Titik Balik

Titik Balik
DELAPAN PULUH LIMA


__ADS_3

"Ibu minta, tolong kembalikan Lintang kepada kami!!"


Agum menggeleng. "Tidak bu, Agum tidak mau melepaskan Lintang. Agum mencintainya bu"


Ibu Ratih tertawa getir. "Cinta seperti apa yang kau punya untuk anakku mas?, cinta yang hanya membuatnya menanggung luka seperti ini?". Ibu Ratih menghela nafasnya. "Kau tahu, bahkan Lintang menyimpan ini semua sendirian. Ia memikul beban ini sendiri tanpa seorang pun tahu akan aib yang telah kau buat. Itu semua karena apa?, karena ia begitu menghormatimu sebagai seorang suami. Tapi apa balasan yang ia terima?, ia justru menjadi orang yang paling menderita di sini".


Agum mengusap air mata yang mengalir di pipinya. "Ampuni Agum bu. Beri Agum kesempatan untuk memperbaiki ini semua. Dan jangan pernah meminta agar Agum melepaskan Lintang. Agum membutuhkannya bu"


Ibu Ratih menggeleng. "Bahkan untuk saat ini, aku pun tidak bisa mempercayai semua perkataanmu mas!"


"Agum mohon bu, beri Agum waktu untuk menyelesaikan ini semua", pinta Agum memelas.


Danang yang sedari tadi mendengar percakapan antara mertua dan menantu itupun hanya bisa tertunduk. Sungguh kejadian seperti ini telah membuat Agum seperti kehilangan kepercayaan dari keluarga Lintang.


Mungkinkah ini akan menjadi akhir dari pernikahanmu bersama Lintang, Gum?!


***


Tok... tok.... tok....


"Assalamualaikum" , ucap seseorang di depan rumah ibu Ratih.


"Wa'alaikumsalam" jawab seseorang dari dalam rumah.


Ceklekkkk... pintu terbuka


"Iya, mau cari siapa ya mas?!", tanya Friska kepada dua orang yang ada di teras.


"Kamu Friska kan?", tanya laki-laki itu.


Friska mengernyitkan dahi. "Iya, maaf mas siapa ya?"


Lelaki itu hanya tersenyum simpul. "Aku Hanan Fris, teman kakakmu, dan ini tanteku namanya bu Nury".


Friska pun mengangguk sebagai salam perkenalan. "Ada keperluan apa ya mas?"


"Kakakmu ada Fris?, dari kemarin tanteku ini menghubungi nomer kakakmu, bermaksud untuk memesan catering, tapi sampai sekarang nomernya tidak aktif", ucap Hanan menjelaskan.


Seketika mata Friska memerah. "Mbak Lintang ada di rumah sakit mas".


"Tante, bunda ada di rumah sakit?", ucap Nana tiba-tiba dari balik punggung Friska.


Friska tersentak. Ia kemudian menghampiri Nana. "Enggak Na, bunda tidak di rumah sakit. Bunda baik-baik saja kok".


"Tante jangan bohong, bunda di mana tante?, Nana mau sama bunda, hiks... hikss.. hiks..."


Hanan dan bu Nury juga sedikit terkejut ketika mendengar Lintang ada di rumah sakit. Namun sebisa mungkin mereka menyembunyikan keterkejutannya itu dan mencoba untuk tetap tenang.


Hanan mendekat ke arah Nana. "Sini sayang!", ucap Hanan sambil mengulurkan tangannya bermaksud menggendong Nana.

__ADS_1


Nana menatap wajah Hanan masih dengan isakan tangisnya. Hanan pun tersenyum. Kemudian merengkuh tubuh mungil Nana ke dalam gendongannya.


"Hiksss... hiksss. Nana mau ketemu bunda om ganteng, Nana mau sama bunda!!", isak Nana sambil memeluk leher Hanan.


"Sayang, tenang dulu ya. Nanti om antar bertemu dengan bunda", ucap Hanan sembari mengusap-usap punggung Nana.


Nana menghentikan isak tangisnya. "Om janji?"


Hanan mengangguk sembari tersenyum. Pandangannya beralih ke Friska. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan kakakmu Fris?"


Friska mencoba mengusap air matanya. "Mbak Lintang....."


***


"Bunda... hhuuuhuuhuuuhuuu bangun bunda... bangun!!!!", teriak Nana ketika masuk ke ruangan tempat Lintang dirawat.


Hanan yang baru saja masuk ke ruangan itupun juga tak kalah terkejutnya melihat kondisi Lintang saat ini. Sendi-sendi tubuhnya seakan ikut melemas melihat Lintang terbaring tak berdaya dengan mata terpejam seperti itu.


Tanpa terasa butiran air bening lolos dari pelupuk Hanan. Teriakan-teriakan dari Nana yang berkali-kali memanggil nama ibunya seolah membuatnya merasa seperti tersayat sembilu.


Apa yang sedang terjadi kepadamu Lin?, bangunlah!! , kami semua menunggumu kembali terbangun.


Ibu Ratih menghampiri Nana. "Sayang, tenang ya!"


