
Sebuah mobil box berjalan membelah jalanan kota Jogja yang nampak sedikit padat di jam-jam aktifitas kantor seperti ini. Ditemani seorang crew driver, Agum mulai menyusuri jalanan dari satu tempat ke tempat yang lain mengantarkan paket yang dikirimkan melalui layanan jasa ekspedisi tempat ia bekerja.
"Wah pengantin baru udah mulai kerja aja nih, apa gak kurang cuma cuti lima hari?", tanya pak Yono sambil bercanda
Agum cuma meringis "Jelas kurang lah pak, bagi pengantin baru cuti sebulan pun juga masih terasa kurang, pengennya meluk istri terus"
"Hahaha kamu ini, kalau cutimu sebulan, istrimu mau kamu kasih makan apa?, tanya pak Yono
"Makan cinta, hahahaha!", jawab Agum sambil terbahak. Yang disebelahnya cuma terkekeh kecil.
Pak Yono merupakan crew driver (kernet), yang menemani Agum mengantarkan paket. Usianya sudah memasuki kepala empat namun badannya yang kekar membuatnya masih kuat untuk bekerja angkat-angkat beban berat.
Sebuah hal yang lumrah, mobil box yang ia bawa selalu dipenuhi barang-barang kiriman yang memiliki berat bervariasi, mulai dari berat yang ringan hingga yang paling berat. Selain itu ada pula dokumen-dokumen penting dari instansi- instansi penting yang ia bawa yang dikirim via ekspedisi . Oleh karenanya fisik yang kuat sangat dibutuhkan untuk profesi seperti Agum juga pak Yono ini.
"Honeymoon, kemana aja kemarin Gum?", tanya pak Yono
"Enggak ke mana-mana pak, Lintang gak mau diajak ke mana-mana", jawabnya
Pak Yono mengernyitkan dahinya "Padahal biasanya perempuan itu seneng lho diajak ke mana- mana, mask iya istrimu gak mau?"
Agum mengangkat bahunya "Entah, apa mungkin dia masih malu ya, atau merasa masih belum perlu ke mana- mana?"
"Tapi kalau diajak di atas kasur dia mau banget kok pak, hahahaha", sambungnya sambil tertawa terbahak
Pak Yono ikut terbahak-bahak. Meski antara Agum dan pak Yono memiliki selisih umur sepuluh tahun lebih, namun komunikasi mereka terdengar seperti teman sepermainan. Dan membuat Agum merasa nyaman kerja bareng partner nya itu.
Kumandang adzan dzuhur mulai terdengar melalui pengeras suara masjid. Agum memberhentikan mobil box nya di pelataran salah satu masjid di pinggiran kota Jogja. Sebelum turun dari mobil, Agum mengambil handphone di saku celananya kemudian menghubungi sebuah nomer yang ada di phonebook.
Percakapan via handphone
"Assalamualaikum , lagi apa dek?"
"Waalaikumussalam mas, adek lagi diajari masak mangut lele sama ibu nih", suara di sebrang
"Oya?, masak mangut lele?, wah siang ini mas jadi pengen makan di rumah"
"Mampir ke rumah buat makan siang bisa mas?"
"Kalau ada paketan yang dikirim ke dekat rumah, mas pasti mampir sayang, tapi hari ini gak ada"
"Ohhhh gitu ya?",
"Ya sudah nanti pas pulang kantor mas langsung makan masakan kamu sayang. Ini mas mau sholat dzuhur dulu"
"Baik mas, hati-hati ya mas"
"Iya sayang, kamu juga baik-baik ya di rumah, assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikumussalam"
Tuuutttt... panggilan terputus
Agum mengambil sarung juga kopiah yang ia letakkan di dalam dashboard, kemudian bergegas ke tempat wudhu kemudian masuk ke dalam masjid untuk menunaikan sholat dzuhur.
**********************
Semerbak aroma masakan mangut lele, tercium di dapur kontrakan Lintang. Dibantu Mimin dan atas arahan dari ibu mertua, akhirnya Lintang bisa menyajikan menu spesial itu.
"Agum siang ini makan di rumah mbak?, tanya ibu Ranti
"Tidak bu, mas Agum tidak ada pengantaran di dekat sini, jadi tidak bisa makan siang di rumah", jawab Lintang sambil membasuh tangannya di wastafel. Sedangkan ibu mertuanya hanya menganggukkan kepala
"Ibu makan dulu ya, setelah itu minum obat", smbung Lintang
Lintang bermaksud mengambilkan nasi untuk ibu mertuanya. Ia mengambil piring dari rak juga sendoknya.
