Titik Balik

Titik Balik
DUA PULUH DELAPAN


__ADS_3

Terminal Giwangan terlihat begitu lenggang di malam hari ini. Hanya terlihat beberapa bus antar provinsi yang singgah setelah beberapa saat yang lalu menurunkan para penumpang yang memilih Jogja sebagai kota tujuan mereka. Sedangkan para sopir juga kernet terlihat menikmati malam mereka di kedai- kedai dekat terminal, melepas lelah sambil menikmati secangkir kopi juga beberapa batang rokok. Mereka harus selalu menjaga stamina karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk selalu dalam keadaan fit mengingat nyawa penumpang menjadi tanggung jawab mereka ketika mengantar maupun menjemput dari berbagai penjuru daerah.


Agum terlihat duduk di salah satu kursi ruang tunggu yang memang di khususkan untuk menunggu para penumpang yang datang dari berbagai daerah. Sambil menghisap sebatang rokok dan sesekali memainkan handphone di tangannya, menunggu pesan dari Danang.


Hampir setengah jam Agum menunggu. Tak lama kemudian masuklah sebuah bus antar provinsi ke dalam terminal kemudian berhenti, berjejer rapi dengan bus- bus yang sudah singgah sebelumnya.


Agum berdiri dari duduknya kemudian melangkahkan kaki ke arah bus itu. Bus yang di depan kacanya bertulis "Jogja-Surabaya", yang diyakini Agum merupakan bus yang ditumpangi Danang.


"Gum!", panggil seseorang yang begitu familiar di telinganya.


"Mas Danang!", seru Agum sambil berlari ke arah Danang. Menjabat tangannya kemudian saling berpelukan.


"Wah tambah subur kamu Gum, ternyata Lintang pinter ngurus kamu", ucap Danang sambil tersenyum.


"Hahaha dipupuk terus setiap hari mas, jadi subur", timpal Agum dengan gelak tawanya.


Agum dan Danang melangkahkan kaki mereka menuju tempat parkir mobil. Penampilan Danang terlihat begitu santai. Hanya mengenakan kaos oblong yang dipadukan dengan celana jeans dan sepatu sneakers yang menjadi alas kakinya. Kemudian ransel yang ada di punggungnya, ia taruh di box mobil Agum.


Mobil yang dikendarai oleh Agum melaju, meninggalkan kawasan terminal Giwangan, dan membelah jalanan kota Jogja malam ini. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam, namun pusat kota Jogja masih terlihat begitu ramai dengan segala hiruk pikuknya.


"Mas, mampir ke lesehan dulu ya, aku dari tadi belum makan", ucap Agum di tengah perjalanan mereka.


"Oh iya Gum, kebetulan aku juga laper, hahaha", jawab Danang.


Lima belas menit meninggalkan terminal, Agum memberhentikan mobilnya di depan warung lesehan yang didirikan menggunakan tenda, yang berada di pinggir jalan raya. Lesehan memang merupakan tempat yang sering diburu oleh para pencari makanan di malam hari seperti ini. Di samping harganya yang sangat pas dikantong, rasanya pun juga tak kalah nikmat dengan restoran lain.


Seperti biasa, Agum memesan bebek goreng kremes dengan sambal tomat, sedangkan Danang memesan ayam bakar madu dengan sambal kecap. Tak lupa dua gelas es teh manis menemani makanan mereka.


"Gimana kabar kamu Gum?", tanya Danang di sela- sela makan malam mereka.


"Alhamdulillah baik mas", jawab Agum


"Ibu Ranti sehat?, Lintang?", tanya Danang pula.

__ADS_1


"Ibu sehat mas, dan Lintang juga baik. Alhamdulillah saat ini Lintang sedang hamil, dan usia kandungannya baru dua bulan", jawab Agum sambil menyeruput es teh manisnya.


"Alhamdulillah, bentar lagi bakalan jadi ayah, kamu Gum", ucap Danang dengan wajah yang turut berbahagia.


"Iya mas, Alhamdulilah", jawab Agum


"Tanggung jawabmu sekarang bertambah besar Gum, jadi lebih hati-hati ya dalam menjalani rumah tangga", ucap Danang mengingatkan.


"Iya mas. Emmmm selama mas belajar ilmu, apa pernah mas di dekati wanita- wanita lain selain istri mas?", tanya Agum


Danang tersenyum, mencoba mencari tahu sesuatu yang tersembunyi di balik pertanyaan Agum.