Nana menggeleng, ia masih berada di samping tubuh Lintang dengan air mata yang mengalir deras. "Bunda kenapa gak bangun nek, bunda kenapa diam saja?"


"Huuaaa...huuaaa..huaaaa... Bangun bunda, kalau bunda capek, Nana gak akan minta gendong lagi. Tapi sekarang bunda harus bangun"


Hanan begitu prihatin melihat Nana yang begitu histeris. Ia pun mendekati Nana dan kembali menggendongnya.


"Sssstttt.... sayang, sudah ya. Sekarang Nana lebih baik berdoa kepada Allah, semoga bunda segera bangun ya", ucap Hanan sembari mengusap kepala Nana.


"Nana pengen bunda cepet bangun om ganteng!"


Hanan tersenyum. "Iya sayang, sebentar lagi bunda pasti bangun"


Friska, bu Nury yang melihat Lintang dengan bebat di pundaknya pun juga hanya bisa menunduk lemas.


Ceklekkk.....


Agum terbelalak, melihat Hanan sudah ada di dalam ruangan Lintang sambil menggendong Nana.


"K-kamu?", ucap Agum.


Hanan tersenyum tipis. "Apa kabar mas?"


Agum menautkan pandangannya ke arah Nana. "Sayang, sini ayah gendong".


Nana beralih ke gendongan Agum. "Bunda kapan bangun, ayah?"

__ADS_1


Agum tersenyum getir sembari mengusap punggung Nana. "Bunda pasti segera bangun sayang"


Lagi, air mata Agum menetes perlahan. Dadanya begitu terasa sesak. Saat ini bukan hanya Lintang yang terluka melainkan seluruh keluarganya juga merasakan kehancuran ini.


Maafkan aku Tuhan....


****


Hanan duduk di kursi taman yang ada di tengah gedung rumah sakit. Di depannya, Agum berdiri sembari menyandarkan tubuhnya di batang pohon pinang hias yang ada di sana sembari menghisap sebatang rokok.


Hanan menatap lekat wajah Agum, dan terlihat masih ada bekas-bekas lebam di pipi juga bibirnya. Dan seketika ia menghubungkan wajah lebam Agum itu dengan kondisi Lintang saat ini.


"Apa yang terjadi antara sampeyan dengan Lintang?", tanya Hanan.


Agum mengepulkan asap rokoknya. "Aku rasa kamu sudah terlalu banyak ikut campur dengan permasalahan keluargaku"


Hanan tersenyum. "Ikut campur?, aku bahkan tidak mengetahui ada masalah apa antara sampeyan dengan Lintang!"


"Cihhh... aku tidak percaya. Pada kenyataannya kamu sekarang ada di sini", timpal Agum sambil berdecih.


Hanan tersenyum sinis. "Sampeyan masih tidak percaya dengan cara kerja sebuah takdir?" . Hanan menghembuskan nafasnya pelan." Saat ini pun, aku bisa sampai ditempat ini juga karena cara kerja dari sebuah takdir ".


Agum masih terdiam. Ia masih tidak percaya jika Hanan selalu hadir di tengah-tengah ia dengan Lintang. Selalu saja ada Hanan, di saat-saat seperti ini.


"Jadi, apa yang sedang terjadi antara sampeyan dengan Lintang?", sambung Hanan kembali bertanya.


Agum mendengus. "Kamu tidak perlu tahu, karena kamu sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi. Kamu itu hanya sebatas orang luar, yang selalu saja masuk di kehidupan Lintang".


"Aku tidak pernah berupaya untuk masuk ke dalam hidup Lintang. Namun hingga saat ini ternyata takdir masih menuntun langkah kakiku untuk bisa hadir dalam hidupnya", ucap Hanan.


Agum tersenyum sinis. "Kamu bahkan terlalu percaya diri jika takdir selalu berpihak kepadamu untuk berada di sisi Lintang dalam situasi apapun"


Hanan menyunggingkan senyum tipisnya. "Awalnya aku tidak terlalu percaya diri. Namun kini, setelah aku melihat kondisi Lintang yang seperti ini, aku semakin yakin jika sampeyan benar-benar tidak bisa menjaga Lintang dengan baik."


Agum mengernyitkan dahi. "Maksudmu?"


Hanan tersenyum sinis. "Jangan salahkan takdir jika suatu saat nanti, akulah yang akan menggantikan posisimu untuk selalu membahagiakan Lintang lahir maupun batin"


Mata Agum terbelalak. "K-kamu!!!!"


.


.


. bersambung...


Biarkan Lintang beristirahat dulu ya kak.. ia masih terlalu lelah hingga ia belum mau membuka matanya.. hihihihi... maaf sebenernya udah dari kemarin part ini di up, tapi entah kenapa koneksi inernetnya tiba-tiba rewel, jadi baru bisa ke up skarang๐Ÿ˜”... terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya yah... dan bagi yang punya kelebihan poin, bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan cara klik vote. Hehehehe happy Reading kakak.... terima kasih...


Salam love, love, love๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—

__ADS_1


__ADS_2