"Biar Mimin saja mbak, yang ngambilin makan untuk ibu", ucap ibu Ranti melihat Lintang tengah menuangkan nasi di atas piring ibu Ranti
"Ndak apa-apa bu, Lintang kan juga anak ibu, jadi tidak masalah kan kalau Lintang yang mengambilkan makan", jawabnya
"Kamu gak makan sekalian mbak?, tanya ibu Ranti
Lintang tersenyum "Hari ini Lintang puasa bu"
"Inshaallah puasa Daud dek", jawab Lintang singkat. Mimin menganggukkan kepalanya tanda mengerti
"Ini silakan dimakan bu, Lintang ke kamar dulu ya bu, tadi belum sholat dzuhur soalnya", sambung Lintang sambil berpamitan
Ibu Ranti pun hanya mengangguk.
"Dek Mimin, temani ibu makan ya, sekalian tolong siapkan obat ibu untuk siang ini" , ucapnya pula kepada Mimin
"Iya mbak Lin"
Lintang beranjak menuju kamar mandi mengambil air wudhu kemudian melaksanakan sholat dzuhur. Setelah selesai sholat, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Memandangi langit-langit kamarnya.
Hembusan angin yang masuk melalui celah jendela kamar Lintang membuat matanya seolah berat dan merasakan kantuk yang teramat mendera. Tidak lama kemudian ia pun terlelap dalam tidur siangnya.
****************************
Bruuuummmmmmmmmm
Suara mobil box terdengar memasuki halaman kontrakan Lintang. Tak lama kemudian keluarlah seorang laki-laki dengan tubuh tegap dari balik kemudi.
"Assalamualaikum sayang", ucap Agum di depan pintu
__ADS_1
Lintang yang sejak tadi sudah menunggu suaminya pulang, kemudian menghampirinya.
"Wa'alaikumsalam mas" jawabnya sambil tersenyum manis dan mencium punggung tangan suaminya.
Agum mencium pucuk kepala istrinya "Adek udah mandi?", tanyanya
"Sudah mas, mas mau langsung mandi?," tanya Lintang balik
"Nanti aja sayang, mas masih keringetan" jawabnya. Lintang pun mengangguk
Keduanya masuk ke dalam. Di ruang tengah terlihat ibu Ranti juga Mimin sedang menonton televisi.
"Obatnya sudah di minum bu?", tanya Agum kepada ibunya
"Udah Gum, lusa jadwal kontrol, jangan sampai lupa ya Gum", jawab ibu Ranti sembari mengingatkan. Agum mengangguk kemudian menuju kamar.
Agum membuka seragam kerjanya. Dan bertelanjang dada bermaksud agar keringat yang ada di badannya segera mengering. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Capek ya mas?," tanya Lintang
"Ya beginilah jadi kuli sayang, kerjaan berat, gajinya sedikit", jawab Agum sambil terkekeh
"Hemmmmm, banyak sedikit tetap disyukuri lah mas, yang penting cukup", sanggah Lintang
"Iya, iya istriku sayang", jawab Agum sambil mencium pipi Lintang
Yang dicium menunjukkan rona merah. Ini bukan kali pertama Agum menghujani ciuman- ciuman seperti itu tapi tetap saja membuat Lintang merasa tersipu.
"Mandi gih mas, habis itu adek siapin maem", ucap Lintang
"Adek hari ini puasa kan, mas maemnya nanti pas maghrib aja sekalian nemenin adek buka puasa", jawab Agum
"Mas mengijinkan kalau adek puasa kan?" , tanya Lintang
"Iya sayang, ini kan sudah pernah kita bahas sebelum kita nikah. Mas tidak akan melarang adek untuk melaksanakan puasa sunnah yang memang dari dulu sudah adek kerjakan", jawabnya
Lintang tersenyum bahagia "Terima kasih mas"
"Tapi semisal pas jatah libur kerja dan mas ada di rumah dan itu ngepasi hari kamu puasa, mau kan kalau pas hari itu kamu gak puasa dulu?," tanya Agum sambil mengelus pipi Lintang dengan sedikit kerlingan mata
"Iya mas sayang, Lintang paham", jawabnya sambil mencium pipi suaminya. Yang dicium terkejut
"Jangan seperti itu dek, nanti ada yang bangun", ucap Agum sambil menunjuk ke arah bawah. Lintang hanya mengerucutkan bibirnya sambil memukul lengan Agum menggunakan bantal.
Agum pun segera memasuki kamar mandi. Ia mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin yang mengalirkan kesegaran di tubuhnya.
Tak lama kemudian suara adzan maghrib berkumandang. Lintang dan Agum telah siap di ruang makan tentunya untuk makan bersama.
__ADS_1
Sungguh pemandangan yang begitu romantis, melihat suami istri itu tengah tenggelam dalam suasana hangat di atas meja makan. Sambil sesekali terdengar tawa kecil dari si istri mendengar cerita-cerita ringan dari suaminya.