mas!!"
__ADS_1
Agum pun terkekeh kemudian mencium pipi Nana. "Cup cup cup sayang, iya-iya, besok kita semua liburan ya?"
Wajah Nana kembali berbinar. "Benar ayah?".
Agum mengangguk.
"Horee!!!!!", teriak Nana kegirangan.
Lintang pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah suami juga anaknya itu. "Sayang mandi dulu yuk!", ucap Lintang.
"Iya bunda".
******
Lintang memberhentikan motor nya di salah satu pasar tradisional yang ada di dekat rumahnya. Kali ini ia membeli beberapa stok bulanan dan sedikit keperluan untuk bekal besok berangkat ke Pacitan.
Lintang menyusuri tiap-tiap lapak yang ada di pasar ini dengan suasana hati yang begitu bersemangat. Tak terasa sudah lama juga ia tidak menginjakkan kakinya di pasar.
Bugg!!!!
Tetiba tubuh Lintang menabrak seseorang saat ia tengah memasukkan barang belanjaannya. Matanya mengarah ke orang itu. Dan matanya pun terbelalak.
"Reni?!!", ucap Lintang lirih.
"Hai Lin, apa kabar?", jawab Reni.
Lintang mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia masih tidak percaya, dari sekian banyak pasar tradisional yang ada di Jogja, kenapa Reni bisa sampai di pasar yang begitu jauh dari tempat tinggalnya. Setelah tiga bulan lebih ia tidak bertemu dengan wanita ini, akhirnya takdir pun kembali mempertemukan mereka.
Lintang tersadar dari lamunannya. "Aku baik"
Reni tersenyum sinis. "Kamu ada waktu?"
Lintang menatapnya dengan tatapan sinis pula. "Ada apa memang?"
"Aku ingin bicara, ada sesuatu yang harus aku sampaikan", jawab Reni.
Lintang memutar kedua bola matanya. "Apa itu?"
"Aku_______________"
.
.
.
. bersambung....
Hai-hai para pembaca tersayang. Terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya yah... Dan bagi yang punya kelebihan poin, boleh lah kalau mau disumbangin ke author. Hehehe happy Reading kakak... terima kasih...
__ADS_1
Salam love, love, love💗💗💗