"Gum, baik yang belajar ilmu ataupun yang tidak, pasti yang namanya rumah tangga akan ada ujiannya masing- masing. Kenapa, kamu merasa sedang di dekati banyak wanita tah?, atau kamu yang sedang berusaha mendekati wanita?", tanya Danang


Agum hanya terdiam. Entah apa yang mengganjal dalam pikirannya itu. Tidak ada seorang pun yang tahu.


"Gum, apapun yang akan terjadi nanti. Dan sebesar apapun ujian yang akan kamu hadapi apalagi tentang wanita lain yang tiba-tiba hadir dalam kehidupanmu, aku cuma bisa mengingatkan jangan pernah lepaskan Lintang" sambung Danang tanpa memberi penjelasan apapun.


********************


Sayup- sayup terdengar suara adzan subuh mulai memecah keheningan pagi ini. Lintang, wanita yang sedang hamil muda itu terlihat mengerjapkan mata mencoba bangun dari tidurnya, tangannya meraba sisi tempat ia terbaring, dan ia pun terkejut karena tidak melihat Agum di sisinya.


Ia memutar bola matanya, mencoba mengingat apa yang terjadi semalaman, hingga Agum tidak tidur di sampingnya. Ia teringat, sampai jam sebelas malam ia menunggu kedatangan Agum dan Danang, namun tak datang jua. Karena tidak bisa menahan kantuknya ia terlelap lebih dulu.


Lintang melangkahkan kaki menuju ruang tamu. Terlihat Agum juga Danang tertidur pulas di atas tikar. Perlahan Lintang menghampiri Agum.


"Mas, bangun, sudah waktunya sholat subuh", ucap Lintang dengan suara lirih mencoba membangunkan Agum.


Agum menggeliat. Membuka matanya dan terlihat Lintang sudah ada di dekatnya.


"Eh sayang?", ucap Agum


"Ssttttttttt nanti mas Danang keganggu mas, udah bangun terus sholat subuh dulu", ucap Lintang sambil berlalu menuju kamarnya kembali.

__ADS_1


Agum beranjak. Ia bangunkan juga Danang untuk sholat subuh. Dan mereka pun sholat subuh berjamaah.


"Mas kalau mau lanjut tidur lagi gak apa-apa", ucap Agum sambil melepas kopiah yang ia pakai.


"Iya Gum, aku juga masih kerasa ngantuk banget. Kamu juga mau lanjut tidur lagi? ", tanya Danang


Agum menyeringai "Mau minta jatah dulu mas, hahahaha", jawab Agum sambil terbahak


"Dasar kamu ini!!", timpal Danang


Agum pun melenggang meninggalkan Danang. Ia kemudian masuk ke kamar pribadinya dan terlihat istrinya sedang sibuk merapikan sprei.


"Sayang?!", ucap Agum tiba-tiba sambil memeluk Lintang dari belakang


"Eh mas?", seru Lintang terkejut. Agum masih dalam posisi memeluk tubuh Lintang sambil mengecup leher istrinya.


"Semalam nyampai rumah jam berapa mas?", tanya Lintang basa- basi.


"Hampir jam dua belas sayang", jawab Agum masih dengan menggelayut manja di tubuh Lintang.


Lintang mulai sedikit merasa risih, dengan posisi suaminya yang seperti itu, membuat tubuhnya terasa terkunci.


"Mas!!, minggir dulu lah, adek mau beresin tempat tidur nih", ucap Lintang


"Sayang, mas lagi pengen. Semalem gak tidur sama kamu, rasanya ada yang beda", jawab Agum mencoba menyampaikan keinginannya.


"Mas, ini udah pagi loh, gak enak sama yang lain, hemmmm", sanggah Lintang.


"Dua kali aja sayang, lagipula ini masih gelap dan yang lain masih tidur, jadi gak akan ada yang tahu, mau ya?, mas lagi pengen ini", ucap Agum memelas.


Lintang pun hanya tersenyum kecut. Ia paham apa yang menjadi keinginan suaminya, dan sebagai seorang istri itulah yang menjadi kewajibannya. Dan akhirnya tempat tidur yang baru saja dirapikan oleh Lintang, kini terlihat kembali berantakan. 😂


***************

__ADS_1


__ADS_2